Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
52. Salah Sasaran


__ADS_3

Kek Bokor berusaha berdiri di atas kedua kakinya yang terasa sedikit sakit akibat terjatuh tadi. Di samping kiri dan kanannya nampak warga yang mengikutinya tadi juga ikut berdiri dengan tubuh sempoyongan.


Beberapa warga nampak memegangi kepalanya yang terasa sakit. Saat menatap ke depan mereka melihat ustadz Hamzah yang berjalan perlahan mendekat kearah mereka. Wajahnya yang teduh dengan senyum yang menghiasi


wajahnya seolah mampu menghipnotis warga yang tadi dengan emosi mengikuti Kek Bokor untuk melabrak mereka.


“ Assalamualaikum...,” sapa ustadz Hamzah ramah.


“ Wa, wa ala... ikum... salam...,” sahut warga pengikut kek Bokor dengan gugup.


“ Masya Allah, Alhamdulillah..., akhirnya panggilan Allah telah membuat kaki Kalian ringan untuk  melangkah ke sini. Mari silakan masuk...,” kata ustadz Hamzah lagi.


Melihat kharisma yang terpancar dari dalam tubuh ustadz Hamzah membuat kek Bokor menciut. Apalagi saat ia mendengar warga yang berdiri di belakangnya menjawab salam ustadz Hamzah tadi. Namun rasa sombong yang


bertahta di hatinya mengalahkan akal sehat dan logikanya. Kek Bokor menjawab tawaran ustadz Hamzah dengan pongah.


“ Ga usah basa basi. Kami datang ke sini bukan untuk masuk ke dalam sana tapi untuk bertanya apa yang Kalian lakukan...!” kata kek Bokor.


“ Yang Kami lakukan di rumah Allah usai adzan ya udah pasti sholat dong. Apalagi memangnya...?” tanya ustadz Hamzah dengan santai.


“ Jadi benar dugaanku. Kalian yang telah membuat kegaduhan dan memanggil angin ribut tadi kan...?!” tanya kek Bokor.


Mendengar ucapan kek Bokor membuat ustadz Hamzah tersenyum tipis hingga membuat kek Bokor kesal bukan kepalang.


“ Kami ga punya kemampuan manggil angin seperti yang Bapak kira. Di sini Kami hanya sholat Ashar berjamaah lalu berdzikir. Hanya itu...,” sahut ustadz Hamzah sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


“ Kakek, panggil Aku Kakek bukan Bapak...!” kata kek Bokor lantang.


“ Maafkan Saya. Soalnya usia Anda sama dengan usia almarhum Abah Saya. Kalo usia Kakek Saya malah lebih tua lagi dan sayangnya beliau udah lama meninggal dunia...,” sahut ustadz Hamzah seolah sedang mengulur waktu.


“ Bukan urusanku. Yang Aku mau Kalian pergi dari sini sekarang juga. Kalian ga diterima di sini...!” kata kek Bokor sinis.


“ Masa sih. Tapi sejak Saya masuk ke kampung ini ga ada satu warga pun yang menolak kehadiran Saya. Memangnya Anda siapa dan punya hak apa hingga mengusir orang seenaknya. Padahal Saya ga melakukan sesuatu yang merugikan warga. Saya justru membantu warga membersihkan musholla ini bersama dua santri Saya...,” sahut ustadz Hamzah sambil menatap kek Bokor dengan tajam.


“ Apa yang Kau lakukan telah membuat warga resah dan takut. Jadi Aku mewakili warga memintamu segera angkat kaki dari sini...!” kata kek Bokor lagi sambil berkacak pinggang.


“ Akhirnya Anda mengakui jika Anda resah dan takut mendengar adzan, bacaan sholat dan dzikir Kami. Keliatannya Anda terlalu nyaman menyebar kesesatan di kampung ini dan takut jika Kami merebut posisimu. Iya kan...,” sahut ustadz Hamzah santai.


“ Tutup mulutmu. Aku tak takut apa pun.Warga sudah menganggapku pemimpin di kampung ini. mereka mengikuti semua yang Aku katakan. Jadi mustahil Kau menggantikan Aku dalam sekejap...,” sahut kek Bokor.


“ Oh ya. Tapi  Aku ga liat mereka menghormatimu sebagai pimpinan. Aku justru melihat jika mereka berada di bawah tekanan. Kau telah mengancam mereka hingga mereka terpaksa menuruti semua ucapanmu...,” kata ustadz Hamzah sambil terus memutar tasbihnya. Sedangkan Iyaz, Izar, Wahyu dan warga yang berdiri di belakang ustadz Hamzah terus berdzikir dalam hati.


