Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
132. Gagal Bunuh Diri


__ADS_3

Hari pertama kuliah pun dimulai. Setelah mengikuti rangkaian tes masuk universitas, Izar pun diterima di salah satu universitas swasta di Jakarta.


Izar memilih jurusan Teknik Sipil dan berharap pekerjaan yang akan ia tekuni kelak tak harus selalu berada di


belakang meja melainkan lebih banyak di lapangan. Alasan yang terdengar aneh namun begitu lah Izar.


Faiq dan Shera tak keberatan dengan hal itu karena mereka yakin jika Izar pasti akan bertanggung jawab dengan pilihannya itu.


\=====


Seperti biasa, Izar baru saja usai mengikuti salah satu mata kuliah teknik di kelas. Izar nampak melangkah gontai meninggalkan kelasnya. Tak dihiraukannya sapaan beberapa teman yang  menyapanya. Izar memang sedang merasa tak sehat hari itu dan ingin segera pulang. Rasanya Izar enggan berlama-lama di kampus karena merasa sedikit tak nyaman.


Sejak Iyaz jauh darinya semangatnya seolah menurun drastis. Namun Izar tetap ingin menunjukkan pada semua orang jika ia baik-baik saja meski pun jauh dari kembarannya itu. Emosinya pun menjadi sedikit tak stabil dan itu membuatnya bingung.


Izar berusaha menstarter motornya saat ekor matanya tak sengaja melihat sosok wanita sedang berdiri di atas


balkon gedung teratas. Ia menduga jika wanita itu hendak bunuh diri. Izar menengadahkan kepalanya untuk meyakinkan jika wanita itu adalah manusia dan bukan makhluk halus. Sesaat kemudian terdengar jeritan histeris dari para mahasiswi yang berkerumun tak jauh darinya.


“ Waaahh liaat. Kayanya dia mau bunuh diri tuhh...!” jerit salah seorang mahasiswi sambil menunjuk ke atas gedung.


“ Itu kan Tiara, ngapain dia di sana...?” tanya seorang mahasiswi.


“ Heiii turuuunn...!” teriak semua orang bersahutan.


“ Jangan bunuh diri di sini lah, cari tempat lain sana...!” hardik seorang mahasiswa kesal.


“ Kok Lo ngomong kaya gitu sih. Tolongin dong jangan dimarahin, ntar kalo dia nekad gimana...?” protes seorang mahasiswi kesal.


“ Ck, kenapa harus Gue sih. Kan masih banyak yang lain. Lagian kalo dia mati kan bikin kampus jadi serem nanti...,” sahut mahasiswa itu sambil berlalu dari tempat itu.


Dalam sekejap terjadi kegaduhan hingga membuat Izar berdecak kesal karena niatnya untuk pulang harus tertunda. Bukan haknya ikut campur urusan orang lain. Namun jiwa kemanusiaannya terpanggil hingga membuatnya berlari cepat menaiki tangga untuk bisa mencegah aksi nekad wanita itu.


Ternyata sudah ada beberapa mahasiswa di atas sana yang juga ingin membantu. Izar tersenyum karena merasa


masih banyak orang yang peduli dengan kehidupan orang lain seperti dirinya. Ada tiga pemuda di hadapannya kini dan salah satunya adalah Leo, teman kecil Izar dulu.


“ Lo ke kanan, Gue ke kiri, Lo peluk dia dari belakang ya...,” kata Leo mengatur siasat sambil berbisik.

__ADS_1


“ Kok Gue yang peluk sih, ga mau ah. Ntar kalo dia marah terus malah tambah nekad gimana...?” tanya Billy.


“ Udah lakuin aja. Hitungan ke tiga ya...,” kata Leo memaksa.


“ Bukan gitu caranya, yang ada dia malah histeris dan bahaya buat semuanya nanti...,” kata Izar tiba-tiba hingga membuat Leo menoleh lalu tersenyum lebar.


“ Izar, Lo di sini juga...?” tanya Leo sambil menjabat tangan Izar yang tersenyum kearahnya.


“ Terus gimana caranya...?” tanya Edo tak sabar karena khawatir wanita itu terlanjur nekad.


“ Begini nih...,” sahut Izar sambil berlari cepat kearah wanita itu.


Izar menarik pinggang wanita itu ke belakang dengan cepat lalu memutar tubuhnya sedemikian rupa hingga menjauh dari tepi balkon dan membuat wanita itu menjerit. Setelahnya Izar menyerahkan wanita itu pada Leo dan kedua temannya.


Gerakan cepat Izar membuat Leo, Billy dan Edo terkejut sekaligus senang. Sedangkan di bawah sana tepuk tangan pun membahana saat melihat wanita itu behasil diselamatkan.


“ Lepasin Gue, jangan halangin Gue. Minggir Kalian...!” kata wanita itu marah sambil mencoba kembali ke pinggir balkon.


“ Jangan kaya gitu Mbak, bunuh diri tuh dosa...!” kata Billy mengingatkan.


