Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
97. Kasih Tau Aja


__ADS_3

Hanako baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar suara berdetak seperti ada seseorang yang sedang mengetik di atas key board lap top miliknya. Saat Hanako menoleh kearah meja belajarnya ia tak melihat siapa pun di sana. Hanako menghela nafas panjang karena tahu jika hantu penghuni toko kosong di samping toko buku tempatnya bekerja sedang berusaha memperkenalkan diri padanya.


“ Assalamualaikum..., maaf jangan sekarang ya. Aku capek banget dan pengen istirahat...,” kata Hanako sambil menatap meja belajarnya.


Mendadak suara detakan itu berhenti seolah si pemilik suara mengerti dengan ucapan Hanako. Tak lama kemudian Hanako nampak tersenyum. Ia melangkah pelan menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya lalu membaca doa dalam hati, setelahnya memejamkan matanya. Tak lama kemudian dengkuran halus keluar dari mulut Hanako pertanda ia telah pergi ke alam mimpi.


\=====


Keesokan harinya Hanako kembali memulai aktifitasnya seperti biasa. Tak ada yang aneh meski pun Hanako sempat mencari keberadaan makhluk halus yang mencoba memperkenalkan diri padanya semalam.


Sambil memasukkan buku ke dalam tas Hanako memperhatikan sekeliling kamarnya berharap hantu wanita yang dilihatnya kemarain ada di sana dan menyapanya.


“ Kayanya dia ga datang lagi, mungkin nanti ketemu di sana...,” gumam Hanako lalu menutup pintu kamar.


Efliya dan Heru nampak memperhatikan tingkah Hanako dan hanya bisa menghela nafas panjang karena ini bukan kali pertamanya Hanako bertingkah seperti itu. Biasanya jika sudah bersikap seperti itu ada makhluk halus yang ingin berkomunikasi dengan Hanako.


“ Jangan lupa susu dan vitaminnya ya Nak...,” kata Efliya sambil menyodorkan gelas berisi susu kepada Hanako.


“ Iya Bunda, makasih...,” sahut Hanako lalu meneguk susu dalam gelas hingga tandas hingga membuat kedua orangtuanya saling menatap bingung melihat tingkahnya.


“ Ada apa lagi sekarang Nak...?” tanya Heru tak sabar.


“ Ga ada apa-apa kok Yah...,” sahut Hanako.


“ Masa, tapi Ayah mencium sesuatu yang beda dari Kamu hari ini...,” kata Heru sambil mengendus sekitar Hanako


dengan gerakan lucu.


Hanako menatap sang ayah sejenak lalu tersenyum karena sadar tak akan bisa menyembunyikan apa pun dari ayahnya itu.


“ Ga tau yah. Tapi kaya ada yang aneh di toko buku tempat Aku kerja ini...,” sahut Hanako.


“ Kok gitu...?” tanya Heru.


“ Selama Aku kerja di sana baru satu kali Aku masuk ke dalam gudang lho Yah. Aku selalu dilarang masuk ke gudang sama Wina...,” sahut Hanako.


“ Mungkin ada rahasia yang hanya boleh diketahui sama karyawan senior seperti Wina itu Nak...,” kata Heru sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


“ Justru itu Yah. Padahal pemilik toko yang namanya Pak Gofar itu nyuruh Aku masuk ke gudang kalo stock buku udah habis. Diantara tiga karyawan senior cuma si Wina itu yang ngelarang Yah, ga tau kenapa...,” sahut Hanako kesal.


“ Udah lah Kamu ngalah aja kenapa sih Kak. Ga usah bikin masalah biar kerjanya nyaman...,” kata Efliya mengingatkan.


“ Iya Bun. Aku juga nurutin semua omongannya si Wina kok...,” sahut Hanako sambil menyantap makanannya dengan cepat.


“ Kalo ada sesuatu yang mencurigakan langsung lapor sama Ayah ya Nak...,” pesan Heru.


“ Siap Yah...,” sahut Hanako lalu kembali melahap makanan di hadapannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya Hanako pun bergegas pergi ke kampus dengan menggunakan motor matic kesayangannya itu.


\=====


Sore itu toko buku sedang ramai oleh pembeli. Semua karyawan toko buku pun dibuat sibuk hingga Hanako terpaksa melanggar larangan Wina agar tak masuk ke dalam gudang.


Awalnya Hanako hendak minta bantuan Bobi atau Madani. Namun saat ia menoleh kearah luar ia melihat Bobi


sedang mencatat buku-buku yang baru saja diturunkan dari mobil. Sedangkan Madani sedang membantu seorang ibu yang akan membeli buku yang letaknya di rak buku teratas. Hanako menoleh kearah Wina yang ada di meja kasir. Ternyata Wina juga sedang menghitung jumlah uang yang dibayarkan oleh pelanggan toko.


