
Mobil pun tiba di depan rumah Qiana. Saat itu ummi Qiana nampak tersenyum lega melihat suami dan anaknya kembali dalam keadaan selamat.
“ Assalamualaikum Ummi...,” sapa Ratih, Qiana dan abinya bersamaan.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut ummi Qiana dengan mata berkaca-kaca lalu menghambur memeluk suami dan anaknya.
Ratih yang berdiri di samping Qiana nampak sedikit iri melihat kasih sayang yang diberikan untuk sahabatnya itu. Namun ia mencoba tersenyum walau sulit.
“ Udah dong Mi, Kami kan ga kemana-mana. Masa meluknya kenceng banget kaya orang baru pulang dari perang aja...,” gurau Qiana.
“ Kamu ga tau ya kalo Ummi tuh cemas mikirin Kalian sampe ga bisa tidur lho...,” sahut ummi Qiana sambil
mencubit pipi Qiana dengan gemas.
“ Kita juga ga ada yang tidur dari semalam Mi...,” sahut Qiana sambil meringis.
“ Masa sih. Terus yang tadi ngorok di samping Aku siapa ya...,” sindir Ratih hingga membuat semua tertawa.
“ Aku ga ngorok ya Tih, jangan gosip deh Kamu...,” kata Qiana sambil membulatkan matanya.
“ Bukan cuma Aku yang denger suara ngorokmu lho Qi. Semua yang ada di dalam mobil juga denger konser tunggalmu itu. Kalo ga percaya tanya aja sama Abi Kamu, Pak Faiq dan Mas Izar...,” sahut Ratih sambil tersenyum.
Qiana nampak salah tingkah. Ia menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam rumah setelah pamit kepada Faiq. Ratih pun mengekor di belakang Qiana.
“ Maafkan ketidak sopanan Qiana ya Pak...,” kata abi Qiana tak enak hati.
“ Gapapa Pak, Saya maklum kok. Lagian wajar kalo dia tidur setelah melewati malam yang panjang dan menegangkan itu...,” sahut Faiq bijak yang diangguki kedua orangtua Qiana.
“ Silakan masuk Pak, Saya buatkan kopi dulu ya...,” kata ummi Qiana ramah.
“ Makasih, lain kali aja Bu. Sekarang Saya dan anak Saya harus pulang ke rumah. Keliatannya Izar juga udah ngantuk berat tuh...,” sahut Faiq sambil menoleh kearah Izar yang duduk di balik kemudi.
“ Ok, tapi lain kali beneran mampir dan minum kopi di sini ya Pak...,” gurau abi Qiana sambil tertawa.
“ Insya Allah, Kami permisi dulu Pak Bu. Assalamualaikum...,” pamit Faiq.
“ Wa alaikumsalam, hati-hati ya Pak...,” sahut kedua orangtua Qiana bersamaan.
Kedua orangtua Qiana mengantar kepergian Faiq dan Izar di depan rumah. Setelahnya mereka masuk ke dalam rumah menyusul Qiana.
\=====
__ADS_1
Hari itu keluarga Faiq tengah menikmati sarapan bersama Farah dan Erik. Mereka masih membahas tentang pesugihan kandang bubrah yang baru saja selesai mereka tangani.
“ Jadi makhluk sembahan mereka di pesugihan kandang bubrah itu bentuknya apaan Yah...?” tanya Shera tak mengerti.
“ Makhluk sembahannya ga berwujud Bun. Mereka menunjukkan eksistensi mereka dengan cara memberikan harta kekayaan kepada pengikutnya. Pesugihan ini tanpa tumbal. Syarat yang harus dipenuhi adalah merenovasi atau membangun rumah secara terus menerus di waktu yang telah disepakati. Jika lalai, maka pemilik rumah atau yang mengadakan perjanjian lah yang harus menebus dengan nyawanya sendiri seperti si Rohan itu...,” sahut Faiq lalu mengunyah makanannya.
“ Serem juga ya, kirain pesugihan yang ga pake tumbal tuh udah aman. Eh ga taunya endingnya sama aja...,” kata Shera sambil bergidik.
“ Pesugihan apa pun walau ga pake tumbal tetap aja haram dan dilarang agama...,” kata Farah.
“ Makanya agama ga menganjurkan itu Ma. Agama menyuruh Kita bekerja keras, mencari uang halal supaya hidup Kita berkah...,” kata Erik sambil tersenyum.
“ Setuju...!” sahut semua orang di ruang makan kemudian tertawa bersama.
