Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
214. Mencari


__ADS_3

Yori masih menatap rumah Pita dengan perasaan tak menentu karena tahu jika kedua peliharaannya sempat masuk ke rumah itu tadi. Salah seorang tetangga yang kebetulan lewat pun menyapa Yori.


“ Cari apa Pak. Rumah itu lagi kosong. Pak Ramdan dan Istrinya lagi ga di rumah...,” kata tetangga Yori yang bernama Zahid.


“ Oh gitu, pentesan sepi. Emangnya mereka kemana Pak...?” tanya Yori basa basi.


“ Katanya sih nginep di rumah mertuanya, mungkin kangen...,” sahut Zahid.


“ Kapan mereka pulang Pak...?” tanya Yori.


“ Ga tau Pak. Tapi Saya dengar mereka mau ngadain acara aqiqahan bayinya itu, belum tau kapan pastinya. Mungkin lagi nyiapin semuanya di rumah mertuanya itu...,” sahut Zahid lagi.


Setelah mendengar ucapan sang tetangga, Yori pun pamit meninggalkan rumah Pita. Zahid masih mengamati Yori dengan tatapan tak terbaca.


“ Hei bengong aja, kesambet Lo...!” kata seorang pria bernama Eman yang baru saja pulang dari musholla.


“ Astaghfirullah aladziim, kaget Gue...,” sahut Zahid


“ Makanya jangan ngelamun, mana ngelamunnya di depan rumah orang lagi...,” kata Eman sambil tertawa.


“ Gue lagi ngeliatin Pak Yori tuh, aneh banget...,” kata Zahid.


“ Aneh kenapa...?” tanya Eman.


“ Tadi Gue liat dia berdiri di sini sambil celingak-celinguk kaya nyari sesuatu di halaman gitu. Padahal kan udah jelas rumahnya Pak Ramdan itu gelap, harusnya tau dong kalo ga ada orang di dalam sana. Tapi dia malah berdiri di sini lama banget. Ya Gue tegur lah...,” sahut Zahid.


“ Terus dia ngaku lagi nyari apaan gitu...?” tanya Eman.


“ Mana mungkin ngaku sih Man. Dia malah nanya kapan Pak Ramdan pulang...,” sahut Zahid.


“ Aneh juga ya. Ga biasanya kan dia nyambangin rumah Pak Ramdan. Jangan-jangan bener ya gosip yang selama ini beredar kalo Pak Yori itu melihara tuyul...,” kata Eman setengah berbisik.


“ Tuyul, yang bener Lo...?!” tanya Zahid tak percaya.


“ Ssstt..., jangan berisik. Ga enak kedengeran orang nanti...,” kata Eman sambil menyilangkan telunjuk di depan bibirnya.


“ Iya iya, sorry. Gue kaget banget dengernya. Kok Gue baru tau soal ini ya...,” sahut Zahid.


“ Namanya juga gosip ya belum tentu kebenerannya kan. Paling cuma ulah orang yang iri aja sama kesuksesan Pak Yori. Kita semua kan tau apa dan gimana Pak Yori sebelum kaya seperti sekarang. Makanya pas ngeliat Pak Yori kaya mendadak, banyak yang ga suka deh...,” kata Eman menjelaskan.

__ADS_1


“ Betul juga ya, padahal bisa aja Pak Yori kaya karena dapat warisan...,” sahut Zahid sambil menganggukkan kepalanya.


“ Kalo itu Gue ga tau deh. Tadi Lo bilang Pak Yori nyari sesuatu ya...?” tanya Eman.


“ Iya, tapi nyarinya ke bawah. Ngeliat ke sekeliling pagar juga...,” sahut Zahid.


“ Jangan-jangan dia lagi nyari peliharaannya itu. Kan tuyul kecil, jadi dia nyarinya ya nengok ke bawah dong. Betul ga...?” tanya Eman.


“ Hush..., jangan suudzon sama orang. Katanya gosip, kenapa Lo ikutan percaya sekarang...?” tanya Zahid sambil berlalu.


“ Ck, tapi jangan ditinggal juga dong Hid. Woooiii..., Zahid. Tunggu Gue dong...!” panggil Eman sambil mengejar langkah Zahid.


\=====


Sementara itu Yori kembali ke rumah dengan kesal. Maya sang istri yang sedang mengendong anaknya pun nampak terkejut.


“ Kamu darimana Bang, kok kusut gitu mukanya...?” tanya Maya.


“ Nyariin dua tuyul itu lah, kemana lagi emangnya...,” sahut Yori ketus.


“ Ketemu ga...?” tanya Maya.


“ Terus kalo ga ketemu gimana Bang...?” tanya Maya cemas.


“ Ya harus dicari sampe ketemu lah, gitu aja kok masih nanya sih May...,” sahut Yori ketus.


