
Keesokan harinya Todi menepati janjinya dengan datang lagi ke rumah Santoso bersama calon istrinya. Hani memang gadis yang manis seperti yang diucapkan Todi. Dalam dirinya Yamini memiliki banyak harapan jika Hani bisa membimbing Todi untuk kembali ke jalan Allah. Apalagi penampilan Hani yang berhijab itu langsung membuat Yamini jatuh hati.
“ Jadi kapan Kami bisa melamar Kamu Han...?” tanya Yamini tak sabar.
Pertanyaan Yamini membuat Todi dan Hani terkejut sekaligus senang. Keduanya saling menatap dengan tatapan tak percaya karena jalan mereka menuju pernikahan begitu mudah.
“ Kakak serius mau Aku dan Hani cepat menikah...?” tanya Todi dengan suara bergetar.
“ Iya. Bilang aja apa yang harus Kakak siapin untuk pernikahan Kalian nanti...,” sahut Yamini yang diangguki Santoso.
“ Aku sama Hani hanya perlu restu dari Kakak dan Mas Santoso juga Tiara. Kami udah nyiapin semua sejak beberapa bulan kemarin. Yah, walau bukan hal yang besar tapi itu cukup untuk Kami...,” kata Todi mantap.
“ Betul Kak. Kami udah siapin semuanya, seserahan, mahar pernikahan juga rumah walau pun masih ngontrak. Insya Allah Aku bakal buka usaha kecil-kecilan di rumah itu nanti dan Bang Todi tetap kerja di bengkel...,” kata Hani malu-malu.
“ Masya Allah. Kalo gitu ga ada alasan lagi buat nunda dong...,” kata Yamini antusias.
“ Betul, insya Allah Kami ke rumahmu besok. Kami mau membicarakan pernikahan Kalian dengan orangtuamu itu...,” kata Santoso hingga membuat Hani dan Todi tersenyum bahagia.
“ Aku ikut ya Yah...,” pinta Tiara.
“ Tentu Nak. Kita akan jadi saksi Om Todi melewati semua proses penting dalam hidupnya ini...,” sahut Santoso sambil tersenyum.
\=====
Proses lamaran hingga akad nikah Todi dan Hani berjalan lancar. Semua berlangsung mudah dan cepat hingga membuat Yamini takjub. Dalam sekejap saja ia menyaksikan perubahan status Todi, dari lajang menjadi berpasangan, dari bujangan menjadi suami. Dan itu membuatnya sangat bahagia. Apalagi sikap Todi pada Tiara pun berubah layaknya seorang kakak kepada adiknya meski pun menggunakan sebutan paman dan keponakan.
Yamini dan Santoso duduk mendampingi Todi di pelaminan sebagai wakil dari kedua orangtua mereka yang telah meninggal dunia. Sedangkan Hani didampingi oleh kedua orangtuanya.
Izar pun hadir bersama kedua orangtuanya atas undangan Tiara pada acara akad nikah Todi dan Hani. Mereka bertahan di sana hingga acara resepsi pernikahan digelar. Fatur dan Bilqis pun menyusul tak lama kemudian.
“ Semua berakhir manis kaya permen ya Bu...,” kata Tiara dengan mata berkaca-kaca.
“ Betul Nak. Semoga setelah ini Kita bisa jadi keluarga besar yang saling menyayangi...,” sahut Yamini sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Jangan berharap jadi keluarga besar kalo Tiara aja belum nikah Kak. Suruh dia nikah dan melahirkan Cucu yang banyak untuk Kakak. Setelah itu baru Kita jadi keluarga besar karena Aku sama Hani juga mau punya Anak banyak...,” celetuk Todi.
Ucapan Todi membuat wajah Tiara bersemu merah karena malu. Sedangkan Santoso, Yamini dan Hani nampak tertawa senang karena bisa menggoda Tiara.
“ Apaan sih Om, Aku mau kuliah dulu. Ntar aja mikirin nikahnya, masih lama...,” kata Tiara.
“ Kalo Kamu sanggup, gapapa lho nikah sambil kuliah. Iya kan Mas...?” tanya Todi sambil menatap Santoso yang sedang tertawa.
“ Iya...,” sahut Santoso sambil tersenyum.
“ Ga mau Yah, Aku mau kuliah dulu...,” sahut Tiara sambil melangkah cepat meninggalkan pelaminan dengan wajah merona.
