
Setelah berhasil menyadarkan Wina, Faiq meminta semua orang keluar dari toko itu segera. Saat hendak menuju pintu Faiq dihadang oleh penampakan hantu Tania.
“ Aku mengerti, tapi ga bisa sekarang. Bersabar lah sebentar lagi. Insya Allah Aku akan memenjarakan penjahat yang sebenarnya...,” kata Faiq.
“ Baik lah...,” sahut hantu Tania pasrah.
“ Bisa kah Kamu pergi dan jangan ganggu mereka lagi...?” tanya Faiq.
“ Aku akan pergi setelah melihat penjahatnya tertangkap...,” sahut hantu Tania.
“ Tapi Kamu mengganggu orang yang salah Tania. Kasian Wina yang selalu dihantui rasa bersalah tiap kali Kamu menampakkan diri di depannya...,” kata Faiq sabar.
“ Aku kangen sama Wina, Aku hanya ingin menyapanya. Kenapa dia harus merasa bersalah, kan dia ga salah apa-apa...,” sahut hantu Tania sedih.
“ Karena kehadiranmu mengingatkan dia pada hari terakhir saat melihatmu. Dia menyesal karena ga datang lebih awal ke kost an untuk menjengukmu. Dia selalu menyalahkan diri sendiri sampe sekarang...,” kata Faiq hingga membuat hantu Tania terdiam sejenak.
“ Baik lah Aku akan pergi, tapi kalo Aku kangen apa Aku bisa tetap datang dan melihatnya dari jauh. Karena dia adalah sahabat terbaik yang Aku punya di akhir hidupku. Boleh kan...?” tanya hantu Tania penuh harap.
“ Tentu saja, datang lah kapan pun Kamu mau. Tapi jangan mengganggunya ya...,” sahut Faiq.
“ Terima kasih...,” kata hantu Tania antusias.
“ Sama-sama...,” sahut Faiq lalu melangkah keluar dari toko sambil tersenyum karena senang bisa membujuk hantu
Tania agar menjaga jarak dengan Wina dan rekan-rekannya.
\=====
Di depan sebuah mini market besar terlihat antrian yang mengular yang didominasi oleh kaum ibu. Rupanya sedang ada bazaar sembako murahyang digelar mini market tersebut. Bazaar sengaja digelar untuk menjaring pembeli karena mini market yang berada di pinggir jalan itu sepi pembeli. Entah mengapa sejak mini market pindah ke lokasi baru justru omsetnya makin menurun. Padahal di lokasi yang lama mini market itu bisa meraup untung yang besar.
Banyak warga yang sengaja datang untuk melihat-lihat atau sekaligus membeli beberapa sembako murah yang ditawarkan oleh mini market tersebut. Kasak kusuk terdengar di kalangan ibu-ibu yang sedang mengantri.
“ Beneran ga nih bazaar murah. Biasanya namanya aja pake bazaar tapi harga mah sama aja kaya di pasar...,” kata seorang wanita.
__ADS_1
“ Kayanya sih beneran Bu. Lumayan lah bisa hemat uang belanja sampe 20%...,” sahut pengunjung lainnya.
“ Syukur deh kalo gitu. Jangan sampe sia-sia Kita ngantri lama di sini tapi harga barang cuma selisih seratus perak sama yang di pasar. Rugi lah...,” kata seorang wanita berbadan tambun.
“ Betul Bu...,” sahut yang lainnya.
“ Tapi kayanya baru kali ini mini market bikin acara kaya gini ya Bu...? tanya seorang wanita.
“ Iya Bu. Terpaksa, daripada ga ada yang beli...,” sahut wanita gemuk itu.
“ Kenapa ga ada yang beli ya Bu. Kan mini marketnya besar, pasti barangnya lengkap. Terus letaknya juga strategis...,” kata wanita lainnya.
“ Suasananya yang ga enak Bu...,” sahut wanita gendut itu.
“ Ga enak gimana sih Bu...?” tanya beberapa orang wanita penasaran.
“ Ga enak kaya ada sesuatu yang ngeliatin, tapi ga tau apaan. Karyawannya juga kurang ramah kaya ada di bawah
tekanan gitu. Atau ketakutan lebih tepatnya...,” sahut wanita gendut itu mantap.
