
Setelah Rima memberi keterangan pada pihak kepolisian tentang siapa yang telah membunuh Abin, polisi pun bergerak cepat. Mereka mendatangi rumah orangtua Rima untuk menangkap Mursal dan ketiga temannya.
Saat polisi datang ke rumah orangtua Rima kebetulan Mursal dan ketiga temannya sedang tak ada di tempat karena sedang ditugaskan mengawal pengiriman sapi ke daerah Jakarta Timur. Sejak Rima hamil dan tak lagi kuliah, ayah Rima memang menugaskan Mursal ke bagian lain karena Rima tak lagi perlu pengawalan.
“ Ada apa ini, kenapa ada banyak Polisi di sini...?” tanya ayah Rima yang baru saja tiba dari luar kota.
“ Maaf Pak, Kami datang untuk menjemput Saudara Mursal. Ini surat penangkapannya...,” kata seorang polisi sambil menyerahkan amplop berisi perintah penangkapan untuk Mursal.
“ Tunggu, maksud Pak Polisi Mursal terlibat dalam pembunuhan Abin yang preman pasar itu...?” tanya ayah Rima.
“ Betul Pak...,” sahut polisi.
“ Tapi itu ga mungkin Pak. Mursal Saya suruh mengawal Anak Saya Rima 24 jam dan dia ga mungkin punya waktu buat ngebunuh si Abin itu...,” kata ayah Rima berusaha membela anak buahnya.
“ Tapi Kami menemukan beberapa bukti keterlibatan Mursal dengan kematian korban Pak. Termasuk laporan dari Saudari Rima yang mengatakan jika pernah mendengar pengakuan Mursal dan ketiga temannya jika mereka sudah membunuh Abin.Pak...,” sahut polisi.
Ayah Rima nampak menahan geram. Ia menoleh saat melihat Rima keluar dari kamarnya dan berjalan kearahnya dengan perutnya yang membuncit itu.
“ Ayah, ada apa ini...?” tanya Rima sambil memegangi perut besarnya.
“ Apa benar Kamu udah bikin laporan ke Polisi kalo Mursal yang membunuh si Abin breng**k itu Rima...?” tanya ayah Rima.
“ Iya Yah, memang Aku yang ngelapor ke Polisi kemarin...,” sahut Rima santai.
“ Kamu jangan sembarangan lapor dong Rima. Liat apa akibatnya, sekarang Bapak Polisi ini datang untuk nangkap Mursal dan temannya gara-gara laporan Kamu...,” kata ayah Rima tak suka.
“ Aku ga sembarangan Yah. Mereka emang udah membunuh Abin, Ayah dari Anakku ini...,” sahut Rima sambil mengusap perutnya.
“ Jangan ngaco Kamu Rima...!” kata ayah Rima lantang.
“ Aku ga ngaco Yah. Aku dengar sendiri kok kalo Mursal dan ketiga temannya ngomongin soal pembunuhan Abin.
Mereka mukulin Abin, terus ngikat Abin dan melemparnya ke sungai dari atas jembatan...,” sahut Rima dengan berurai air mata membayangkan penderitaan laki-laki yang dicintainya saat sakaratul maut.
__ADS_1
Ayah Rima terdiam. Ia tak menyangka jika pengawal pribadi kepercayaannya bisa melakukan kejahatan dengan menghabisi nyawa laki-laki yang menghamili Rima dengan cara yang kejam.
“ Baik lah Pak Polisi. Saat ini Mursal sedang Saya tugaskan mengawal pengiriman sapi. Mungkin malam nanti dia baru kembali. Atau kalo Pak Polisi mau, Saya bisa berikan alamat pengiriman sapi-sapi itu...,” kata ayah Rima.
“ Opsi kedua lebih baik Pak. Tapi Kami mohon kerja sama Anda untuk tidak memberitahukan kedatangan Kami ke sini. Nanti anggota Kami akan menyusul ke alamat ini dan sebagian tinggal di sini untuk mengawasi...,” sahut sang polisi yang diangguki ayah Rima.
Setelah menerima alamat yang diberikan oleh ayah Rima, polisi pun segera mengejar Mursal dan sebagian berjaga di sekitar rumah ayah Rima.
\=====
Setelah melalui drama yang panjang akhirnya Mursal berhasil ditangkap dalam perjalanan kembali menuju rumah ayah Rima. Mursal sempat menyangkal tuduhan polisi, namun saat polisi memberikan bukti keterlibatannya pun Mursal tak bisa mengelak.
Kemudian Mursal mengatakan siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan Abin. Dan dengan mudah polisi berhasil meringkus ketiga teman Mursal tanpa perlawanan.
Saat mereka diinterogasi oleh pihak kepolisian, Mursal yang paling banyak menjawab karena dia lah dalang dari aksi keji itu.
“ Apa alasanmu melakukan itu...?” tanya polisi.
“ Melecehkan bagaimana, mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Jadi itu ga bisa disebut pelecehan...,” kata polisi.
