Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
67. Minta Tolong


__ADS_3

Sejak Hendrik menyerahkan diri ke polisi, otomatis jabatannya pun berakhir. Hendrik tak peduli karena yang penting baginya adalah ia bisa menjalani sisa hidupnya dengan tenang tanpa diganggu oleh hantu Desiree.


Nasib Hendrik saat ini bak pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Saat Hendrik didera masalah hukum, Susan pun


tetap melanjutkan niatnya untuk menggugat cerai sang suami. Susan bukan tak punya rasa empati pada Hendrik. Namun rasa hambar yang ia rasakan selama menjalani pernikahan dengan Hendrik membuat Susan hanya bisa mensuport Hendrik dengan cara lain.


Hendrik pun tak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan Susan. Ia tak ingin egois dengan memaksa Susan bertahan, sedangkan dirinya tak mampu membahagiakan Susan.


“ Maafkan Aku jika selama ini Aku ga bisa jadi Suami yang baik untukmu...,” kata Hendrik saat Susan menjenguknya.


“ Aku juga minta maaf karena ga bisa sabar menghadapimu. Aku harus jujur, Aku juga menginginkan Anak. Tapi dengan kondisimu saat ini rasanya sulit untukku. Apalagi usiaku terus bertambah. Aku takut...,” ucapan Susan terputus saat Hendrik menggenggam tangannya dengan erat.


“ Ssstt..., Aku mengerti. Jangan salahkan dirimu sendiri. Pergi lah Susan, raih lah kebahagiaanmu. Aku bahagia jika Kamu bahagia...,” kata Hendrik dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.


Susan memberanikan diri menatap Hendrik, pria yang selama dua belas tahun ini hidup bersamanya di bawah satu atap. Susan tak dapat menahan tangis. Ia menghambur memeluk Hendrik sambil mengucapkan kata maaf berulang kali. Hendrik balas memeluk Susan. Untuk terakhir kalinya ia memeluk wanita yang ia cintai itu. Hendrik juga mengecup kening Susan sebelum mengurai pelukannya.


“ Pergi lah Sayang. Jangan menoleh ke belakang lagi karena Kamu layak bahagia...,” kata Hendrik sambil tersenyum.


“ Terima kasih Hendrik. Aku harap Kamu juga menemukan kebahagiaanmu suatu hari nanti...,” sahut Susan yang diangguki Hendrik.


Setelah mencium punggung tangan Hendrik, kemudian Susan berdiri lalu melangkah perlahan meninggalkan Hendrik.


“ Aku tak akan pernah bahagia lagi Susan. Karena bahagiaku adalah saat Aku berada di dekatmu dan memelukmu...,” gumam Hendrik dengan mata berkaca-kaca.


\=====


Sidang untuk kasus penculikan Desiree hingga menyebabkan meninggalnya gadis itu telah digelar. Dalam pengadilan terungkap apa yang telah Hendrik lakukan. Saat mendengar pengakuan Hendrik keluarga besar Desiree tampak histeris. Mereka marah dan berusah melukai Hendrik. Namun pengamanan ketat para polisi menguntungkan Hendrik karena tak seorang pun bisa menyentuh dan menyakiti tubuhnya.

__ADS_1


Hendrik divonis dua puluh tahun penjara karena telah menculik, memper**sa dan menjadi penyebab kematian Desiree. Yang meringankan hukumannya adalah karena Hendrik bersikap kooperatif dengan mengakui kesalahan dan menyerahkan diri ke polisi.


Saat vonis dijatuhkan Hendrik hanya diam mendengarkan. Ia nampak pasrah menerima hukuman itu. Wartawan berbagai media yang memadati pengadilan untuk meliput sidang yang dijalani Hendrik pun terlihat penasaran. Mereka ingin melihat reaksi Hendrik saat vonis dijatuhkan. Tak ada yang Hendrik katakan saat melewati para wartawan yang berkerumun, selain hanya tersenyum.


Faiq menepati janjinya untuk membantu Hendrik lepas dari kejaran hantu Desiree. Faiq menemui Hendrik di lapas untuk menunaikan janjinya itu. Ditemani Fatur sang paman, Heru dan Darta, Faiq pun mulai melakukan proses ruqyah.


Saat proses ruqyah berlangsung suasana ruangan nampak tegang. Fatur, Heru dan Darta nampak membantu Faiq


dengan berdzikir. Sedangkan Faiq duduk bersila di belakang Hendrik sambil menempelkan telapak tangannya di punggung Hendrik yang terus meracau karena melihat langsung hantu Desiree di depan matanya. Hendrik seolah sedang melakukan dialog dengan hantu Desiree.


