
Tak sanggup menerima pukulan sang bunda yang lama kelamaan terasa sakit itu akhirnya Izar pun menjawab ucapan Shera.
“ Aku ga pehape in mereka kok Bun...,” kata Izar.
“ Bunda ga percaya !. Bunda bingung deh sama Kamu. Nurun darimana sih bakat play boymu itu. Padahal Opa sama Ayahmu itu ga play boy lho Zar...,” kata Shera kesal.
“ Aku ga play boy Bun. Bunda salah paham nih kayanya...,” sahut Izar sambil tersenyum.
Tapi Shera yang terlanjur kesal nampak mulai bersiap memukul Izar lagi. Tapi tangan Shera menggantung di udara
saat mendengar ucapan dokter yang memeriksa kondisi Izar.
“ Kayanya tangan Mas Izar terkilir nih...,” kata sang dokter tiba-tiba.
“ Terkilir, sakit ga Nak...?” tanya Shera sambil menatap Izar lekat.
“ Dikit, tapi gapapa Bun. Ntar dipijit juga sembuh kok Bun...,” sahut Izar mencoba menenangkan sang bunda.
“ Siapa yang mau mijit Kamu...?” tanya Shera.
“ Tukang pijit langganan Aku sama Iyaz Bun...,” sahut Izar cepat.
“ Ok, kalo gitu Kita keluar sekarang ya...,” kata Shera.
“ Iya Bun. Makasih ya dok...,” kata Izar sambil menjabat tangan sang dokter.
“ Sama-sama Mas...,” sahut sang dokter sambil tersenyum kearah Shera.
Kemudian Izar dan Shera pun keluar dari klinik untuk bergabung dengan keluarga mereka yang sedang menikmati makan siang di aula.
\=====
Qiana sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton film favoritnya di televisi. Saat itu Qiana kembali
teringat peristiwa jatuhnya papan reklame yang hampir mencelakainya di kantor cabang perusahaan milik Erik kemarin. Ia juga teringat tatapan Izar yang berbeda saat dalam keadaan terjepit itu. Tatapan Izar terlihat cemas dan penuh perhatian hingga membuat Qiana salah tingkah dibuatnya.
Qiana pun meraba detak jantungnya yang bertalu saat mengingat moment itu. Wajahnya terasa panas dan itu membuat Qiana tersenyum diam-diam.
Namun senyum Qiana memudar saat teringat Ratih, sahabat yang sudah dianggapnya saudara itu. Qiana bisa
merasakan kekecewaan Ratih saat Izar memberi sedikit perhatian padanya. Qiana menghela nafas panjang karena merasa terganggu saat memikirkan perasaan Ratih.
__ADS_1
“ Masa Aku harus rebutan cowok sama Ratih sih. Eh, sebentar. Rebutan cowok, maksudnya Izar. Kayanya ga deh.
Masa Aku tertarik sama cowok itu, ga mungkin kan...,” gumam Qiana sambil mengusak rambutnya.
“ Ga ada yang ga mungkin jika Allah berkehendak...,” kata ummi Qiana tiba-tiba hingga mengejutkan Qiana.
“ Ummi...,” panggil Qiana lirih.
“ Kenapa sih Kamu, kayanya galau banget...?” tanya ummi Qiana sambil duduk di samping Qiana.
“ Gapapa Mi. Cuma lagi mikirin sesuatu yang ga mungkin aja...,” sahut Qiana malu-malu.
“ Oh ya, apaan sih...?” tanya ummi Qiana penasaran.
“ Bukan apa-apa Mi...,” sahut Qiana mencoba mengelak hingga membuat sang ummi tersenyum.
“ Ya udah gapapa. Ntar kalo perlu bantuan bilang Ummi ya...,” kata ummi Qiana sambil mengusap kepala Qiana dengan sayang.
“ Iya Mi, makasih...,” sahut Qiana yang diangguki sang ummi.
Qiana kembali menatap layar televisi seolah sedang menonton film favoritnya itu. Namun sang ummi tahu jika saat itu pikiran Qiana melanglang buana entah kemana.
Sedangkan di saat yang sama di tempat lain. Izar tengah berbaring di kamarnya usai menjalani pengobatan. Ia
Namun tiba-tiba kedua mata Izar terbuka saat mengingat makhluk halus yang menyebabkan Qiana dan Ratih terluka. Izar khawatir jika makhluk itu akan menerror keluarganya.