Sifa yang ikut mendengar permintaan Todi pun ikut tertawa hingga membuat Tiara kesal. Namun dalam hati Tiara bahagia karena hubungannya dengan Todi jauh lebih baik layaknya keluarga. Tiara pun menoleh kearah Izar yang tengah menatapnya dari kejauhan.
“ Makasih...,” kata Tiara sambil tersenyum dan Izar pun balas tersenyum sambil mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
\=====
“ Jadi gimana di sana Yaz...?” tanya Hanako.
“ Kaya biasa aja Ci, sama aja kaya Kita di Indonesia sana...,” sahut Iyaz santai hingga membuat Izar tertawa.
“ Jelas beda dong Yaz. Di sana kan Kamu harus bicara pake bahasa asing ga kaya di sini...,” kata Hanako kesal.
“ Ga sepanjang waktu juga kok Ci. Teman satu kost aku kan juga ada yang berasal dari Indonesia, jadi Aku bisa ngobrol kaya biasa aja...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
“ Kok Kamu ga pernah kirim foto sih Yaz...?” tanya Hanako lagi.
“ Foto apaan Ci...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Ya Allah, Kamu kan lagi di luar negeri Yaz. Masa ga pengen foto buat kenang-kenangan kalo Kamu pulang nanti...,” sahut Hanako gemas.
“ Oh itu, ga sempet Ci. Aku sibuk sama kuliah Aku dan rapat sama komunitas mahasiswa...,” sahut Iyaz cepat.
__ADS_1
“ Ck, ga seru nih. Coba kalo Aku yang di sana, Aku pasti udah punya album foto...,” kata Hanako sambil mencibir.
“ Untungnya bukan Kamu yang di sana Ci...,” sela izar hingga membuat Hanako sebal.
Tingkah Izar dan Hanako membuat Iyaz tertawa hingga bisa sedikit mengurangi rasa rindunya pada rumah dan keluarganya yang ada di Indonesia.
“ Terus gimana Yaz soal pesenan Aku waktu itu, udah dapat belum...?” tanya Izar.
“ Pesenan apaan...?” sela Hanako.
“ Kepoooo...!” seru Iyaz dan Izar bersamaan disusul tawa keduanya.
Hanako yang sadar dirinya dikerjai pun tak tinggal diam. Ia melemparkan bantalan sofa yang ada di pangkuannya kearah Izar dan tepat mengenai sasaran. Tawa pun pecah di dalam ruangan melihat tingkah Hanako dan Izar yang masih sama saja seperti saat Iyaz tinggalkan dulu.
“ Kalian ini masih aja ga berubah, padahal kan Kalian udah bukan Anak-anak lagi...,” gerutu Iyaz sambil menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba ada seorang gadis melintas di belakang Iyaz dan itu membuat semua keluarganya bingung. Karena seingat mereka Iyaz tinggal di kost yang semuanya laki-laki termasuk pengurus rumah tangga.
Gadis itu yang mengenakan gaun serba pink itu melintas beberapa kali di belakang Iyaz. Dengan rambut terurai menutupi sebagian wajahnya membuat penampilan gadis itu sedikit misterius. Semua saling menatap dengan tatapan bingung, lalu perlahan kembali menatap wajah Iyaz.
“ Ehm, Kamu sama siapa di sana sekarang Yaz...?” tanya Izar sambil tersenyum penuh makna.
“ Sekarang Aku lagi di kamar sendirian, kenapa emangnya...?” tanya Iyaz.
“ Oh, mungkin teman kostmu lagi kedatangan tamu ya...,” kata Izar asal.
“ Ini bukan jam berkunjung. Lagian di sini tuh ketat banget peraturannya. Tamu perempuan ga bisa masuk ke dalam dan hanya bisa duduk di teras. Pokoknya the best deh peraturannya, Aku suka...,” sahut Iyaz sambil mengacungkan dua jempolnya.
“ Kalo bukan jam berkunjung dan tamu perempuan ga boleh masuk ke dalam rumah, terus cewek yang daritadi berseliweran di belakang Kamu tuh siapa Yaz...?!” tanya Hanako sambil membulatkan matanya.
Iyaz terkejut dan langsung menoleh ke belakang untuk memastikan kebenaran ucapan Hanako sebab Iyaz hapal ekspresi Hanako jika sedang bicara serius. Namun Iyaz tak melihat apa pun karena memang tak ada apa pun di sana. Iyaz memutar kepalanya lalu kembali menghadap kearah Hanako sambil menggelengkan kepalanya.
Bersambung
__ADS_1