Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
109. Drama Keluarga


__ADS_3

Setelah Irwandi diamankan polisi, Nadifa pun bergerak cepat. Ia juga bergegas mencari pengacara, bukan untuk membantu Irwandi tapi untuk membantunya menuntut suaminya atas kasus KDRT yang ia alami selama menikah dengan Irwandi.


Nadifa dibantu pengacaranya juga mulai mengurus proses perceraiannya dengan Irwandi. Semula sang pengacara sedikit keberatan karena Nadifa menggugat cerai Irwandi saat ia tengah terpuruk. Ihsan mengira jika Nadifa sengaja memanfaatkan moment penangkapan Irwandi untuk kepentingannya sendiri.


“ Apa Ibu ga kasian sama Pak Irwandi. Saat ini dia sedang terpuruk karena kasus pelecehan dan korupsi keuangan toko. Eh Ibu malah ngajuin gugatan cerai...,” kata pengacara Nadifa.


“ Saya udah ga kuat Pak Ihsan. Mungkin ini saatnya Saya mengakhiri semuanya. Pelecehan yang Mas Irwandi


lakukan adalah kasus ke sekian yang Saya tau. Selama ini Saya tetap diam dan mengalah walau Saya tau dia selingkuh berkali-kali di belakang Saya...,” sahut Nadifa dengan suara lirih.


“ Kenapa ga lakukan dari dulu Bu...?” tanya Ihsan.


“ Udah Pak, tapi selalu gagal karena dia selalu membujuk Saya dengan mengatas namakan keluarga. Dulu Saya


bertahan karena mikirin keluarga besar Kami dan Anak-anak. Gimana pun juga dia berjasa sama keluarga Saya karena sering memberikan uang yang banyak untuk orangtua Saya. Tapi kali ini ga ada kesempatan lagi. Saya ga peduli sama hartanya yang penting Saya bisa cerai sama dia. Apalagi setelah Saya liat rekaman saat dia memper**sa karyawan toko yang katanya sekarang udah meninggal itu. Saya tambah jijik dan ingin cepat bercerai...,” sahut Nadifa sambil bergidik.


“ Tentang kasus KDRT, apa baru kali ini Ibu melakukan visum...?” tanya Ihsan.


“ Kalo visum secara resmi di Rumah Sakit besar memang baru kali ini Saya lakukan. Tapi sebelumnya Saya sering ngadu sama teman Saya yang juga seorang dokter. Dia yang meriksa luka-luka di tubuh Saya. Mudah-mudahan dia masih nyimpen berkas pemeriksaan Saya dulu...,” sahut Nadifa.


“ Baik lah kalo gitu. Ibu bisa hubungi teman Ibu itu untuk minta bukti luka-luka akibat penganiayaan yang Pak Irwandi lakukan dulu. Kalo di rumah, apa Ibu punya saksi yang melihat langsung apa yang Pak Irwandi lakukan...?” tanya Ihsan.


“ Kalo di depan asisten rumah tangga atau anak-anak, Mas Irwandi ga pernah kasar Pak. Paling cuma omongannya aja yang ga enak didengar. Kadang Saya sampe malu sama mereka...,” sahut Nadifa.


“ Itu juga bisa tergolong KDRT Bu, walau dilakukan secara verbal atau melalui ucapan. Apalagi saat Ibu merasa tertekan dan ga nyaman mendengarnya...,” kata Ihsan.


 “ Gitu ya Pak. Mmm..., mungkin Kita juga bisa cek CCTV. Seinget Saya, dia pernah memukul Saya di ruang tamu saat Saya nanya kenapa dia pulang telat...,” sahut Nadifa sambil berusaha mengingat.


“ Ok, kalo Kita punya semua bukti yang Ibu katakan tadi, insya Allah Ibu bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan Ibu...,” kata Ihsan sambil tersenyum.

__ADS_1


“ Aamiin..., Saya harap juga gitu Pak. Makasih udah mau bantuin Saya...,” sahut Nadifa dengan mata berkaca-kaca.


“ Sama-sama Bu. Saya permisi dulu. Insya Allah Saya ke sini lagi besok untuk ngantar Ibu ke tempat teman Ibu itu...,” kata Ihsan sambil berdiri.


Nadifa mengangguk dan melepas kepergian Ihsan dengan perasaan bahagia. Sang asisten rumah tangga yang bernama Darsini nampak ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah tuannya.


“ Saya juga mau kalo disuruh jadi saksi KDRT yang dilakukan Bapak lho Bu...,” kata Darsini sambil merapikan meja tamu.


Nadifa menoleh karena tak menyangka jika Darsini mendengar percakapannya dengan Ihsan tadi.


“ Bibi nguping ya...?” tanya Nadifa pura-pura marah.


“ Maaf, bukannya nguping. Abis kok tamunya lama banget. Saya khawatir Ibu digosipin sama tetangga, makanya daritadi Saya mondar mandir biar tetangga liat kalo Ibu ga sendirian di rumah...,” sahut Darsini malu-malu.


