Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
26. Team Pemburu Hantu ?


__ADS_3

Faiq masih mengamati Hanako, Iyaz dan Izar yang tengah membicarakan hantu yang mereka temui tadi. Shera yang duduk di samping Faiq pun menepuk lengannya saat melihat sang suami hanya menjadi pendengar setia.


“ Apa Ayah ga mau bantuin mereka...?” tanya Shera.


“ Mau...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Terus kenapa diem aja...?” tanya Shera lagi.


“ Aku lagi ngeliat cara mereka ngebahas apa yang mereka liat tadi. Seru Bun. Mereka ngomongin hal itu kaya


lagi ngomongin permen karet, receh dan sederhana. Padahal ada hal besar yang harus mereka hadapi nanti. Kalo dibandingin sama Aku dulu, duh jauh banget Bun. Aku harus nunggu Papa pulang atau ketemu sama Om Fatur baru bisa ceritain semuanya. Karena ga mungkin Aku cerita sama Mama atau Eliya kan. Aku ga mungkin


bikin Mama khawatir dan Eliya, jangan ditanya gimana reaksinya kalo Aku cerita. Belum mulai aja dia udah jerit duluan dan bikin Mama panik...,” kata Faiq sambil tertawa mengenang masa kecilnya dulu.


“ Pasti Kamu tertekan banget karena harus nyimpen semuanya sendiri ya Yah...,” sahut Shera sambil memeluk


Faiq erat.


“ Awalnya sih gitu, tapi lama-lama Aku mulai terbiasa Bun. Masa kecilku ga menyedihkan kok. Aku bahagia dengan


caraku sendiri dan itu menyenangkan...,” kata Faiq sambil mengusap punggung Shera dengan lembut.


“ Iya, Aku percaya kok...,” sahut Shera sambil tersenyum yang diangguki Faiq.


Kemudian Faiq dan Shera kembali mendengarkan obrolan Hanako, Iyaz dan Izar.


“ Tapi ga ada SD Dewantara di sekitar sini Ci. Pasti dia salah tempat deh...,” kata Iyaz.


Erik yang mendengar ucapan Iyaz pun menjelaskan tentang sekolah yang dimaksud pada ketiga cucunya itu.


“ Dulu ada SD Dewantara di dekat pasar tradisional sana Nak. Tapi udah dibongkar dan dijadiin ruko, salah


satunya ya ruko tempat Kalian beli seblak tadi...,” kata Erik sambil menghisap rokoknya.


Hanako, Iyaz dan Izar saling menatap seolah menemukan jawaban dari pertanyaan mereka tadi.


“ Kapan sekolah itu dibongkar Opa...?” tanya Izar.


“ Udah lama banget, sebelum Kalian lahir kayanya...,” sahut Erik.


“ Susah dong nyarinya. Aku aja udah empat belas tahun sekarang...,” kata Hanako pasrah.


“ Emang Kalian lagi nyari siapa sih...?” tanya Faiq pura-pura tak tahu.


Hanako, Iyaz dan Izar pun tersenyum senang saat mendengar pertanyaan Faiq. Mereka berebut menceritakan


pertemuan mereka dengan hantu wanita bergaun pink itu kepada Faiq.


“ Stop. Satu-satu dong...,” protes Faiq sambil mengembangkan kedua telapak tangannya ke hadapan Hanako, Iyaz dan Izar.


Mereka tersenyum malu. Kemudian Hanako mewakili kedua sepupunya untuk bercerita.


“ Dia minta tolong sama Kita buat bantu nyari Anaknya yang namanya Lilian itu Yah...,” kata Iyaz yang diangguki


Izar dan Hanako.


“ Terus...?” tanya Faiq.


“ Waktu Aku suruh nyari sendiri dia ga mau, eh ga taunya malah minta tolong sama Kita, iya kan Zar...?” tanya


Hanako.


