Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
95. Dideketin Albani ?


__ADS_3

Hanako sedang merapikan buku di rak buku saat sebuah suara mengejutkannya hingga buku yang dipegangannya


terjatuh.


“ Assalamualaikum Hanako, lagi ngapain di sini...?” tanya suara seorang pria.


“ Astaghfirullah aladziim..., wa alaikumsalam...,” sahut Hanako.


“ Maaf kaget ya. Sini Saya bantu...,” kata pria yang tak lain adalah Albani itu.


“ Eh, ga usah Kak. Biar Saya aja...,” sahut Hanako cepat sambil meraih buku dari tangan Albani.


Albani menatap Hanako lalu tersenyum. Ia tak sengaja melihat gadis itu di toko buku saat sedang mencari buku tadi. Albani bergegas menghampiri karena banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Hanako termasuk keberadaannya di pemakaman almarhumah Rima kemarin.


“ Kamu ngapain di sini...?” tanya Albani.


“ Saya kerja di sini Kak...,” sahut Hanako.


“ Kerja...?” tanya Albani lagi.


“ Iya, kenapa Kak...?” tanya Hanako bingung.


“ Oh gapapa. Saya pikir Kamu type Anak yang manja dan hanya mengharap uang dari orangtuamu untuk membiayai dirimu...,” sahut Albani tapa bermaksud meremehkan Hanako.


Mendengar ucapan Albani membuat Hanako sedikit tersinggung tapi kemudian dia tersenyum.


“ Yang terlihat di luar belum tentu sesuai dengan isi di dalamnya ya Kak...,” sahut Hanako santai.


“ Iya Kamu benar, ternyata Saya yang salah menilai Kamu...,” kata Albani lega.


“ Kakak lagi cari buku apa...?” tanya Hanako.


“ Saya hanya kebetulan lewat aja. Tapi Saya tertarik mau baca novel horror. Apa Kamu punya saran novel mana yang seharusnya Saya beli...?” tanya Albani.


Hanako tertegun sejenak. Bagi Hanako tak perlu membaca novel horror karena setiap hari ia bisa melihat penampakan makhluk halus langsung. Dan itu lebih mengerikan dari cerita horror yang ada di novel yang dijual di toko buku itu. Tapi Hanako tak ingin mengecewakan pembeli, maka ia menunjukkan rak tempat novel horror yang dicari Albani.


“ Di sana rak khusus novel horror yang Kakak cari. Tapi maaf Saya ga punya saran yang tepat untuk Kakak karena Saya ga suka baca novel horror...,” kata Hanako.


“ Gitu ya. Gapapa deh, makasih ya Hanako...,” sahut Albani sambil melangkah menuju rak buku yang dimaksud Hanako.


“ Sama-sama Kak...,” kata Hanako sambil tersenyum.


Hanako mengamati Albani dari kejauhan. Hampir setengah jam Albani ada di depan rak buku lalu mendekati Hanako sambil membawa dua buah novel tebal di tangannya.


“ Dapat Kak...?” tanya Hanako.

__ADS_1


“ Iya nih...,” sahut Albani sambil memperlihatkan dua buah buku di tangannya.


“ Wah tebel banget Kak...,” kata Hanako.


“ Iya, biar bisa lama bacanya...,” sahut Albani asal.


Hanako hanya tersenyum lalu membawa buku itu ke kasir. Albani pun mengikutinya dari belakang.


“ Kemarin Aku liat Kamu ada di pemakamannya Rima. Emang Kamu kenal sama Rima...?” tanya Albani.


“ Kenal Kak, belum lama juga sih. Kenapa Kak...?” tanya Hanako.


“ Mmm, jadi udah ketauan ya siapa Ayah bayinya...?” tanya Albani setengah berbisik.


“ Maksud Kakak apa ya...?” tanya Hanako tak suka.


“ Maaf Hanako. Tapi Rima pernah bilang sama Saya kalo laki-laki yang menghamilinya malah menyuruhnya ngaborsi bayi yang ada di dalam kandungannya itu. Saya udah nyaranin supaya dia bertahan. Alhamdulillah dia emang mempertahankan bayinya sekaligus menghilang dari kampus. Tiba-tiba Kami dapat kabar kalo Rima meninggal. Saya dan teman-teman sempat ngirain itu cuma hoax, tapi ternyata...,” kata Albani menggantung ucapannya.


“ Ayah bayinya udah meninggal lebih dulu Kak. Tepat saat kandungan Kak Rima berumur empat bulan. Sekarang Anaknya Kak Rima diasuh dan dibesarkan sama Ayahnya Kak Rima...,” sahut Hanako.


“ Alhamdulillah kalo Ayahnya Rima mau nerima bayi itu...,” kata Albani sambil tersenyum.


“ Keliatannya hubungan Kakak dan Kak Rima dekat ya...?” tanya Hanako dengan tatapan menyelidik.


