Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
30. Yang Tersisa


__ADS_3

Ocit terbangun di sebuah ruangan yang ia kenali sebagai ruang rawat inap di salah satu Rumah Sakit  di Jakarta.


Kemudian Ocit berusaha duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Ia berhasil menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur sambil mengedarkan pandangannya. Ada dua pasien lain yang bersamanya saat itu. Rupanya Ocit diletakkan di ruang rawat inap kelas tiga atas rekomendasi polisi yang mengantarnya ke Rumah Sakit.


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka. Seorang dokter didampingi dua orang perawat memasuki ruangan itu dan menghampiri Ocit.


“ Selamat siang Pak Ocit...,” sapa sang dokter.


“ Siang juga dok. Kenapa Saya ada di sini dok...?” tanya Ocit tak mengerti.


“ Bapak dibawa ke sini oleh polisi yang kebetulan patroli dan nemuin Pak Ocit pingsan di jalan. Selain itu Polisi juga nemuin dua jenasah yang keliatannya jadi korban tabrak lari ga jauh dari posisi Pak Ocit pingsan...,” sahut sang dokter.


Ocit terdiam karena tahu siapa korban tabrak lari yang dimaksud sang dokter. Tak lama kemudian dua orang polisi mendatangi Ocit untuk menanyakan identitas korban tabrak lari yang tergeletak tak jauh dari tubuhnya itu. Ocit pura-pura tak tahu karena tak ingin terlibat terlalu jauh. Karena tak mendapat info apa pun, kedua polisi itu pun


kembali ke kantor polisi.


\=====


Lokasi tempat kecelakaan yang merenggut nyawa Abun dan Eman pun dipasangi police line. Banyak warga yang berkerumun karena penasaran dengan identitas kedua korban. Mereka datang untuk memastikan jika korban tabrak lari itu bukanlah anggota keluarga mereka yang hilang.


Saat warga berkerumun itu lah tercium bau busuk yang menguar di sekitar lokasi kecelakaan. Semula polisi dan warga menduga jika itu adalah bau amis darah sisa kecelakaan yang menewaskan Abun dan Eman. Tapi saat salah seorang warga menjerit karena menemukan satu jenasah lagi di dalam salah satu toko yang tak terpakai, situasi


pun kembali ramai.


Warga yang bernama Rama itu bermaksud buang air kecil di sudut toko yang tak terpakai. Namun saat ia menoleh, ia melihat sesosok jasad yang telah membusuk nampak tergeletak di lantai toko. Saking tekejutnya Rama pun menjerit hingga memancing perhatian warga yang tengah berkerumun di pinggir jalan.


Warga dan polisi menghambur ke asal suara dan melihat mayat yang nampak mengenaskan karena bagian area vitalnya nampak hancur dan dipenuhi belatung. Kembali polisi memasang police line untuk mengamankan TKP.


\=====


Sejak kematian Ipunk, Eman dan Abun karena diterror oleh arwah Nihana, Ocit menjadi ketakutan. Ia mengalami rasa cemas yang berlebihan. Tak tahan karena terus menerus diterror oleh arwah Nihana, membuat Ocit mencari cara untuk menghentikan terror arwah Nihana.


Ocit memutuskan mencari tempat tinggal Marco, mantan bos sekaligus mantan suami Nihana. Ocit berharap jika Marco bisa membantu meredam kemarahan arwah Nihana karena Nihana sangat takut dan menghormati Marco.


Saat tiba di depan rumah kontrakan Marco, Ocit nampak mematung lama. Ia tak percaya jika Marco bisa terpuruk dan jatuh miskin setelah dikhianati oleh Evelyn. Dengan ragu Ocit mengetuk pintu rumah Marco. Sesaat kemudian terdengar suara handle pintu diputar dari dalam.


“ Iya sebentar, siapa ya...?” tanya suara lembut seorang wanita.


Sejenak tatapan Ocit terpaku pada sosok wanita di hadapannya yang tak lain adalah Lilian. Meski pun Lilian jauh berubah, namun ikal rambutnya dan lesung pipinya masih dikenali Ocit.


“ Non Lili...,” panggil Ocit dengan suara tercekat.


“ Iya betul. Maaf, Bapak ini siapa ya...?” tanya Lilian.


“ Saya Ocit Non. Anak buah Papanya Non Lili dulu...,” sahut Ocit antusias.


“ Oh, Mang Ocit. Iya Saya ingat...,” sahut Lilian dengan kaku.


“ Apa kabar Non...?” tanya Ocit.


“ Baik. Maaf, ada perlu apa Mang Ocit ke sini...?” tanya Lilian setengah takut.


“ Saya dengar Pak Marco tinggal di sini. Makanya Saya datang untuk bertemu dengan Beliau. Apa boleh Saya ketemu Beliau...?” tanya Ocit ragu.

__ADS_1


“ Mmm, boleh. Tapi Mang Ocit tunggu di sini dulu ya. Kondisi Papa udah ga kaya dulu lagi Mang. Sejak Papa kehilangan hartanya Papa jadi sering ngamuk dan emosinya ga terkendali. Saya aja jarang bisa ngobrol santai sama Papa karena Papa selalu nolak didekati...,” kata Lilian.


