
Faiq dan Fatur mendatangi rumah Warti dan memberitahu kapan waktu pelaksanaan ruqyah untuk Warti dan anaknya. Mereka juga menawarkan diri untuk menjemput namun Warti menolak. Ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan Faiq dan keluarganya. Karena itu Warti memilih tak memperpanjang deretan hutang budinya pada Faiq. Warti dan Wawan pun berjanji akan datang untuk menghilangkan aura mistis yang melingkupi hidup mereka selama ini.
Dua hari setelah pemusnahan iblis penghuni cermin, ruqyah untuk Warti dan Wawan pun dilaksanakan. Warti dan Wawan kini sudah berada di rumah Darius dan tengah mendengarkan arahan dari Faiq tentang apa yang harus
mereka lakukan saat diruqyah nanti. Saat itu Hanako juga hadir untuk mendampingi Warti.
“ Apa setelah ruqyah, Kami aman dan ga akan diganggu setan lagi Om...?” tanya Wawan.
“ Insya Allah. Nah, Kalian liat cermin itu kan...?” tanya Faiq yang diangguki Warti dan Wawan.
“ Coba Kalian mendekat ke sana dan bercermin di sana...,” saran Fatur.
Warti dan Wawan saling menatap kemudian mengangguk lalu mendekati cermin. Mereka melihat pantulan diri mereka sama persis dengan apa yang mereka lihat sebelumnya.
“ Cermin ini udah sembuh Pak...?” tanya Warti sambil menyentuh cermin dengan telapak tangannya.
Pertanyaan Warti membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.
“ Cermin itu ga sakit Bu Warti...,” sahut Faiq di sela tawanya.
“ Iya, maksud Saya cermin ini udah ga bohong lagi kaya dulu kan...,” sahut Warti malu.
“ Insya Allah udah jadi cermin biasa dan ga akan bohongin Bu Warti lagi kok...,” kata Faiq sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah...,” sahut Warti dan Wawan sambil tersenyum.
“ Kalo boleh tau, selain gangguan berupa pantulan yang ga seharusnya itu apa Bu Warti juga pernah dapat gangguan lain...?” tanya Fatur.
“ Paling hanya suara-suara aneh aja Pak. Tapi kalo Anak Saya beberapa kali ngalamin mimpi aneh gitu.Iya kan Wan...? tanya Warti sambil menoleh kearah Wawan.
“ Iya Bu...,” sahut Wawan sambil mengangguk.
__ADS_1
“ Mimpi apa...?” tanya Fatur lagi.
“ Mimpi kaya liat wanita dewasa yang lagi sedih. Wajahnya cantik dan dia manggil-manggil Saya Om. Waktu itu Saya kayanya masih kecil dan ada di dalam gendongan seorang laki-laki dewasa juga, ga tau siapa...,” sahut
Wawan sambil menggedikkan bahunya.
Mendengar jawaban Wawan membuat Faiq dan Fatur terdiam. Mereka saling menatap sejenak seolah menemukan jawaban dari pertanyaan mereka selama dua hari ini. Meski pun belum yakin 100%, namun keduanya menganggap jika mimpi Wawan adalah petunjuk untuk menemukan orang yang dimaksud oleh hantu Ratu.
“ Kita mulai sekarang aja Nak. Cici, Kamu juga udah siap kan...?” tanya Fatur.
“ Siap Opa...,” sahut Hanako mantap hingga membuat Fatur dan Faiq tersenyum.
Lalu mereka berlima mulai berdzikir. Fatur meminta Wawan untuk membaca Al Qur’an. Meski pun terbata-bata namun Wawan bisa membaca Al Qur’an dengan baik. Beberapa saat kemudian Hanako melihat jika ada sosok
bayangan wanita di dalam cermin tengah menatap kearah mereka, kearah Wawan lebih tepatnya. Menyadari jika Hanako bisa melihatnya, hantu wanita yang tak lain adalah Ratu itu pun tersenyum. Hanako membalas senyuman hantu Ratu lalu kembali berdzikir.
Tak lama kemudian tubuh Warti yang semula duduk bersimpuh itu pun ambruk. Dari mulutnya mulai terdengar erangan dan ucapan yang sulit dimengerti. Hanako membantu menyadarkan Warti namun gagal. Faiq pun menyentuh punggung Hanako yang sedang sibuk menyadarkan Warti untuk mencari tahu apa yang diinginkan sosok yang merasuki Warti. Sementara itu Wawan mulai kehilangan konsentrasinya melihat ibunya jatuh tak sadarkan diri.
Wawan mengangguk lalu kembali melanjutkan mengaji.
“ Jangan ganggu dia, keluar lah...,” kata Faiq saat telah tersambung dengan makhluk halus yang merasuki Warti.
