
Selama berada di Rumah Sakit Dante diawasi ketat oleh polisi dan petugas medis di sana. Di depan kamar rawat inap Dante selalu ada polisi yang berjaga. Hal itu dilakukan untuk mencegah Dante melarikan diri lagi.
Setelah dua hari dirawat di Rumah Sakit Daerah, Dante dipindahkan ke Rumah Sakit POLRI di Jakarta. Mobil ambulans dan polisi pun disiapkan. Polisi yang mengawal adalah polisi pilihan. Sebelum dimasukkan ke dalam ambulans, tangan Dante kembali diborgol dan dikaitkan dengan besi tempat tidur. Merasa mendapat perlakuan tak manusiawi Dante pun protes.
“ Kenapa harus diborgol segala sih. Apa keadaan Saya ga cukup jadi jaminan kalo Saya ga bakal kabur. Kalian
bisa liat kalo Saya ini lemah dan kehabisan darah, masih diinfus juga. Dimana hati nurani Kalian...,” kata Dante kesal.
“ Jangan bicara soal nurani Dante. Dimana nuranimu saat Kau membantai Anak-anak tak berdosa hanya untuk memenuhi ambisi sesatmu itu...?!” kata Heru lantang.
Suara lantang Heru membuat Dante, tenaga medis dan polisi yang mengawalnya bungkam. Bahkan para petugas medis yang membantu merawat Dante pun tampak menatap kesal kearah Dante.
“ Kami harus lakukan ini mengingat Kau pernah kabur sebelumnya. Jadi jangan salahkan Kami kalo memperlakukanmu seperti ini...,” kata Heru lagi sambil berlalu.
Setelah memasukkan tubuh Dante ke dalam ambulans, iringan mobil nampak keluar dari Rumah Sakit menuju jalan tol. Perjalanan kali ini harus melewati perkebunan jati dan karet. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan membuat suasana sedikit mencekam, apalagi perjalanan sengaja dilakukan malam hari.
Faiq ada di mobil terdepan bersama Heru, sedangkan Fatur memilih berada di mobil paling belakang bersama beberapa polisi yang mengawal ambulans yang dinaiki Dante.
Di dalam ambulans Dante terlihat gelisah. Kedua matanya nampak menatap kearah jendela mobil dengan cemas. Dante khawatir jika siluman babi hutan itu mengikutinya atau merasukinya lagi. Usai siluman babi itu berhasil dikeluarkan dari tubuhnya oleh Faiq dan Fatur, Dante merasa tubuhnya sangat sakit dan sulit digerakkan. Dan Dante tak ingin mengalaminya lagi.
Tiba-tiba mobil yang ditumpangi Faiq dan Heru berhenti. Otomatis itu membuat dua mobil yang ada di belakangnya
ikut berhenti.
“ Kenapa berhenti...?” tanya Fatur.
“ Ga tau Pak, Saya hanya ngikutin mobil yang di depan aja...,” sahut supir mobil.
Fatur melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi dengan mobil yang dinaiki Faiq dan Heru. Karena tak
bisa melihat mobil yang ada di depan, Fatur memutuskan turun untuk memastikan kondisi dua keponakannya itu.
“ Mau kemana Pak...?” tanya salah seorang polisi.
“ Maaf, tapi sebaiknya Bapak kembali ke mobil. Di sini terlalu berbahaya Pak...,” kata polisi lainnya mengingatkan Fatur.
“ Insya Allah gapapa, Saya cuma mau ngecek aja sebentar...,” sahut Fatur.
Para polisi yang ada bersama Fatur tak bisa berbuat banyak. Mereka ikut keluar mengawal Fatur yang melangkah cepat menuju mobil dimana Faiq dan Heru berada.
“ Anak-anak, Kalian gapapa kan...?!” tanya Fatur lantang.
“ Alhamdulillah Kami gapapa Om. Lho kok Om turun...?” tanya Heru.
“ Om khawatir sama Kalian. Mana Faiq...?” tanya Fatur sambil melongok ke dalam mobil.
“ Aku di sini Om...,” sahut Faiq dari depan mobil.
“ Kenapa berhenti di sini...?” tanya Fatur dengan nada suara rendah.
__ADS_1
“ Ada yang mencoba menghadang Kita di depan sana Om. Aku mutusin berhenti sampe Subuh supaya Kita ga harus bertempur sama 'mereka' lagi. Nanti dekat waktu fajar mereka bakal pergi sendiri tanpa Kita usir karena itu peraturannya kan...,” sahut Faiq sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan angka 03.56 pagi.
“ Kamu benar Nak. Hanya tinggal beberapa menit lagi akan tiba waktu Subuh. Kita bisa jalan dan cari masjid
terdekat untuk sholat Subuh...,” kata Fatur sambil menepuk punggung Faiq sebagai tanda jika ia setuju dengan keputusan Faiq menghindari benturan dengan makhluk halus penghuni hutan jati itu.
“ Kalo gitu Kalian bisa kembali ke tempat Kalian, awasi mobil ambulans itu. Jangan biarkan dia kabur lagi...,” perintah Heru pada dua polisi yang mengawal Fatur keluar tadi.