“ Tau nih. Emang ada masalah apaan sih sampe mau bunuh diri segala...?” tanya Edo kesal.


Melihat sikap wanita itu membuat Izar dan Leo saling menatap kesal kemudian mengangguk.


“ Gapapa, lepasin aja. Mungkin dia mau ngerasain sensasinya terjun bebas ke bawah sana sambil  terkena angin. Keliatannya dia udah siap nanggung sakit yang bakal dia rasain sebelum mati. Tulang tangan kaki patah, kepala remuk, mata ilang, muka hancur penuh darah dan gigi rontok entah kemana. Yuk guys, Kita tinggalin aja dia...,” kata Izar sambil berlalu diikuti Leo.


Ucapan Izar membuat Billy dan Edo terkejut. Mereka khawatir wanita itu makin histeris dan melaksanakan niatnya itu.


“ Tapi...,” ucapan Billy terputus saat Izar berkata.


“ Allah udah ngeliat usaha Kita buat mencegah dia melakukan dosa itu. Tenang aja, Kita dapat pahala dia masuk


neraka. Kan bunuh diri itu sama aja melawan takdir Allah. Kalian pikir setelah melawan Allah semua selesai ?. Ga mungkin. Ngelawan dosen aja ada akibatnya apalagi ngelawan Allah. Kebayang kan hukuman apa yang bakal dia hadapi nanti...,” kata Izar santai.


“ Iya betul. Udah ga dapat apa-apa di dunia, eh masih harus nerima hukuman di akherat. Hiiyyy...,” sahut Edo sambil bergidik.


“ Diaamm...!” kata wanita itu sambil menutup kedua telinganya.

__ADS_1


Izar, Edo, Billy dan Leo saling menatap sambil mengulum senyum seolah tahu jika sindiran mereka tadi mengenai sasaran. Wanita itu terlihat menangis sambil menutupi wajahnya. Tubuhnya berguncang hebat dengan suara tangis yang memilukan.


Tiba-tiba seorang wanita mendatangi tempat itu lalu menghambur memeluk Tiara dengan erat.


“ Tiara..., kenapa sih Lo nekad kaya gini. Semua masih bisa diomongin baik-baik kan...,” kata wanita bernama Sifa sambil memeluk Tiara.


“ Ga bisa Sifa, percuma. Gue ga kuat lagi. Gue mau mati aja...,” sahut Tiara sambil terisak.


“ Lo salah, ga ada yang percuma. Semua pasti ada hikmahnya. Sekarang Kita turun yuk. Malu diliatin banyak orang tuh...,” bujuk Sifa.


Tiara nampak mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Sifa. Kemudian keduanya pergi meninggalkan balkon sambil menunduk. Sifa masih sempat tersenyum kearah Izar dan tiga orang lainnya.


“ Terima kasih...,” kata Sifa lirih sambil tersenyum.


Izar dan ketiga temannya nampak mengangguk lalu mengacungkan jempolnya dan membiarkan Sifa membawa Tiara pergi dari sana. Kesempatan itu digunakan Leo untuk mengenalkan Izar dengan kedua temannya. Kemudian mereka saling berjabat tangan dan sedikit membahas Tiara.


“ Pendek akal amat sih, dasar cewek labil...,” gerutu Billy saat Sifa dan Tiara menjauh.


“ Masalahnya gede banget kali, jadi dia putus asa...,” sahut Edo.


“ Paling hamil tapi cowoknya ga mau tanggung jawab...,” kata Leo asal.


“ Masa sih, sok tau Lo...,” kata Izar.


“ Kan biasanya gitu. Cewek cowok pacaran, khilaf, hamil, eh cowoknya kabur...,” sahut Leo santai.


“ Kayanya ga mungkin...,” sambar Edo cepat.


“ Kok ga mungkin. Emangnya Lo kenal sama cewek itu...?” tanya Billy dan Leo bersamaan.


“ Ga kenal banget sih, tapi lumayan tau lah. Tiara itu kutu buku, introvert, selalu jaga jarak sama cowok. Mmm..., kaya punya trauma sendiri sama cowok gitu. Gue pernah ga sengaja duduk deket dia di taman kampus, eh dia langsung marah-marah ga jelas...,” sahut Edo sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“ Lagian ngapain Lo deketin dia, modus Lo ya...?” tanya Leo.


“ Ck, namanya juga usaha...,” sahut Edo salah tingkah hingga membuat Izar, Leo dan Billy tertawa.


Tak lama kemudian Izar dan ketiga temannya meninggalkan tempat itu. Namun sebelum turun dari balkon Izar sempat menoleh ke belakang dan melihat sosok makhluk astral berdiri di dekat pagar pembatas balkon. Izar menajamkan penglihatannya namun sosok itu lenyap begitu saja.

__ADS_1


“ Hmmm..., jadi ini gara-gara dia...,” gumam Izar dalam hati sambil menuruni anak tangga.


Bersambung


__ADS_2