Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
234. Resepsi


__ADS_3

Sehari setelah menyelesaikan ijab kabul di kediaman Heru, pasangan pengantin pun diantar menuju gedung tempat resepsi pernikahan digelar. Kedua pengantin mengenakan kostum berwarna serba biru. Jika Pandu mengenakan seragam tentara berwarna biru, maka Hanako mengenakan kebaya warna biru tosca dengan hijab berwarna senada dan kain batik.


“ Kamu udah siap Sayang...?” tanya Pandu sambil mengagumi kecantikan Hanako.


“ Udah tapi sedikit nervous Mas...,” sahut Hanako jujur.


“ Sini Aku kasih obat biar ga nervous lagi...,” kata Pandu lalu mendekat kearah Hanako dan mengecup bibirnya sekilas.


“ Mas...,” panggil Hanako dengan mata membulat.


“ Kenapa, ga cukup ya...?” tanya Pandu sambil tersenyum.


“ Apa sih Kamu...,” gerutu Hanako dengan wajah merona.


Melihat sikap Hanako membuat Pandu gemas. Ia menarik Hanako ke dalam pelukannya lalu mencium bibir Hanako dengan intens. Saat itu lah sang perias pengantin, Efliya dan ibu Pandu masuk ke dalam ruangan. Ketiganya nampak mematung sesaat lalu saling menatap dan tersenyum.


“ Ehm, sabar Nak. Jangan di sini dong...,” kata ibu Pandu mengejutkan Pandu dan Hanako.


Keduanya mengurai pelukan dengan wajah Hanako yang merona seperti kepiting rebus sedang Pandu terlihat santai seolah tak terjadi apa pun. Hanako menepuk pelan dada suaminya hingga membuat Pandu tertawa.


“ Tolong dirapiin dulu make upnya Cici ya Mbak. Liat tuh gara-gara Pandu lipstiknya Cici sampe belepotan gitu...,” goda ibu Pandu hingga membuat Efliya tertawa kecil.


“ Baik Bu...,” sahut sang perias pengantin sambil tersenyum.


Wajah Hanako kembali merona karena malu harus kembali memakai make up karena ulah suaminya. Padahal sang perias hanya menambahkan sedikit lipstik untuk membuat wajah Hanako terlihat lebih fresh.


“ Udah siap semua kan, yuk sekarang waktunya...!” kata Heru tiba-tiba.


“ Udah siap kok Yah, iya kan Anak-anak...?” goda Efliya sambil tersenyum penuh makna kearah sepasang pengantin yang terlihat salah tingkah itu.


“ Kenapa mereka Bun...?” tanya Heru.


“ Gapapa Yah. Yuk Kita keluar sekarang...,” sahut Efliya sambil menggamit lengan suaminya.


Kemudian Efliya menceritakan insiden kecil di ruangan tadi sambil berbisik. Heru pun tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


“ Jangan-jangan itu kissing mereka yang pertama ya Bun...,” kata Heru sambil tertawa.


“ Kayanya sih gitu Yah...,” sahut Efliya di sela tawanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Hanako dan Pandu keluar dari ruangan. Hanako bertumpu pada lengan Pandu untuk membantunya berjalan. Semua keluarga tersenyum melihat kehadiran mereka.


Kemudian keduanya memasuki ruangan dengan diiringi alunan musik dan disambut pasukan pembawa pedang yang berbaris rapi. Keduanya terlihat serasi hingga membuat semua tamu yang hadir pun berdecak kagum.


Setelah menyelesaikan proses pedang pora keduanya pun duduk di pelaminan didampingi kedua orangtua masing-masing. Keluarga dan kedua orangtua mempelai juga mengenakan seragam berwarna biru meski dengan model dan motif yang berbeda dengan sang pengantin.


Dekorasi ruangan yang didomonasi putih dan biru dengan sedikit aksen bunga warna pink membuat ruangan tampil elegan dan mewah. Tamu yang hadir pun nampak terpana menyaksikan keindahan ruangan. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berfoto di berbagai sudut ruangan itu.


Kemudian para tamu pun berbaris menuju pelaminan untuk menyampaikan doa dan ucapan selamat kepada Hanako dan Pandu. Rekan-rekan Pandu yang turut hadir pun memberi ucapan selamat dengan cara khusus. Dipimpin Wira, para pria mengenakan seragam tentara itu menyanyi sambil menari dengan koregrafer yang gagah dan teratur ala tentara. Keluarga dan para tamu pun kembali terkagum-kagum dan mengabadikan moment itu dengan kamera ponsel mereka masing-masing.


Hanako nampak bahagia melihat tingkah rekan-rekan suaminya sedangkan Pandu nampak tertawa sambil bertepuk tangan memberi semangat pada rekan-rekannya itu. Tepuk tangan pun menggema di ruangan itu usai Wira dan rekan-rekannya menyampaikan ucapan selamat dengan cara yang khas.


