
Mobil tiba di depan rumah dan Santoso langsung menghambur masuk ke dalam rumah saat didengarnya jeritan
Yamini. Santoso lupa mempersilakan Sifa, Izar dan Leo untuk masuk ke dalam rumah saking khawatirnya dengan keadaan Yamini.
Izar, Leo, Sifa pun membuka pintu mobil lalu bergegas turun dari mobil. Mereka tertegun di depan pintu saat melihat Tiara mengamuk di dalam rumah. Santoso sedang berusaha menenangkan Tiara sedangkan Yamini nampak meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
Suara Tiara terdengar berbeda dan itu memperjelas kondisi Tiara yang sedang kerasukan. Izar pun maju ke depan
mendekati Tiara. Lalu Izar meraih tangan Santoso dan meletakkannya di kepala Tiara sambil membacakan beberapa ayat ruqyah. Sesaat kemudian tubuh Tiara nampak bergetar hebat lalu terdiam. Perlahan Santoso menarik tangannya dari kepala Tiara sambil menatap kagum kearah Izar yang tampak tenang itu.
“ Alhamdulillah. Baringkan di lantai aja Om...,” pinta Izar.
“ Iya...,” sahut Santoso sambil berusaha membaringkan Tiara di lantai dibantu oleh Leo.
Sifa pun maju mendekati Yamini dan membantunya berdiri.
“ Tante gapapa kan...?” tanya Sifa.
“ Iya gapapa, Tante cuma kaget aja ngeliat Tiara mendadak bangun terus ngamuk kaya tadi. Untung Kalian cepet datang...,” sahut Yamini sambil tersenyum.
“ Jadi ada apa ini. Bisa tolong jelasin apa yang bikin Tiara sakit dan kerasukan kaya gini...?” tanya Santoso sambil menatap Sifa lekat.
Sifa mengangguk kemudian mulai menceritakan semua yang dialami Tiara. Tak ada yang terlewat satu pun termasuk tentang gangguan makhluk hitam berkepala botak di kamar Tiara.
“ Jadi maksud Kamu Tiara disantet orang gitu...?” tanya Yamini.
“ Saya pikir begitu Tante. Soalnya apa yang dialami Tiara itu ga masuk akal banget...,” sahut Sifa.
“ Terus Kita harus gimana supaya Tiara ga terus menerus diterror sama makhluk itu...?” tanya Yamini.
“ Kalo Om sama Tante percaya, Saya bisa bantu panggilin orang yang mengerti hal mistis kaya gini...,” kata lzar menawarkan diri.
“ Boleh deh. Asal bukan dukun ya nak...,” sahut Santoso.
“ Ok Om. Kalo gitu Kami balik ke kampus dulu. Untuk sementara biarkan Tiara berbaring di bawah dulu ya Om. Insya Allah ntar sore Saya balik lagi ke sini...,” kata Izar yang diangguki Santoso.
__ADS_1
\=====
Sore harinya Izar kembali ke rumah Santoso bersama ayahnya. Sifa juga datang kembali untuk menemani Tiara
atas permintaan Yamini. Faiq bersedia membantu karena prihatin akan nasib Tiara. Santoso dan Yamini nampak tertegun sejenak saat mengetahui jika orang yang akan membantu mereka adalah seorang reporter televisi terkenal. Sedangkan Izar hanya mengulum senyum melihat sikap Santoso dan Yamini saat bertemu ayahnya.
“ Jangan bahas itu sekarang ya Pak, yang penting Kita cepat membantu Tiara...,” kata Faiq sambil tersenyum melihat wajah tegang Santoso dan Yamini saat pertama kali melihatnya.
“ I, iya Pak...,” sahut Santoso salah tingkah.
“ Mari silakan masuk Pak Faiq...,” kata Yamini.
“ Terima kasih. Dimana Tiara...?” tanya Faiq.
“ Di ruang tengah. Izar bilang untuk sementara jangan mindahin Tiara ke kamar...,” sahut Yamini.
“ Itu yang terbaik karena sumber semua mala petaka itu ada di kamar Tiara...,” kata Faiq.
Kemudian mereka masuk ke ruang tengah dan melihat Tiara sedang bicara dengan Sifa. Keduanya menoleh dan
nampak terkejut melihat kehadiran Faiq di sana. Namun belum lagi langkah Faiq tiba di depan Tiara, gadis itu sudah menunjukkan sikap yang berbeda. Tiara memalingkan wajahnya kearah lain lalu berdiri dan bergegas masuk ke kamarnya.
“ Baik Pak...,” sahut Santoso yang langsung menggamit tangan Tiara dan membawanya duduk kembali di atas karpet.
“ Aku mau ngambil sesuatu yang ketinggalan di dalam Yah...,” kata Tiara beralasan.
“ Kamu bilang barang apa yang ketinggalan biar Sifa yang ngambilin nanti...,” sahut Santoso.
“ Tapi Yah...,” kata Tiara segera terputus saat Faiq meminjam telapak tangan Santoso dan mengusap wajah Tiara dengan cepat hingga Tiara jatuh tak sadarkan diri.
Setelahnya Faiq meminta semua orang untuk berwudhu lalu berdzikir sedangkan Izar diminta untuk membaca Al Qur’an. Suara merdu Izar saat mengaji membuat suasana di dalam ruangan itu terasa sejuk. Diam-diam Sifa tersenyum kagum mendengar lantunan ayat suci yang dibaca Izar.
