
Mobil Faiq nampak menyusuri jalan dengan kecepatan sedang. Mereka hanya berkeliling kota lalu berhenti di suatu tempat sesuai keinginan Hanako, Iyaz dan Izar. Setelah puas menikmati pemandangan di suatu tempat, mereka akan kembali melanjutkan perjalanan. Selalu seperti itu selama satu hari mereka bersama.
Hingga akhirnya mereka melihat sebuah danau buatan yang terlihat asri karena dikelilingi tumbuhan bunga yang ditata rapi. Seperti ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang memaksa Faiq menghentikan mobil yang ia kendarai. Saking mendadaknya membuat Shera hampir terbentur dash board mobil saat Faiq menginjak pedal rem.
“ Astaghfirullah aladziim. Kenapa Yah...?” tanya Shera panik.
“ Maaf Bun, ga sengaja. Kamu gapapa kan...?” tanya Faiq sambil mengecek keadaan Shera.
“ Gapapa kok. Tapi kenapa mendadak banget sih ngeremnya...?” tanya Shera lagi.
“ Aku juga ga tau. Anak-anak...,” panggil Faiq sambil menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Hanako, Iyaz dan Izar di kursi tengah.
Tak ada sahutan. Faiq dan Shera menoleh ke belakang dan melihat jika kursi telah kosong dan kedua pintu mobil terbuka lebar. Mereka panik namun hanya sesaat. Mereka bernafas lega saat melihat Hanako, Iyaz dan Izar nampak berdiri di depan mobil sambil menatap ke tengah danau buatan itu.
“ Itu mereka. Tapi kayanya ada yang aneh sama mereka ya Yah...,” kata Shera lirih.
“ Kamu benar Bun. Biar Aku cek dulu ya, Kamu tetap di sini dan ga usah turun...,” sahut Faiq sambil membuka pintu mobil.
Faiq keluar dari mobil sambil menatap ke sekeliling danau. Terlihat banyak orang yang juga sedang menikmati keindahan danau buatan itu. Ada beberapa pasang remaja yang nampak duduk di pinggir danau sambil berfoto. Ada juga keluarga dengan anak kecil yang asyik bersantai sambil menikmati bekal yang mereka bawa. Sedangkan di bagian lain terlihat sekelompok pemuda yang juga nampak santai sambil bersenda gurau. Semua terlihat wajar dan normal. Namun Faiq merasa ada sesuatu yang aneh di sana.
Sepi, hening dan tanpa suara. Yah, itu lah yang terjadi. Menyadari hal itu Faiq mendekati Hanako, Iyaz dan Izar. Faiq melihat wajah ketiganya nampak tegang. Tatapan mereka lurus ke depan seolah hanya bertumpu pada satu titik. Faiq tersenyum tipis lalu menepuk pundak Iyaz, Izar dan Hanako bergantian hingga menyadarkan ketiganya dari keterpukauan mereka pada sesuatu.
“ Assalamualaikum Anak-anak...,” sapa Faiq pada ketiga anak ajaib itu.
“ Wa alaikumsalam Ayah, wa alaikumsalam Papa...,” sahut si kembar dan Hanako bersamaan.
__ADS_1
Mendengar jawaban mereka membuat Faiq tersenyum karena itu artinya mereka sudah ‘kembali’. Faiq menoleh kearah Shera dan memberi kode jika istrinya boleh ikut bergabung dengannya dan ketiga anak ajaib itu. Shera mengangguk lalu turun dari mobil dan segera menghampiri mereka.
“ Kita istirahat di sini sambil makan siang ya Bun...,” kata Faiq.
“ Siap Yah...,” sahut Shera lalu bergegas mengeluarkan bekal yang telah ia siapkan dari dalam mobil.
Seperti tak terjadi apa-apa, Hanako, Iyaz dan Izar pun sigap membantu. Ketiganya menggelar tikar di pinggir danau lalu menata makanan dan minuman di tengah, setelahnya mereka makan dengan lahap sambil bercerita banyak hal.
Menyadari ada yang berbeda, Faiq pun bertepuk tangan tiga kali dan berhasil !. Hanako, Iyaz dan Izar tersentak kaget lalu menatap Faiq lekat. Kemudian Faiq meminta ketiganya meneguk air ruqyah yang ia siapkan lalu membasuh wajah mereka dengan air itu.
“ Alhamdulillah..., Kalian gapapa kan...?” tanya Shera hati-hati.
“ Kami gapapa Bun. Emangnya Kami kenapa...?” tanya Izar tak mengerti.