Izar pun berusaha bangkit sambil meringis menahan nyeri akibat terkilir. Ia menggapai ponselnya dan mencoba
menghubungi Iyaz. Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Shera yang berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya juga segelas air.
“ Kamu mau ngapain Zar...?” tanya Shera.
“ Mau nelephon Iyaz Bun. Mau ngingetin soal makhluk hitam yang Aku liat kemaren...,” sahut Izar.
“ Ga usah ngurusin itu dulu bisa ga. Kamu kan belum pulih...,” kata Shera sambil meletakkan nampan di atas meja.
“ Bunda bawa apaan sih...?” tanya Izar.
“ Nasi plus lauk pauknya. Kenapa, ga suka...?” tanya Shera.
“ Bukan begitu Bun. Aku lagi males makan nih. Tolong bawa keluar aja ya Bunda Sayang...,” rayu Izar tapi Shera menggeleng.
__ADS_1
“ Kamu makan, baru Bunda bawa keluar semuanya...,” sahut Shera tegas.
Dengan enggan Izar turun dari tempat tidur lalu duduk di hadapan meja dan mulai memakan makanan yang disiapkan sang bunda. Shera nampak tersenyum melihat Izar makan dengan lahap. Sepuluh menit kemudian Izar berhasil menyelesaikan makannya lalu menoleh kearah Shera.
“ Selesai Bun...,” kata Izar sambil menyeka mulutnya dengan tissu.
“ Ok...,” sahut Shera sambil tersenyum.
Kemudian Shera mengangkat nampan berisi piring dan gelas kosong itu lalu membawanya keluar. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia membalikkan tubuhnya lalu menatap Izar.
“ Soal makhluk hitam itu Ayah, Iyaz sama Opa Fatur yang ngurusin Nak. Kamu istirahat aja di rumah ya...,” kata Shera.
“ Ga bisa gitu dong Bun. Aku juga mau ikutan...,” sahut Izar.
“ Boleh, tapi tunggu tanganmu itu sembuh dulu ya...,” kata Shera sambil beranjak keluar dari kamar.
Mendengar ucapan sang bunda membuat Izar kesal. Izar berdecak sebal saat mengetahui dirinya tak dilibatkan
dalam misi menghadapi makhluk hitam itu. Izar pun meraba pangkal lengan kirinya yang masih terasa nyeri sambil meringis.
“ Andai aja tanganku ga terkilir, mereka pasti ga akan ninggalin Aku sendirian...,” gumam Izar sambil meninju kasur dengan tangan kanannya.
Izar pun teringat penyebab tangannya terkilir. Dan tanpa ia sadari itu membuatnya tersenyum.
“ Kenapa Aku cemas banget ya ngeliat Qiana terluka kemaren. Jangan-jangan Aku mulai suka nih sama dia. Tapi
gapapa juga sih. Qiana cantik, pintar, punya prinsip dan yang pasti seiman. Dia juga jomblo. Jadi ga ada salahnya kan kalo Aku naksir sama dia. Lagian kan Bunda bilang suruh pilih satu. Aku rasa Qiana kandidat yang terbaik. Semoga Allah memudahkan usahaku untuk mendekati Qiana. Aamiin...,” gumam Izar.
Kemudian Izar kembali mengingat moment pertemuannya dengan Qiana yang selalu diwarnai pertengkaran itu. Izar
tak mengerti kapan perasaan kesal di hatinya berubah jadi suka. Namun sekarang tekad Izar untuk mendapatkan Qiana nampaknya sudah bulat.
“ Ok Qiana, Kamu harus bersiap-siap karena mulai sekarang Aku bakal ngejar Kamu...,” gumam Izar sambil
tersenyum penuh makna.
Setelah mengambil keputusan penting itu, Izar pun mencoba membaringkan tubuhnya lagi. Rasa kantuk mulai
menyerangnya dan beberapa menit kemudian Izar pun tertidur. Suara dengkuran halus terdengar pertanda Izar memang telah masuk ke alam mimpi.
Shera yang kembali datang untuk mengecek keadaan Izar pun tersenyum melihat sang anak tertidur. Kemudian Shera menutup pintu kamar Izar dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara lalu kembali ke ruang tengah untuk berbincang dengan kedua mertuanya.
__ADS_1
\=====