
Ucapan ustadz Halim membuat Iyaz, Izar dan Qiana terkejut. Jika Izar dan Qiana terkejut karena ternyata ustadz
Halim mengetahui penyamaran Qiana. Sedangkan Iyaz tak menyangka jika pria kalem yang dilihatnya itu adalah seorang wanita yang menyamar.
“ Dia cewek Pak Ustadz...?” tanya Iyaz tak percaya sambil menunjuk kearah Qiana.
“ Betul Nak...,” sahut ustadz Halim sambil tersenyum.
Qiana nampak salah tingkah karena penyamarannya ketahuan. Sedangkan Izar hanya mengulum senyum karena melihat sikap Qiana yang gugup dan salah tingkah itu. Kemudian Qiana mendekati ustadz Halim untuk menjelaskan semuanya.
" Kok Pak Ustadz tau kalo ini Saya...?" tanya Qiana tak mengerti.
" Gampang aja. Kulit dan wajahmu terlalu cantik untuk ukuran seorang laki-laki Qiana...," sahut ustadz Yusuf sambil tersenyum hingga membuat Qiana malu.
“ Saya terpaksa menyamar karena Saya takut Pak Ustadz...,” kata Qiana setengah berbisik.
“ Takut...?” tanya ustadz Halim tak mengerti.
“ Iya Pak Ustadz. Beberapa hari yang lalu Saya datang ke sini untuk mewakili orangtua Saya menghadiri undangan
salah satu warga di sini. Tapi yang terjadi Saya justru ditangkap, diikat dan nyaris dijadiin tumbal di makam buatan itu Pak Ustadz...,” sahut Qiana dengan suara bergetar.
“ Ya Allah, kok Saya ga tau. Tapi Kamu gapapa kan...?” tanya ustadz Halim sambil mengamati Qiana dengan lekat.
“ Alhamdulillah Saya gapapa Pak Ustadz. Pak Izar menyelamatkan Saya dan membawa Saya pergi dari sini...,” sahut Qiana sambil menoleh kearah Izar.
“ Pak Izar...?” tanya ustadz Halim lagi.
“ Saya Izar Pak Ustadz, dan ini Saudara Saya Iyaz...,” sahut Izar sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat
tangan ustadz Halim.
“ Masya Allah. Kita memang baru kali ini ketemu, tapi sejak pertama melihat Kalian Saya yakin jika Kalian adalah orang baik...,” kata ustadz Halim sambil menjabat tangan Izar dan Iyaz bergantian.
“ Astaghfirullah, jangan ngomong kaya gitu Pak Ustadz. Kami jadi ga enak nih...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
“ Iya Pak Ustadz. Kami sama aja kaya yang lain kok...,” sela Izar menambahkan.
“ Ya ya ya. Walau Kalian ga mau mengakuinya tapi feeling Saya biasanya bener lho...,” kata ustadz Halim sambil
mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Sikap ustadz Halim membuat Iyaz dan Izar tertawa sedangkan Qiana nampak tersenyum simpul. Saat itu lah tak sengaja Qiana melihat Izar yang tertawa lepas hingga membuatnya takjub.
“ Baru kali ini ngeliat tuh cowok ketawa, ternyata manis juga...,” puji Qiana sambil tersenyum diam-diam.
“ Kalo gitu Kita lanjutin obrolan Kita di rumah Saya yuk...,” ajak ustadz Halim.
“ Mmm..., apa ga merepotkan Pak Ustadz...?” tanya Izar.
“ Ga dong. Saya malah senang bisa kenal sama Anak muda yang kreatif seperti Kalian...,” sahut ustadz Halim sambil merangkul pundak Izar dan mengajaknya melangkah meninggalkan tempat itu diikuti Iyaz dan Qiana.
\=====
Setelah selesai mengunjungi rumah ustadz Halim, si kembar dan Qiana pun pamit pulang. Ustadz Halim dan istrinya nampak senang menerima kunjungan mereka bertiga dan berharap mereka mau kembali suatu saat nanti.
“ Jangan lupa main ke sini lagi ya Mas, Mbak...,” kata istri ustadz Halim sambil memeluk Qiana dengan erat.
“ Insya Allah Bu Ustadz...,” sahut Iyaz, Izar dan Qiana.
“ Hati-hati di jalan dan jangan lupa dzikirnya...,” kata ustadz Halim mengingatkan yang diangguki Iyaz, Izar
dan Qiana.
Kemudian Iyaz, Izar dan Qiana melangkah keluar dari rumah ustadz Halim. Mereka melewati kebun tempat rumah Ki Suta berada dan melihat warga telah selesai membereskan puing rumah Ki Suta yang terbakar tadi.
“ Lho, kemana makam keramat itu Pak...?” tanya Qiana sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena ia ingat betul
letak makam itu sebelumnya.
“ Udah dihancurin tadi...,” sahut Izar cepat.
