Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
152. Kebenaran Terungkap


__ADS_3

Setelah rapat kecil membahas rahasia di balik catatan kecil yang ditinggalkan Marwah, Rauf pun melapor pada atasannya. Dengan mempertimbangkan kinerja Rauf selama ini yang telah banyak berjasa membantu kepolisian Mesir, maka atasan Rauf pun mengabulkan ‘permintaan kecil’ Rauf itu. Kepolisian Mesir pun membuka kembali kasus kematian Marwah yang sempat dibekukan belasan tahun silam.


Bisa ditebak bagaimana hasilnya. Semua bukti dan saksi yang telah disiapkan pun maju ke pengadilan. Gusman, Mardiyah dan Malhaj harus mendekam di penjara hingga polisi mendapat petunjuk pasti keterlibatan ketiga orang tersebut.


Setelah mendalami kasus kematian Marwah selama beberapa waktu, polisi pun melepaskan Gusman karena tak terbukti terlibat dengan kematian Marwah. Sedangkan Mardiyah dan Malhaj harus mendekam dalam waktu lebih lama apalagi banyak saksi yang melihat mereka berdua ada bersama Marwah di hari terakhir sebelum kematiannya.


Dalam sidang terbukti jika Malhaj adalah dalang pembunuhan Marwah. Ia mengaku jika telah membayar rekannya untuk mencelakai Marwah karena tak ingin hubungan gelapnya dengan Mardiyah diketahui oleh Gusman. Saat hakim bertanya padanya tentang perasaannya terhadap Mardiyah, Malhaj nampak bingung dan itu membuat Mardiyah dan semua orang yang ada di ruang sidang bertanya-tanya.


“ Apa Anda sangat mencintai Nyonya Mardiyah...?” tanya hakim sekali lagi.


“ Mmm..., Saya ga tau Pak Hakim. Yang Saya tau Saya senang saat bersamanya karena selain memberi Saya uang dia juga memberikan tubuhnya kepada Saya...,” sahut Malhaj malu-malu hingga membuat ruangan sidang dipenuhi tawa penuh ejekan kepada pasangan mes*um itu.


Mendengar jawaban Malhaj membuat Mardiyah tersinggung dan marah. Ia berdiri lalu menampar Malhaj dan itu membuat ruang sidang bertambah gaduh.


“ Kurang ajar kau Malhaj. Pantas saja Kau selalu berkelit kalo Aku ajak bicara soal pernikahan. Rupanya Kau tak pernah serius dengan hubungan ini. Lalu kau anggap apa Aku selama ini Malhaj...?!” tanya Mardiyah marah.


“ Apa maksudmu Mardiyah. Kita bukan remaja lagi yang masih harus membahas cinta di usia Kita ini. Kita bisa mendapat kebahagiaan tanpa harus menikah. Dan kalo boleh jujur Aku memang ga pernah ingin menikah denganmu karena Kau bukan wanita baik-baik...,” sahut Malhaj.


“ Apa maksudmu Malhaj...?” tanya Mardiyah.


“ Sekarang saja Kau berani menduakan Suamimu yang masih memberimu nafkah dan tempat tinggal. Kau membuat aturan yang menyeramkan dalam rumah tanggamu itu kan Mardiyah. Lalu bagaimana jika Kita menikah, sedangkan Kau tau Aku tak punya pekerjaan tetap. Aku ga bisa bayangkan jika harus menikah dengan wanita cerewet dan banyak aturan sepertimu Mardiyah...!” kata Malhaj sambil menatap Mardiyah lekat.


“ Kau..., sadarkah apa yang Kau ucapkan Malhaj ?. Yang Aku lakukan itu karenamu Malhaj. Aku menyuruh Anakku berhenti sekolah dan memaksa mereka bekerja agar bisa mendapatkan uang lebih untuk bisa kuberikan padamu. Aku menghancurkan keluargaku sendiri demi Kau, tapi begini yang Kau berikan untukku. Kau jahat Malhaj, jahaaaattt !. Terkutuk lah kau Malhaj, Aku membencimu...!” jerit Mardiyah sambil menangis histeris.