Hanako pun mengalah dan masuk ke dalam gudang seorang diri karena salah satu rak terlihat kosong. Dan salah satu tugasnya adalah memastikan rak buku tetap terisi. Sebelum masuk ke dalam gudang Hanako kembali menoleh kearah Wina berharap gadis itu menoleh kearahnya dan melihatnya namun Wina benar-benar sibuk saat itu.


melangkah masuk ke dalam gudang besar itu.


“Ehm, Assalamualaikum...,” gumam Hanako.


Hanako melangkah menuju lemari penyimpanan buku yang ia cari. Membaca judulnya sesaat lalu meraih beberapa


buku dengan judul yang sama. Setelah merasa cukup, Hanako lalu beralih menuju lemari yang lain.


Namun tiba-tiba terdengar suara berdetak yang beberapa hari ini selalu didengar oleh Hanako. Tanpa rasa takut Hanako mencari asal suara itu. ia menyusuri tiap rak buku berharap menemukan sesuatu di sana tapi nihil. Hanako menatap sebuah lemari kayu yang berada di sudut ruangan dan yakin jika suara itu berasal dari dalam lemari kayu itu.


Tak tak tak....


Hanako perlahan melangkah mendekati lemari dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pintu lemari. Namun mendadak suara itu hilang. Hanako mengurungkan niatnya untuk menyentuh lemari lalu membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar.


Saat hendak menutup pintu gudang Hanako kembali mendengar suara yang sama bahkan lebih jelas seolah berada tepat di belakangnya.

__ADS_1


“ Jangan main-main, Aku lagi sibuk...,” kata Hanako setengah kesal karena merasa dipermainkan.


Hanako pun menoleh kearah belakang untuk melihat sosok yang mengeluarkan suara berdetak itu saat suara Wina mengejutkannya.


“ Hanako...!” panggil Wina dengan suara keras sambil berkacak pinggang.


“ Astaghfirullah aladziim..., Wina ngegetin aja sih...!” sahut Hanako lantang.


“ Ngapain Lo di sini. Kan Gue udah bilang...,” ucapan Wina terputus.


“ Iya iya Gue tau. Tapi Lo liat dong Win. Rak nomor tiga kosong tuh, kan bukunya diborong sama pembeli tadi. Lo


juga yang ngitung pembayarannya kan tadi. Masa Gue diem aja ngeliat rak kosong kaya gitu. Padahal salah satu tugas Gue yang dibilang Pak Gofar tempo hari itu adalah Gue harus mastiin rak buku tetap terisi dan ga boleh kosong. Masa Gue harus nungguin Bang Madani yang lagi repot ngelayanin pembeli gitu.  Ga mungkin lah Win. Semua orang lagi repot dan Gue harus tau diri lah. Lagian Gue ga takut sama hantu Win...!” kata Hanako panjang lebar.


Ucapan Hanako membuat Wina tersentak kaget. Ia tak menyangka jika Hanako bisa bersikap galak dan tegas


seperti saat ini. Wina dan Hanako saling menatap sejenak. Kemudian Wina menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu.


“ Gue ngelarang Lo masuk ke gudang bukan tanpa alasan Han...,” kata Wina.


“ Oh ya. Terus apa alasannya, kenapa Lo ga bilang sama Gue...?” tantang Hanako.


Mendengar perdebatan Wina dan Hanako membuat Madani yang baru saja selesai mengantar buku milik pembeli ke mobilnya pun terkejut.


“ Lo berdua kenapa ribut di sini sih, bukannya kerja...?!” kata Madani lantang hingga mengejutkan Wina dan Hanako.


“ Kita ga ribut Bang. Cuma lagi minta jelasin aja kenapa Gue ga boleh masuk ke dalam gudang sama Wina...,” sahut Hanako sambil menatap Wina.


“ Itu lagi. Udah lah Win. Kasih tau aja sih apa yang terjadi biar Hanako ga penasaran. Lagian makin Lo larang


si Hanako juga makin penasaran. Kan itu emang kodratnya manusia...,” kata Madani.


Tiba-tiba Bobi datang dan melerai ketiga temannya.


“ Kalian ngapain di sini, liat tuh pelanggan udah pada datang. Ntar aja ngobrolnya, sekarang balik ke pos masing-masing...!” kata Bobi tegas.


Madani, Hanako dan Wina pun membubarkan diri dan kembali ke tempat tugas masing-masing.

__ADS_1


\=====


__ADS_2