Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
185. Reuni Di Penjara


__ADS_3

Di kantor polisi Bachir pun ditanyai banyak hal termasuk keterlibatannya dengan kasus kebakaran SPBU itu. jawaban Bachir yang berbeli-belit membuat polisi curiga dan mencecarnya dengan pertanyaan yang menjebak hingga tanpa sadar Bachir mengakui keterlibatannya dengan kejadian malam itu.


“ Kalo aja cewek itu ga nyoba nelephon nyari bantuan, mungkin Jerangkong ga akan masuk dan memakannya...,” kata Bachir.


“ Jadi Jerangkong memper*osa kasir itu...?” tanya polisi.


“ Saya ga tau pasti Pak. Tapi waktu ngeliat Jerangkong keluar dari mini market sambil benerin resleting celananya siapa pun bisa nebak apa yang udah dia lakuin kan apalagi sebelumnya terdengar jeritan perempuan dari dalam mini market...,” sahut Bachir santai.


“ Baik, terima kasih atas kerja samanya Pak Bachir...,” kata polisi.


“ Sama-sama Pak. Kalo gitu Saya udah boleh pulang kan...?” tanya Bachir sambil bangkit dari duduknya.


“ Boleh, tapi pulangnya ke penjara ya Pak bukan ke rumah...,” sahut polisi sambil meringkus Bachir lagi.


“ Eh, maksudnya gimana nih Pak. Saya ditangkap gitu, salah Saya apa...?” tanya Bachir tak terima.


“ Kok pake nanya. Salah Pak Bachir adalah terlibat dengan pembakaran SPBU itu hingga menyebabkan kematian dua karyawan SPBU dan satu orang karyawati mini market...,” sahut polisi kesal.


“ Darimana Kalian tau kalo Saya terlibat...?” tanya Bachir tak percaya.


“ Dari omongan Pak Bachir sendiri tadi. Pak Bachir menceritakan secara detail bagaimana Jerangkong keluar dari mini market termasuk menceritakan tentang apa yang dilakukan kasir itu sebelumnya. Hanya orang yang ada di TKP aja yang tau persis apa yang terjadi dan menceritakannya secara detail kronologi kejadian malam itu...,” sahut polisi sambil menatap tajam kearah Bachir.


“ Jadi Kalian membohongi Saya. Kalian bilang saya dibawa hanya untuk dimintai keterangan. Tapi buktinya saya malah ditahan kaya gini. Saya ga terima ya, Saya mau keluar. Heii..., keluarin Saya dari sini...!” kata Bachir marah.


“ Sssttt..., jangan berisik. Daripada Pak Bachir teriak-teriak ga jelas. Lebih baik Pak Bachir sebutin siapa aja yang terlibat dengan kejadian itu...,” kata polisi.


“ Saya ga tau apa-apa. Saya ga kenal siapa-siapa...!” sahut Bachir.


“ Oh gitu ya. Artinya Pak Bachir siap menanggung hukuman seorang diri sedangkan teman-teman Pak Bachir hidup bebas di luar sana bersama keluarganya masing-masing. Bawa dia, masukkan ke sel yang paling ujung...!” kata polisi itu pada rekannya.


“ Siap Pak...!” sahut kedua polisi yang meringkus Bachir.

__ADS_1


“ Biar dia tau rasa tinggal di sel yang paling ujung itu. Kan di sana ada tahanan yang bunuh diri, pasti rohnya masih penasaran dan gangguin siapa aja yang nempatin sel itu...,” kata polisi sambil tersenyum.


Mendengar ucapan polisi itu membuat Bachir menjerit ketakutan. Ia meronta dan minta agar tak dimasukkan ke dalam sel yang dimaksud.


“ Ampuunn..., jangan masukin Saya ke sana, Saya takut hantu...,” pinta Bachir.


“ Tapi hanya itu sel yang kosong, yang lainnya udah penuh. Para tahanan itu ga ada yang mau tinggal di sel ujung karena takut. Makanya mereka milih tinggal di sel lain biar pun berdesakan dan ga bisa tidur saking penuhnya. Kalo Pak Bachir tinggal di sel itu sendirian kan enak, lega, bisa tidur juga...,” sahut polisi menakut-nakuti Bachir.


“ Saya juga ga mau di sana, tolong lah...,” kata Bachir dengan wajah memelas.


“ Terus apa untungnya buat Polisi kalo Kami nurutin apa kemauan Pak Bachir...?” tanya polisi.


“ Sa, Saya bakal kasih tau siapa aja orang yang terlibat dalam peristiwa itu...,” kata Bachir gugup.


“ Semuanya...?” tanya polisi.


“ Semuanya...,” sahut Bachir cepat.