“ Iya Saya maklum Non. Gapapa, Non bisa coba tanya dulu. Kalo ga bisa ketemu hari ini, Saya masih bisa balik lagi ke sini lain hari kok...,” sahut Ocit sambil tesenyum.


“ Ok kalo gitu...,” kata Lilian sambil mempersilakan Ocit duduk menunggu di teras rumah.


Lilian masuk ke dalam rumah menemui Marco dan mengabarkan padanya perihal kedatangan Ocit. Di luar dugaan, Marco langsung merespon cepat seolah memang menunggu kehadiran Ocit yang merupakan salah satu anak buah terbaik yang pernah ia miliki.


Marco dan Ocit pun bertemu dan saling menatap dengan tatapan yang hanya dipahami oleh keduanya.


“ Saya ga nyangka kalo Bos sekarang pake kursi roda...,” kata Ocit membuka percakapan.


“ Aku lumpuh sejak si ja**ang itu mebawa kabur hartaku Cit. Beruntung ada Lilian yang mau merawatku. Jika tidak, mungkin Aku hanya tinggal nama...,” sahut Marco sinis.


“ Ya, Anda memang beruntung punya Anak perempuan yang mengasihi Anda Bos. Padahal Saya dengar Non


Lili sempat kabur dulu. Tapi ngeliat dia nemenin Bos kaya gini Saya jadi salut...,” kata Ocit.


Marco nampak menggedikkan bahunya lalu mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan Lilian dan membuatnya kembali menangis. Saat itu Lilian memang sengaja sembunyi di balik tirai untuk mendengarkan pembicaraan Marco dan Ocit.


“ Ga usah berlebihan. Wajar jika dia merawatku karena Aku udah ngeluarin banyak uang untuk dia dan Ibunya. Dimana temanmu yang lain...?” tanya Marco.


“ Mereka meninggal Bos...,” sahut Ocit cepat.


“ Meninggal, kapan...?” tanya Marco kaget.


“ Seminggu yang lalu Bos. Mereka meninggal secara bersamaan. Di tempat yang sama dan hanya beda beberapa menit aja...,” sahut Ocit getir.


“ Ipunk, Eman dan Abun meninggal gara-gara diterror sama hantu Nihana Bos. Makanya Saya datang ke sini mau minta tolong sama Bos supaya bisa menghentikan Nihana. Saya ga mau mati konyol Bos. Saya masih punya tanggungan, Anak Saya masih kecil dan mereka perlu kasih sayang Ayahnya...,” kata Ocit.


“ Kenapa Kamu datang ke sini...?” tanya Marco.


“ Kan semasa hidupnya Nihana itu takut banget sama Bos. Apa pun perintah Bos pasti dilaksanain. Saya pikir dia pasti bakal nurutin semua perintah dari Bos Marco seperti saat dia hidup dulu...,” sahut Ocit gusar.


“ Kamu salah alamat Cit. Kalo dulu Aku emang bisa menakuti dia dengan suaraku. Tapi sekarang Aku ga yakin bisa mengendalikan dia. Apalagi dia meninggal dengan cara ga wajar, pasti aura balas dendamnya lebih kuat daripada saat dia hidup dulu...,” kata Marco sambil menatap kejauhan.


Ocit pun kecewa karena tak berhasil menghasut Marco. Dalam hati Ocit berharap hantu Nihana masih memberinya kesempatan bertobat. Sementara itu Lilian segera menghubungi Hendro dan meminta bantuan Hendro agar mempertemukannya dengan Faiq lagi.


“ Aku mau Mama ga perlu balas dendam lagi Mas. Biar Tuhan aja yang bekerja menyelesaikan semuanya dan memberi hukuman pada orang-orang itu...,” kata Lilian.


“ Kamu terlambat Lilian. Sekarang arwah Mamamu sedang menunaikan sumpah yang ia ucapkan saat ia disakiti dulu...,” sahut Faiq.


“ Apa ga ada cara lain buat menghentikan Mama Mas Faiq...?” tanya Lilian cemas.


“ Maaf Li, ga ada cara lain. Tapi Kamu tenang aja. Setelah sumpahnya terwujud dan balas dendamnya terlaksana, dia akan pergi...,” sahut Faiq.


Lilian nampak termangu sejenak sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“ Siapa target selanjutnya Mas Faiq...?” tanya Lilian penasaran.


“ Yang tersisa...,” sahut Faiq sambil menatap Lilian lekat.


“ Yang tersisa..., itu artinya Mang Ocit dan..., Papa...?!” tanya Lilian histeris yang diangguki Faiq.

__ADS_1


Lilian bergegas pulang untuk menemui sang papa diikuti Faiq dan Hendro yang menawarkan tumpangan untuk


mengantar Lilian.


