
Hari masih pagi saat Hanako terbangun karena mendengar suara rintihan sang bunda. Rupanya waktu bersalin Efliya sudah hampir tiba. Hanako segera berlari menemui kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang tengah.
Beruntung saat itu kedua orangtua Heru sedang menginap di rumahnya hingga Heru bisa tenang mendampingi istrinya.
“ Bunda kenapa Eyang...?” tanya Hanako.
“ Gapapa Nak, keliatannya waktu kelahiran Adik Kamu udah dekat...,” sahut Ibu Heru sambil mengelus kepala Hanako.
“ Apa sakit banget ya Bun...?” tanya Hanako sambil berlutut di depan Efliya.
Efliya mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia meraih tangan Hanako untuk membujuk adiknya agar tak berulah di dalam sana. Paham akan keinginan sang bunda, Hanako pun segera menempelkan telapak tangannya di perut
Efliya lalu mulai bicara sambil mengecup perut Efliya dengan sayang.
“ Adik jangan nakal ya. Liat tuh Bunda kesakitan. Kalo mau lahir, ga boleh rewel ya. Tunggu sampe di ruang bersalin baru keluar, Ok...?” kata Hanako dengan mimik lucu hingga membuat semua orang tertawa.
“ Masa Adiknya diancam kaya gitu sih Kak...,” kata bapak Heru di sela tawanya.
“ Bukan ngancam Yang, ini ngasih tau namanya...,” sahut Hanako sambil tersenyum malu-malu.
“ Iya deh...,” sahut eyang Hanako.
Tiba-tiba air ketuban mengalir di sela paha Efliya. Ia mengeratkan cengkraman tangannya di baju Heru seolah memberi tahu jika waktu melahirkan hampir tiba dan itu bukan lah kontraksi palsu.
“ Sekarang Yah...,” bisik Efliya parau.
“ Siap Bun...,” sahut Heru lalu menggendong Efliya dan membawanya ke dalam mobil.
Hanako dan kedua eyangnya pun ikut masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian mobil melaju cepat menuju Rumah Sakit Firdausi dimana Farah dan Erik juga tengah menanti kedatangan Efliya.
Saat tiba di Rumah Sakit Efliya langsung dibawa ke ruang bersalin. Farah yang memang sedang dinas malam itu ikut mendampingi Efliya masuk ke dalam ruang bersalin bersama Heru. Sedangkan Hanako bersama Erik dan kedua eyangnya menunggu di depan ruang bersalin.
“ Apa melahirkan itu lama Eyang...?” tanya Hanako pada ibu Heru.
“ Tergantung Nak. Ada yang sampe sehari semalam di Rumah Sakit tapi bayinya belum juga lahir. Tapi ada juga bayi yang lahir di jalan menuju Rumah Sakit. Jadi semuanya ga bisa dipastiin walau pun dokter punya perkiraan
kapan bayi itu lahir...,” sahut ibu Heru sambil tersenyum.
“ Pasti sakit ya Yang...,” kata Hanako.
“ Iya, bahkan Kami harus bertaruh nyawa untuk melahirkan Anak-anak Kami. Makanya Hanako ga boleh membangkang ya, harus nurut sama Bunda, jangan suka ngelawan. Karena perjuangan Bunda untuk melahirkan Hanako itu besar lho...,” sahut ibu Heru bijak sambil memeluk Hanako erat.
“ Iya Yang...,” kata Hanako sambil membenamkan diri dalam pelukan sang eyang.
Erik dan bapak Heru nampak tersenyum mendengar perbincangan Hanako dengan eyangnya itu. Sesaat kemudian Hanako pamit untuk pergi ke kantin Rumah Sakit dan meninggalkan Erik dengan kedua besannya itu.
“ Sebenarnya kehamilan Efliya ini di luar dugaan lho Pak. Kami semua kaget waktu dengar Efliya hamil lagi. Apalagi umur Hanako udah hampir lima belas tahun. Efliya sendiri hampir ga percaya dan keliatan ga siap dengan kehamilannya. Tapi suport keluarga terutama Heru dan Hanako bikin Efliya tenang. Apalagi Mamanya juga banyak kasih masukan buat Efliya dari segi medis...,” kata Erik membuka percakapan.