“ Siap Pak...,” sahut dua polisi itu bersamaan.
Sambil menunggu waktu fajar yang akan datang dalam hitungan menit itu Faiq, Fatur dan Heru berbincang hangat di jalan. Diterangi cahaya lampu mobil yang terang benderang membuat suasana sepi dan mencekam itu sedikit menghangat.
Namun suasana tenang itu terusik dengan jeritan Dante dari dalam ambulans. Rupanya siluman babi kembali datang dan menerror Dante. Fatur dan Faiq bukan tak tahu tentang hal itu. Tapi mereka sengaja membiarkan siluman babi itu menerror Dante karena mereka kesal akan perbuatan Dante pada anak-anak tak berdosa itu. Saat Heru bergerak untuk mengecek keadaan Dante, Faiq dan Fatur mencegahnya.
“ Ga usah Her...,” kata Fatur dan Faiq bersamaan.
“ Kenapa...?” tanya Heru tak mengerti.
“ Siluman itu hanya berkunjung. Dia ga akan bisa menyentuh Dante apalagi menyakitinya. Karena tubuh Dante telah Kami ruqyah hingga siluman itu hanya bisa melihat dan berkomunikasi aja sama Dante...,” sahut Faiq yang diangguki Fatur.
Heru ikut mengangguk lalu memberi kode pada anak buahnya agar mengabaikan jeritan Dante. sedangkan di dalam ambulans terlihat Dante yang meringkuk ketakutan saat didatangi siluman babi. Dante beringsut menjauh saat siluman babi itu masuk dan duduk di hadapannya. Dari jarak sedekat itu dengan penerangan yang maksimal, Dante bisa melihat wujud siluman babi itu dengan jelas. Dante menatap lekat makhluk meyeramkan yang ada di hadapannya itu tanpa bisa bergerak.
“ Apa maumu, kenapa terus menggangguku...?” tanya Dante lirih karena lelah menjerit tapi tak seorang pun datang membantu.
“ Aku datang menagih janji. Kau telah melanggar kesepakatan yang Kita buat, itu artinya Kau harus mati...,” sahut siluman babi hutan.
padanya bukan padaku...!” kata Dante lantang.
“ Ha ha ha, Suroso adalah abdi setiaku sedang Kau siapa, hanya manusia tamak. Aku biasa menghadapi manusia
licik macam Kau. Setelah menikmati semuanya Kalian ingkar janji. Maka lihat dan tunggu bagaimana Aku membalasmu nanti...,” ancam siluman babi itu lalu lenyap begitu saja.
Dante menghela nafas lega saat tak lagi menjumpai siluman babi itu di hadapannya. Dalam hati Dante menyesal karena telah menuruti Suroso dulu. Namun ibarat nasi telah jadi bubur, penyesalan Dante pun sia-sia. Apalagi Dante telah membunuh banyak anak-anak untuk memenuhi target tumbal pesugihan yang ia anut.
\=====
Tiba di Rumah Sakit Polri Jakarta Timur, Dante langsung diisolasi di ruang khusus atas permintaan Heru. Selama
dirawat di sana proses hukum Dante tetap berjalan. Setelah sembuh Dante ditahan di rutan Salemba.
Sidang perdana Dante menyita perhatian banyak warga termasuk orangtua korban pembantaian Dante. Diantara
mereka terlihat orangtua Boy, Gen dan Han yang duduk di kursi pengunjung. Mereka menerima kabar dari polisi jika anaknya telah meninggal dan terkubur di eks taman bermain tak jauh dari rumah mereka. Awalnya mereka sudah pasrah dan bersiap dengan hal terburuk. Namun saat mendengar kabar itu langsung dari polisi, mereka pun sangat terpukul.
Jenasah Boy, Gen dan Han pun telah dikebumikan dengan layak. Karena ketiganya teman sepermainan dan meninggal bersama, maka pihak keluarga memakamkan jasad mereka secara berdampingan. Tak ada yang mengetahui penyebab pasti kematian Boy, Gen dan Han karena polisi menyimpan rapat fakta sebenarnya. Polisi hanya mengatakan jika ketiga anak itu meninggal akibat kontruksi yang dibuat asal-asalan oleh Dante demi keuntungan pribadi. Dan kini keluarga mereka hadir di persidangan untuk menuntut keadilan bagi ketiga bocah malang itu.
Sidang berjalan alot karena Dante lebih banyak diam saat ditanya Jaksa atau pun Hakim. Pengacara yang mendampinginya pun dibuat bingung. Bukan tanpa alasan Dante melakukan aksi mogok bicara. Sebab jika dia bicara yang keluar dari mulutnya bukan kalimat atau kata-kata layaknya manusia melainkan suara seperti orang mendengkur saat tidur. Menyadari jika itu adalah salah satu bentuk hukuman yang diberikan oleh siluman babi untuknya, Dante pun tak bisa berbuat apa-apa. Dante hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala dan lambaian tangan sebagai bahasa isyarat.
Kejadian itu menggemparkan pengadilan. Media yang meliput pun memiliki kesempatan untuk membuat opini sendiri. Namun tidak dengan televisi Sahabat yang diwakili Faiq dan Hendro.
