
Keluarga kecil Efliya pun mendatangi Fatur setelah sebelumnya membuat janji dengan Faiq untuk bertemu di rumah Fatur. Tujuan kedatangannya jelas untuk menceritakan pengalaman Hanako kemarin.
Tiba di rumah Fatur masih pagi. Bahkan Bilqis baru saja selesai masak untuk sarapan pagi.
“ Assalamualaikum Tante...,” sapa Efliya sambil memeluk Bilqis dari belakang.
“ Wa alaikumsalam..., apa kabar Sayang...?” tanya Bilqis sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah baik Tante. Aku sama keluargaku mau numpang sarapan ya di sini...,” gurau Efliya sambil tertawa.
“ Maaf kalo ngerepotin ya Tante...,” sela Heru yang sudah berdiri di belakang Efliya.
Bilqis tersenyum sambil menyambut uluran tangan Heru yang mencium punggung tangannya dengan khidmat.
“ Gapapa, Tante seneng banget Kalian mau sarapan di sini. Kebetulan Tante juga masak banyak karena Om bilang Kalian mau datang ke sini siang ini...,” sahut Bilqis senang.
“ Tapi Aku sama Haikal makannya banyak lho Oma...,” kata Hanako tiba-tiba sambil memeluk Bilqis.
“ Oma tau, makanya Oma masak banyak hari ini. Kalo Kalian mau, Kalian bisa bawa pulang juga nanti...,” sahut Bilqis sambil mencium kepala Hanako dan Haikal dengan sayang.
“ Yeeeyyy..., makasih Oma...!” kata Hanako dan Haikal bersamaan.
“ Sama-sama Sayang...,” sahut Bilqis sambil tertawa.
Kemudian kedua keluarga itu pun mulai menikmati makan pagi yang menyenangkan di rumah peninggalan Darius itu. Gelak tawa terdengar memenuhi rumah itu akibat ulah Hanako dan Haikal yang berebut makanan yang disajikan Bilqis.
“ Kakak ga mau ngalah banget sih sama Aku, Kakak kan udah besar...,” gerutu Haikal sambil cemberut karena gagal mengambil lauk kesukaannya itu.
“ Kalo soal lauk buatan Oma Bilqis, Aku mah ga mau kalah. Aku milih berantem aja sama Kamu Cil...,” sahut
Hanako cuek.
“ Cal Cil, Cal Cil..., namaku bagus ya Kak. Haikal...!. Kenapa diganti-ganti gitu sih...,” protes Haikal kesal hingga membuat suasana kembali riuh.
“ Kalo kaya gini jadi ingat Fabian sama Diandra ya Om...,” kata Efliya.
“ Iya. Sayangnya mereka lagi ada urusan jadi ga bisa gabung sama Kita hari ini...,” sahut Fatur sambil tersenyum.
Tiba-tiba suasana di rumah Fatur bertambah gaduh dengan kehadiran Izar. Hanako dan Haikal nampak tertawa melihat kehadiran Izar yang memang mereka tunggu sejak tadi. Faiq dan Shera yang berjalan di belakangnya nampak menggelengkan kepala melihat tingkah Izar yang absurd itu.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, akhirnya Efliya pun mengatakan tujuannya mengajak bertemu di rumah Fatur
hari itu. Kemudian Efliya meminta Hanako menceritakan pengalamannya masuk ke SPBU ghaib. Dengan gamblang Hanako menceritakan pengalamannya tanpa ada yang terlewat. Termasuk pertemuannya dengan pemuda bernama Bintang.
“ Wah kayanya cowok itu tau banget moment yang pas ...,” kata Izar sambil tersenyum.
“ Maksud Kamu apaan sih...?” tanya Hanako mulai meradang.
“ Apa Kamu percaya kalo cowok itu emang beneran masuk ke SPBU ghaib itu Ci. Kok Aku ga percaya ya...,” kata Izar santai.
“ Kamu kan emang udah biasa suudzon sama orang, jadi Aku ga heran lagi...,” sahut Hanako santai hingga membuat Izar menoleh cepat kearahnya.
Melihat gelagat jika Hanako dan Izar akan mulai berdebat lagi membuat Fatur cepat menengahi.
“ Gimana menurut Kamu Nak...?” tanya Fatur sambil menatap Faiq.
“ Kayanya Aku juga pernah dengar tentang SPBU ghaib itu Om. Tapi dulu, udah lama banget. Seinget Aku malah sejak Aku masih kuliah...,” kata Faiq mencoba mengingat.
“ Maksud Papa, SPBU ghaib itu udah lama beroperasi...?” tanya Hanako.
“ Iya. SPBU yang di jalan RR itu kan Ci...?” tanya Faiq untuk meyakinkan.
“ Dulu teman Papa juga ada yang pernah masuk ke sana tapi ga pernah keluar lagi...,” kata Faiq sedih.