“ Iya, pantesan dia minta tolong sama Kita. Kan sekolahannya udah ga ada. Itu artinya bakal susah dong nyarinya...,” sahut Izar sambil menepuk dahinya.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat tingkah lucu Izar.


“ Insya Allah Kita tanya sama Om Hendro nanti ya. Kan dia alumni SD Dewantara...,” kata Faiq mencoba menenangkan Hanako, Iyaz dan Izar.


“ Yeeyy..., makasih Yah, makasih Pa...,” sahut Iyaz, Izar dan Hanako bersamaan sambil bersorak gembira.


“ Sama-sama...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


\=====


Sesuai janjinya, Faiq pun menghubungi Hendro untuk menanyakan tentang anak kecil bernama Lilian itu. Dan


mereka membahasnya saat jam istirahat.


“ Lilian ya, kayanya Gue pernah denger deh...,” kata Hendro sambil mengetuk meja dengan telunjuknya seolah


sedang mengingat sosok gadis kecil bernama Lilian.

__ADS_1


“ Pasti pernah lah Hen. Kalo ga salah Anak itu pernah heboh di masanya kok...,” sahut Faiq.


“ Heboh di masanya. Seinget Gue angkatan Gue sih ga ada yang namanya Lilian, tapi kalo Kakak kelas Gue ada


Iq...,” kata Hendro.


“ Nah, mungkin Lilian yang itu...,” sahut Faiq antusias.


“ Mmm, kalo Lilian yang itu Gue kok ragu ya Iq...,” kata Hendro sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“ Kenapa emangnya...?” tanya Faiq penasaran.


“ Dia itu terkenal bukan karena prestasi atau karena fisiknya Iq, tapi karena Ibunya yang g*la...,” sahut Hendro.


Faiq tersentak kaget. Ia mencoba mengaitkan cerita yang beredar dengan apa yang dilihat Hanako, Iyaz dan Izar.


Ditambah informasi dari Hendro membuat Faiq mulai mengerti. Kemudian Faiq menyentuh pundak Hendro untuk menelusuri ingatan Hendro tentang sosok Lilian kecil yang dikenalnya dulu.


Faiq melihat sosok gadis kecil sedang berdiri di depan gerbang SD Dewantara. Wajahnya cantik, kulitnya bersih,


namun seragam yang dikenakan sedikit lusuh dan kusut ditambah rambutnya yang sedikit berantakan seperti belum disisir. Gadis kecil itu menoleh saat namanya dipanggil.


“ Lilian...!” panggil seorang wanita yang merupakan ibu kandung Lilian yang bernama Nihana.


“ Mama...!” sahut Lilian sambil menghambur memeluk sang mama.


Lilian dan Nihana nampak berpelukan erat seolah lama tak bertemu. Meski pun saat itu jam pulang sekolah


namun Lilian bertahan di sana karena ingin bertemu dengan mamanya.


Rupanya Lilian dan sang mama tidak lagi tinggal serumah karena kedua orangtua Lilian sedang dalam proses


perceraian. Lilian tinggal dengan papanya yang bernama Marco hingga kedua orangtuanya dinyatakan bercerai oleh pengadilan. Dan selama itu lah Lilian harus kehilangan kasih sayang sang mama.


“ Lili kangen sama Mama. Lili mau ikut Mama aja...,” rengek Lilian.


“ Mama juga kangen sama Lili, tapi Lili ga mungkin ikut sama Mama. Nanti Papa tambah marah dan Kita ga bisa ketemu lagi...,” sahut Nihana sedih.


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang memanggil Lilian. Suaranya yang menggelegar tidak hanya mengejutkan Lilian dan Nihana, tapi juga semua murid yang saat itu berada di area sekolah.


“ Lilian, sini Kamu...!” panggil Marco dengan wajah merah padam menahan marah.


mendekat dan menarik Lilian dari pelukan Nihana dengan kasar hingga membuat Lilian menangis.