“ Kok bisa. Siapa yang udah ngancurin...?” tanya Qiana.
“ Para pekerja itu lah. Kan mereka mau bikin jalan di sini...,” sahut Izar.
“ Apa mereka baik-baik aja Pak...?” tanya Qiana ragu.
“ Maksud Kamu apa...?” tanya Izar sambil menatap Qiana dengan tatapan kesal.
“ Mmm..., soalnya setau Saya makam itu kan makam keramat. Orang biasa aja kalo lewat di situ harus bilang permisi karena khawatir kena sial. Masa mereka ngancurin makam tapi ga ngalamin kejadian yang aneh...,” sahut Qiana tak enak hati karena melihat tatapan tajam Izar.
“ Kamu inget ga Pak Ustadz Halim bilang apa di rumahnya tadi. Makam itu makam buatan, ga ada apa-apa di
__ADS_1
dalamnya. Jadi ketakutan warga itu ga beralasan. Nah mandor dan pekerja itu tau kok kalo di dalam makam itu ga ada apa-apa, makanya mereka dengan santai ngancurin makam itu...,” kata Izar.
Qiana nampak menganggukkan kepalanya meski ia tak puas dengan jawaban Izar tadi. Sementara itu Iyaz nampak
tersenyum diam-diam melihat interaksi Izar dan Qiana. Semula Qiana menolak pulang bersama mereka dan lebih memilih naik Taxi. Tapi Iyaz memaksa Qiana agar ikut bersama mereka saat ia tahu Qiana adalah karyawan Bank yang mengikuti pertandingan di perusahaan sang opa.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat itu. Iyaz duduk di samping Izar yang sedang fokus mengemudi. Iyaz pun melanjutkan perbincangannya dengan Qiana yang duduk di jok tengah.
“ Jadi kenapa Kamu ke sini Qiana...?” tanya Iyaz.
“ Mmm..., Saya khawatir Pak Iyaz bakal ngetawain Saya kalo denger jawaban Saya nanti...,” sahut Qiana malu-malu.
“ Kenapa harus ketawa, emang jawaban Kamu lucu ya...?” tanya Iyaz.
“ Bukan. Tapi jawaban Saya ini terdengar ga masuk akal aja buat orang lain...,” sahut Qiana dengan enggan.
“ Kalo ga mau cerita ya gapapa, ga usah dipaksa Yaz...,” kata Izar menengahi karena kesal mendengar jawaban Qiana yang ‘muter-muter’ itu.
Ucapan Izar membuat Qiana kesal sedangkan Iyaz hanya tersenyum sambil menepuk punggung Izar dengan lembut untuk meredakan emosi Izar.
“ Saya datang ke sini karena Saya mendapat petunjuk dari mimpi Pak...,” kata Qiana akhirnya.
“ Mimpi apa...?” tanya Iyaz.
“ Mimpi aneh yang bikin bulu kuduk Saya merinding Pak. Saya liat ada makhluk berwarna merah besar dan menyeramkan duduk di atas makam buatan itu. Saking besarnya tubuh makhluk itu bisa menutupi makam. Makhluk besar itu punya lidah panjang yang berwarna merah yang biasanya dipake untuk menjilati sesajen persembahan warga. Dia marah karena Saya kabur waktu mau ditumbalin kemarin. Saya juga ngeliat api di sekitar Ki Suta dan Bu Ami. Walau mereka ga kebakar, tapi mereka keliatan sedih. Mereka menatap Saya seolah minta Saya melakukan sesuatu. Saya ke sini karena Saya kepikiran sama Ki Suta dan Bu Ami. Saya harap ada yang bisa Saya lakukan untuk membantu mereka. Tapi Saya kaget pas liat rumah mereka terbakar dan ada orang di dalamnya...,” kata Qiana sambil mengusap wajahnya dan melepas kumis palsunya itu.
“ Jadi Kamu nekad ke sini dengan menyamar karena penasaran sama pesan dalam mimpi itu...?” tanya Iyaz.
“ Iya Pak....” sahut Qiana sambil melepas wig yang melekat di kepalanya.
“ Itu sebabnya Kamu nanyain nasib para pekerja yang membongkar makam buatan itu karena setau Kamu ada makhluk merah besar menyeramkan di sana...?” tanya Izar.
“ Iya Pak. Saya khawatir makhluk itu menyakiti para pekerja yang ga tau apa-apa karena mereka kan juga punya
kelurga. Kasian kan keluarga mereka kalo tau orang yang jadi tulang punggung mereka terluka atau bahkan meninggal dunia karena hal mistis kaya gitu...,” sahut Qiana sambil bergidik.
Iyaz dan Izar saling menatap mendengar ucapan Qiana. Mereka salut dengan keberanian Qiana.
Mobil berhenti di depan kost Qiana. Ia turun setelah mengucapkan terima kasih lalu mobil pun melaju cepat menuju
rumah Erik.
__ADS_1
\=====