Sementara itu di rumah kontrakan Marco terlihat Ocit yang kembali bertamu. Ocit merasa lebih aman saat bersama Marco. Ia mengira jika hantu Nihana tak mungkin menjangkaunya jika ia berdekatan dengan Marco. Tapi dugaan Ocit salah besar. Hantu Nihana terus mengejarnya hingga ke hadapan Marco.


Saat itu cuaca sedang tak bersahabat. Awan mendung nampak memayungi langit seolah siap mencurahkan hujan


kapan pun. Angin pun bertiup kencang hingga menerbangkan dedaunan ke teras rumah Marco.


“ Angin kencang dan hampir hujan, sebaiknya Kita di dalam aja Bos...,” saran Ocit yang diangguki Marco.


Ocit pun mendorong kursi roda Marco hingga ke dalam rumah. Saat ocit hendak menutup pintu, ia merasa kesulitan seolah ada sesuatu yang mengganjal pintu. Saat Ocit menoleh, ia melihat sebuah tangan hitam tanpa tubuh sedang menahan daun pintu. Ocit pun membeku.


Marco yang juga tengah menghadap ke pintu pun melihat jika hantu Nihana berdiri di ambang pintu sambil menatap marah kearahnya.


“ Akhirnya Kamu datang juga Nihana. Kenapa baru sekarang, kenapa ga dari dulu sejak Aku kehilangan semuanya...,” kata Marco sinis.


“ Karena Aku mencari Anakku. Anak yang tak pernah Kau sayangi dan yang telah Kau renggut dariku. Setelah Aku menemukannya dan memastikan dia baik-baik saja, baru Aku mewujudkan sumpahku...,” sahut hantu Nihana datar.


Mendengar jawaban hantu Nihana membuat Marco tertawa sedangkan Ocit nampak gemetar ketakutan.


“ Jadi, tunggu apa lagi Nihana. Ayo, sudahi semuanya. Ambil nyawaku saat ini juga. Aku siap untuk mati...,” kata Marco.


“ Kematian terlalu ringan untukmu Marco. Aku ingin Kau menyaksikan penderitaan Anak buah kebanggaanmu ini


di depan matamu...,” sahut hantu Nihana.


Ocit yang mendengar ucapan hantu Nihana pun berusaha lari, namun terlambat. Tubuh Ocit perlahan terangkat tinggi hingga menyentuh langit-langit rumah lalu dihempaskan dengan kasar ke dinding. Saking kerasnya benturan itu membuat tulang rusuk Ocit patah. Ocit pun terkapar dengan darah segar mengalir dari sela bibirnya. Tak cukup sampai di sana, hantu Nihana mendekat kearah Ocit lalu memutar kepala Ocit ke belakang hingga terdengar suara berderak menandakan jika leher Ocit patah. Ocit pun tewas tanpa sempat mengeluarkan suara.


Marco memandang ngeri kearah jasad Ocit. Bulu kuduknya meremang menyaksikan pembalasan dendam hantu


Nihana. Tanpa sadar Marco menggerakkan kursi roda yang ia duduki dan berusaha keluar dari rumah itu. Namun niatnya dihalangi oleh hantu Nihana yang berdiri tegak di ambang pintu sambil menatap marah kearahnya. Melihat sosok hantu Nihana membuat rasa takut menyelinap di hati Marco. Ia mulai panik dan gemetar ketakutan.


Tiba-tiba tangan hantu Nihana terulur kearah jantung Marco yang tengah berdetak cepat. Sambil menatap tajam kearah Marco hantu Nihana membenamkan tangannya dan merenggut jantung Marco keluar dari tempatnya. Marco membulatkan matanya saat melihat jantungnya ada dalam genggaman hantu Nihana. Merasa tak cukup, hantu Nihana juga merobek perut Marco dan membetot usus Marco hingga terburai keluar. Marco pun mati dengan mata terbelalak sambil menatap jantung dan ususnya yang diremas kuat oleh hantu Nihana.


Keheningan melingkupi ruangan itu hingga suara langkah kaki terdengar memasuki rumah.


“ Mama hentikan...!” jerit Lilian saat tiba di depan pintu.


Hantu Nihana menoleh lalu tersenyum kearah Lilian sambil menggenggam jantung dan usus Marco. Lilian pun


merosot jatuh saat menyaksikan Marco tewas mengenaskan di tangan sang mama. Faiq dan Hendro yang berlari mengejar Lilian pun tak bisa berbuat apa-apa menyaksikan sisa pembantaian di rumah Marco.


“ Semua sudah berakhir Nihana. Pergi lah, kembali lah pada Tuhanmu...,” kata Faiq lirih.


“ Pergi lah Mama, Lili ngerti kenapa Mama lakuin ini. Pergi lah Mama, Lili sayang sama Mama. Selamanya...,” kata Lilian sambil tersenyum dengan air mata berderai.


Hantu Nihana mengangguk. Ia menghampiri Lilian, mengecup kepalanya dengan sayang lalu menghilang ditelan


angin dan hujan yang tercurah dari langit dengan derasnya. Lilian terpaku menatap jasad Marco, papa yang tak pernah menyayanginya dengan tulus selama hidupnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2