
Sejak mengungkapkan perasaan terdalamnya pada Qiana, kini semangat Ratih seolah bangkit. Dan itu juga membangkitkan aura positif di sekelilingnya. Ratih lebih sering tersenyum dan membuat semua orang yang mengenalnya bahagia.
Ratih sedang berusaha mendekati Tinah untuk mencari informasi tentang Izar. Tinah pun dengan senang hati
membantu. Ia akan mencari informasi apa pun tentang Izar melalui suaminya. Termasuk memberi tahu Ratih jika Izar akan berkunjung ke rumahnya untuk membicarakan pekerjaan seperti hari itu.
“ Rencananya Mas Izar datang jam berapa Bu...?” tanya Ratih.
“ Sekitar jam sepuluhan Mbak...,” sahut Tinah.
“ Terus ini semua buat apa...?” tanya Ratih sambil menoleh kearah kantong plastik yang berisi sayuran di tangan Tinah.
“ Ya ampun Mbak Ratih kok masih nanya sih. Maksud Saya Mbak Ratih bantu Saya masak buat makan siang. Jadi Mas Izar taunya Mbak Ratih lagi belajar masak sama Saya dan bukan sengaja mau nemuin dia. Gimana, mau ga...?” tanya Tinah.
“ Gitu ya. Saya ajak Ulfa sekalian ya Bu...,” kata Ratih sambil mengeluarkan ponselnya karena ingin menghubungi
Ulfa.
“ Ga usah. Mbak Ratih aja sendiri...,” sahut Tinah sambil memasukkan ponsel Ratih ke dalam saku bajunya.
“ Tapi...,” ucapan Ratih terputus karena Tinah memotongnya dengan cepat.
“ Ga ada tapi-tapian. Kalo cara Mbak Ratih kaya gitu, yang ada justru Mas Izar bakal tertarik sama Ulfa. Sering
kejadian lho cowok yang ditaksir malah naksir temen Kita. Apa Mbak Ratih mau kaya gitu...?” tanya Tinah.
“ Jangan Bu...,” sahut Ratih cepat.
“ Makanya nurut sama Saya ya. Yuk Kita ke rumah Saya sekarang...,” ajak Tinah yang diangguki Ratih.
\=====
Ratih dan Tinah sibuk berkutat di dapur hingga saat Izar datang berkunjung pun keduanya masih sibuk di dapur. Ratih beberapa kali menanyakan jenis bumbu masakan tertentu yang dijawab Tinah dengan senang hati. Suara keduanya yang saling bersahutan juga terdengar hingga ke ruang tamu.
“ Tumben rame banget Pak, ada apaan...?” tanya Izar sambil duduk.
“ Oh itu, biasa lah perempuan kalo kumpul suka heboh sendiri. Mbak Ratih lagi belajar masak sama Istri Saya Mas.
Katanya sih mau ngasih surprise sama cowok yang ditaksirnya...,” sahut Usep santai.
Jawaban Usep membuat Izar mengerutkan keningnya. Ia teringat ucapan Iyaz beberapa waktu lalu tentang Ratih. Dan ia merasa orang yang dimaksud Ratih adalah dirinya.
“ Kenapa Mas...?” tanya Usep saat melihat Izar terdiam.
__ADS_1
“ Gapapa. Oh iya, ini gambar revisi yang Saya maksud kemarin Pak...,” kata Izar sambil memperlihatkan blue print gambar yang dibawanya.
Usep pun membantu membentangkan gulungan kertas itu di atas meja. Kemudian keduanya sibuk membahas perubahan fisik bangunan.
“ Meja receptionistnya dibongkar dong Mas...,” kata Usep.
“ Iya Pak, tapi hanya sisi kiri aja. Nah pintu digeser sedikit biar loby terkesan lebih luas...,” sahut Izar.
“ Untung kusen pintu belum jadi dan keramik meja belum dipasang ya Mas...,” kata Usep sambil tersenyum.
“ Iya. Makanya diusahain Minggu depan semua udah finish ya Pak...,” kata Izar.
“ Insya Allah siap Mas...,” sahut Usep mantap.
“ Makan siangnya juga udah siap Bang. Gimana kalo Kita makan siang dulu...?” tanya Tinah tiba-tiba.
“ Boleh. Gimana Mas Izar...?” tanya Usep.
“ Wah kebetulan nih, Saya juga belum makan...,” sahut Izar ramah.
Kemudian Usep membawa Izar masuk ke ruang makan. Di sana terlihat Ratih tengah menata meja makan. Melihat kehadiran Ratih membuat Izar sedikit risih namun ia berusaha bersikap santai.
