Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
69. Pulih


__ADS_3

Setelah kepergian hantu Desiree tubuh Hendrik nampak melemah lalu merosot jatuh ke lantai. Wajah tegangnya perlahan mengendur dan nafasnya yang memburu perlahan kembali teratur. Jika tak menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, rasanya Hendrik tak percaya jika ucapan sederhana Hasman mampu mengendalikan kemarahan hantu Desiree.


Faiq tersenyum saat melihat Hasman mendekati Hendrik lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Hendrik berdiri.


“ Terima kasih Hasman, maafkan Aku...,” kata Hendrik sambil menyambut uluran tangan Hasman lalu memeluk Hasman erat.


“ Sama-sama Hendrik. Semoga setelah ini Kamu bisa menjalani hukumanmu dengan baik dan menjadikannya ajang untuk bertobat. Semoga Allah juga menerima tobatmu itu...,” sahut Hasman sambil menepuk punggung Hendrik dengan lembut.


“ Aamiin...,” sahut Hendrik sambil mengurai pelukannya dan tersenyum lega.


“ Jangan lupa masih ada satu tugas lagi untukmu Pak Hasman...,” kata Faiq mengingatkan hingga membuat Hasman menoleh.


“ Oh ya, apalagi...?” tanya Hasman.


“ Arwah Bu Siti juga ada di sini. Katakan sesuatu untuk menghiburnya. Sisanya serahkan pada Bang Darta untuk mengurusnya...,” sahut Faiq yang diangguki Darta.


“ Dimana Bu Siti...?” tanya Hasman sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena tak bisa melihat hantu Bu Siti seperti saat ia melihat hantu Desiree tadi.


“ Dia ada di belakangmu...,” sahut Fatur.


Hantu bu Siti nampak melayang mendekat kearah Hasman. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh wajah Hasman dan membelai kepalanya. Air mata nampak mengalir deras di wajah pucatnya. Ia menyesal karena baru bisa menyentuh wajah Hasman saat nyawanya tak ada lagi di dalam raganya.


Sedangkan Hasman merasakan ada angin berhembus lembut di depan wajahnya. Hasman juga merasakan rasa hangat di wajah dan kepalanya dan itu membuatnya memejamkan mata untuk meresapi sentuhan hantu Siti yang penuh kasih sayang itu.


“ Anakku, Anakku...,” rintih hantu Siti.


“ Katakan sesuatu Pak Hasman...,” desak Fatur menyadarkan Hasman yang sempat terlena sesaat tadi.


Hasman membuka matanya lalu menatap ke depan sambil mengucapkan sesuatu.


“ Maafkan jika kata-kataku selama ini membuatmu terluka. Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku malu karena telah


membuatmu terlibat dalam masalah ini. Maaf dan terima kasih karena telah melindungiku...,” kata Hasman dengan suara bergetar.


“ Gapapa, Aku melakukan itu karena Aku menyayangimu. Aku membelamu karena Aku yakin Kau tak bersalah. Walau akhirnya Aku harus mati,  Aku rela asalkan Kau selamat...,” sahut hantu Siti sambil tersenyum.


“ Meski pun Kita tak punya hubungan darah sama sekali, tapi Aku bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari Ibu. Aku bahkan menceritakan pengorbanan ibu pada kedua orangtuaku. Mereka bahagia karena di tempat yang asing ini Aku juga mendapat kasih sayang dari seorang Ibu yang bahkan rela mengorbankan nyawanya untukku. Mereka titip salam untuk Ibu dan Aku telah mengajak mereka menziarahi tempat dimana Ibu dimakamkan. Tapi Aku ga nyangka kalo Ibu ternyata masih berkelana mencari keadilan. Tolong ijinkan Aku mengurus semuanya. Aku akan buat pengumuman ke penjuru kota dan mengatakan jika Bu Siti tak bersalah karena tak terlibat sama sekali dengan

__ADS_1


kasus penculikan dan kematian Desiree. Bolehkah Aku melakukannya Bu...?” tanya Hasman hati-hati.


Angin sejuk kembali berhembus seolah itu adalah jawaban dari bu Siti atas permintaan Hasman. Fatur menganggukkan kepalanya memberi isyarat pada Hasman jika bu Siti mendukung niat baiknya.


“ Insya Allah semuanya akan diurus oleh Hasman dan pihak kepolisian. Sekarang pergi lah dengan tenang Bu...,” kata Fatur yang diangguki hantu Siti.


Sebelum menghilang Siti memperlihatkan wujud terbaiknya di depan Hasman. Ia tersenyum sambil mengusap kepala Hasman dengan sayang. Hasman pun nampak menitikkan air mata saat tubuh bu Siti perlahan lenyap menyisakan asap tipis yang lenyap terbawa angin.


