
Setelah membersihkan halaman musholla, ustadz Hamzah bermaksud membersihkan bagian dalam musholla. Namun karena tak memiliki peralatan yang cukup membuat ustadz Hamzah berniat meminjam peralatan kepada warga di sekitar musholla. Sedangkan Iyaz dan Izar pergi membeli sabun cuci dan cairan pembersih lantai di salah satu toko sembako milik warga.
Saat memasuki toko terlihat beberapa warga sedang berkerumun di depan kasir. Nampaknya mereka bukan sedang membayar barang yang mereka beli melainkan sedang bergosip. Dan yang menjadi bahan pembicaraan mereka kali ini adalah Iyaz, Izar dan ustadz Hamzah.
“ Emangnya Ibu liat sendiri mereka bersihin musholla...?” tanya pemilik toko.
“ Saya dikasihtau sama Suami Saya Pak...,” sahut wanita berkaos pink.
“ Nekad banget sih mereka. Apa ga takut kena azab ya...,” kata seorang pria.
“ Mungkin mereka merasa punya kemampuan ngusir penguasa kampung makanya bertingkah kaya gitu...,” sahut pemilik toko dengan sinis.
“ Justru karena mereka ga kenal sama penguasa kampung sini makanya bertingkah sok tau kaya gitu...,” kata seorang kakek berpakaian serba hitam yang baru saja masuk ke dalam toko.
Semua warga yang berkerumun di depan kasir pun menoleh kearah sang kakek. Mereka menepi untuk memberi jalan pada sang kakek yang sangat mereka hormati itu.
“ Jadi Kita harus gimana Kek...?” tanya seorang warga.
“ Biarkan saja dulu. Nanti setelah mereka lelah mereka bakal pergi kan...,” sahut sang kakek sambil tersenyum penuh arti.
“ Apa sang penguasa ga bakal marah Kek. Gimana kalo dia melampiaskannya sama Kita. Kejadian yang udah ada aja bikin Kita panik apalagi ditambah masalah baru...,” kata pemilik toko gusar.
“ Betul Kek. Hama ulat bulu belum kelar. Cuma gara-gara satu orang Kita sekampung ikutan resah. Terus gimana kalo ada masalah baru lagi. Saya ga yakin warga bakal sanggup menghadapinya Kek...,” kata warga lainnya.
“ Kalian tenang aja. Sang penguasa ga bakal menyeret warga kampung ini dalam masalah kali ini. Keliatannya sang penguasa punya cara khusus untuk menyingkirkan para perusuh itu...,” Sahut sang kakek sambil menyisir
jenggotnya dengan jemari tangannya.
“ Syukur lah kalo gitu. Kami senang mendengarnya Kek...,” kata warga bersamaan sambil tersenyum lega.
Iyaz dan Izar yang mendengar pembicaraan warga itu pun nampak cemas. Mereka segera membayar belanjaan mereka lalu keluar dari toko itu dengan langkah cepat. Tak ada seorang warga pun yang menyadari kehadiran mereka karena sibuk menyusun rencana untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang berani mengganggu ketentraman mereka.
Sementara itu ustadz Hamzah sedang ada di rumah salah satu warga untuk meminjam alat pertukangan. Warga yang bernama Wahyu itu nampak senang melihat kehadiran ustadz Hamzah di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
“ Assalamualaikum...,” sapa ustadz Hamzah.
“ Wa alaikumsalam. Alhamdulillah..., sejuk rasanya mendengar salam ini. Udah lama Saya ga dengar ucapan kaya gini di kampung ini...,” sahut Wahyu sambil mencium punggung tangan ustadz Hamzah dengan khidmat.
Ustadz Hamzah mengusap kepala Wahyu sambil tersenyum. Ia senang karena masih ada orang ‘lurus’ di kampung yang seperti kota mati itu.
“ Mari silakan masuk Pak Ustadz...,” kata Wahyu dengan ramah.
“ Maaf Saya ga bisa mampir sekarang karena Saya sedang membersihkan musholla bersama dua santri Saya. Saya khawatir mereka cemas karena ga melihat Saya ada di sana...,” sahut ustadz Hamzah sambil menunjuk kearah musholla yang letaknya tak jauh dari rumah Wahyu.
“ Oh, Pak Ustadz lagi bersihin musholla itu. Kalo gitu Saya mau ikutan Pak Ustadz...,” kata Wahyu antusias.
“ Boleh. Tapi Kita perlu beberapa peralatan untuk membongkar papan yang menutupi pintu dan jendela musholla...,” sahut ustadz Hamzah.