“ Kalo itu Saya juga tau Bu. Tapi kalo karyawannya kerja ketakutan gimana, itu kan nandain ada yang ga beres di sini. Pantesan aja mini marketnya sepi pengunjung. Saya juga ga mau datang ke sini lagi kalo ga ada bazaar ini...,” sahut wanita gendut itu meyakinkan.
Di dalam mini market terlihat manager toko yang tak lain adalah Irwandi nampak mengamati pergerakan pengunjung. Irwandi menyapa salah seorang karyawan toko yang sedang meletakkan barang di atas rak.
“ Gimana bazaar hari ini Don...?” tanya Irwandi.
“ Alhamdulillah rame Pak...,” sahut Doni antusias.
“ Mudah-mudahan bisa kaya gini terus ke depannya ya Don...,” kata Irwandi.
“ Aamiin. Iya Pak...,” sahut Doni sambil tersenyum.
“ Ya udah lanjutin kerjaan Kamu...,” kata Irwandi sambil menepuk pundak Doni sambil berlalu.
__ADS_1
“ Siap Pak...,” sahut Doni sambil melanjutkan pekerjaannya menata barang di atas rak.
Kemudian Irwandi melangkah ke bagian lain tepatnya di sekitar kasir. Ia memperhatikan Meila yang saat itu tengah
melayani pembeli. Irwandi tersenyum saat ingat percintaan panasnya dengan Meila kemarin. Meila yang sadar jika dirinya sedang diawasi oleh Irwandi pun nampak menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
“ Lanjutkan, Kamu memang yang terhebat...,” kata Irwandi dengan bahasa isyarat sambil mengacungkan jempolnya
kearah Meila.
“ Ok, makasih Pak...,” sahut Meila lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Irwandi pun melangkah ke sisi yang lain hingga sudut matanya menangkap salah seorang karyawati yang sedang
bersandar pada rak saji tanpa melakukan sesuatu. Irwandi geram melihat tingkah salah seorang karyawan yang bersikap santai sedang karyawan lainnya sibuk melayani pembeli.
Dengan langkah cepat Irwandi menghampiri karyawati yang berdiri membelakanginya itu dan bersiap memakinya.
“ Kena Kamu sekarang...,” gumam Irwandi sambil menggertakkan giginya karena merasa geram.
Irwandi mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak sang karyawati yang nampak sedang bersenandung itu dengan tepukan yang keras.
“ Bagus ya, bukannya kerja malah nyanyi-nyanyi ga jelas. Kamu ga liat yang lain sibuk tapi Kamu malah enak-enakan di sini. Mau makan gaji buta ya Kamu...?!” kata Irwandi lantang.
Tak ada sahutan, sang karyawati seolah tak mendengar suara lantang Irwandi. Dia masih asyik bersenandung bahkan kini menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah sangat menikmati musik yang ia dengarkan melalui ear phone itu. Tentu saja hal itu membuat Irwandi geram dan merasa dipermainkan.
Amarah Irwandi siap meledak saat wanita itu menoleh kearah Irwandi. Tapi Irwandi nampak mematung saat melihat
jika kepala sang karyawati bisa berputar 180 derajat ke belakang. Lalu wajah sang karyawati menyeringai memperlihatkan rongga mulutnya yang berwarna merah semerah darah seolah mengejek kearah Irwandi.
Irwandi terkejut lalu menjerit sekeras-kerasnya apalagi saat wajah wanita itu berubah menjadi wajah almarhumah Tania yang nampak pucat, dengan bola mata yang membulat penuh, mulut yang mengeluarkan darah dan rambutnya yang berantakan. Kemudian wanita itu tertawa melengking tepat di depan wajah Irwandi.
“ Apa Aku sudah cukup menantang Bapak Irwandi yang terhormat...?” kata wanita itu di sela tawanya.
__ADS_1
Irwandi menjerit sekali lagi lalu jatuh pingsan tepat di depan kaki karyawati mini market yang hendak ditegurnya itu. Aneh. Tak ada yang datang membantu meski pun suara jeritan Irwandi memenuhi ruangan hingga menggema di dalam mini market itu. Semua orang seolah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Karyawati wanita itu nampak tersenyum puas menyaksikan Irwandi terkapar tak berdaya di lantai. Wanita itu melangkahi tubuh Irwandi lalu menghilang di balik keramaian pengunjung mini market.
\=====