
Hanako tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Hanako bergegas masuk ke dalam rumah karena khawatir tertinggal waktu sholat Maghrib.
“ Assalamualaikum Bunda...,” sapa Hanako.
“ Wa alaikumsalam, kok telat sih Kak. Udah sholat Maghrib belum...?” tanya Efliya.
“ Iya Bun, tadi hujan deras banget. Aku jadi tertahan di kampus. Sebentar ya Bun, Aku sholat dulu...,” sahut Hanako sambil melangkah cepat menuju kamar.
Efliya hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan anak sulung cantiknya itu melepas jas hujan lalu meletakkannya begitu saja di lantai.
“ Ntar Aku yang beresin jas hujannya Bun...!” kata Hanako dari dalam kamar.
“ Kebiasaan, masa iya dibiarin sampe ntar. Mana basah lagi...,” sahut Efliya sambil meraih jas hujan Hanako dari lantai.
Tanpa Efliya sadari ada sejumput rambut laki-laki yang menempel di jas hujan Hanako. Dan sebagian helaian rambut itu jatuh ke lantai begitu saja. Efliya membawa jas hujan Hanako ke ruang cuci pakaian dan meletakkannya di bawah kran air agar Hanako bisa langsung mencucinya nanti.
“ Kakak udah pulang ya Bun...?” tanya Haikal sambil mengunyah pisang goreng di mulutnya.
“ Udah, mau sholat Maghrib dulu di kamarnya...,” sahut Efliya.
“ Kok Bunda yang beresin jasnya Kakak...?” protes Haikal.
“ Cuma naro aja di tempat cuci. Kan lantainya jadi basah gara-gara Kakak naronya sembarangan...,” sahut Efliya sambil tersenyum.
Haikal mengagguk tanda mengerti. Beberapa saat kemudian Hanako keluar dari kamar untuk membereskan jas hujan yang ia letakkan di lantai ruang tamu tadi.
“ Udah dibawa Bunda ke belakang Kak...,” kata Haikal memberitahu.
“ Oh gitu...,” sahut Hanako lalu beralih ke ruang cuci.
Di saat bersamaan terdengar suara deru mobil Heru memasuki halaman rumah. Heru melangkah ke dalam rumah dan tak sengaja ia menginjak kumpulan rambut yang terjatuh dari jas hujan Hanako tadi. Ia mengerutkan keningnya karena merasa asing dengan tekstur rambut yang kasar itu.
“ Assalamualaikum..., kok ada rambut di lantai Bun. Rambutnya siapa, emang ada tamu tadi...?” tanya Heru sambil menyingkirkan helaian rambut itu dari telapak kakinya.
“ Wa alaikumsalam, ga ada tamu kok hari ini Yah. Kenapa emangnya...?” tanya Eliya.
“ Terus ini rambut siapa, kayanya rambut cowok nih...,” sahut Heru.
__ADS_1
“ Coba liat...,” kata Efliya penasaran dan melihat helaian rambut yang ada di telapak tangan suaminya.
Haikal dan Hanako pun mendekat untuk melihat rambut yang dimaksud Heru.
“ Basah...,” kata Haikal.
“ Iya. Oh mungkin ga sengaja nempel di jas hujannya Kakak tadi Yah. Kan Kakak baru pulang, kehujanan juga. Makanya pake jas hujan tadi...,” kata Efliya menjelaskan.
“ Oh gitu. Ya udah, Ayah mau mandi dulu...,” sahut Heru sambil melangkah menuju ke kamar diikuti Efliya.
Hanako dan Haikal masih mengamati rambut itu dengan seksama. Saat Hanako mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, tiba-tiba bayangan wajah seorang pria berpakaian serba hitam pun melintas dengan cepat hingga mengejutkan Hanako.
“ Astaghfirullah aladziim...,” gumam Hanako sambil menarik tangannya.
“ Kenapa Kak, kok pake istighfar segala...?” tanya Haikal.
“ Gapapa kok, hanya kaget aja. Mmm..., bisa tolong bantu Kakak buangin rambut itu ga Dik...?” tanya Hanako.
“ Kenapa emangnya, Kakak takut ya sama rambut ini...?” goda Haikal sambil tersenyum.
“ Bukan takut tapi Kakak ga nyaman aja megangnya. Tolong ya Haikal ganteng...,” pinta Hanako.
\=====
Malam itu Hanako nampak gelisah di dalam tidurnya. Rupanya Hanako tengah bermimpi buruk. Dalam mimpinya
itu Hanako seolah sedang berlari menghindari kejaran seorang pria yang terus mengikutinya. Hanako merasa jika pria itu selalu memata-matainya bahkan pria itu hapal semua kegiatan harian Hanako.
