Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
278. Melanggar Sumpah


__ADS_3

Ternyata pernikahan Lizara dan Erdi tidak serta merta membuat Malini bahagia. Pieter tetap menolak bertanggung jawab. Ia bahkan menyiksa lahir dan bathin Malini. Pieter selalu mengucapkan kalimat yang kasar dan selalu berupaya membuat Malini jatuh. Pieter berharap Malini keguguran hingga ia bisa bebas dari tanggung jawab menikahi Malini.


Namun nek Uli selalu membela Malini dan berusaha melindungi Malini. Kedua orangtua Pieter pun tak sanggup memaksa Pieter menikahi Malini karena Pieter selalu mengamuk jika diingatkan untuk bertanggung jawab pada gadis itu.


Perut Malini pun makin besar dan tak mungkin disembunyikan lagi. Hingga saat melahirkan pun tiba  Malini dilarikan ke klinik terdekat dan melahirkan di sana. Sayangnya bayi Malini tak bisa selamat. Karena seringnya mengalami penyiksaan dari Pieter, bayi Malini meninggal dunia sesaat setelah  dilahirkan.


Malini menjerit menyaksikan kematian bayinya, sedangkan Pieter nampak tertawa puas. Kedua orangtua Pieter dan nek Uli nampak sedih dan tak tahu harus berbuat apa.


Setelah pulih, Malini memilih resign dari pekerjaannya sebagai perawat nek Uli lalu pulang ke rumah orangtuanya. Di sana Malini mencoba melupakan semuanya tapi gagal. Mimpi buruk selalu menghantui Malini. Ia ingat saat Pieter merayunya kemudian mencampakkannya. Bahkan ia ingat saat Pieter berusaha melenyapkan bayinya.


Hingga suatu saat Malini mendengar jika Pieter akan menikah dengan wanita lain. Malini marah dan sakit hati. Bagaimana bisa Pieter menikahi wanita lain setelah merenggut mahkotanya dan membuat anaknya mati. Di saat yang sama keluarga Malini juga tengah kedatangan tamu yang berniat melamar Malini. Kedua orangtua Malini menerima lamaran itu tanpa persetujuan Malini. Ia menolak karena ia memang tak ingin menikah dengan laki-laki lain selain Pieter.


Kemudian Malini mendatangi tempat pesta pernikahan Pieter. Namun sayang Malini mengalami kecelakaan dan meninggal dunia sebelum tiba di tempat yang dimaksud. Hanya arwah Malini yang tiba di tempat itu dan menyaksikan pernikahan Pieter. Hingga saat ini arwah Malini tertahan di tempat digelarnya pesta pernikahan Pieter yaitu restoran tempat Erik dan Farah datang untuk bernostalgia.


Faiq menghela nafas panjang saat mengakhiri penglihatannya. Ia menatap iba kearah hantu Malini.


“ Kenapa Kamu tak melupakan Pieter dan menikah dengan laki-laki lain. Toh orangtuamu sudah menerima pinangan keluarga laki-laki itu...?” tanya Faiq hati-hati.


“ Aku ga bisa melanggar sumpahku. Dulu Aku dan Pieter pernah bersumpah di hadapan Tuhan untuk  menikah...,” sahut Malini.


“ Tapi Pieter mengkhianati sumpahnya dua kali. Yang pertama saat hendak menikahi Lizara dan yang kedua saat dia menikahi wanita itu di restoran yang Kamu datangi...,” kata Faiq gusar.


“ Itu urusannya dengan Tuhan. Yang pasti Aku masih memegang sumpahku. Aku hanya akan menikah dengan Pieter, hanya dengan Pieter...,” kata hantu Malini mantap.


“ Sekarang apa yang bisa Aku bantu...?” tanya Faiq.


“ Tolong bantu Aku menemui Pieter...,” pinta hantu Malini.


“ Agak sulit. Aku ga tau Pieter dimana sekarang...,” kata Faiq.


“ Pieter tinggal di daerah Jakarta Barat Iq. Pieter membuka restoran di sana...,” kata Dayang tiba-tiba hingga membuat hantu Malini tersenyum karena mendapat petunjuk.


“ Oh ya. Kalo gitu Kita bisa temui dia di sana...,” sahut Faiq yang diangguki Dayang dan hantu Malini.


\=====


Faiq mengajak Iyaz dan Izar untuk menemui Pieter di restoran miliknya. Saat tiba di sana restoran terlihat cukup ramai. Seorang pelayan menghampiri Faiq dan kedua anaknya lalu menyodorkan buku menu.


Iyaz dan Izar membaca menu yang ditawarkan sambil sedikit berdiskusi untuk mengulur waktu. Sedangkan Faiq pun menanyakan beberapa hal pada pelayan restoran itu.

__ADS_1


“ Apa Pak Pieter ada...?” tanya Faiq.


“ Ada Pak, tapi sekarang sedang ada tamu...,” sahut sang pelayan dengan santun.


“ Saya udah lama ga ketemu sama Nek Uli. Gimana kabar beliau sekarang...?” tanya Faiq lagi hingga membuat pelayan itu yakin jika Faiq adalah teman lama Pieter.


“ Nek Uli udah meninggal dua tahun yang lalu Pak...,” sahut sang pelayan.


“ Sayang sekali...,” kata Faiq dengan mimik wajah sedih,


“ Nah itu Istrinya Pak Pieter, apa Bapak mau ngobrol sama beliau...?” tanya sang pelayan.


“ Mmm..., ga usah. Saya belum kenal sama Istrinya Pak Pieter, nanti malah canggung. Biar Saya tunggu Pak


Pieter aja sekalian kenalan sama Istrinya nanti...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Kalo gitu Saya permisi dulu ya Pak...,” kata sang pelayan setelah mencatat pesanan Iyaz dan Izar.