“ Saya punya alatnya Pak Ustadz. Sebentar, Saya ambil dulu ya...,” kata Wahyu lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Saat keluar Wahyu sudah membawa tas berisi peralatan yang mereka butuhkan nanti.
Kemudian ustadz Hamzah dan Wahyu pun bergegas menuju ke musholla. Di sana terlihat Iyaz dan Izar yang sedang menyiapkan air dalam ember untuk membersihkan lantai musholla. Melihat ustadz Hamzah datang bersama seorang pria membuat keduanya tersenyum.
“ Nah Wahyu, kenalin ini santri yang Saya ceritakan tadi. Namanya Iyaz dan Izar...,” kata ustadz Hamzah.
“ Wa alaikumsalam. Kalian kembar ya...,” sahut Wahyu sambil mengamati Iyaz dan Izar bergantian.
“ Iya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Masya Allah. Kalian berdua kok mirip banget sih, kaya pinang dibelah dua...,” kata Wahyu takjub.
“ Namanya juga kembar, pasti mirip dong Kak...,” sahut Izar sambil memonyongkan bibirnya hingga membuat Wahyu dan Ustadz Hamzah tertawa.
Wahyu menatap ke sekelilingnya dan tersenyum puas saat melihat halaman musholla yang bersih dan rapi. Di sudut halaman juga terlihat api yang membakar onggokan sampah hingga membuat kedua mata Wahyu berkaca-kaca karena teringat masa kecilnya. Dulu dia dan beberapa temannya sering membersihkan halaman musholla dan membakar sampah di tempat yang sama dimana Iyaz dan Izar membakar sampah.
“ Apa Kamu bisa membongkar kayu itu Wahyu...?” tanya ustadz Hamzah membuyarkan lamunan Wahyu.
“ Bisa Pak Ustadz...,” sahut Wahyu sambil mengeluarkan peralatan tukang yang dibawanya.
__ADS_1
“ Usahakan sebelum Ashar harus udah selesai ya Anak-anak. Insya Allah Kita sholat Ashar di sini...,” kata ustadz Hamzah.
“ Siap Pak Ustadz...!” sahut Wahyu dan si kembar bersamaan.
Papan kayu penutup pintu dan musholla berhasil dibuka. Lalu mereka mulai membersihkan bagian dalam musholla. Karena ukuran musholla yang tak seberapa besar membuat keempatnya bisa membersihkan musholla dengan cepat. Saat melihat kalender yang terpajang di dinding, Iyaz nampak menggelengkan kepalanya.
“ Kenapa Yaz...?” tanya Izar.
“ Coba Kamu liat. Dari tanggalan ini Kita bisa tau udah berapa lama musholla ini ga dipake...,” sahut Iyaz sambil menunjuk kearah kalender.
“ Ya Allah, udah dua tahun. Lama banget...!” kata Izar lantang.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...,” sahut ustadz Hamzah sambil menggelengkan kepala.
“ Kenapa bisa lama banget ga dipake sih Kak, emangnya orang-orang ga sholat berjamaah di sini...?” tanya Iyaz penasaran.
“ Oh itu. Orang-orang milih sholat di rumah masing-masing karena musholla ini jadi serem dan berhantu sejak peristiwa itu...,” sahut Wahyu sambil meluruskan kakinya di lantai.
“ Peristiwa itu, peristiwa apaan Kak...?” tanya Iyaz lagi.
“ Terus hantunya kaya gimana Kak, kayanya baru kali ini Aku denger ada musholla berhantu...,” kata Izar sambil mengamati seluruh penjuru musholla.
“ Jangan-jangan itu cuma gosip aja Kak. Sengaja dibikin supaya orang-orang jadi malas ke mushola...,” kata Iyaz sambil mengerucutkan bibirnya.
“ Betul Yaz, Aku juga mikir kaya gitu kok. Kalo musholla ditutup kan ga ada yang bisa masuk, terus siapa yang adzan dong...,” tanya Izar.
Mendengar ucapan Iyaz dan Izar membuat Wahyu tak sanggup menahan tawa. Hal itu membuat Iyaz dan Izar menatap bingung kearah Wahyu. Kemudian ustadz Hamzah pun menengahi.
“ Kalian nanyanya satu-satu dong, gantian. Kalo kaya gitu Kak Wahyu juga bingung mau jawab yang mana dulu...,” kata ustadz Hamzah sambil tersenyum.
“ Abisnya Kami penasaran Pak Ustadz..,” sahut Izar malu-malu.
“ Gapapa Pak Ustadz, Saya bisa jelasin kok...,” kata Wahyu setelah tawanya reda.
__ADS_1
Kemudian Wahyu mulai menceritakan peristiwa yang terjadi hingga membuat kampungnya mirip dengan kota mati.
\=====