
Hari-hari berikutnya dilalui Oce dan Uta dengan berat. Uta yang saat itu kelas tiga SMA terpaksa berhenti sekolah karena hamil dan melahirkan. Usai melahirkan bayi laki-laki dengan bobot 3,9 kg dan panjang 52 cm, Uta pun kritis.
Bayi itu diberi nama Reno. Kemudian Oce lah yang merawat bayi itu sambil menunggu Uta siuman. Namun
sayangnya Uta tak pernah siuman. Ia bahkan tak pernah tahu jika anak yang dikandungnya selama sembilan bulan itu telah lahir ke dunia dan tengah menunggunya siuman.
Saat usia Reno memasuki bulan kedua, Uta pun meninggal dunia. Oce sangat sedih. Berhari-hari ia menangisi
kepergian adiknya tanpa makan dan minum. Tangis Reno lah yang menyadarkannya jika saat ini ada darah dagingnya yang menanti untuk dipeluk dan disayangi.
Oce pun memeluk Reno yang tengah menangis itu dengan perasaan berkecamuk. Ia meraih bayi mungil itu dan berjanji akan membuatnya bahagia.
Selama bertahun-tahun Oce mengasuh dan membesarkan Reno hingga ia tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. Sayangnya Reno menderita penyakit epilepsi hingga membuatnya sering jatuh dan kejang-kejang. Oce yang tak memiliki cukup uang pun terpaksa membawa Reno berobat ke ‘orang pintar’ di sebuah tempat terpencil. Hasilnya mengejutkan. Reno dinyatakan sakit karena jiwanya tergadai dan ada dalam genggaman iblis. Dan entah mengapa Oce mempercayai ucapan sang dukun begitu saja.
Mendengar ucapan orang pintar itu membuat Oce terkejut. Apalagi saat orang pintar itu menyebut jika Reno bisa pulih hanya jika Oce menyerahkan tumbal pengganti sebagai tebusannya.
“ Tumbal pengganti gimana Mbah...?” tanya Oce kala itu.
“ Iya tumbal yang akan menggantikan nyawa anakmu itu. Selama Kamu menyerahkan tumbal manusia kepada iblis yang menyandera jiwa anakmu, maka anakmu akan tetap hidup...,” sahut sang dukun.
“ Sampe berapa lama Saya menyerahkan tumbal itu Mbah...?” tanya Oce penasaran.
“ Sampe jiwa anakmu dibebaskan oleh iblis...,” sahut sang dukun itu dengan cepat.
“ Iya Saya tau, tapi kapan ?. Apa tandanya kalo anak Saya udah bebas dari iblis itu...?” tanya Oce.
“ Akan kuberi tau nanti...,” sahut sang dukun.
Oce menghela nafas panjang sambil menatap Reno yang tengah terpejam itu. Ia sangat menyayangi Reno karena hanya Reno yang ia punya. Oce menganggukkan kepalanya tanda setuju hingga sang dukun pun tersenyum. Kemudian sang dukun memberi tahu jadwal penyerahan tumbal pertama kepada Oce.
Tumbal pertama Oce adalah seorang preman yang kerap mengganggu Oce dan Reno. Preman itu selalu merampas uang Oce dan mengancam akan membunuh mereka jika Oce menolak memberinya uang. Bahkan Reno pernah dipukuli hanya karena Oce telat memberi uang.
“ Jangan ganggu anakku lagi...!” kata Oce.
“ Itu tergantung seberapa cepat Kamu menyerahkan uangmu...,” sahut sang preman sambil tersenyum sinis.
“ Kenapa hanya Aku yang Kau ganggu, kenapa yang lain Kamu biarkan bebas. Apa salahku sama Kamu...?” tanya
Oce.
__ADS_1
“ Salahmu karena Kau menolak untuk Kunikahi. Andai Kau mau menikah denganku, maka Aku tak akan lagi mengganggumu dan anak sialmu ini...,” sahut sang preman.
“ Bagaimana Aku bisa menerimamu jadi Suamiku. Sedangkan belum apa-apa Kau sudah membuatku susah dan menyakiti Anakku. Bagaimana jika Kita menikah nanti. Kau pasti akan membunuh Kami dengan tanganmu itu...,” kata Oce dengan berani.
Ucapan Oce membuat preman itu marah dan hampir memukulnya. Namun Oce manantang preman itu dengan menyodorkan wajahnya ke hadapan preman itu hingga membuat pria itu terkejut lalu pergi begitu saja.
“ Apa Mami akan menikah dengannya...?” tanya Reno kala itu.
“ Ga akan...!” sahut Oce mantap.