Ketiga anak ajaib itu mulai bercerita bergantian. Dan cerita mereka membuat sekujur bulu kuduk Shera meremang. Shera pun merapat kearah suaminya sambil memegang lengan Faiq yang balas menepuk jemarinya dengan lembut untuk menenangkannya.
Ternyata Hanako, Iyaz dan Izar melihat penampakan sesuatu seperti sedang menonton drama. Ada awal cerita, inti cerita dan akhir yang tragis. Dan ketiganya mampu menceritakan apa yang mereka lihat secara bergantian dan berurutan.
Dimulai dari Iyaz yang mengatakan jika ia melihat seorang wanita sedang mengasuh seorang anak kecil yang bisa dipastikan adalah anaknya. Sang wanita terlihat sangat menyayangi anaknya itu. Dulu mereka sering bermain ke lahan itu jauh sebelum danau itu dibuat dan dijadikan area taman kota.
Wanita bernama Siti dan anak lelakinya yang bernama Ubay itu tinggal di sebuah rumah pohon yang dibuat oleh suami Siti. Suami Siti pergi meninggalkan Siti dan anaknya untuk bekerja ke kota lain namun tak pernah kembali apalagi mengirimkan uang untuk mereka. Siti terpaksa bekerja serabutan untuk menafkahi dirinya dan anak semata wayangnya itu. Ubay pun tumbuh sehat dan pintar dalam pengasuhan ibunya.
Saat Ubay berusia tujuh tahun, suami Siti pulang dengan membawa banyak hadiah dan sembako. Siti dan anaknya gembira bukan kepalang. Karena mereka mengira tak perlu hidup susah lagi jika suami Siti tinggal bersama mereka.
Rupanya suami Siti mempunyai niat lain. Ia pulang untuk membawa anaknya ikut bersamanya tanpa Siti. Hal itu membuat Siti marah dan menolak niat suaminya. Apalagi Ubay juga tak mau berjauhan dengan ibunya. Ubay lebih memilih tinggal bersama Siti yang selalu ada untuknya sejak kecil daripada ikut ayahnya yang memang terlihat sukses itu.
__ADS_1
“ Jangan egois Siti, Ubay juga harus sekolah. Dia perlu pendidikan dan kehidupan yang layak. Bukan kaya di sini yang seperti orang primitif karena tinggal di atas pohon...!” kata suami Siti sambil mencibir.
“ Jangan lupa Kang. Kamu yang udah bikin kehidupan Kami seperti orang primitif. Kan Kamu yang bikinin rumah pohon ini untuk Kami dulu. Kamu bilang supaya Aku dan Ubay tetap aman dan ga diganggu orang jahat atau binatang buas selama Kamu pergi bekerja. Kalo Kamu memang udah mampu, harusnya Kamu buatkan Kami rumah yang layak. Atau ajak Kami pindah ke tempat lain dan tinggal bersamamu...,” sahut Siti sambil menahan geram.
“ Aku memang akan membawa Ubay tinggal bersamaku. Hanya Ubay, tanpa Kamu...,” sahut suami Siti jujur.
“ Apa maksudmu Kang. Kamu mau misahin Aku sama Anakku...?” tanya Siti tak percaya.
“ Itu kan demi kebaikan Ubay, Ti. Apa Kamu senang melihat Anak Kita diejek orang karena bodoh dan miskin. Kalo Aku sih ga mau Anakku diremehin orang kaya gitu...,” sahut suami Siti sinis.
“ Aku juga ga mau Anakku diremehin orang Kang. Tapi kenapa Kamu ga bawa Aku juga, Aku kan Ibunya Ubay, Istri Kamu...!” protes Siti dengan nada suara tinggi.
“ Ga ada tempat untukmu di sana. Rumahku sangat kecil dan hanya cukup untuk dua orang...,” sahut suami Siti sambil menatap kearah lain.
“ Apa lebih kecil dari rumah pohon ini Kang...?” tanya Siti dengan suara lirih.
“ Mmm, lebih besar sedikit. Tapi ruangan yang ada sudah Kupake buat naro peralatan kerjaku dan juga perlengkapan sekolah Ubay nanti. Jadi ruangan yang tersisa hanya muat untuk Aku dan Ubay, itu pun hanya cukup untuk Kami tidur dan bukan bermain-main...,” sahut suami Siti lagi.
“ Kamu bohong Kang...!” kata Siti histeris.
“ Terserah Kau mau percaya atau ga. Yang penting Aku akan bawa Ubay bersamaku...,” kata suami Siti.
“ Aku ga mau ikut Bapak. Kalo Aku pergi, Ibu juga harus ikut...!” kata Ubay tiba-tiba hingga mengejutkan kedua orangtuanya.
\=====
__ADS_1