“ Maafkan Aku...,” kata Hendrik.


“ Aku sulit memaafkanmu Hendrik. Kau menyakitiku, hati dan tubuhku. Katakan bagaimana cara Aku memaafkanmu...?” tanya hantu Desiree.


“ Aku sudah menebus kesalahanku di penjara. Apa itu belum cukup untukmu Desiree...?” tanya Hendrik menghiba.


“ Siapa...?” tanya Hendrik.


“ Namanya Bu Siti. Dia orang baik. Dia hanya merasa dekat dengan Hasman karena Hasman mirip dengan Anaknya yang hilang...,” Sahut Desiree.


“ Jika itu tentang Hasman Aku ga bisa bilang apa-apa. Aku memang membencinya karena telah membuatmu menolakku. Tapi Bu Siti, Aku ga pernah tau soal dia...,” sahut Hendrik.


“ Orang suruhanmu telah membuang jasadku di kebun belakang panti jompo tempat Bu Siti bekerja. Dan dia dianggap terlibat dalam penculikan dan kematianku. Padahal dia ga tau apa-apa. Dia hanya kebetulan menyayangi Hasman, dan Hasman pun berkali-kali menyangkal jika dia adalah Anak Bu Siti yang hilang itu. Mengertikah Kau bagaimana perasaannya...?!” kata hantu Desiree gusar.


Hendrik terdiam. Ia memang mendengar nama Siti disebut saat persidangan yang lalu. Tapi saat itu Hendrik tak terlalu memperhatikan karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Apalagi saat itu ia juga tengah diterror oleh hantu Desiree yang menampakkan diri di ruang sidang dan berdiri tepat di hadapannya.


“ Apa yang harus kulakukan agar Kau memaafkanku...?” tanya Hendrik dengan suara parau.

__ADS_1


Tak ada jawaban. Hantu Desiree pergi begitu saja hingga membuat Hendrik kesal. Hendrik menitikkan air mata karena tak sanggup lagi menerima terror dari hantu Desiree. Meski pun ia telah dipenjara, namun hantu Desiree selalu datang dan menerrornya. Hendrik ketakutan dan merasa lelah.


Faiq menyudahi proses ruqyah setelah hantu Desiree pergi. Ia merasa iba melihat kondisi Hendrik saat itu. Faiq tahu jika Hendrik benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu.


“ Apalagi yang harus Kulakukan...?” tanya Hendrik.


“ Aku akan minta Hasman datang untuk membantumu. Hanya dia yang bisa mengurai benang kusut ini. Desiree


mencintai Hasman dan pasti mau mendengarkan apa yang Hasman katakan. Sekarang semua terserah padamu. Mau kah Kau merendahkan diri untuk minta bantuan Hasman...?” tanya Faiq sambil menatap lekat Hendrik.


Hendrik terdiam. Ia berpikir keras sebelum mengambil keputusan. Haruskah ia melepas ego dan kebenciannya pada Hasman agar bisa lepas dari hantu Desiree. Sesaat kemudian Hendrik nampak menghela nafas panjang.


“ Iya, Aku memang perlu bantuan Hasman. Tolong sampaikan padanya Aku ingin minta dia membantuku...,” kata Hendrik tegas.


“ Baik, sekarang Kita rekam permintaanmu biar Hasman bisa liat langsung ekspresi wajahmu itu...,” sahut Faiq yang disetujui Hendrik.


Setelah merekam permintaan tolong Hendrik, Faiq pun pamit dan berjanji akan datang lagi nanti.


“ Mungkin perlu waktu untuk membujuk Hasman karena sikapmu padanya dulu...,” kata Faiq sebelum berlalu.


“ Iya, Aku mengerti...,” sahut Hendrik pasrah.


“ Bersabar lah dan jangan lupa berdoa. Allah mampu membolak-balik hati. Apalagi hanya hati seorang Hasman...,” kata Fatur memberi semangat.


“ Insya Allah, terima kasih atas suportnya...,” sahut Hendrik sambil tersenyum.


Kemudian Hendrik melepas kepergian empat tamu istimewanya itu dengan senyum tersungging di bibirnya. Ia merasa jauh lebih baik setelah menjalani ruqyah meski pun prosesnya masih akan berlanjut nanti.

__ADS_1


\=====


__ADS_2