“ Saya dan keluarga juga kaget Pak. Kami ga nuntut Heru punya Anak lagi karena Kami paham situasinya. Apalagi Hanako itu istimewa buat keluarga besar Kami karena memiliki indra keenam. Jadi Kami kaget plus senang waktu dikasih tau bakal dapat hadiah Cucu lagi dari Heru dan Efliya...,” sahut bapak Heru sambil tertawa bahagia.
Suasana ruang tunggu makin hangat saat Hanako datang dengan membawa empat gelas minuman hangat yang dibelinya di kantin Rumah Sakit.
Sedangkan di dalam ruang bersalin terlihat ketegangan karena Efliya menolak mengejan untuk melahirkan bayinya. Efliya merasa takut jika ia akan koma seperti temannya yang melahirkan di usia yang sama dengannya. Farah dan Heru yang ada di sampingnya pun terus memberi semangat agar Efliya tenang. Sementara dokter yang menangani persalinan Efliya nampak tersenyum melihat interaksi Farah dengan anaknya itu.
“ Ayo Sayang, jangan takut...,” kata Farah memberi semangat.
“ Ga mau Ma, Aku takut. Gimana kalo ntar Aku koma karena melahirkan normal. Aku mau caesar aja Ma...,” sahut Efliya sambil menggelengkan kepalanya.
“ Tapi Kamu bisa melahirkan normal Nak, bukaannya udah mendekati sempurna. Kamu siap-siap mengejan saat bukaan sempurna ya...,” bujuk Farah sambil menciumi kening Efliya.
__ADS_1
Namun Efliya tetap menolak mengejan. Ia menoleh kearah Heru seolah minta ijin untuk melahirkan melalui operasi caesar. Air mata nampak membasahi wajah Efliya dan itu membuat Heru iba. Ia tak pernah melihat Efliya ‘sekacau’ ini. Dan Heru tak ingin Efliya merasa tertekan untuk melahirkan bayi mereka.
“ Ma...,” panggil Heru sambil menatap penuh harap pada Farah.
Farah belum lagi menjawab permintaan Heru dan Efliya ketika tiba-tiba bayi dalam rahim Efliya lahir. Semua terkejut dan segera memberikan pertolongan. Efliya nampak menangis bahagia saat bisa mendengar tangis bayinya dalam keadaan ‘sadar’.
“ Alhamdulillah...,” terdengar hamdalah bergema di dalam ruangan itu.
Heru langsung memeluk Efliya dan menciumi wajahnya sambil mengucap terima kasih berulang kali. Sedangkan Efliya nampak tersenyum bahagia karena bisa melahirkan dengan selamat.
“ Makasih Sayang...,” kata Heru yang diangguki Efliya.
“ Wah bayi cowok toh, pantesan ga sabar mau menaklukkan dunia...,” gurau dokter sambil memotong tali pusat sang bayi.
“ Alhamdulillah, Assalamualaikum Cucu Oma...,” kata Farah sambil memperhatikan proses pemotongan tali pusat yang dilakukan rekannya itu.
Mendengar ucapan sang dokter membuat Heru dan Efliya bahagia. Mereka memang tak pernah ingin tahu jenis kelamin bayi mereka meski pun mereka rutin memeriksakan kehamilan Efliya termasuk menjalani USG empat
dimensi. Bagi Heru dan Efliya kehamilah kali ini adalah bonus dari Allah. Karenanya mereka hanya fokus dengan kesehatan Efliya selama hamil sambil bersiap menyambut kelahiran sang bayi apa pun jenis kelaminnya.
Sedangkan di ruang tunggu terlihat Hanako yang melompat-lompat sambil tertawa bahagia saat mendengar tangis sang adik yang baru saja lahir. Ibu Heru nampak mengusap matanya yang basah sedangkan Erik dan bapak Heru nampak saling memeluk karena bahagia dengan kelahiran cucu mereka.
