Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
207.Bayi Uzur


__ADS_3

Setelah kembali dari Sumatra, Pandu pun menemui Hanako. Masih sama seperti sebelumnya, Hanako terlihat tak nyaman saat Pandu menyambanginya.


“ Kamu udah pulang Mas. Berapa lama di Sumatra...?” tanya Hanako sambil menatap Pandu lekat.


“ Sepuluh hari. Pas sampe Jakarta Aku langsung ke sini lho, abis udahga sabar pengen ketemu Kamu. Aku kangen sama Kamu Sha...,” sahut Pandu seperti biasanya hingga membuat wajah Hanako merona.


“ Ck, kenapa Kamu seneng banget gombal sih Mas. Pasti semua cewek yang Kamu gombalin ge er ya...,” kata Hanako sambil berdecak sebal.


“ Ga ada cewek yang Aku gombalin kok. Lagian Aku ngomong kaya gini kan cuma sama Kamu Sha...,” sahut Pandu


meyakinkan.


“ Masa...?” tanya Hanako tak percaya.


“ Serius. Apa perhatianku selama ini ga bisa mengetuk pintu hatimu Sha...?” tanya Pandu sambil menatap Hanako lekat.


“ Aku...,” ucapan Hanako terputus saat Pandu memotong dengan cepat.


“ Gapapa Sha, Aku masih sabar kok nunggu Kamu...,” kata Pandu sambil tersenyum.


Hanako tak menjawab lalu menundukkan wajahnya karena merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat mendengar ucapan Pandu tadi.


Sejak saat itu Pandu terus menghujani Hanako dengan perhatian dan ucapan manis yang mau tak mau membuat Hanako tersanjung. Akhirnya Hanako luluh dan mau membuka hati untuk Pandu.


Saat Pita melahirkan anak pertamanya Hanako pun datang menjenguk. Ia membawa buah tangan khusus untuk sang bayi. Hanako datang menjenguk ke rumah Pita ditemani Pandu yang tentu saja membuat Pita dan Ramdan senang melihatnya.


“ Jadi gimana Mas...?” tanya Ramdan sambil menatap Hanako.


“ Alhamdulillah, keliatannya dia udah mau buka hati buat Gue. Semoga aja bisa segera menikahinya...,” sahut Pandu.


“ Aamiin. Semangat ya Mas, Gue dukung Lo...,” kata Ramdan.


“ Iya makasih...,” sahut Pandu sambil menatap Hanako yang tengah menggendong bayi Pita.


Sedangkan Hanako yang sedang menggendong bayi mungil itu nampak menoleh saat melihat sekelebat bayangan yang berlarian di rumah Pita. Hanako mengerutkan keningnya karena melihat penampakan sosok anak kecil berkepala botak yang biasa disebut tuyul tengah berlarian di dalam rumah.


“ Rumah ini beli atau bangun sendiri Pit...?” tanya Hanako.

__ADS_1


“ Beli udah jadi Han, terus direnovasi dikit. Nambahin bikin kamar bayi juga. Kenapa emangnya...?” tanya Pita sambil meraih bayinya yang terlelap di gendongan Hanako.


“ Udah bikin syukuran belum...?” tanya Hanako.


“ Belum. Rencananya sih sekalian sama aqiqah si kecil nanti...,” sahut Pita sambil meletakkan bayinya di dalam box bayi.


“ Oh gitu ya. Harusnya Kamu ngadain syukuran kecil-kecilan Pit biar rumah mu lebih nyaman saat ditempati...,” kata Hanako sambil menatap tuyul yang berseliweran di dalam rumah.


“ Aku juga pernah ngomong kaya gitu sama Ramdan dan Pita. Tapi Suami Istri ini emang kepala batu, jadi gitu lah...,” sela Pandu tiba-tiba.


“ Bukan gitu Mas. Biar irit dan ga ribet aja kalo harus dua kali ngadain acara...,” kata Ramdan membela diri dan diangguki Pita.


“ Tapi ini kan dua acara yang berbeda Dan. Yang satu syukuran rumah baru, yang satunya syukuran kelahiran bayi. Gimana bisa dibilang ribet sih...?” protes Pandu.


Pita dan Ramdan terdiam karena sadar jika mereka salah. Tak enak hati sudah menimbulkan perdebatan dalam keluarga kecil Pita, Hanako pun pamit pulang. Pita dan Ramdan pun melepas kepergian Hanako dan Pandu sambil terus memikirkan ucapan Hanako tadi.


“ Apa Kita salah ya Pa...?” tanya Pita.


“ Kayanya sih gitu Ma. Liat ga tadi ekspresinya Mas Pandu dan Hanako, sama banget ya. Sama-sama ga suka sama alasan yang Aku bilang tadi...,” sahut Ramdan sambil mengusap wajahnya.


“ Ya udah lah, udah terlanjur juga. Jangan lupa kambing buat aqiqahnya ya Pa...,” kata Pita sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Namun Ramdan terkejut saat mendengar jeritan istrinya dari kamar. Bergegas Ramdan mendatangi sang istri yang terlihat mematung di tengah kamar sambil menunjuk ke box bayi.


