
Sesuai janjinya Faiq menghubungi Hanako usai meliput berita. Hendro yang duduk di samping Faiq pun nampak memperhatikan interaksi Faiq dengan keponakan cantiknya itu melalui sambungan telephon. Apalagi saat itu Faiq nampak tertawa mendengar celoteh Hanako dari sebrang sana.
“ Jadi bukan pria biasa yang ngikutin Kamu Ci...?” tanya Faiq di sela tawanya.
“ Iya Pa. Mana ganggu banget lagi. Selain ngikutin Aku, dia juga menghalangi Aku ngobrol sama teman-temanku. Apalagi temanku yang cowok..,” keluh Hanako.
“ Yang sabar ya, insya Allah Papa bakal bantu Kamu nanti...,” janji Faiq.
“ Alhamdulillah, makasih Pa...,” kata Hanako di akhir kalimatnya sebelum Faiq menutup telephonnya.
Faiq tersenyum usai bicara dengan Hanako dan itu menarik perhatian Hendro.
“ Kenapa Iq, Hanako lagi dikejar cowok ya. Wajar lah, dia kan cantik. Pasti banyak cowok yang ngikutin dia...,” kata Hendro sambil tesenyum.
“ Tapi yang ngikutin dia bukan sembarang cowok Hen. Hanako diikutin hantu cowok yang mati penasaran...,” sahut Faiq hingga mengejutkan Hendro.
“ Masa sih, pantesan Hanako panik. Terus kenapa Lo ketawa...?” tanya Hendro sambil menggelengkan kepalanya.
“ Karena hantu itu bersikap possesif sama Hanako seolah Hanako itu pacarnya...,” sahut Faiq sambil tertawa diikuti tawa Hendro.
“ Jangan-jangan tuh hantu belum ngeh kalo dia sebenernya udah meninggal Iq...,” kata Hendro.
“ Kayanya sih gitu...,” sahut Faiq sambil melajukan mobil perlahan menuju jalan raya.
Kemudian keduanya pun meninggalkan lokasi peliputan sambil tertawa membicarakan Hanako dan hantu possesifnya itu.
\=====
Faiq datang ke rumah Efliya dan Heru saat malam menjelang Isya. Kedatangannya disambut antusias oleh Hanako
yang langsung berlari memeluk Faiq saat dia baru saja turun dari motor besarnya itu.
“ Papa, lama banget sihh datangnya...,” protes Hanako dalam pelukan Faiq.
“ Masa sih, ini Papa udah ngebut lho Ci...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Biar Papanya masuk dulu dong Kak, masa udah langsung ditubruk kaya gitu...,” tegur Efliya sambil menggelengkan kepalanya.
“ Iya Bun...,” sahut Hanako malu-malu lalu melepaskan pelukannya.
Kemudian Faiq memeluk Efliya dan Haikal bergantian. Setelahnya Faiq mengikuti Hanako yang menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah. Heru yang baru keluar dari kamar juga menyapa Faiq dengan hangat.
“ Alhamdulillah, akhirnya nongol juga. Apa kabar Bang...?” sapa Heru sambil menjabat tangan Faiq.
__ADS_1
“ Alhamdulillah baik. Gue datang karena mau bantuin Cici...,” sahut Faiq.
“ Apa ada kasus baru Bang, kok Gue ga tau...?” tanya Heru sambil duduk di hadapan Faiq.
“ Kamu belum cerita apa pun sama Ayah ya Ci...?” tanya Faiq sambil menoleh kearah Hanako.
“ He he, belum Pa. Abis Aku bingung gimana ceritainnya. Lagian Ayah kan sibuk. Mau cerita sama Bunda lebih ga mungkin lagi. Kan Bunda takut kalo Aku cerita soal hantu...,” sahut Hanako salah tingkah.
Mendengar penjelasan Hanako membuat Heru menghela nafas panjang. Ia maklum mengapa Hanako memilih menyembunyikan hal itu dan menceritakannya pada papanya.
“ Emangnya Kamu minta bantuan apa sama Papa. Jangan-jangan ini ada kaitannya sama rambut cowok yang Ayah temuin tempo hari...?” tanya Heru.
“ Kayanya sih gitu Yah...,” sahut Hanako.
“ Rambut...?” tanya Faiq tak mengerti.
“ Iya Bang, Gue nemuin gumpalan rambut cowok di lantai. Gue kirain ada tamu, tapi Bundanya Anak-anak bilang ga ada cowok yang datang ke rumah hari itu...,” sahut Heru.
Kemudian Hanako pun menjelaskan tentang hantu Abin yang mengikutinya itu. Juga sikap hantu Abin saat Hanako berinteraksi dengan teman-temannya. Heru nampak memijit keningnya karena berusaha menahan amarah.
“ Kalo dia manusia pasti langsung Ayah dor aja Nak. Enak aja masuk ke kamar Kamu tanpa permisi. Apa dia ga mikir ya kalo Kalian tuh bukan muhrim...,” kata Heru kesal.
“ Makanya Aku telephon Papa kan Yah...,” sahut Hanako.
“ Insya Allah Aku bakal bantuin Cici sampe tuntas...,” kata Faiq sambil menepuk bahu Efliya untuk menenangkannya.
“ Iya, tolong kawal Kakak terus ya Bang...,” pinta Efliya yang diangguki Faiq.
Karena tak ingin terlibat dalam proses interaksi Faiq dan Hanako dengan hantu Abin, Efliya pun memilih menjauh dari Faiq, Hanako dan Heru.