Makhluk yang tak lain adalah hantu Ratu itu menolak bahkan ia seolah mengajak Faiq masuk ke masa dimana ketika ia masih hidup dan tengah mengejar cinta suaminya.
Faiq melihat sosok Ratu tengah melamun di pinggir jendela. Ia tengah menunggu kepulangan suaminya yang bermana Haryoko. Sudah lebih dari satu bulan Ratu belum bertemu dengan suaminya itu. Rasa rindu dan curiga
menyelimuti hatinya. Ratu rindu pada Haryoko sekaligus curiga jika suaminya itu memiliki wanita lain. Untuk menghibur hatinya Ratu berjalan-jalan ke tengah kota.
Saat itu tak sengaja Ratu melihat Haryoko tengah berjalan di samping seorang wanita sambil menggendong anak kecil berusia satu tahun. Hati Ratu sakit mendapati gosip yang didengarnya selama ini adalah kenyataan. Ia yakin jika itu adalah anak dan istri baru Haryoko. Ratu mencoba mengikuti suami dan keluarga kecilnya itu namun ia kehilangan jejak. Kemudian Ratu memutuskan kembali ke rumah dengan hati yang terluka.
Saat kembali ke rumah Ratu pun mengamuk dan menghancurkan benda-benda yang ada di rumahnya. Para pelayan setianya tak ada yang berani mendekat karena takut akan jadi sasaran kemarahan Ratu. Tak lama kemudian suami Ratu tiba dan terkejut melihat para pelayan sedang berbaris di teras rumah.
__ADS_1
“ Kalian sedang apa di sini...?” tanya Haryoko.
“ Maaf Juragan, Nyonya sedang marah-marah di dalam. Kami takut Nyonya bakal memarahi Kami kalo Kami masuk. Makanya Kami bediri di sini sampe kemarahan Nyonya mereda...,” sahut salah seorang pelayan.
“ Apa Nyonya sering kali bertingkah kaya gini...?” tanya Haryoko penasaran.
Para pelayannya terdiam dan tak berani menjawab. Dari sana lah Haryoko menyimpulkan jika istri cantiknya itu sering kali berbuat ulah. Haryoko bergegas masuk ke dalam rumah saat mendengar kegaduhan. Ia terkejut saat melihat lantai rumah telah dikotori oleh perabotan rumah tangga yang pecah akibat ulah Ratu.
“ Apalagi kali ini Ratu...?” tanya Haryoko.
Mendengar suara suaminya Ratu menoleh. Ada kilatan marah di kedua matanya.
“ Apalagi. Bukannya Aku yang harusnya tanya Kamu Mas. Kemana Kamu selama ini, kenapa baru pulang...?!” tanya Ratu marah.
“ Aku ada urusan...,” sahut Haryoko cuek sambil melintas di depan Ratu.
“ Urusan dengan Istri barumu dan Anaknya yang lucu...,” sindir Ratu.
“ Bagus lah kalo Kamu udah tau, jadi Aku ga perlu jelasin apa-apa...,” sahut Haryoko santai.
“ Kenapa Kamu kaya gini Mas, apa salahku...?” tanya Ratu menghiba.
“ Kamu udah tau apa salahmu Ratu. Aku udah bilang supaya Kamu berubah, tapi Kamu malah makin menjadi. Sudahi sandiwaramu itu, Aku capek dan mau istirahat...,” sahut Haryoko lagi hingga membuat Ratu kesal.
“ Jika Anak yang Kamu jadiin masalah, harusnya Kamu ngaca Mas.Bagaimana Aku bisa hamil kalo Kamu aja jarang pulang dan ga pernah menyentuhku...!” kata Ratu marah.
“ Alasanku ga menyentuhmu karena hasratku untuk melakukan itu denganmu sudah hilang. Tiap kali menyentuhmu Aku selalu ingat sikap aroganmu pada orang-orang yang ada di sekitar Kita termasuk pada orangtuamu sendiri. Kamu merasa dirimu sempurna dan Aku bukan laki-laki sempurna Ratu. Aku lebih nyaman dengan Harni karena dia memiliki hati yang baik walau raganya tak secantik dirimu...,” sahut Haryoko sambil mengemasi pakaiannya.
Ucapan Haryoko mengejutkan Ratu. Ia tak menyangka jika sikap arogannya telah memudarkan cinta suaminya. Apalagi Haryoko membandingkan dirinya dengan wanita lain yang menurutnya tak selevel dengannya. Ratu menatap suaminya yang telah selesai berkemas. Lalu Haryoko pergi meninggalkan Ratu begitu saja tanpa pamit.
“ Aku bakal bikin Kamu balik lagi Mas, apa pun caranya...,” gumam Ratu sambil tersenyum sinis saat melepas Haryoko pergi.
__ADS_1
\=====