Faiq pun mengangguk lalu menoleh kearah Iyaz dan Izar. Ia melihat kedua anaknya sedang berinteraksi dengan Dayang dan hantu Malini.


“ Ada apa...?” tanya Faiq.


“ Oh ya, kenapa memangnya...?” tanya Faiq.


“ Karena Pieter ga bisa menjalankan tugasnya sebagai Suami di atas tempat tidur...,” sahut hantu Malini sambil tersenyum kecut.


“ Kenapa begitu, apa dia ga berobat...?” tanya Faiq tak mengerti.


“ Itu karena Pieter kemakan sumpahnya sendiri...,” sahut hantu Malini sambil melayang menuju ke dapur.


“ Kemakan sumpah sendiri gimana maksudnya sih Yah...?” tanya Izar.


Faiq baru saja membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Izar, namun Dayang memotong dengan cepat.


“ Dulu Pieter bersumpah bahwa dia hanya akan menggauli Malini selama hidupnya. Dia janji ga akan ada perempuan lain di hidupnya. Pieter bersumpah hanya akan meraih surga duniawi bersama Malini. Itu dikatakan Pieter sesaat sebelum merenggut mahkota Malini. Nah karena sumpahnya itu Pieter ga bisa bercinta dengan perempuan lain sampai kapan pun. Dia hanya bisa melakukan itu bersama Malini...,” kata Dayang menjelaskan.


Faiq, Iyaz dan Izar saling menatap sejenak kemudian menggelengkan kepala mendengar penjelasan Dayang.


“ Sumpah yang diucapkan dengan menyebut nama Tuhan telah membawa penderitaan bukan hanya untuk Malini tapi juga untuk Pieter...,” kata Izar.

__ADS_1


“ Ga ada jalan lain selain mempertemukan mereka. Mudah-mudahan setelah ini ada jalan keluar yang terbaik. Supaya Pieter bisa melanjutkan hidupnya, dan Malini bisa pergi dengan tenang...,” kata Iyaz.


Tak lama kemudian hantu Malini kembali bergabung dengan mereka. Wajah hantu Malini terlihat sangat sedih.


“ Kenapa lagi...?” tanya Faiq sambil menikmati makanan yang tersaji di hadapannnya.


“ Aku ngeliat Pieter dan Istrinya baru aja bertengkar. Istrinya minta cerai tapi Pieter ga mau menceraikan Istrinya. Alasannya dia malu menyandang status duda. Yang anehnya lagi, Pieter ngasih ijin Istrinya buat selingkuh demi memuaskan hasratnya yang tak tersalurkan bersama Pieter...,” sahut hantu Malini.


“ Terus kenapa Kamu yang sedih...?” tanya Izar.


“ Aku sedih karena Pieter memilih mempertahankan Istrinya walau ia ga bahagia. Aku ingat bagaimana dulu Aku memohon agar dia mau bersamaku tapi dia malah mengkhianatiku...,” sahut hantu Malini lirih hingga membuat semua yang mendengarnya prihatin.


Sementara itu Pieter sedang berada di ruang kerjanya. Ia nampak duduk sambil memejamkan mata. Pieter sedang


mengingat  pertengkarannya dengan Thalia, istri yang dinikahinya delapan tahun lalu.


Seperti biasanya Thalia datang untuk meminta cerai. AlasanThalia selalu sama yaitu jenuh menunggu Pieter ‘sembuh’ sedangkan dirinya adalah wanita normal yang juga ingin disentuh oleh suaminya. Namun ajwaban Pieter juga selalu sama yaitu menolak untuk bercerai. Alasan Pieter adalah ia sangat mencintai Thalia. Pieter bahkan mengijinkan Thalia untuk mencari kepuasan di luar sana asal tak meninggalkannya.


“ Kenapa Aku tak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal saat bersama Thalia. Padahal seingatku dulu Aku sangat mahir di ranjang. Aku juga bisa membuat Malini hamil. Tapi kenapa saat berhadapan dengan Thalia Aku seolah lumpuh...,” gumam Pieter sambil mengacak rambutnya.


Tanpa sadar Pieter berjalan keluar dari ruangannya menuju tempat parkir sambil terus memikirkan keluhan Thalia. Pieter juga ingat bagaimana dulu ia menikmati percintaan terlarang bersama Malini. Terlarang karena dilakukan sebelum mereka menikah. Pieter mencoba membandingkan Malini dengan Thalia.


“ Thalia itu lebih cantik dari Malini, dia juga lebih se*i. Tapi kenapa kemampuanku jadi nol di hadapannya. Jangan-jangan Aku kena guna-guna...,” batin Pieter.


“ Itu karena Anda telah melanggar sumpah yang pernah Anda ucapkan...,” kata Faiq tiba-tiba hingga mengejutkan Pieter.


Untuk sesaat Pieter menatap lekat kearah Faiq yang bersandar di pintu mobil sambil bersedekap. Kemudian Pieter menoleh ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan dirinya jika Faiq bicara dengannya.


“ Apa Anda bicara denganku...?” tanya Pieter.


“ Iya...,” sahut Faiq,


“ Sumpah apa yang Anda maksud...?” tanya Pieter lagi.


“ Sumpah yang pernah Anda ucapkan saat Anda merenggut mahkota Malini...,” sahut Faiq sambil menatap Pieter lekat.


Pieter tersentak dan mematung di tempat. Ia pun mengerti mengapa ia tak pernah bisa menjadi laki-laki normal saat bersama Thalia.


\=====

__ADS_1


__ADS_2