“ Keluar Kamu, Aku tau Kamu dengar semua pembicaraan Kami tadi kan...,” kata Faiq tiba-tiba.
Hantu Abin pun menampakkan diri di depan Faiq. Ia tahu tak akan bisa mengganggu Faiq karena ia telah mencobanya sejak Faiq datang tadi tapi selalu gagal.
Abin memperlihatkan amarahnya saat melihat Hanako memeluk Faiq erat tadi. Tanpa aba-aba hantu Abin berusaha menyerang Faiq dengan gumpalan angin besar, sayangnya angin itu terpecah saat membentur tubuh Faiq. Tak putus asa hantu Abin pun melayangkan pukulan keras kearah Faiq namun justru tubuhnya yang tertolak. Kemudian hantu Abin kembali mendekat dengan jurus tendangan yang memiliki kekuatan penuh untuk menjatuhkan Faiq, tapi lagi-lagi gagal. Bahkan tubuh hantu Abin terpental jatuh seolah menyentuh dinding tak kasat mata.
Hantu Abin tersadar jika Faiq memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan Hanako dalam berinteraksi dengan makhluk halus. Kemudian hantu Abin mengamati Faiq termasuk mendengarkan pembicaraan keluarga Hanako dengan Faiq tadi.
“ Berhentilah mengganggu Hanako...,” pinta Faiq sambil menatap hantu Abin lekat.
“ Maafkan Aku. Tapi hanya Hanako yang bisa melihatku dan ga takut sama Aku...,” sahut hantu Abin.
“ Tapi itu bukan alasan untuk mengganggu siapa pun yang berinteraksi dengannya. Bahkan Kamu menjadikan Hanako terlihat aneh di depan orang lain. Pendamping ghaib aja ga bakal melakukan itu. Mereka hanya akan membantu jika diperlukan bukan malah membuat benteng ghaib seperti yang Kamu lakukan yang justru memenjara Hanako...!” kata Faiq marah.
__ADS_1
Hantu Abin, Heru dan Hanako terkejut mendengar ucapan Faiq. Apalagi saat Faiq berdiri dan melangkah mendekati hantu Abin.
“ Aku ga suka Kamu mengikutinya hingga ke kamar pribadinya. Itu mencerminkan jika di kehidupanmu sebelumnya Kamu bukan lah orang yang baik. Aku yakin Kamu hanya laki-laki m*sum yang mencoba mencari keuntungan dari gadis-gadis lemah di luar sana. Tapi Kamu salah sasaran Bung. Hanako bukan gadis seperti itu...!” kata Faiq marah sambil menendang hantu Abin hingga tubuh hantu Abin terjengkang ke belakang dan menabrak pintu.
Braakk...!
Terdengar suara pintu yang terbanting keras seolah ada benda berat yang mengenainya. Heru menoleh dan melihat pintu rumahnya nampak rusak pertanda sesuatu telah menabraknya dengan sangat keras. Melihat kondisi pintu yang rusak parah membuat Heru yakin jika hantu Abin terluka akibat tendangan Faiq tadi.
Suara keras itu juga mengejutkan Efliya dan Haikal. Keduanya mengintip dari pembatas ruang untuk memastikan apa yang terjadi.
“ Bangun...!. Apa hanya segini kemampuanmu...?!” tanya Faiq marah.
Hantu Abin berusaha bangkit dengan tubuh terhuyung. Ia tak menyangka jika pria di hadapannya mampu menyakitinya hanya dalam sekali tendangan. Darah berwarna kehitaman nampak mengalir dari lubang hidung, telinga dan sela bibirnya. Nampaknya hantu Abin terluka dalam akibat serangan Faiq tadi.
Sedangkan Hanako nampak tersenyum puas saat bisa menyaksikan hantu pria yang mengganggunya itu jatuh bertekuk lutut di depan papanya.
“ Ampuni Aku. Maaf...,” kata hantu Abin lirih sambil berlutut di depan Faiq.
Faiq menepis tangan hantu Abin dengan kakinya hingga hantu Abin kembali terjengkang.
“ Berhenti mengganggu Hanako...!” kata Faiq lantang sambil menatap tajam kearah hantu Abin.
“ Iya, iya. Aku ga akan mengganggu Hanako lagi...,” janji hantu Abin dengan suara bergetar.
“ Bagus. Sekarang menjauh lah. Insya Allah Aku akan membantumu nanti...,” kata Faiq dingin.
“ Baik, terima kasih...,” sahut hantu Abin sambil melayang menjauh dari rumah Heru.
Faiq dan Hanako menghela nafas lega saat melihat kepergian hantu Abin. Sedangkan Heru nampak mengulum senyum usai menyaksikan kemarahan Faiq tadi.
“ Makasih Pa...,” kata Hanako.
“ Sama-sama Nak. Kamu Anak Papa dan Papa ga suka ada laki-laki kurang ajar yang menggangumu. Sudah selayaknya dia menerima perlakuan kaya gitu karena masuk ke kamar seorang gadis padahal Papa tau Kamu pasti udah nyuruh dia pergi kan...,” sahut Faiq sambil mengusap kepala Hanako dengan sayang.
“ Iya Pa...,” sahut Hanako.
“ Makasih Lo udah mewakili Gue ngasih hukuman sama makhluk itu Bang. Tapi Gue denger Lo janji mau bantuin dia tadi, kenapa Bang...?” tanya Heru.
“ Kewajiban Her...,” sahut Faiq singkat.
Heru mengangguk tanda mengerti maksud dari ucapan Faiq tadi.
Bersambung
__ADS_1