Tak lama kemudian Heru keluar dari ruang bersalin sambil tersenyum bahagia.
“ Adik sama Bunda mana Yah...,” tanya Hanako sambil mendekat kearah Heru.
“ Sebentar lagi mau dipindah ke ruang rawat inap. Kita ke sana aja ya...,” sahut Heru sambil merangkul pundak Hanako.
Kemudian Heru menghampiri kedua orangtuanya dan mertuanya, lalu memeluk mereka bergantian.
“ Anakku laki-laki Pak...,” kata Heru saat memeluk bapaknya.
\=====
Ruang rawat inap Efliya terlihat meriah karena dikunjungi keluarga besarnya. Meski pun terlihat lemah dan hanya mampu terbaring di tempat tidur namun senyum bahagia nampak menghiasi wajah cantik Efliya.
Di sofa terlihat orangtua Heru sedang berbincang hangat dengan Farah dan Erik. Keempatnya sedang membicarakan rencana pelaksanaan aqiqah untuk cucu mereka yang baru lahir itu.
Faiq dan keluarganya juga turut hadir hingga membuat suasana makin ramai. Iyaz dan Izar tak henti mengomentari sepupunya yang masih tertidur di box bayi itu. Hanako mengimbangi celotehan si kembar hingga keributan kecil
pun terjadi diantara mereka bertiga.
“ Kalian kenapa malah ribut sih, kasian kan Adik bayinya...,” kata Shera sambil menggendong bayi Efliya yang menangis karena terganggu dengan suara Hanako, Iyaz dan Izar.
“ Siapa namanya Her...?” tanya Faiq sambil mengecup pipi sang bayi yang ada dalam gendongan istrinya.
“ Namanya Eijaz Haikal. Eijaz artinya keajaiban, karena kehadirannya di tengah keluarga Kami adalah keajaiban. Apalagi proses kelahirannya istimewa karena Bundanya ga perlu mengejan. Kalo Haikal artinya pohon yang tumbuh besar dan subur. Jadi arti keseluruhannya adalah Keajaiban yang datang dan diharapkan bisa menjadi orang ‘besar’ yang memberi manfaat baik untuk agama dan umat manusia...,” sahut Heru sambil tersenyum.
“ Bagus namanya. Inisialnya sama kaya Cici ya, sama-sama E dan H...,” puji Faiq.
“ Betul Bang...,” sahut Heru.
“ Dipanggil apa nih Ci...?” tanya Shera sambil menatap Hanako.
“ Panggil Haikal aja Ma, iya kan Bun...?” tanya Hanako sambil menoleh kearah Efliya.
“ Iya Sayang...,” sahut Efliya sambil tersenyum.
Kehadiran Haikal memberi kebahagiaan tersendiri untuk keluarga besar Erik dan Farah terutama untuk si kembar.
__ADS_1
\=====
Hari ini Hanako nampak bergegas keluar dari sekolah karena akan ikut mejemput sang adik dari Rumah Sakit. Kemudian Hanako menghampiri mobil Erik yang terparkir di depan sekolah.
“ Maaf ya Opa, Aku ga bisa ijin pulang cepat karena ada ulangan hari ini...,” kata Hanako sambil mencium punggung tangan Erik.
“ Gapapa Nak...,” sahut Erik sambil membelai kepala Hanako dengan lembut.
“ Jangan-jangan mereka udah sampe rumah ya Pa...,” kata Hanako gusar.
“ Ga mungkin, mereka kan nungguin Kamu buat jemput. Soalnya Haikal ga mau pulang ke rumah kalo bukan Cici yang jemput...,” gurau Erik hingga membuat Hanako tertawa.
“ Opa bisa aja. Masa bayi bisa ngomong kaya gitu, mustahil...,” sahut Hanako di sela tawanya.
Erik pun tertawa lalu melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Firdausi untuk menjemput Haikal pulang ke rumah.