“ Yang Pak Ustadz bilang itu benar. Kita udah terlalu jauh meninggalkan Allah...,” kata salah seorang warga.


“ Pantesan bala datang silih berganti ke kampung Kita. Rupanya itu hukuman dari Allah karena murka atas kesesatan Kita...,” kata warga lainnya.


“ Ayo Kita akhiri semuanya. Kita balik lagi ke jalan Allah...,” ajak seorang warga yang berdiri tepat di samping kanan kek Bokor.


“ Iya, Kita balik ke jalan Allah. Pak Ustadz, tolong bantu Kami ya...,” sahut warga saling bersahutan.


“ Tolong bimbing Kami Pak Ustadz...,” pinta warga bersamaan.

__ADS_1


“ Insya Allah...,” sahut ustadz Hamzah sambil tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Di belakangnya terlihat Wahyu yang menitikkan air mata haru melihat warga di kampungnya mulai tersentuh dan menyadari kesalahan mereka.


Melihat reaksi warga membuat kek Bokor panik dan mulai melancarkan sihir yang selama ini ia gunakan untuk menaklukkan warga. Namun ustadz Hamzah yang mengetahui hal ini tak tinggal diam. Ia memanggil Wahyu dan


mengatakan sesuatu.


“ Wahyu, tolong tutup pintu musholla karena tempat ini terlalu suci untuk dikotori oleh orang yang dihasut iblis. Lalu ajak semua orang menjauh dari sini karena akan berbahaya buat mereka...,” kata ustadz Hamzah.


“ Siap Pak Ustadz...!” sahut Wahyu lalu segera menutup pintu musholla dan mengajak warga keluar dari halaman musholla.  Namun si kembar tetap bertahan di dekat ustadz Hamzah.


Melihat kepatuhan warga pada orang baru yang telah berani mengusik kenyamanannya itu membuat kek Bokor murka. Tanpa aba-aba ia menyerang ustadz Hamzah dengan serangan berupa angin hitam yang mengarah ke tubuh bagian depan ustadz Hamzah. Namun bukan mengenai ustadz Hamzah melainkan Iyaz yang berdiri tepat di depan ustadz Hamzah. Tubuh Iyaz terpental ke samping dan membentur pohon jambu air yang telah meranggas itu.


“ Iyaz...!” panggil Izar histeris lalu berlari cepat menghampiri Iyaz.


“ Sakiitt...,” sahut Iyaz lirih sambil memegang dadanya.


“ Tarik nafas pelan-pelan aja Yaz, lalu hembuskan. Sebut nama Allah ya...,” kata Izar lembut sambil membantu kembarannya untuk bangun.


Iyaz pun mengangguk lalu mengikuti arahan Izar. Di luar area musholla terlihat Wahyu menatap cemas kearah si kembar namun ia takut melanggar perintah ustadz Hamzah tadi.


Sedangkan di halaman musholla terlihat ketegangan. Wajah ustadz Hamzah terlihat membesi. Ia menatap tajam kearah kek Bokor. Melihat santri yang sudah dianggap cucunya terkapar tak berdaya membuat ustadz Hamzah


marah lalu menyerang kek Bokor dengan sekali hentakan dan dengan kekuatan penuh. Gantian tubuh kek Bokor yang terlempar ke belakang lalu membentur pagar musholla hingga ambruk. Melihat pagar musholla yang terbuat dari bata merah dan plesteran hancur saat diterjang tubuh kek Bokor, bisa dipastikan jika kekuatan ustadz Hamzah sangat besar dan itu membuat warga yang melihat dari kejauhanterkejut bukan kepalang. Mereka tak menyangka  jika pembawaan ustadz Hamzah yang tenang justru menyimpan kekuatan besar dan mematikan.

__ADS_1


Setelah menaklukkan kek Bokor, ustadz Hamzah mendekati Iyaz lalu menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam musholla. Izar membantu membuka pintu musholla. Sedangkan Wahyu yang tak sanggup melihat Iyaz terluka karena menjadi korban salah sasaran kek Bokor pun langsung menerjang masuk ke dalam musholla. Ia mengabaikan kek Bokor yang nampak merintih di dekat pagar musholla.


\=====


__ADS_2