“ Syukur lah. Tapi sekarang uang Kita habis Mi. Kita ga punya uang lagi padahal Aku sangat lapar...,” keluh Reno.
“ Sabar ya. Sebentar lagi dia ga akan bisa mengambil uang Kita lagi karena dia akan mati...,” kata Oce.
“ Apa Mami akan membunuhnya...?” tanya Reno penasaran.
“ Bukan Mami yang akan membunuhnya tapi iblis yang menahan jiwamu yang akan melakukannya...,” sahut Oce sambil tersenyum penuh makna.
\=====
Seminggu kemudian ucapan Oce terbukti. Sang preman itu ditemukan mati bersimbah darah di sebuah gudang tua.
“ Mami, dia mati Mi. Dia mati...!” kata Reno lantang.
“ Iya Nak, Mami udah tau. Tadi tetangga Kita yang ngasih tau Mami...,” sahut Oce sambil tersenyum.
“ Ternyata ucapaan Mami terbukti. Apakah iblis itu pelakunya Mi...?” tanya Reno hati-hati.
“ Iya, dia pelakunya...,” sahut Oce mantap.
“ Sadis banget cara preman itu mati Mi. Badan dan mukanya tercabik-cabik kaya diserang binatang buas...,” kata
Reno.
“ Itu setimpal dengan ulahnya yang suka menyakiti orang yang lemah kaya Kita Nak...,” sahut Oce asal.
Reno kembali mengangguk tanda setuju.
Setelah menyerahkan tumbal di waktu yang disepakati, kondisi Reno pun membaik. Oce pun bahagia karena
__ADS_1
pengorbanannya untuk mendapatkan tumbal sepadan dengan hasilnya. Reno pun bisa hidup normal seperti anak sebayanya.
Namun sayangnya kondisi ini hanya bertahan beberapa bulan saja. Saat masuk bulan ke enam kondisi Reno kembali memburuk dan memaksa Oce mencari tumbal baru. Saat risau mencari tumbal yang tepat, Purwa pun hadir. Oce tak sengaja bertemu Purwa saat sedang membawa Reno jalan-jalan di mall.
Saat melihat Purwa, Oce kembali terngiang ucapan sang dukun.
“ Tumbal akan lebih sempurna jika orang itu memiliki hubungan darah dengan Reno...,” kata sang dukun.
“ Maksudmu Aku...?” tanya Oce dengan suara tercekat.
“ Bukan Kamu tapi Ayah kandung Reno yang membuatnya terpaksa hadir di dunia ini...,” sahut sang dukun.
“ Apa istimewanya darah laki-laki itu. Toh sepanjang hidupnya tak sekali pun ia peduli sama Anaknya ini...,” kata Oce kesal.
“ Jika hidupnya tak berharga, Kita liat apa yang bisa dia berikan saat dia mati...,” kata sang dukun sambil tersenyum penuh makna.
Oce pun lagi-lagi setuju. Untuk menebus jiwa Reno yang tergadai, Oce rela menjebak Purwa dan membunuhnya dengan kedua tangannya.
“ Kenapa Ce...?” tanya Purwa saat sakaratul maut.
“ Bukannya Aku pernah bilang jangan sampe Kita ketemu lagi ?. Karena saat Kita ketemu lagi maka Aku akan
membunuhmu. Dan sekarang Aku menepati sumpahku itu...,” sahut Oce sambil menekan pisau yang menancap di jantung Purwa lebih dalam lagi.
Kedua mata Purwa terlihat mendelik ke atas karena tak kuasa menahan sakit yang menderanya. Sesaat kemudian Purwa pun mati. Melihat Purwa tak bergerak membuat Oce sedih sekaligus senang. Namun itu hanya sebentar. Sesaat kemudian Oce mengambil wadah untuk menampung darah Purwa lalu menyerahkannya kepada sang dukun.
Sang dukun menerima darah itu dengan senang hati. Setelah memantrai darah itu, sang dukun menyiramkan darah itu ke sekujur tubuh Reno yang tengah kejang-kejang itu.
Ajaib. Tubuh Reno yang semula mengejang itu pun mendadak terdiam. Kemudian Reno terlihat membuka matanya. Dan orang yang pertama dicari Reno dalah sang mami.
“ Mami...,” panggil Reno lirih.
“ Iya Nak, Mami di sini...,” sahut Oce.
“ Aku merasa sehat Mi. Aku sembuh sekarang...,” kata Reno sambil tersenyum.
“ Iya Nak. Kamu sembuh. Semoga ini selamanya aamiin...,” kata Oce sambil tersenyum.
Sejak menumbalkan ayahnya, Reno pun dinyatakan sembuh total dan itu menggembirakan Oce.
__ADS_1
\=====