“ Itu sih urusan Kalian berdua mau jadian atau ga. Kenapa harus curhat segala sih...,” kata Hanako sebal.


Albani tertawa mendengar ucapan Hanako dan itu membuat pipi Hanako bersemu merah karena tak sadar jika ucapannya menyiratkan nada cemburu di sana.


“ Udah Kak, nih bukunya. Makasih ya...,” kata Hanako untuk menyembunyikan kegugupannya.


“ Sama-sama. Ga disuruh mampir lagi nih...?” goda Albani.


“ Maksudnya...?” tanya Hanako.


“ Kan biasanya kalo orang abis beli sesuatu di toko pasti disuruh balik lagi. Makasih ya Pak, Bu. Jangan lupa mampir lagi ya, makasih...,” sahut Albani sambil menirukan ucapan karyawan toko atau gerai makanan yang biasa ia singgahi.


Melihat sikap Albani membuat Hanako tertawa. Dan Albani nampak tersenyum saat melihat Hanako tertawa karena ucapannya tadi. Sesaat kemudian Hanako menghentikan tawanya lalu berdehem untuk menetralisir perasaannya saat itu.


“ Ehm, maaf. Tapi Kami akan senang kalo Kakak mampir lagi ke sini apalagi kalo belanja yang banyak...,” gurau Hanako.


“ Kami...?” tanya Albani.


“ Iya Kami, emang siapa...?” tanya Hanako tak mengerti.


“ Saya kirain Kamu yang bakal senang kalo ngeliat Saya mampir ke sini...,” sahut Albani sedikit kecewa lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah perlahan menuju pintu keluar toko.

__ADS_1


Hanako tersentak kaget lalu melepas kepergian Albani dengan tatapan bingung.


“ Apaan sih, ga jelas banget...,” gumam Hanako sambil menepuk pipinya sendiri.


Hanako bukan tak tahu arti yang tersirat dari ucapan Albani tadi. Apalagi Hanako adalah gadis yang pintar. Namun saat ini Hanako memang sedang tak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun. Hanako ingin mewujudkan mimpinya yang menurutnya akan sulit dicapai jika ia tak fokus.


“ Jadi dia senior di kampus Lo ya Han...?” tanya Wina, kasir di toko buku itu.


“ Iya Win...,” sahut Hanako santai.


“ Keliatannya dia naksir sama Lo Han...,” kata Wina sambil mengedipkan matanya dengan mimik lucu.


“ Apaan sih Lo Win. Dia hanya bersikap baik aja sama Gue. Masa gitu aja dibilang naksir...?” tanya Hanako sambil tertawa.


“ Ck, Hana Hana..., Gue ini udah lumayan lama ya berkecimpung di dunia percintaan. Jadi Gue hapal sama sinyal yang dikirim cowok tadi buat Lo. Sayangnya Lo ga peka...!” kata Wina sambil menarik ujung hijab Hanako dengan gemas.


“ Masa sih. Tapi kok Lo masih jomblo Win...?” tanya Hanako.


“ Ish, Lo tuh ya. Gue lagi rehat sejenak. Males ngurusin cowok-cowok yang bisanya ngatur-ngatur doang. Ga boleh ini, ga boleh itu. Padahal statusnya cuma pacar, tapi galaknya ngelebihin Bokap Gue. Apalagi kalo jadi Suami Gue nanti. Hadeehh ga kebayang deh gimana stressnya Gue kalo nikah sama cowok model gitu...,” kata Wina sambil menggelengkan kepalanya.


“ Curcol nih ceritanya...,” sindir Hanako sambil tersenyum.


“ Ups, iya juga ya. Tapi please jangan kasih tau siapa-siapa ya Hanako...,” kata Wina sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Hanako menggelengkan kepalanya dan itu membuat Wina kesal. Tak lama kemudian keduanya tertawa bersama.


“ Braakkk...!”


Tiba-tiba sebuah suara benda jatuh terdengar dari gudang dan itu mengejutkan Hanako dan Wina. Keduanya menghentikan tawa mereka sambil saling menatap. Ketakutan jelas terpancar di wajah Wina sedangkan Hanako terlihat lebih santai.


“ Suara apaan tuh...?” tanya Hanako sambil bergerak hendak mengecek ke gudang.


“ Ga usah Han, di sini aja. Itu suara dari gudang kok...,” kata Wina sambil menahan tangan Hanako agar tak masuk ke dalam gudang.


“ Iya Gue tau. Makanya Gue mau ngecek ke sana Win...,” sahut Hanako.


“ Jangan Han...,” kata Wina dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit gemetar.


“ Kenapa...?” tanya Hanako penasaran.


“ Gapapa, biarin cowok-cowok yang ngurusin itu nanti...,” sahut Wina sambil melengos.


Hanako mengangguk namun tetap menatap kearah pintu gudang seolah ingin menembus rahasia yang tersembunyi di gudang itu.


\=====

__ADS_1


__ADS_2