Setelah para tentara itu selesai mengucapkan selamat, para tamu pun berbaris menuju pelaminan untuk memberi selamat kepada Pandu dan Hanako. Diantara para tamu yang hadir terlihat sosok Andri yang nampak menatap nanar kearah pelaminan. Ia yang juga menyaksikan proses pedang pora tadi tak menyangka jika Hanako memang telah menikah dan suaminya pun seorang perwira TNI AU.


“ Kayanya Gue ga bisa ke sana, lebih baik Gue kabur aja deh...,” gumam Andri lalu keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.


Gerak-gerik Andri tak lepas dari pengamatan Izar. Ia pun mengabadikan moment kaburnya Andri dari ruangan itu dengan kamera ponselnya sambil tertawa-tawa.


“ Kenapa ketawa sendirian Zar, ntar dikirain orang gila lho. Ngetawain apaan sih...?” tanya Iyaz.


“ Lagi ngerekam Andri Yaz...,” sahut Izar di sela tawanya.


“ Jangan salah Yaz. Nih, Aku dapet moment Andri panik ngeliat Cici sama Mas Pandu pas pedang pora tadi. Nah kalo yang ini pas dia kabur barusan...,” kata Izar sambil memperlihatkan video di ponselnya.


Iyaz membulatkan matanya karena tak menyangka jika kembarannya bisa merekam Andri sedetail itu. Iyaz pun tertawa melihat sikap Andri saat kabur dari pesta tadi.


“ Iseng banget sih Lo...,” kata Iyaz sambil memukul punggung


Izar.


“ Biarin. Ntar mau Aku kasih liat sama Cici dan Mas Pandu...,” sahut Izar bangga.


“ Jangan ngasih api buat mereka Zar. Kasian kan mereka harus bulan madu dulu setelah acara ini selesai...,” kata Iyaz mengingatkan.


“ Kalo gitu sepulang mereka bulan madu, gimana...?” tanya Izar.


“ Boleh lah...,” sahut Iyaz sambil tertawa membayangkan keributan kecil yang bakal terjadi pada pasangan pengantin baru itu nanti.


“ Apa yang Kalian rencanain...?” tanya Shera tiba-tiba hingga mengejutkan si kembar.

__ADS_1


“ Ga ada Bun, iya kan Zar...?” tanya Iyaz panik.


“ Iya ga ada kok Bun...,” sahut Izar tenang.


“ Bunda ga percaya. Kalian nih udah dewasa tapi masih aja iseng kaya Anak kecil...!” kata Shera galak.


“ Eh kok marah-marah di sini sih Bun. Ayo ke sana...,” ajak Faiq dari belakang Shera.


“ Sebentar Yah, Aku lagi marahin Anak-anak...,” sahut Shera sambil menatap tajam kearah Iyaz dan Izar.


“ Sssttt..., jangan sekarang ya Sayang. Ga enak diliatin orang. Yuk temenin Aku menyapa tamu...,” kata Faiq sambil menggenggam tangan Shera dan membawanya menjauh dari si kembar.


“ Alhamdulillah..., Ayah emang the best deh...!” kata Izar lantang sambil mengacungkan jempolnya kearah sang ayah.


Faiq pun mengangguk dan tersenyum sambil mengacungkan jempolnya di belakang punggung Shera. Dan Shera hampir menoleh namun berhasil dicegah oleh Faiq.


Resepsi pernikahan Hanako dan Pandu pun berjalan lancar. Semua tamu yang hadir ikut menikmati pesta dan puas dengan dekorasi dan suguhan yang disajikan. Acara selesai lalu ditutup dengan sesi foto untuk keluarga.


Dalam moment ini Hanako pun bisa mengekspresikan dirinya dengan berbagai macam gaya. Pandu nampak sedikit terkejut melihat sikap Hanako.


“ Ga usah heran Mas. Cici itu emang suka banget difoto. Posenya bisa macam-macam dan tak terduga lho...,” kata Izar sambil merangkul pundak Pandu.


“ Iya, Gue ga nyangka Eisha bisa jadi sosok yang berbeda kaya gini...,” sahut Pandu sambil tertawa.


“ Bahkan Cici bisa gaya kodok terbang juga lho Mas...,” sela Iyaz hingga membuat Pandu tertawa.


Hanako yang mendengar ucapan Iyaz dan Izar pun menghampirinya lalu menjewer telinga keduanya dengan keras hingga membuat keduanya menjerit.


“ Terus aja fitnah Aku dan ngompor-ngomporin Mas Pandu...,” kata Hanako. Kesal.


“ Aduuhh..., sakit Ci. Lepasin dong...!” jerit Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Ga mau...!” sahut Hanako.


“ Udah Sayang, lepasin mereka. Kamu ga usah khawatir, Aku ga bakal terpengaruh sama ucapan mereka kok...,” kata Pandu menengahi.


“ So sweet..., tuh denger ga. Kalian ga bakal berhasil memprovokasi Suamiku...,” kata Hanako sambil memeluk Pandu erat.


Semua anggota keluarga pun tertawa melihat sikap Hanako dan si kembar. Pandu pun membalas pelukan Hanako sambil menciumi kepalanya dengan sayang hingga membuat Iyaz dan Izar bertambah kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2