Maya terdiam. Ia tahu jika suaminya sedang galau karena kehilangan dua peliharaannya yang sudah seperti anaknya itu. Sedangkan Yori langsung masuk ke kamar khusus yang ia persiapkan untuk kamar ritualnya. Tak lama kemudian Yori keluar dari sana sambil membanting pintu.


Anak dalam gendongan Maya pun menangis karena terkejut saat mendengar pintu yang dibanting itu.


“ Apa-apaan sih Bang. Si kecil bangun nih...,” kata Maya sambil cemberut.


“ Kamu aja yang ga becus jadi Ibu. Suruh diem tuh anak, nangis mulu. Berisik...!” sahut Yori lantang hingga membuat Maya terkejut.


Tak ingin meladeni kemarahan suaminya, Maya pun mengalah. Ia masuk ke dalam kamar untuk menenangkan anaknya yang berusia dua tahun itu. Sedangkan Yori makin uring-uringan karena tak juga menemukan jejak kedua tuyul itu.


Tiba-tiba Yori teringat dukun yang membantunya mendapatkan tuyul itu. Yori berniat menyambangi sang dukun untuk menanyakan keberadaan kedua tuyul peliharaannya itu. setelah mempersiapkan semuanya, Yori pun bergegas keluar dari rumah tanpa pamit pada istrinya.


Maya yang mendengar suara

__ADS_1


motor sang suami pun mengejarnya keluar.


“ Mau kemana Bang ?, jangan ngebut Bang, inget Anak Istri di rumah...!” kata Maya lantang.


Yori diam saja dan mengabaikan ucapan istrinya itu. Dengan kecepatan tinggi ia melajukan motornya meninggalkan rumah menuju rumah sang dukun yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Maya nampak cemas melepas kepergian suaminya, namun tangisan anaknya membuat Maya tersadar lalu kembali ke dalam rumah untuk membujuk anaknya itu.


\=====


Sementara itu di rumah sang dukun tempat Yori meminta bantuan tengah ramai dengan pasien sang dukun. Namun di sela kesibukannya sang dukun merasakan panas dan nyeri di sekujur tubuhnya.


" Ssshhh..., kenapa sakit banget sih. Ada apa ini...?" gumam sang dukun sambil meringis.


m


" Apa Mbah baik-baik aja, keliatannya lagi kurang sehat ya Mbah...?" tanya pasien di hadapan sang dukun yang datang untuk minta jimat penglaris.


" Gapapa, paling masuk angin aja...," sahut sang dukun.


" Jadi bisa kan Mbah jimatnya Saya bawa sekarang...?" tanya wanita bertubuh tambun itu.


" Ga bisa, Kau harus datang sekali lagi untuk ritual terakhir supaya jimat itu bisa bekerja sempurna...," sahut sang dukun.


Meski kecewa sang pasien pun mengangguk lalu meletakkan amplop berisi uang di atas meja sebelum berlalu. Saat itu lah parewangan sang dukun yang merupakan makhluk astral datang menyapanya dan melaporkan sesuatu.


" Dua tuyul kebangganmu yang paling penurut itu sudah dilarung ke laut oleh tiga bersaudara yang memiliki kekuatan super...," kata makhluk tinggi besar berambut gimbal.


" Kurang ajar. Susah payah Aku menjemput dua janin itu langsung dari Ibunya, sekarang malah hilang begitu saja...!" sahut sang dukun marah.


" Dan sekarang pria itu sedang menuju kemari untuk minta bantuanmu...," kata makhluk itu lagi.


" Bo*oh, dia malah datang ke sini. Apa dia lupa dengan perjanjian itu...," sahut dukun itu lalu tertawa.


Makhluk hitam berambut gimbal itu pun ikut tertawa. Lalu sang dukun mengambil daging mentah dari dalam kantong kulit dan menyerahkannya kepada parewangannya itu.


" Ini upahmu karena Kau telah memberi informasi penting untukku...," kata sang dukun sambil menyerahkan gumpalan daging berlumuran darah pada makhluk di hadapannya.


Makhluk hitam berambut gimbal itu nampak senang lalu menyambut pemberian sang dukun. Ia menatap sejenak gumpalan daging mentah berlumuran darah yang ternyata adalah ari-ari bayi yang baru saja lahir itu sambil tersenyum puas. Kemudian ia memakannya dengan lahap hingga darah pun membasahi mulut, pipi, dagu dan menetes ke lantai. Sang dukun menatap parewangannya itu sambil tersenyum.


Setelah menghabiskan 'upahnya', makhluk hitam berambut gimbal itu pun pergi menjalankan tugasnya mencari informasi untuk kepentingan sang dukun.

__ADS_1


\=====


__ADS_2