“ Yang Kau lakukan pada keluargamu bukan urusanku Mardiyah. Urusanku hanya menyenangkanmu di atas tempat tidur, hanya itu...!” kata Malhaj.


Lagi-lagi kegaduhan terjadi dan membuat hakim harus mengetuk palu berulang-ulang untuk menenangkan Mardiyah dan Malhaj yang terus berdebat. Sedangkan di kursi pengunjung tampak Salman dan Najas yang duduk menyaksikan sidang dengan wajah merah padam menahan malu. Bahkan Najas menangis karena tak menyangka ibu yang sangat ia cintai sanggup menyakiti anaknya  juga ayah mereka hanya demi pria lain.


“ Sabar Najas, apa sebaiknya Kita keluar aja...?” tanya Salman cemas.


“ Jangan Kak, Aku masih mau di sini...,” sahut Najas.


“ Tapi Aku ga mau terjadi apa-apa sama kehamilanmu ini Najas. Aku janji pada Suamimu untuk membawamu pulang dengan selamat sampe rumah Kalian nanti. Tapi kalo Kamu harus mendengar dan menyaksikan mereka, Aku yakin keponakanku itu akan lahir sebelum waktunya...,” kata Salman gusar.

__ADS_1


“ Jangan khawatir Kak. Bayiku sangat kuat seperti Ayah dan Pamannya ini...,” sahut Najas sambil tersenyum.


“ Ck, Kau ini. Katakan jika Kau merasa tak nyaman nanti. Biar Aku bisa langsung membawamu pergi dari sini...,” kata Salman sambil mengusap perut Najas yang membuncit itu dengan sayang.


“ Iya...,” sahut Najas cepat.


Kemudian Najas dan Salman kembali fokus menyaksikan sidang. Sedangkan di luar gedung pengadilan terlihat Gusman yang duduk dengan wajah tertunduk. Gusman sengaja tak hadir di ruang sidang hanya karena tak ingin melihat istri dan pria selingkuhannya itu. Persidangan yang disiarkan secara live oleh salah satu stasiun televisi di Mesir itu membuat hati Gusman perih.


Tak lama kemudian sidang berakhir dan hakim memutuskan sidang akan dilanjutkan dua minggu kemudian. Gusman pun meninggalkan gedung pengadilan dengan langkah gontai. Namun langkahnya terhenti saat Najas dan Salman memanggilnya.


“ Ayah...!” panggil Salman dan Najas bersamaan.


Kemudian Gusman, Najas dan Salman duduk bersama di sebuah kafe. Suasana diantara mereka nampak tegang. Sejak pertengkaran terakhir dengan ayahnya Salman memang tak pernah pulang ke rumah lagi. Salman memutuskan menyewa rumah dekat lokasi dia biasa bekerja. Sedangkan Najas telah lebih dulu diboyong oleh suaminya sejak menikah dua tahun lalu. Saat ini Najas tengah mengandung anak pertamanya dan itu membuatnya bahagia.


“ Apa kabar Ayah...?” tanya Najas.


“ Alhamdulillah Ayah baik-baik aja Nak. Bagaimana denganmu dan bayimu...?” tanya Gusman sambil mengusap perut Najas dengan lembut.


“ Syukur lah. Lalu bagaimana denganmu Salman...?” tanya Gusman.


“ Aku baik Yah, belum pernah di dalam hidupku Aku merasa sebaik ini...,” sahut Salman ketus.


“ Kakak...,” panggil Najas karena tak ingin Salman merusak moment kebersamaan mereka yang terbilang langka ini.


“ Gapapa Najas. Ayah maklum kenapa Kakakmu bersikap seperti ini. Maafkan Ayah ya Anak-anak. Ayah lalai menjaga dan melindungi Kalian. Ayah terlalu percaya padanya hingga Ayah mengabaikan rasa sakit yang ingin Kalian sampaikan dulu. Maaf...,” kata Gusman sambil menggenggam tangan Najas dan Salman bersamaan.


