
Setelah mengunjungi keluarga Jaya, Iyaz dan Izar pun berniat mengunjungi keluarga Boril. Namun sayangnya arwah Boril menolak saat si kembar memintanya mengantar ke rumahnya. Tentu saja itu membingungkan Iyaz dan Izar.
“ Kenapa Kamu ga mau Kami menyambangi keluargamu...?” tanya Iyaz.
“ Gapapa, ga perlu aja...,” sahut arwah Boril enggan.
“ Bukannya Kamu bilang Kamu punya Anak...?” tanya Izar.
“ Iya...,” sahut arwah Boril.
“ Apa Kamu ga kasian sama dia, gimana kalo dia nyariin Kamu...?” tanya Izar tak mengerti.
“ Anakku ga akan nyari Aku karena...,” ucapan arwah Boril terputus.
“ Karena apa...?” tanya Iyaz penasaran.
“ Karena Istriku udah dapetin Bapak baru buat Anakku...,” sahut arwah Boril sedih.
Iyaz dan lzar tersentak kaget lalu saling menatap tak percaya. Mereka tak menyangka jika kehidupan Boril tak sesederhana yang terlihat.
“ Maafkan Kami...,” kata Izar.
“ Gapapa, bukan salah Kalian...,” sahut arwah Boril sambil tersenyum kecut.
“ Jika hubungannmu dengan Istrimu tak baik, tapi Kalian kan punya Anak. Setidaknya beri lah kabar pada Anakmu agar ia punya kenangan yang baik tentangmu dan bukan kenangan yang buruk seperti yang selalu dikatakan ibunya...,” kata Iyaz mengingatkan sambil berlalu.
Izar pun mengangguk lalu mengikuti langkah Iyaz. Arwah Boril nampak mematung di tempatnya seolah sedang berpikir sejenak. Kemudian arwah Boril nampak melesat cepat kearah si kembar dan mengatakan hal yang mengejutkan.
“ Baik lah. Aku mau Anakku tau kalo Aku ga pernah lalai menafkahinya...,” kata arwah Boril tiba-tiba.
Iyaz dan Izar saling menatap kemudian mengangguk. Dan kini keduanya tengah ada dalam perjalanan menuju ke rumah Boril.
Mereka tiba di sebuah rumah sederhana. Saat tiba di sana mereka melihat seorang anak laki-laki berusia delapan tahun tengah menangis di teras rumah.
“ Dia Anakku, namanya Obi...,” kata Boril sambil menatap sayang kearah Obi.
“ Kenapa dia di luar kaya gitu. Keliatannya pintu rumah terkunci, mungkin Istrimu lagi ga di rumah...,” kata Izar.
“ Setelah Aku mati Aku baru tau kalo Obi seringkali ditinggal sama Ibunya dalam keadaan kelaparan dan kedinginan di luar rumah kaya gini...,” sahut arwah Boril sedih.
Mendengar ucapan Boril membuat Iyaz dan Izar terkejut, lalu keduanya pun bergegas menghampiri Obi dengan membawa sedikit makanan ringan yang memang selalu mereka bawa di mobil.
“ Assalamualaikum...,” sapa Iyaz dan lzar bersamaan.
__ADS_1
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Obi sambil menghapus air matanya.
Obi menatap dua pria di depannya dengan tatapan bingung.
“ Om siapa, mau cari siapa ke sini...?” tanya Obi.
“ Kenalin, Saya Izar dan ini Iyaz. Kami teman lama Ayah Kamu...,” sahut Izar ramah.
“ Ayah, maksud Om Bapakku...?” tanya Obi lugu hingga membuat Iyaz dan Izar menatap arwah Boril.
“ Dia panggil Aku Bapak...,” kata arwah Boril sambil tersenyum.
“ Oh iya. Maksud Om, Kami ini teman Bapak Kamu Pak Boril...,” kata Izar meralat ucapannya.
“ Tapi Bapak lagi ga ada di rumah Om, udah lama Bapak ga pulang...,” kata Obi sedih.
“ Terus Obi ngapain nangis di luar kaya gini, sendirian lagi...?” tanya Iyaz tak sabar.
“ Aku ga bisa masuk ke dalam rumah Om. Ibu pergi, rumah dikunci, padahal Aku capek banget mau tiduran di dalam tapi ga bisa masuk. Aku juga lapar daritadi belum makan...,” sahut Obi dengan mimik sedih.
Mendengar ucapan Obi membuat arwah Boril kesal lalu menendang meja di dekatnya hingga meja itu hancur. Tentu saja hal itu mengejutkan semua orang terutama Obi yang tak mengerti mengapa meja kayu itu mendadak hancur tanpa sebab.
“ Om punya ini, Obi makan ini dulu ya...,” kata Iyaz sambil memberikan kantong plastik berisi makanan ringan.