“ Jangan kasar Marco, dia masih kecil...!” bentak Nihana marah.


“ Bukan urusanmu. Dia Anakku, jadi terserah Aku bagaimana mengurusnya...,” sahut Marco ketus sambil memasukkan tubuh Lilian ke dalam mobil dengan paksa.


Nihana menggeram marah melihat Lilian menangis. Apalagi melihat cara Marco ‘menenangkan’ Lilian dengan cara


tak manusiawi. Nihana pun maju dan menarik lengan Marco hingga keduanya terlibat pertengkaran hebat yang menyebabkan keributan dan memaksa Kepala Sekolah keluar untuk melerai mereka.


“ Selesaikan urusan Bapak Ibu di luar, jangan di sini. Apa Kalian ga malu ditonton sama Anak-anak. Coba liat ke


sekeliling Kalian...!” kata Kepala Sekolah lantang.


Marco dan Nihana terdiam lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka dan melihat murid-murid SD Dewantara sedang menatap bingung kearah mereka. Marco berdehem untuk menetralisir kemarahannya lalu minta maaf pada Kepala Sekolah.


“ Maafkan Saya Bu, Saya permisi dulu...,” kata Marco.


“ Baik, tapi Saya mau kejadian seperti ini tak terulang lagi ya Pak Marco...,” sahut kepala sekolah dengan


tegas dan diangguki Marco.


Sebelum masuk ke dalam mobil Marco kembali mengancam Nihana.


“ Jangan temui Lilian lagi, atau Kamu tau akibatnya...,” kata Marco sambil menatap tajam kearah Nihana.


Nihana terdiam dan hanya mampu menangis. Hatinya sedih saat dipisahkan dari putri semata wayangnya itu. Nihana menatap kepergian Lilian dengan perasaan hancur.


Sejak kejadian itu Nihana tak pernah terlihat lagi di SD Dewantara. Lilian masih menunggu sang mama di tempat


yang sama tiap pulang sekolah. Dan jika lelah menunggu, maka Lilian pun akan pulang dengan berjalan kaki menuju ke rumah papanya.


Tanpa Lilian ketahui, Nihana setia datang untuk melihatnya dari kejauhan. Dari tempat persembunyiannya Nihana


menangis menatap putri kecilnya itu. Dan Nihana selalu menemani Lilian dari kejauhan saat Lilian melangkah pulang hingga masuk ke rumah Marco. Nihana melakukannya dalam keheningan, tanpa suara dan tak pernah ketahuan. Selalu seperti itu hingga perceraiannya disahkan oleh pengadilan.


Faiq menghela nafas panjang saat menarik tangannya dari pundak Hendro.


“ Gimana Iq, apa Lilian itu yang dicari Anak-anak...?” tanya Hendro.

__ADS_1


“ Keliatannya sih gitu Hen. Aura yang dibawa Anak-anak saat cerita tentang hantu perempuan itu sama persis sama


aura Mamanya Lilian...,” sahut Faiq.


“ Terus...?” tanya Hendro penasaran.


“ Seperti biasa, Gue sama Om Fatur bakal ngawal mereka lagi. Dan Lo harus ikut Hen, karena Lo yang kenal sama


Lilian...,” sahut Faiq.


“ Insya Allah Gue siap...,” kata Hendro mantap hingga membuat Faiq tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.


\=====


Malam itu Faiq, Fatur, Heru dan Hendro sedang mengawal Hanako, Iyaz dan Izar. Mereka sengaja mendatangi lokasi dimana hantu bergaun pink itu sering menampakkan diri. Heru dan Hendro memilih menunggu di mobil karena tak mau melihat langsung penampakan hantu yang dimaksud.


“ Kita ketemu di sini Pa...,” kata Hanako sambil menunjuk lokasi pertemuannya dengan hantu Nihana.


“ Ok, Kita tunggu di sini aja ya...,” sahut Faiq yang diangguki Hanako.