“ Huuff, selamat...,” gumam Hanako sambil menghela nafas lega saat berhasil menghindari kejaran pria itu.
Namun rasa lega yang dirasakan Hanako hanya sesaat. Karena sedetik kemudian pria itu telah berdiri di hadapan Hanako sambil tersenyum penuh makna. Tangan pria itu terulur ke depan seolah ingin menyentuh wajah Hanako.
“ Jangan lancang Kamu...!” kata Hanako galak sambil menepis tangan pria itu.
“ Aku ga lancang. Kenapa menyentuhmu dibilang lancang, bukannya Kita pernah melakukan lebih dari ini..., Sayang...,” kata pria itu dengan menekankan kata sayang sambil mendekatkan wajahnya kearah Hanako.
“ Jangan ngaco Kamu. Kita ga saling kenal, bagaimana bisa saling menyentuh. Aku rasa Kamu salah orang...,” sahut Hanako ketus.
__ADS_1
“ Aku ga pernah salah orang. Kamu memang kekasihku, pujaan hatiku. Dan Aku janji untuk selalu menjagamu sampe akhir hayatku. Nah sekarang Aku buktiin janjiku sama Kamu Sayang...,” kata pria itu.
“ Jangan mendekat...!” kata Hanako lalu menendang kaki pria itu tepat di tempurung lututnya hingga pria itu
tersungkur jatuh sambil memegangi lututnya.
Pria itu nampak meringis menahan sakit. Ia mendongakkan wajahnya dan melihat Hanako sudah berada jauh di depan sana. Pria itu tersenyum lalu tertawa. Tawanya membahana dan terus mengikuti kemana pun Hanako pergi.
Hanako terbangun dengan tubuh yang basah dengan keringat. Di telinganya masih terngiang-ngiang tawa pria yang
tadi telah ia lumpuhkan.
“ Astaghfirullah aladziim..., apalagi ini...,” gumam Hanako cemas.
Kemudian Hanako menoleh kearah jam meja yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Saat itu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Hanako meraih segelas air yang sengaja ia siapkan sebelum tidur tadi. Hanako meneguknya hingga tandas lalu menghidupkan lampu kamar.
Saat suasana kamar menjadi terang, Hanako melihat kelebatan bayangan hitam melintas dari kamar mandi dan menghilang di balik gorden jendela. Bukannya takut, Hanako malah berusaha mempertajam tatapannya.
“ Siapa itu...?” tanya Hanako sambil menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya lalu turun dari tempat tidur.
Sunyi tak ada jawaban. Hanako melangkah mendekat kearah jendela tempat bayangan hitam tadi bersembunyi. Hanako menyibak tirai penutup jendela dan tak melihat apa pun di sana. Hanako sempat menatap keluar jendela dan hanya menjumpai kegelapan di luar sana. Hanako menghela nafas panjang lalu kembali merapikan tirai jendela.
Saat membalikkan tubuhnya Hanako dibuat terkejut karena makhluk yang dicarinya tengah berdiri tegak di belakang tubuhnya sambil menyeringai dengan mulutnya yang lebar, kedua bola mata memutih dan wajahnya yang hancur.
“ Aaarggh...,” desis makhluk itu tepat di depan wajah Hanako.
“ Ya Allah...,” kata Hanako sambil memejamkan matanya karena terkejut dengan penampilan makhluk halus itu.
Perlahan Hanako membuka matanya untuk melihat wujud makhluk yang ada di hadapannya itu.
“ Kamu siapa, mau apa mengikutiku...?” tanya Hanako sambil menatap makhluk di depannya dengan tajam.
Tak ada sahutan. Makhluk itu kembali menundukkan wajahnya seolah malu karena Hanako bisa melihat wujud aslinya tanpa memperlihatkan rasa takut sama sekali.
Hanako menghela nafas panjang lalu berjalan melewati hantu itu begitu saja. Kemudian Hanako duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap lekat hantu itu.
“ Kalo Kamu ga mau cerita sekarang gapapa. Tapi tolong jangan ganggu Aku apalagi sampe masuk ke dalam mimpiku segala. Aku ngantuk dan mau tidur. Kamu boleh tetap di sini dan ceritain semuanya nanti...,” kata Hanako sambil menguap.
__ADS_1
Seperti mengerti ucapan Hanako, hantu itu mengangguk dan membiarkan Hanako menarik selimut kemudian kembali tidur. Hanako memejamkan matanya namun ia tetap bersikap waspada. Apalagi hantu itu adalah laki-laki asing yang secara norma tak boleh ada di dalam kamarnya.
\=====