“ Alhamdulillah...,” kata semua orang yang ada di ruangan itu.


“ Masya Allah, ternyata semua bisa terselesaikan dengan mudah dan cepat hari ini...,” kata Heru takjub.


“ Semua atas ijin Allah, Her. Kita tinggal mewujudkan janji Pak Hasman tadi...,” kata Faiq.


“ Soal itu biar Gue bantu urus nanti...,” sahut Darta sambil mengusap peluh di dahinya.


“ Makasih Pak Darta...,” kata Hasman.


“ Sama-sama Pak Hasman...,” sahut Darta sambil tersenyum.


diikuti yang lain.


“ Iya Pak. Makasih atas bantuannya, maaf kalo udah ngerepotin...,” sahut Hendrik dengan mata berkaca-kaca.


“ Udah jadi tugas Kita untuk saling membantu Pak. Kami permisi ya, Assalamualaikum...,” kata Fatur.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut Hendrik.


Hendrik pun melepas kepergian kelima orang yang telah membantunya dengan senyum tulus. Ia bersyukur karena mengenal mereka dan berharap masih bisa bertemu mereka lagi kelak.


\=====


Beberapa hari kemudian Hasman dibantu pihak kepolisian membuat pengumuman besar-besaran di media massa.


Pengumuman tentang bu Siti yang tak terlibat sama sekali dengan peristiwa belasan tahun lalu yang merenggut nyawa Desiree putri tuan Scoot.


Kalimat yang ditulis menggunakan huruf kapital cukup membuat orang-orang yang mengenal Siti pun merasa malu dan menyesal karena telah ikut menuduh Siti melakukan kejahatan.

__ADS_1


Permohonan maaf juga disampaikan oleh tuan Scoot dan keluarganya hingga nama baik bu Siti berhasil dipulihkan


dalam waktu singkat.


“ Saya mohon berhenti mengatakan hal yang buruk tentang Bu Siti karena dia ga bersalah. Kita semua tau siapa


dalang dibalik penculikan dan kematian Desiree. Saya hanya minta tolong doakan Bu Siti agar ia bisa kembali ke haribaan Tuhannya dengan tenang...,” pinta tuan Scoot di akhir kalimatnya saat ditanyai wartawan.


Sejak nama baiknya dipulihkan, hantu Siti tak pernah lagi menampakkan diri apalagi mengganggu para pengunjung danau buatan dimana jasad Siti disemayamkan. Sempat terbersit keinginan di hati Hasman untuk membangun makam yang layak untuk Siti, namun Faiq melarangnya.


“ Almarhum Bu Siti hanya perlu doa bukan sebuah tugu peringatan. Biarkan jasadnya bersatu dengan tanah dan tak


perlu diusik lagi. Karena hanya akan membuat repot banyak pihak. Apalagi jasad Bu Siti dimakamkan tepat di tengah danau. Akan butuh waktu dan biaya untuk mengurusnya. Tentang dimana jasad Bu Siti dimakamkan, Saya harap akan jadi rahasia Kita selamanya...,” kata Faiq.


Dan hari itu Faiq menepati janjinya untuk datang ke danau buatan itu bersama Heru dan keluarga mereka masing-masing. Faiq juga sengaja membuat janji untuk bertemu Hasman dan keluarganya.


Saat menikmati makan siang di pinggir danau Hanako nampak tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah


danau.


“ Kamu liat apa Kak...?” tanya Efliya.


“ Liat Bu Siti Bun. Dia bilang terima kasih karena Aku dan si kembar udah ikut bantuin memulihkan nama baiknya...,” sahut Hanako.


“ Terus apa lagi...?” tanya Heru.


“ Ga ada lagi Yah. Bu Siti cuma pamit dan bilang terima kasih kok. Iya kan Zar...,” kata Hanako sambil menoleh kearah Izar yang tengah asyik main game di ponselnya.


“ Iya Ci...,” sahut Izar cuek.


“ Dia juga senang karena Pak Hasman rajin mengunjunginya dan mendoakannya setiap hari...,” sela Iyaz sambil


tersenyum.


Hasman yang mendengar ucapan Iyaz pun ikut tersenyum. Meski pun ia tak punya hubungan darah, namun ikatan batin diantara dirinya dan almarhum Siti tetap terjalin. Bahkan Hasman juga membawa keluarga kecilnya berkunjung ke danau buatan itu. Hasman juga menceritakan perjuangan Siti yang rela mati untuk melindunginya. Hasman ingin anak-anaknya tahu bahwa di dasar danau itu tertanam jasad seorang wanita yang sangat berjasa pada kehidupan ayah mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2