Saat tiba di Rumah Sakit,Hanako tak sengaja menabrak seorang wanita yang baru saja keluar dari loby Rumah Sakit sambil marah-marah. Wanita itu berpakaian lusuh, rambutnya kusut seolah tak pernah tersentuh sisir. Kulitnya terlihat kotor seolah tak pernah mandi. Jangan lupakan baunya yang tak sedap karena kondisinya itu.
“ Maaf Bu, ga sengaja...,” kata Hanako dengan sopan.
“ Oh gapapa Nak, di sini cuma Kamu yang ngomong sopan sama Saya...,” sahut wanita itu sambil tersenyum.
“ Mmm, maaf. Emangnya Ibu kenapa ada di sini...?” tanya Hanako.
“ Saya mau jenguk teman Saya yang dirawat di sini. Tapi Saya malah diusir sama security karena dianggap mau bikin onar. Padahal saat Saya tanya nama teman Saya dan ruangan tempatnya dirawat, receptionist bilang ada. Tapi kenapa Saya ga dijinin masuk. Apalagi semua orang di sini ngeliat Saya seolah Saya ini pengemis yang kotor dan bau. Gimana Saya ga marah kalo diperlakukan kaya gitu...!” sahut wanita itu berapi-api.
Hanako mendengarkan ucapan wanita itu sambil memperhatikannya dengan seksama. Hanako melihat jika wanita itu diselubungi asap mistis berwarna hitam pekat. Karena iba Hanako pun membawa wanita itu keluar dari area Rumah sakit karena tak ingin wanita itu diseret paksa oleh security yang terlihat mendekat kearahnya.
“ Ibu ikut saya dulu yuk...,” ajak Hanako sambil menggamit lengan wanita itu dengan lembut.
Entah mengapa wanita itu menuruti permintaan Hanako yang memang memperlakukannya sangat baik. Sedangkan Erik nampak tersenyum bangga melihat sikap Hanako pada wanita itu. Erik pun melangkah ke loby dan menunggu
Hanako di sana.
“ Lho Papa ngapain duduk di sini...?” tanya Faiq yang juga baru tiba.
“ Papa lagi nungguin Cici, tuh dia di sana...,” sahut Erik sambil menunjuk Hanako yang sedang menggandeng tangan wanita lusuh itu kearah gerbang Rumah Sakit.
Faiq menatap Hanako dan mengerutkan keningnya karena melihat asap hitam meyelubungi wanita yang sedang bersama Hanako itu. Faiq bergegas mengejar Hanako karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keponakan
cantiknya itu.
Sementara itu Hanako telah tiba di luar pagar Rumah Sakit Firdausi dan tengah bicara pada wanita yang bersamanya itu.
“ Cici...!” panggil Faiq sambil bergegas menghampiri Hanako.
“ Kebetulan Papa datang. Apa Kita bisa bantu Bu Warti Pa...?” tanya Hanako sambil merangkul lengan Warti erat.
Faiq yang mengerti maksud Hanako pun mengangguk cepat sambil tersenyum.
“ Insya Allah bisa Nak. Tapi ga sekarang ya, Kita kan harus jemput Haikal dulu hari ini...,” sahut Faiq.
“ Jadi kapan...?” tanya Hanako sedikit kecewa.
“ Insya Allah secepatnya. Minta alamat Bu Warti aja dulu, nanti Kita atur gimana baiknya...,” sahut Faiq.
Hanako mengangguk lalu bicara pada Warti. Setelahnya Hanako mengikuti Faiq masuk ke dalam Rumah Sakit untuk menjemput sang adik. Sementara itu Warti menatap punggung keduanya yang makin menjauh dengan tatapan penuh harap sambil tersenyum.
“ Semoga mereka bisa membantuku...,” gumam Warti lalu meninggalkan Rumah Sakit Firdausi dengan berjalan kaki karena tak ada satu pun kendaraan yang mau berhenti saat ia mencoba menghentikannya
__ADS_1
Bersambung