Di sudut lainnya Fatur juga mengajak Iyaz dan Izar menyusuri jalan trotoar itu secara perlahan sambil mengamati bangunan toko yang terlihat rusak.


“ Itu dia Opa...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan sambil menunjuk ke ujung jalan yang akan mereka lalui.


“ Iya, Opa juga udah liat...,” sahut Fatur sambil tersenyum.


Di ujung jalan terlihat sosok perempuan bergaun pink sedang mondar-mandir sambil melayang. Izar melambaikan


tangannya kearah hantu perempuan itu hingga membuat Fatur menggelengkan kepalanya.


“ Tante, sini...!” panggil Izar dengan mimik lucu.


“ Kalian di sini, ini siapa...?” tanya hantu Nihana sambil melirik kearah Fatur.


“ Ini Opa Aku, nah yang di sana Ayah Aku...,” sahut Izar.


“ Kalian ini apa sebenarnya, team pemburu hantu...?” tanya hantu Nihana tak mengerti.


“ Bukan Tante. Opa dan Ayah Aku bakal bantuin Tante nyari Lilian, boleh kan...?” tanya Izar.


“ Tentu. Tante percaya mereka orang yang hebat dan pasti bisa bantuin nemuin Lilian...,” sahut hantu Nihana


sambil tersenyum.


“ Tapi Aku, Iyaz sama Cici juga hebat lho Tante. Buktinya Kami bisa ngajakin Opa sama ayah ikut ke sini...,” kata Izar merajuk.


“ Iya, iya. Izar juga hebat...,” sahut hantu Nihana sambil tersenyum.


Hanako dan Faiq pun mendekat kearah hantu Nihana. Kemudian mereka terlibat pembicaraan serius. Sedangkan


bagi Heru dan Hendro mereka terlihat sedang bicara dengan sesuatu yang tak terlihat.


“ Aku kehilangan Lilian sejak saat itu...,” kata hantu Nihana lirih.


Faiq menatap hantu Nihana dan berusaha menelusuri masa lalunya. Faiq melihat jika sebelum kematiannya Nihana


terlunta-lunta di jalan. Tak punya tempat tinggal, tanpa makanan dan minuman yang layak. Namun Nihana masih melakukan sesuatu yaitu menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan itu lah yang menyebabkan gaunnya terlihat kotor karena Nihana tak pernah mengganti pakaiannya sejak diusir dari rumah suaminya.


Tiba-tiba rahang Faiq terlihat mengeras dan kedua tangannya terkepal saat melihat apa yang terjadi pada Nihana


di akhir hayatnya. Fatur yang tahu hal itu pun mengingatkan Faiq agar bisa mengendalikan diri karena ada Hanako, Iyaz dan Izar bersama mereka saat itu.


Faiq menganggukkan kepalanya dan berhasil mengendalikan diri. sedangkan Hanako, Iyaz dan izar masih bertanya


banyak hal pada hantu Nihana.


“ Gini deh rasanya ngeliat orang ngobrol sama hantu. Ngeri-ngeri sedap...,” kata Heru sambil tersenyum dan


mengacungkan jempolnya.


“ Iya Her. Padahal Gue sering ngeliat si Faiq ngobrol sama hantu. Tapi selalu aja ga bisa bergerak dan ga tau mau ngapain. Takut tapi penasaran gitu deh. Tapi kalo dikasih liat juga Gue ga mau...,” sahut Hendro sambil tertawa.


“ Sama Bang, Gue juga ogah lah...,” kata Heru sambil tertawa.


“ Sssttt, jangan berisik. Lo lupa ya kalo hantu itu ga suka kalo ada orang yang berisik di sini...,” kata Hendro


mengingatkan.


Mendengar ucapan Hendro membuat Heru langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Sedangkan Hendro nampak tersenyum diam-diam melihat tingkah Heru dan kembali memejamkan matanya. Keduanya kembali berdzikir sambil tetap siaga di dalam mobil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2