Tak lama kemudian terdengar suara menggeram dari dalam kamar Tiara. Semua orang menatap kearah kamar yang pintunya memang sengaja dibuka itu. Mereka tak melihat apa pun tapi Faiq dan Izar melihat sosok yang selama ini sembunyi di dalam kamar Tiara nampak merayap keluar dari kolong tempat tidur Tiara.
Sosok hitam besar berkepala botak itu nampak menyeringai. Wujudnya seperti lumpur hitam dengan kepala yang menyembul di tengah. Perlahan sosok itu berdiri hingga kepalanya menyentuh langit-langit kamar Tiara saking tingginya. Bau pesing seperti toilet kotor pun menyeruak saat mahkluk itu membuka mulutnya seolah mengejek. Faiq pun melangkah mendekat kearah kamar dan berdiri di ambang pintu kamar Tiara.
__ADS_1
“ Sudah cukup main-mainnya. Pergilah...!” kata Faiq lantang.
“ Jangan ganggu kesenanganku...!” sahut makhluk itu sambil menggeliat marah.
“ Pergi lah, di sini bukan tempatmu...,” kata Faiq.
“ Di sini adalah tempatku, milikku. Gadis itu yang sudah mencuri tempatku...,” sahut makhluk itu.
“ Dia bukan pencuri. Dia dibawa ke sini dengan cinta dan kasih sayang, bukan sepertimu yang dibawa dengan amarah dan kebencian. Pergi lah dengan sukarela atau Aku terpaksa mengusirmu dengan cara yang kasar...,” ancam Faiq.
Makhluk itu tertawa lalu berbalik menghadap Faiq dengan tubuhnya yang lumer seperti lumpur itu. Sedangkan Yamini dan Santoso nampak mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Faiq tadi. Nampaknya mereka mulai mengerti jika sesuatu yang mengganggu Tiara adalah ‘kiriman’ seseorang yang tak suka dengan kehadiran Tiara. Dan mereka menduga Todi lah pelakunya, adik kandung Yamini yang telah mereka usir dulu.
Terdengar kegaduhan di dalam kamar Tiara usai Faiq mengatakan hal itu. Nampaknya makhluk itu marah dan tak terima saat Faiq mengatakan kebenaran tentang status Tiara di dalam keluarga Santoso. Sifa yang duduk di samping Yamini pun nampak gemetar ketakutan karena melihat benda berterbangan di kamar Tiara tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya.
“ Aku memang dikirim oleh seseorang yang membenci gadis itu. Tapi setelah beberapa waktu bersamanya Aku malah menyukainya dan tak ingin jauh darinya. Jadi tak ada yang bisa memaksaku pergi dari sini. Apalagi aku telah menikahinya dan menanamkan benihku di rahimnya...,” kata makhluk berkepala botak sambil menyeringai puas.
“ Astaghfirullah aladziim..., Kamu telah melampaui apa yang menjadi tugasmu. Ingat, ini ga akan mudah. Pergi lah selagi ada kesempatan...,” kata Faiq sambil melemparkan butiran garam yang telah diruqyah sebelumnya kearah makhluk itu.
Suara jeritan terdengar saat butiran garam kasar itu menyentuh tubuh makhluk itu. Meski jeritan itu hanya bisa didengar oleh Faiq dan Izar, namun efek yang ditimbulkan sangat mencengangkan. Seolah ada badai lokal di dalam kamar Tiara karena angin yang bertiup tiba-tiba entah darimana asalnya mampu membuat benda-benda ringan
berterbangan di dalam kamar. Lampu gantung yang ada di kamar Tiara bergoyang hebat lalu terlepas dengan sendirinya hingga jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Gorden jendela tersibak dengan kasar bahkan sobek besar seolah ada kekuatan besar yang menariknya. Kursi di dekat meja terlempar hingga menghantam dinding dan hancur berantakan.
Kegaduhan itu membuat Yamini, Santoso dan Sifa gemetar ketakutan namun Tiara tetap terlihat tidur tenang tanpa terusik di atas karpet. Kemudian Faiq menoleh kearah Izar yang nampak menganggukkan kepalanya lalu bangkit dan mendekati ayahnya. Lalu keduanya bersamaan merangsek masuk ke dalam kamar sambil bertakbir.
“ Allahu Akbar..., Allahu Akbar..., Allahu Akbar...,” kata Faiq dan Izar bersamaan.
Sesaat kemudian terdengar ledakan keras di dalam kamar Tiara seolah baru saja ada bom yang meledak. Cahaya putih keperakan menerangi kamar untuk sesaat bersamaan dengan bau gosong yang pekat pertanda ada sesuatu yang terbakar. Setelahnya hening, tenang, tak ada suara apa pun hingga membuat Santoso, Yamini dan Sifa pun saling menatap dengan tatapan khawatir.
“ Alhamdulillah...!” seru Faiq dan Izar dari dalam kamar Tiara sambil melangkah keluar kamar.
“ Alhamdulillah, kayanya mereka berhasil Tante...!” sahut Sifa antusias.
Santoso dan Yamini pun tersenyum saat melihat Faiq dan Izar keluar dalam keadaan baik-baik saja. Bagaimana pun mereka tak ingin terjadi hal yang buruk pada tamu mereka itu hingga harus berurusan dengan polisi nanti.
“ Kalian gapapa...?” tanya Santoso.
__ADS_1
Belum sempat Faiq dan Izar menjawab, suara lirih Tiara terdengar dan membuat semua orang memusatkan perhatian padanya.
Bersambung