“ Kok bisa Yah...?” tanya Izar penasaran.
“ Namanya Ilman. Sebelum masuk ke sana dan menghilang, Ilman emang lagi sedih. Dia lagi kesulitan bayar uang
kuliah karena orangtuanya telat transfer. Ayah dan teman-teman udah nawarin bantuan tapi dia tolak. Dia ga mau ngerepotin lagi katanya. Hari itu usai kuliah dia masih nongkrong di taman kampus. Setelahnya dia pergi gitu aja tanpa pamit. Kebetulan teman Ayah yang namanya Hendrik ngeliat Ilman dijemput sama seseorang yang naik motor di depan kampus. Karena searah, Hendrik jalan di belakang mereka pake motor juga. Tapi sampe di sebuah lahan kosong motor yang dinaikin Ilman dan temannya itu belok dan masuk ke sana. Hendrik yang bingung ngeliat Ilman masuk ke sana pun nunggu mereka di depan lahan itu beberapa waktu. Sampe akhirnya Hendrik ditegur sama salah seorang warga yang tinggal ga jauh dari sana. Hendrik kaget waktu warga bilang orang yang masuk ke sana jarang yang bisa keluar dalam keadaan hidup...,” cerita Faiq sambil menerawang jauh seolah sedang mengingat kebersamaannya dengan Ilman.
“ Apa teman Ayah itu ga balik lagi...?” tanya Izar hati-hati.
“ Betul. Karena ga mau terjadi apa-apa sama Ilman, Hendrik langsung nelephon Ayah dan beberapa teman Ayah. Kita ketemuan di depan lahan itu dan mutusin masuk ke dalam lahan kosong itu untuk nyari Ilman. Tapi sayangnya Kami ga nemu apa pun di sana. Ilman lenyap begitu aja padahal ga ada lubang di dinding atau akses jalan keluar lain selain jalan yang mereka masuki tadi...,” sahut Faiq.
“ Apa kondisinya sama kaya yang aku liat Pa...?” tanya Hanako.
“ Papa ga yakin kondisinya masih sama Nak. Waktu Papa dan teman-teman masuk ke sana, lahan itu dipenuhi ilalang, apalagi saat itu kan lagi musim hujan jadi ilalang dan semak-semak tumbuh subur di sana. lahan itu dikelilingi tembok beton warna putih. Ada runtuhan bangunan yang kayanya pernah terbakar karena berwarna hitam. Selebihnya ga ada apa-apa lagi...,” sahut Faiq.
“ Gimana reaksi keluarganya Pa...?” tanya Hanako.
__ADS_1
“ Pasti sedih lah Ci, gitu aja pake nanya...,” gerutu Izar.
“ Aku kan cuma nanya Zar, emang salah ya...,” sahut Hanako tak mau kalah.
Izar hanya menggedikkan bahunya hingga membuat Hanako tambah cemberut. Sedangkan Fatur, Faiq dan Heru hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Sementara Efliya, Shera dan Bilqis nampak membahas hal lain karena tak terlalu tertarik dengan hal itu.
“ Kenapa Kita ga ke sana aja Yah...?” tanya Izar tiba-tiba.
“ Apa Kamu mau ke sana...?” tanya Faiq.
“ Iya, Aku penasaran pengen liat apa yang diliat Cici Yah...,” sahut Izar antusias.
“ Gimana Om...?” tanya Faiq sambil menoleh kearah Fatur.
“ Ga ada salahnya Kita ke sana. Om juga penasaran sama cerita Kamu dan Cici...,” sahut Fatur.
“ Yeeyyy..., Kita jalan-jalan lagi...!” seru Izar sambil adu toast dengan Hanako.
Hanako dan Izar nampak antusias dan tak sabar untuk bisa segera menuju ke SPBU ghaib itu. Setelah berkemas,
mereka pun pamit untuk mendatangi SPBU ghaib itu. Haikal yang semula memaksa ikut akhirnya berhasil dibujuk oleh Efliya.
“ Mereka mau ngeliat hantu, emangnya Kamu berani...?” tanya Efliya.
“ Ngeliat hantu kok pagi-pagi kaya gini. Bukannya ngeliat hantu itu harusnya malam hari...?” tanya Haikal.
“ Hantu yang ini beda sama biasanya. Gimana, Kamu masih mau ikut atau tunggu di sini sambil main PS...?”
tanya Efliya.
“ Ya udah, Aku tunggu di sini aja...,” sahut Haikal cepat.
“ Anak pinter, Bunda bangga sama Kamu...,” kata Efliya sambil tersenyum.
Haikal pun tersenyum sambil melangkah ke ruang tengah. Sedangkan Efliya, Bilqis dan Shera melepas kepergian
Fatur, Faiq, Hanako dan Izar di depan pintu dengan iringan doa yang tak pernah putus.
\=====
__ADS_1