“ Ada apa Ma...?” tanya Ramdan.


“ Dia..., dia datang lagi Pa.Tadi dia malah naik ke atas box bayi...,” sahut Pita dengan suara bergetar.


“ Kok Kamu diem aja sih Ma. Angkat dong si dedek, ntar kalo dia diapa-apain sama makhluk itu gimana...?!” kata Ramdan sambil bergegas meraih bayinya yang tampak gelisah dalam box bayi.


Ramdan pun membawa bayinya keluar kamar sambil menggamit tangan Pita. Setelahnya ia mendudukkan pita di kursi tamu dan membuka pintu agar udara dan sinar matahari masuk ke dalam rumah. Melihat istrinya yang masih shock membuat Ramdan iba lalu mengambilkan air minum untuk Pita.


“ Minum dulu Sayang. Maaf ya kalo Aku bentak Kamu tadi, Aku panik ngeliat si kecil Kamu tinggalin di dalam box bayi kaya gitu tadi...,” kata Ramdan sambil mencium kening Pita.


“ Gapapa Pa, Aku yang salah karena ga sigap tadi...,” sahut Pita.


Kemudian Ramdan menyerahkan bayinya yang menangis pada Pita untuk disusui. Sambil duduk Pita pun menyusui bayinya.

__ADS_1


“ Jangan-jangan Hanako juga ngeliat makhluk yang selama ini ada di rumah ini Pa...,” kata Pita tiba-tiba.


“ Mungkin juga. Tapi udah lah Ma, Kita kan juga lagi nyiapin aqiqah buat si kecil. Berdoa aja supaya makhluk itu ga gangguin lagi sampe acara aqiqah digelar...,” sahut Ramdan yang diangguki Pita.


\=====


Malam itu Ramdan tak bisa tidur karena terus memikirkan ucapan Hanako dan Pandu. Karena tak ingin mengganggu tidur anak dan istrinya, Ramdan pun keluar dari kamar untuk merokok menghilangkan kegelisahannya.


Setelah menghabiskan dua batang rokok Ramdan pun memutuskan kembali ke kamarnya. Saat itu ia melihat Pita sedang dalam posisi menyamping seolah sedang menyusui bayinya. Ramdan pun tersenyum dan bermaksud memberi dukungan pada istrinya seperti biasa saat Pita menyusui.


Namun langkah Ramdan terhenti saat melihat bayinya nampak terlelap di tengah tempat tidur.


“ Pita nyususin siapa, kan si dedek lagi tidur...?” gumam Ramdan sambil mengerutkan keningnya.


Karena penasaran, Ramdan pun mendekati Pita dan berniat membangunkannya. Namun bayi yang sedang disusui Pita seperti mengerti lalu mendongakkan kepalanya menghadap Ramdan.


Ramdan terkejut bukan kepalang saat melihat bayi yang tengah disusui Pita berwajah sangat menyeramkan.


Berwujud anak kecil berkepala botak, dengan kulit wajah pucat dan mengeriput, ada taring kecil di sudut bibirnya dan tetesan darah di dagunya pertanda bahwa dia baru saja menghisap darah bukan ASI !.


Ramdan menjerit histeris hingga membangunkan Pita dan bayinya. Saat Pita terbangun, bayi yang tengah menyusu itu pun lenyap seketika.


“ Ada apa sih Pa, ngagetin aja...?!” tanya Pita sambil merapikan pakaiannya yang tersingkap.


“ Ta..., tadi Aku..., Aku liat ada tuyul yang lagi nyusu sama Kamu Ma...,” sahut Ramdan dengan suara bergetar.


“ Apa, jangan nakutin Kamu Pa...?!” jerit Pita sambil menghambur memeluk Ramdan dan membiarkan bayinya menangis.


“ Aku ga bohong Ma. Angkat dulu bayinya Ma, kasian si dedek...,” kata Ramdan.


“ Aku ga mau Pa, Aku takut...,” sahut Pita mulai menangis.


“ Minggir dulu Kamunya, biar Aku yang gendong...,” kata Ramdan sambil berusaha menggendong bayinya.


Namun Ramdan kembali dibuat terkejut saat melihat bayi yang ia kira bayinya pun berubah menjadi sosok bayi yang tadi dilihatnya menyusu pada istrinya. Refleks Ramdan melempar bayi itu hingga terhempas di tempat tidur. Pita pun menjerit saat selimut yang menutupi tubuh bayinya tersingkap dan memperlihatkan wajah bayinya.


“ Kenapa bayi Kita jadi uzur kaya Kakek-kakek gitu Pa...?” tanya Pita panik sambil berlari keluar kamar.

__ADS_1


Ramdan pun mengikuti istrinya yang berlari keluar kamar. Kini keduanya berdiri di ambang pintu kamar sambil menatap bayi yang menangis itu tanpa berani mendekat.


Bersambung


__ADS_2