“ Terlambat Ayah. Apalagi Kakak juga sudah mati karena sikap keras kepala Ayah. Andai Ayah mau mendengar dan


percaya sama Kakak, mungkin saat ini Kakak masih hidup dan bisa melihat wanita itu membusuk di penjara...,” sahut Salman ketus.


“ Jaga bicaramu Salman. Bagaimana pun dia Ibumu...,” kata Gusman kesal.


“ Ibuku, tapi bukan Ibu Kak Marwah. Melihat sifat Kak Marwah Aku yakin jika Ibu kandung Kak Marwah pasti wanita yang hebat, lembut dan penuh kasih sayang. Tidak seperti dia ...,” sahut Salman sambil melengos.

__ADS_1


“ Apa maksudmu Kak. Ibu Mardiyah itu Ibu Kita bertiga, iya kan Yah...?” tanya Najas sambil menatap ayahnya.


Gusman nampak menundukkan wajahnya sebentar lalu menggelengkan kepalanya.


“ Ibu Marwah dan Ibu Kalian adalah orang yang berbeda. Mereka memang sedarah tapi mereka jauh berbeda...,” sahut Gusman lirih.


“ Maksud Ayah, Ayah menikahi Ibu Mardiyah yang juga saudari kandung Ibunya Kak Marwah...?” tanya Najas yang


diangguki Gusman.


“ Nama Ibu Marwah kandung adalah Neha, Kami saling mencintai dan menikah. Lalu lahir lah Marwah. Namun saat Marwah berumur dua tahun Neha sakit lalu meninggal dunia. Kemudian Kakak kandung Neha yang bernama Mardiyah datang dan menawarkan diri mengasuh Marwah. Lama kelamaan Aku pun menyukainya dan orangtua Kami menjodohkan Kami. Akhirnya Aku menikahi Mardiyah yang saat itu tengah hamil tiga bulan akibat dihamili kekasihnya yang tak bertanggung jawab. Tapi Aku tak mempermasalahkan hal itu dan menganggap Anaknya sebagai Anakku juga...,” kata Gusman.


“ Anak itu pasti Aku...,” kata Salman cepat.


“ Iya. Namun percaya lah, Aku menyayangimu dengan tulus  Nak. Hingga Najas lahir semua baik-baik saja. Tapi semua berubah saat Marwah mulai kuliah. Mardiyah mulai sering membandingkan Kalian dengan Marwah. Mardiyah menganggap jika Aku pilih kasih, padahal Aku tak pernah seperti itu. Ternyata itu hanya alasannya saja untuk menutupi perselingkuhannya dengan Malhaj. Setelahnya Kalian tau apa yang terjadi kan ?. Dia memang bukan Ibu yang baik, karena Ibu yang baik ga akan tega menyakiti  anak kandungnya hingga seperti ini...,” kata Gusman geram.


“ Sudah Ayah. Lupakan semuanya, Kami baik-baik aja kok. Iya kan Kak...,” kata Najas mencoba menghibur sang ayah sambil mengusap punggung Gusman dengan lembut.


“ Iya, mau gimana lagi...,” sahut Salman cuek.


“ Maaf...,” kata Gusman sekali lagi dengan lirih hingga mengetuk hati Salman yang keras bak batu itu.


“ Lupakan Ayah, itu bukan salahmu. Kami memaafkanmu...,” sahut Salman sambil memeluk Gusman erat.


Gusman pun tersenyum lalu membalas pelukan Salman. Najas menangis terharu menyaksikan ayah dan kakaknya saling memeluk.


“ Kau tetap Anakku, sampai kapan pun Kau tetap Anakku Nak. Camkan itu...,” bisik Gusman di telinga Salman.


“ Iya Ayah. Aku juga ga mau punya Ayah yang lain selain Ayah...,” sahut Salman sambil menangis.


Kini Gusman menyambut masa tuanya dengan optimis karena ia tak kehilangan Salman dan Najas. Bahkan ia bisa membayangkan masa tuanya yang bahagia bersama cucu yang akan dilahirkan Najas sebentar lagi.


\=====

__ADS_1


__ADS_2