“ Makasih ya Bi. Saya pasti perlu bantuan Bi Dar nanti...,” sahut Nadifa sambil tersenyum.


“ Iya, sama-sama Bu. Saya kasian sama Bu Nadifa. Orang cantik dan baik kaya gini kok masih diselingkuhin dan


Nadifa tertawa mendengar ucapan asisten rumah tangga yang seusia ibunya itu. Tiba-tiba anak Nadifa yang berusia sepuluh tahun nampak keluar dari kamar sambil menatap sedih kearah sang mama. Anak bungsu Nadifa dan Irwandi itu juga menjadi saksi dari sikap buruk sang papa selama ini.


“ Jadi Mama sama Papa mau cerai...?” tanya Irgi dengan mata berkaca-kaca.


“ Maafin Mama ya Nak...,” sahut Nadifa sambil memeluk sang anak.


“ Gapapa Ma. Papa emang bukan laki-laki yang baik buat Mama. Aku setuju Mama pisah sama Papa...,” kata Irgi sambil balas memeluk sang mama.


Nadifa terkejut mendengar jawaban Irgi. Ia pun mengurai pelukannya Ialu menatap wajah sang anak untuk meyakinkan dirinya jika kalimat tadi keluar dari mulut Irgi, anak laki-laki yang masih sangat belia itu.


“ Mama ga salah denger nih...?” tanya Nadifa dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“ Ga Mama. Aku juga ga suka ngeliat Papa selalu kasar sama Mama. Ga pernah bicara baik-baik dan selalu marah-marah ga jelas. Aku pusing Ma. Ntar kalo Mama sama Papa cerai, Aku ikut sama Mama aja ya...,” kata Irgi penuh harap sambil menatap wajah Nadifa.


“ Iya Sayang. Mama pasti ajak Kamu sama Kakak supaya ikut sama Mama kemana pun Mama pergi. Tapi Kamu ga boleh nangis kalo Mama ajak pindah ke tempat yang lebih kecil ya...,” kata Nadifa sambil memeluk dan menciumi Irgi.


“ Iya Mama. Asal sama Mama dan Kakak, Aku ga bakal nangis deh...,” sahut Irgi hingga membuat air mata menderas di wajah Nadifa.


Nadifa terharu mendengar ucapan si bungsu. Baginya suport dari si bungsu memberi kekuatan tersendiri. Bukan


tanpa alasan Nadifa menangis. Nadifa berpikir akan sulit menjelaskan perceraiannya nanti pada Irgi karena selama ini Irgi sangat dekat dengan sang papa. Tapi Nadifa tak menyangka jika Irgi mengamati interaksi kedua orangtuanya secara diam-diam hingga bisa membuat kesimpulan seperti itu.


“ Kalo Aku ga usah ditanya Ma. Aku pasti ikut kemana pun Mama pergi karena Aku ga mau jauh-jauh dari Mama...,” kata Irna tiba-tiba sambil memeluk Nadifa dan Irgi.


Nadifa tersenyum lalu memeluk kedua anaknya dengan erat. Ia mantap bercerai dan berharap kedua anaknya bisa hidup dalam lingkungan yang sehat walau tak bersama papanya.


“ Jangan nangis lagi ya Ma. Senyum dong...,” kata Irna sambil menghapus air mata Nadifa.


“ Tau nih Mama. Kalo nangis mulu cantiknya hilang lho...,” sahut Irgi sambil memonyongkan bibirnya hingga membuat Nadifa dan Irna tertawa.


“ Iya iya. Mulai sekarang Mama bakal senyum terus dan ga nangis lagi...,” kata Nadifa di sela tawanya.


“ Tapi Saya juga diajak kan Bu ?. Saya ga mau sendirian di sini Bu...,” kata Darsini sambil berdiri di belakang sofa yang diduduki Nadifa dan kedua anaknya.


“ Kalo Bibi ikut Saya, Saya ga bakal bisa ngasih gaji yang besar lho Bi. Karena Saya kan harus berhemat untuk masa depan Anak-anak...,” sahut Nadifa sedih.


“ Gapapa Bu. Asal bisa sama Ibu dan Anak-anak Saya senang kok...,” kata Darsini antusias.


“ Baik lah kalo gitu. Kita bakal pindah dari sini secepatnya. Ber..., em..., pat...,” sahut Nadifa sambil menekankan kata berempat hingga membuat Irna, Irgi dan Darsini tertawa.


“ Yeeyyy..., Kita kumpul lagi...,” kata Irgi dan Irna bersamaan sambil melompat lalu menghambur memeluk Darsini.

__ADS_1


Nadifa pun ikut tertawa melihat tingkah ketiga orang di hadapannya. Drama keluarganya hari ini benar-benar menguras emosi dan air mata. Nadifa menatap ketiganya sambil tersenyum. Dalam hati Nadifa bertekad akan membangun kehidupan yang lebih baik ke depannya bersama ketiga orang yang selalu mensuportnya itu.


\=====


__ADS_2