Obi menatap ragu kearah Iyaz, Izar dan kantong plastik itu. Mengerti jika anak itu takut diracuni, Iyaz dan Izar pun mengambil makanan dari dalam kantong lalu memakannya dengan lahap.
roti kearah Obi.
“ Iya Om...,” sahut Obi sambil mengambil roti yang disodorkan Izar dan mulai memakannya.
Iyaz dan Izar duduk dan menatap Obi yang nampak lahap mengunyah roti. Izar menyodorkan botol berisi air yang
langsung disambut cepat oleh Obi. Setelah menghabiskan roti dan air, Obi pun terlihat lebih baik.
“ Jadi Ibumu kerja dimana...?” tanya Iyaz.
“ Ibu ga kerja Om, Ibu cuma main aja sama teman-temannya...,” sahut Obi.
“ Main...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Iya Om. Ibu baru pulang ke rumah kalo udah Maghrib...,” sahut Obi lagi.
Iyaz dan Izar tak bertanya lagi karena tak ingin menyakiti Obi. Tak lama kemudian istri Boril pun tiba. Wanita muda dengan gaya modis itu nampak terkejut saat melihat dua orang pria tampan sedang duduk di teras rumah bersama anaknya.
__ADS_1
Obi pun tampak biasa saja saat melihat kehadiran wanita itu. Iyaz dan Izar sedikit bingung melihat interaksi Obi dan ibunya itu.
“ Ini siapa Obi...?” tanya ibu Obi yang bernama Lita.
“ Ini temennya Bapak. Mana kuncinya Bu, Aku mau masuk ke dalam...,” kata Obi sambil menadahkan tangannya kearah Lita.
Lita menyerahkan anak kunci yang dibawanya kepada Obi lalu duduk di hadapan Iyaz dan Izar. Melihat cara berpakaian Lita membuat Iyaz tak nyaman. Lalu Iyaz berdiri dan memilih menjauh dari Lita dan Izar. Lita hanya melirik sekilas kearah Iyaz kemudian bertanya pada Izar.
“ Jadi Kalian ini siapa dan mau apa ke sini...?” tanya Lita penuh selidik.
“ Kami temannya Pak Boril. Kami ke sini membawa kabar duka...,” sahut Izar.
“ Kabar duka apa...?” tanya Lita.
“ Pak Boril sudah meninggal dunia. Jasadnya sulit dievakuasi tapi sedang Kami usahakan...,” sahut Izar.
Reaksi mengejutkan pun ditunjukkan Lita. Tak ada duka atau tangis. Wajahnya terlihat datar dan itu membuat Izar
bingung. Tapi jeritan Obi mengejutkan Iyaz dan Izar hingga membuat keduanya merangsek masuk ke dalam rumah.
“ Ada apa Obi...?” tanya Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Om bilang Bapakku meninggal, Om bohong kan...?” tanya Obi sambil menangis.
Iyaz memeluk erat tubuh Obi lalu menggendongnya. Obi pun balas memeluk Iyaz dan menyembunyikan tangisnya di pundak Iyaz. Sementara arwah Boril nampak menatap Obi sedih.
“ Kalian liat kan. Cuma Obi yang menangisi kepergianku...,” kata arwah Boril.
“ Aku ga punya siapa-siapa lagi Om. Kalo Bapakku pergi, Aku sama siapa...?” rintih Obi di sela tangisnya.
Ucapan Obi membuat Lita tersentak dan malu. Ia tak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya saat Iyaz dan Izar menatap kearahnya.
“ Jangan ngomong kaya gitu Obi. Nanti dikirain orang-orang Ibu ini ga mau ngurusin Kamu. Padahal kan Ibu ini Ibu kandungmu...,” kata Lita salah tingkah.
Ternyata jeritan Obi terdengar oleh tetangga yang kemudian berdatangan ke rumah itu. Saat mendengar ucapan Lita membuat para tetangga kesal dan mengatai Lita dengan kalimat yang menyudutkan.
“ Tapi emang Kamu ga pernah ngurusin Obi kan Lit...,” sindir salah seorang tetangga.
“ Bukannya Obi itu selalu ngurus dirinya sendiri ya. Mau makan, masak sendiri. Baju juga nyuci sendiri, kalo sakit juga nyari obat sendiri. Mirip kaya lagu dangdut...,” sahut tetangga lainnya sambil mencibir.
“ Maklum lah Ibu-ibu, Lita ini kan sibuk...,” kata seorang tetangga.
“ Iya, sibuk nyari kesenangan sama laki-laki lain di luar sana...,” sahut seorang tetangga sambil menatap kesal kearah Lita.
__ADS_1
Wajah Lita merah padam karena malu. Ia terdiam tanpa bisa menjawab. Sedangkan di sudut sana tampak arwah Boril menatap kecewa kearah Lita.
\=====