“ Saya kesal waktu Abin nyuruh Non Rima untuk aborsi Pak. Padahal setau Saya wanita yang telah melakukan aborsi akan sulit punya Anak di masa depan. Lagipula yang Saya dengar aborsi itu menyakitkan Pak. Saya ga rela Abin menyakiti Non Rima, makanya Saya berinisiatif memberi dia pelajaran...,” sahut Mursal.
“ Jangan-jangan Kamu menyukai Rima. Jadi aksimu itu dilakukan atas dasar cemburu dan sakit hati, begitu...?” tanya polisi.
“ Iya Pak, Saya memang mencintai Non Rima...,” sahut Mursal lirih sambil menundukkan kepalanya.
Jawaban Mursal membuat Rima dan ayahnya terkejut. Mereka yang sengaja melihat langsung proses interogasi itu tak menyangka jika Mursal memiliki perasaan cinta pada Rima.
“ Tapi itu ga bisa dijadiin pembenaran dari aksimu menghilangkan nyawa orang lain Mursal...!” kata polisi.
“ Saya tau Saya salah Pak, Saya siap bertanggung jawab...,” sahut Mursal tegas.
“ Baik lah. Saya harap sikapmu yang kooperatif ini bisa mengurangi masa hukumanmu nanti...,” kata polisi sambil menyudahi sesi interogasinya saat itu.
__ADS_1
Mursal terdiam dan tak menjawab. Saat dibawa kembali menuju sel tahanan Mursal tak lagi bicara. Sedangkan Rima nampak tertegun dengan wajah basah dengan air mata.
\=====
Setelah berhasil membantu menemukan kerangka tubuh Abin yang terjepit diantara dua batu, kini Faiq membantu memediasi hantu Abin dengan Rima. Fatur dan Hanako pun ikut hadir untuk mendukung Rima.
“ Dia udah di sini Kak...,” bisik Hanako.
“ Di sebelah mana...?” tanya Rima dengan suara bergetar.
“ Persis di depan Kakak. Dia juga lagi ngeliat kearah Kakak dan tangannya terulur ke perut Kakak. Mungkin dia ingin menyapa Anaknya...,” sahut Hanako.
“ Ya Allah...,” kata Rima sambil menitikkan air mata.
Hantu Abin nampak menatap Rima penuh cinta. Ia menyesal telah membuat wanita itu sedih dan menangis. Hantu Abin mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Rima seolah ingin menyapa bayinya yang ada dalam kandungan Rima.
“ Maafkan Aku Rima...,” kata hantu Abin lirih sambil mengusap wajah Rima lalu beralih mengusap perut Rima.
Rima nampak memejamkan matanya mencoba meresapi sentuhan Abin. Rima merasa ada angin lembut dan hangat menerpa wajahnya kemudian beralih menerpa perutnya. Sangat nyaman dan menenangkan. Rima tak kuasa menahan tangis karena yakin Abin lah yang telah menyentuh wajah dan perutnya.
“ Abin..., kenapa Kamu pergi. Maafin Aku yang ga ngasih Kamu kesempatan waktu itu. Tapi Aku hanya kesal sebentar. Kenapa Kamu malah pergi dan ga memperjuangkan Aku dan Anak Kita...?” tanya Rima.
“ Maafin Aku Rima. Aku emang bod*h karena udah maksa Kamu aborsi. Maaf. Mungkin ini hukuman untukku karena selalu membuang Anak hasil hubunganku dengan banyak wanita sebelum Kamu. Akhirnya Allah marah dan menghukumku. Aku merasakan sakit yang amat sangat saat tubuhku terlempar dari atas jembatan itu. Saat itu Aku baru sadar gimana sakitnya Anak-anak yang tak berdosa itu saat Kubuang. Betapa sakitnya perasaan Ibu mereka saat Aku tak mau bertanggung jawab dan memaksa mereka melakukan aborsi...,” kata hantu Abin sambil menitikkan air mata.
“ Tapi rasanya Aku ga yakin sanggup membesarkan Anak ini sendirian Abin...,” gumam Rima sambil bersimbah air mata.
“ Kamu pasti sanggup Rima, Kamu wanita yang kuat. Kamu hebat...,” kata hantu Abin memberi semangat.
Tiba-tiba Rima kembali mengalami kontraksi. Namun kali ini bukan lagi kontraksi palsu seperti sebelumnya, melainkan kontraksi karena kepala bayi sudah masuk jalan lahir. Fatur dan Faiq dengan sigap mengangkat tubuh Rima lalu melarikannya ke Rumah Sakit. Hanako juga setia mendampingi Rima yang nampak kesakitan akibat kontraksi menjelang melahirkan hingga mereka tiba di Rumah Sakit.
Hantu Abin yang turut serta mengantar Rima ke Rumah Sakit pun hanya bisa menatap iba kearah Rima yang menangis dan menjerit karena tak kuasa menahan sakit.
\=====
__ADS_1