“ Kamu di sini juga Tih...?” sapa Izar basa basi.
“ Iya Mas...,” sahut Ratih sambil tersenyum.
“ Oh ya...?” tanya Izar sambil melirik sekilas kearah Ratih.
“ Iya Mas...,” sahut Tinah semangat.
“ Ish, apaan sih Bu Tinah. Saya kan jadi malu...,” sergah Ratih dengan wajah merona.
“ Gapapa dong, kan itu kenyataan. Lagian perempuan emang kudu bisa masak Mbak. Jaman secanggih apa pun perempuan tetap dituntut ke dapur kok. Kebayang kan kalo ga bisa apa-apa, bisa jebol dong pengeluaran bulanan buat makan doang. Iya kan Mas...,” cerocos Tinah.
“ Iya Bu...,” sahut Izar sambil tersenyum.
Melihat reaksi Izar membuat Ratih bahagia. Ia senang karena merasa Izar mendukung niatnya untuk belajar memasak.
“ Udah Tin, ngomong mulu. Kapan makannya nih...,” tegur Usep tak sabar.
“ Eh iya. Maaf Ya Bang, Mas Izar...,” kata Tinah tak enak hati sambil menyodorkan lauk kearah Usep.
“ Gapapa Bu, santai aja...,” sahut Izar sambil meletakkan nasi di atas piringnya.
__ADS_1
Kemudian Izar sedikit termangu saat menatap piring-piring berisi lauk di hadapannya. Melihat Izar yang
kebingungan memilih lauk, Ratih pun turun tangan membantu. Ia mengambilkan lauk untuk Izar sambil menerangkan nama lauk itu. Sedangkan Izar nampak menerima perlakuan Ratih tanpa protes.
Melihat interaksi Ratih dan Izar membuat Usep dan Tinah tersenyum. Apalagi saat Izar meminta Ratih duduk dan makan bersama mereka, Usep dan Tinah pun makin mengembangkan senyumnya.
“ Peresmian kantor cabang itu kapan Mas...?” tanya Usep.
“ Insya Allah dua minggu lagi Pak. Kenapa...?” tanya Izar.
“ Gapapa. Kan biasanya banyak acara hiburan tuh Mas. Apa boleh Saya ngajak Istri Saya ke acara peresmian itu Mas...?” tanya Usep hati-hati.
“ Tentu saja boleh. Biasanya karyawan juga ngajak keluarga mereka untuk ikut meramaikan acara...,” sahut lzar yang diangguki Usep.
Usep pun tersenyum sambil menatap istrinya. la senang karena akhirnya bisa mengajak sang istri dalam acara resmi kantornya.
“ Kalo gitu Mbak Ratih juga boleh ikut kan Mas...?” tanya Tinah tiba-tiba.
“ Boleh...,” sahut Izar cepat hingga membuat Tinah dan Ratih senang.
Mendengar jawaban Izar membuat Ratih melonjak senang. Ia tak menyangka jika jalannya mendekati Izar sangat mudah.
\=====
Hari persmian kantor cabang di Cilodong pun hampir tiba. Semua persiapan dilakukan maksimal. Kali ini Hanako
ikut turun tangan membantu mendekorasi ruangan. Kehadiran Hanako membuat semangat Iyaz dan Izar bangkit. Mereka bekerja sama membuat peresmian kali ini berbeda dari biasanya.
Arena lomba dihiasi beragam bendera dan umbul-umbul warna warni. Tenda untuk pameran seni dan bazar juga
disiapkan dan diletakkan di sepanjang sisi lapangan hingga fokus acara berada di tengah lapangan.
“ Konsep acaranya apa sih Zar. Kok full colour gini...?” tanya Hanako sambil menatap ke seklilingnya.
“ Emang sengaja dibuat full colour Ci, biar semarak aja...,” sahut Izar sambil tersenyum.
“ Terus itu meja buat apaan...?” tanya Shera sambil menunjuk deretan meja kursi di samping meja receptionist.
“ Itu tempat buat para sponsor acara Ci...,” sahut Izar sambil melangkah keluar.
“ Kenapa ga ditaro di luar aja...?” tanya Hanako.
“ Ga enak lah Ci. Kalo di luar khusus buat pameran seni dan bazar aja. Lagian kan ga nyaman kalo harus menjelaskan sesuatu di bawah terik matahari, apalagi kalo dilakukan dalam jangka waktu lama...,” sahut Iyaz.
__ADS_1
Hanako pun mengangguk tanda mengerti lalu melangkah mengikuti Iyaz yang menemui Nuara di sudut yang lain.
\=====