__ADS_1
“ Jadi suaranya sekarang mirip kaya babi Iq...?” bisik Hendro.
“ Iya...,” sahut Faiq.
“ Apa hanya itu hukuman yang dia terima dari siluman sembahannya itu Iq...?” tanya Hendro lagi.
“ Masih ada yang lain. Lo liat kan bulu-bulu yang ada di permukaan kulitnya...?” tanya Faiq.
“ Mmm, sebentar...,” sahut Hendro yang mengamati Dante dengan seksama. Lalu Hendro membulatkan matanya karena terkejut.
“ Gimana...?” tanya Faiq.
“ Iya gue liat. Itu bukan kaya bulu manusia ya Iq, tapi lebih mirip bulu hewan...,” sahut Hendro yang diangguki Faiq.
“ Siluman babi itu meninggalkan tanda di tubuh Dante yang sangat suka kebersihan itu. Bulu yang tumbuh di
seluruh permukaan kulitnya itu menyebabkan rasa gatal dan panas yang bersamaan. Selain rasa malu karena tumbuh ga wajar, rasa gatal dan panas itu hanya bisa dinetralisir kalo dia tidur. Tapi gimana dia bisa tidur nyenyak kalo satu sel diisi oleh beberapa tahanan. Dante ga bisa protes karena kalo dia protes hanya suara kaya babi hutan itu lah yang keluar dari mulutnya. Nah, Lo bisa bayangin kan gimana tersiksanya dia...,” kata Faiq.
“ Hiiiyy, segitu seremnya efek kerjasama dengan iblis. Gue bingung kalo masih ada yang mau ngelakuin pesugihan. Padahal hukumannya bukan hanya di dunia tapi juga di akherat...,” sahut Hendro sambil bergidik dan disambut senyum sinis Faiq.
Setelah mengalami sidang yang sangat alot karena keterbatasan Dante dalam menjawab semua pertanyaan hakim dan jaksa, hukuman pun dijatuhkan. Dante divonis bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Pernyataan hakim membuat ruang sidang menjadi ramai karena semua warga dan orangtua korban menjerit puas.
Sesuai keterangan polisi, selain menyebabkan anak-anak terbunuh, beberapa orang dewasa juga turut menjadi korban dari kelalaian Dante. Bahkan Dante juga menjadikan anak dan istrinya sebagai kelinci percobaan dari wahana permainan yang ia buat.
Dante hanya menunduk lesu mendengar vonis yang dibacakan hakim. Tak ada pembelaan atau keberatan dari mulut Dante. Ia menerima vonis hakim dengan lapang dada. Bagi Dante lebih baik mati daripada ketakutan diterror terus menerus oleh siluman babi.
Hari-hari selanjutnya dihabiskan Dante di penjara dalam kebisuan. Ia hanya menunggu kapan waktu eksekusi mati
dilaksanakan. Sambil menunggu waktu itu tiba, Dante mulai beribadah kembali. Memohon ampun kepada Allah dan menyesali perbuatannya.
“ Kita hargai aja usahanya untuk bertobat. Tapi hasil akhirnya udah jadi hak mutlak Allah untuk menghukumnya atau menerima tobatnya...,” kata Faiq saat Hendro menanyakan pendapatnya.
Tanpa sepengetahuan tahanan lain Dante kerap mendapat ‘kunjungan’ dari siluman babi hutan. Berbeda dengan sebelumnya kali ini Dante lebih berani menghadapi terror siluman itu. Ia menganggap menghadapi terror siluman babi sama dengan menghadapi mautnya.
Dan saat pelaksanaan eksekusi hukuman mati siluman babi juga ada di samping Dante seolah siap menjemput arwah Dante yang sebentar lagi akan meninggal itu.
“ Apa pesan terakhirmu...?” tanya eksekutor sebelum melesatkan peluru ke tubuh Dante.
“ Tolong sampaikan permintaan maaf Saya pada semuanya...,” sahut Dante lirih.
“ Baik...,” sahut eksekutor lalu membidikkan senapan tepat kearah jantung Dante.
Dalam sekejap Dante pun terkulai dan tewas. Arwah Dante yang melayang di udara langsung ditangkap oleh siluman babi dan dibawa pergi ke dunia lain tempat dimana raja siluman babi bersemayam. Dan di sana lah Dante
akan mempertanggung jawabkan kelalaiannya menyerahkan tumbal sesuai perjanjian yang ia sepakati dulu.
Dante masih berusaha berontak dan menjerit sekuat tenaga saat arwahnya menjauh dari raganya. Faiq yang saat itu ada di luar lapas pun nampak menengadahkan kepalanya sambil menatap langit. Di sana Faiq melihat arwah Dante yang diikat dan dicambuk sambil dibawa pergi. Ada rasa iba menyeruak dalam hatinya saat melihat arwah Dante disiksa sedemikian rupa. Kemudian Faiq kembali menundukkan wajahnya agar tak melihat adegan mengerikan selanjutnya yang akan dialami Dante.
Bersambung
__ADS_1