Tiba-tiba Faiq menoleh kearah Izar dan menanyakan sesuatu yang membuat Izar terkejut.
“ Terus apa rencanamu selanjutnya Nak. Siapa yang akan Kamu dekati, Ratih atau Qiana...?” tanya Faiq.
“ Apaan sih Yah. Aku ga niat deketin mereka kok...,” sahut Izar dengan wajah merona.
“ Oh gitu. Ayah kirain diantara mereka berdua ada yang membuatmu tertarik...,” kata Faiq sambil tersenyum penuh makna.
“ Kalo bukan Qiana berarti Ratih dong...,” kata Shera menambahkan.
“ Ga dua-duanya Bun. Udah deh, Aku berangkat sekarang aja. Assalamualaikum...,” kata Izar setelah mencium punggung tangan semua orang di ruangan itu.
Izar bergegas keluar dari rumah diiringi tawa semua orang. Setelah mengenakan helm, lzar pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju proyek pembangunan yang sedang ditangani perusahaan sang opa.
\=====
Siang itu Iyaz menghubungi Izar dan mengajaknya makan siang bersama.
“ Kamu dimana sekarang Zar...?” tanya Iyaz.
“ Aku lagi di proyek baru yang di Cilodong Yaz. Ada apa...?” tanya Izar.
“ Jauh banget, kirain ada di deket kantor. Aku mau ngajakin Kamu makan siang tapi kalo jauh gitu ya lain kali aja deh...,” sahut Iyaz yang membuat Izar tertawa karena yakin jika kembarannya itu sedang memerlukan teman bicara.
“ Mau curhat ya...?” tebak Izar.
“ Iya sih, tapi ga jadi deh...,”sahut Iyaz sambil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
“ Kalo butuh refreshing ke sini aja Yaz. Lingkungannya alami, cocok buat ngilangin stress...,” kata Izar menawarkan.
“ Insya allah besok aja Zar. Kalo sekarang mah udah kesiangan. Ntar baru sampe malah udah harus mikirin
pulang...,” sahut Iyaz.
“ Ok gapapa. Kalo gitu Aku tutup dulu ya, mau ngeliat tukang gali tanah buat persiapan bikin pondasi nih...,”
kata Izar.
“ Iya. Assalamualaikum...,” kata Iyaz.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Izar lalu memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.
Izar pun mulai mengamati pekerjaan penggalian tanah yang dilakukan para pekerja bangunan. Ada beberapa titik
penggalian yang dikerjakan dan Izar pun mendatangi salah satu titik penggalian. Saat tiba di sana ia melihat para pekerja yang kebingungan.
“ Kenapa berhenti Pak. Apa ada masalah...?” tanya Izar.
“ Ini Pak, tanahnya mendadak jadi keras banget dan susah digali...,” sahut salah satu pekerja.
“ Oh itu, mungkin ada batu besar di sana. Maklum aja kan deket aliran sungai wajar kalo ada batu kali yang nyangkut di situ. Pake alat yang lebih besar aja Pak...,” saran Izar.
“ Udah, tapi tetep ga bisa Pak...,” sahut pekerja itu.
“ Kalo gitu pake bor listrik aja buat ngancurinnya Pak...,” kata Izar lagi.
“ Iya Pak...,” sahut pekerja.
Salah seorang pekerja kemudian berlari ke gudang untuk mengambil bor listrik. Kemudian mereka mulai berusaha menghancurkan tanah keras itu dan berhasil. Saat bongkahan tanah yang menyelimuti batu besar itu terbelah dua, para pekerja yang berada di lubang galian itu pun tertawa sambil bertepuk tangan. Izar yang melihat kejadian itu pun ikut tertawa senang menyaksikan tingkah para pekerja yang seperti anak kecil itu.
Tiba-tiba tawa para pekerja terhenti saat mereka melihat cahaya kehijauan menyembul dari balik bongkahan tanah itu. Mereka saling menatap satu sama lain seolah ingin bertanya apakah penggalian harus lanjut atau dihentikan. Izar yang ikut menyaksikan fenomena alam itu pun terkejut namun ia segera memberi perintah kepada para pekerja untuk naik saat ia merasakan aura mistis yang pekat dari bongkahan tanah keras itu.
“ Semuanya naik ke atas sekarang...!” kata Izar lantang hingga mengejutkan para pekerja.
Dengan sigap para pekerja melompat keluar dari lubang lalu berdiri di pinggir galian sambil mengamati apa yang
akan terjadi selanjutnya.
\=====
__ADS_1