Bachir pun dibawa kembali ke ruang interogasi. Kemudian Bachir menyebutkan beberapa temannya yang ikut serta dalam peristiwa itu.


“ Dari delapan orang yang menyerang SPBU itu, Jerangkong, Bule dan Opoy udah mati Pak. Kalo yang lainnya ada yang sakit stroke, ada yang udah pindah keluar daerah juga...,” kata Bachir sambil menundukkan kepalanya.


Polisi pun mengangguk sambil mencatat keterangan Bachir. Tak lama kemudian Bachir pun dimasukkan ke dalam sel tahanan yang terletak di ujung. Bachir protes karena merasa tak sesuai dengan kesepakatan awal mereka tadi. Namun polisi punya seribu jawaban untuk mematahkan argumen Bachir hingga akhirnya Bachir hanya bisa terdiam pasrah.


\=====


Setelah Bachir tertangkap, polisi pun memburu sisa preman yang telah ikut aksi pembakaran SPBU itu. Seperti kata Bachir, diantara mereka ada yang sakit karena usia senja juga stroke dan yang lainnya ada yang telah hijrah jauh dari Jakarta hanya untuk melupakan peristiwa kelam yang selalu menghantui mereka. Namun akhirnya polisi berhasil meringkus tiga teman Bachir yang masih dalam kondisi sehat tanpa kesulitan sama sekali.


Rupanya para mantan preman itu telah menyesali perbuatannya dan bersedia menebusnya di penjara. Bachir pun kembali bertemu dengan teman-temannya itu yang memang sengaja dimasukkan di dalam sel yang sama oleh polisi.


Saat pertama kali bertemu Bachir nampak tertegun. Ia berdiri lalu memeluk ketiga temannya itu. Mereka berpelukan sambil menangis hingga membuat suasana dalam sel tahanan itu menjadi penuh air mata. Para tahanan yang berada di sel lain pun nampak menatap adegan mengharukan di depan mereka itu dengan mulut ternganga. Bagaimana tidak. Di dalam sel itu kini ada empat orang pria berusia senja tengah berdiri saling memeluk dan menangis.

__ADS_1


“ Kenapa mereka ya...?” tanya salah seorang tahanan.


“ Kayanya mereka teman lama yang sama-sama ketangkep...,” sahut tahanan lain.


“ Setua itu mereka masih harus mendekam di penjara, ga adil banget ya hukum itu...,” kata seorang tahanan sambil mencibir.


“ Kalo Kalian berpikir orang yang udah tua itu bebas dari hukum Kalian salah. Lalu gimana nasib para korban yang juga mungkin berusia lebih tua dari mereka tapi masih harus menanggung derita akibat perbuatan mereka. Makanya kalo sadar Kita bakal tua, ga usah bertingkah di saat usia masih muda. Lihat bagaimana mereka sekarang kan. Meski pun udah tua tapi harus tetap betanggung jawab sama perbuatannya di masa lalu. Itu baru namanya keadilan...,” sahut seorang polisi dengan tegas.


Para tahanan terdiam mendengar ucapan pedas polisi muda itu. sedangkan Bachir dan keempat temannya nampak mengurai pelukan lalu duduk di lantai sambil mulai berbincang mengenang perbuatan terkutuk mereka.


“ Kalo kaya gini namanya Kita reunian di penjara ya Hir...,” kata Melon sambil tersenyum kecut.


“ Iya Lon. Padahal selama ini ga ada yang berhasil nemuin Kita...,” sahut Bachir sedih.


“ Gapapa, Kita bisa  ngurangin dosa sebelum mati...,” kata teman Bachir yang dijuluki Popeye.


“ Maksud Lo apaan sih Pey...?” tanya Bachir tak mengerti.


“ Maksud Gue, kalo Kita udah bayar sebagian dosa Kita di dunia dengan mendekam di penjara sebagai hukuman, insya Allah pas mati nanti dosa Kita udah berkurang Hir...,” sahut Popeye.


“ Popeye bener. Kita udah tua, tinggal nunggu mati aja. Udah itu selesai...,” kata  teman lain yang biasa dipanggil Barong.


“ Jangan ngomongin mati Lah, kok Gue serem ya dengernya. Masih banyak yang mau Gue liat. Anak bungsu Gue belum nikah, Cucu Gue juga belum lahir. Masa Gue mati gitu aja di penjara ini...,” kata Bachir gusar.


“ Tapi mati kan emang udah takdir Hir...,” kata Popeye.


“ Iya Gue tau, tapi jangan bahas lagi lah. Kita di sini kan buat nebus semua dosa masa lalu Kita. Kalo bisa jalanin dengan happy biar ga terasa berat...,” pinta Bachir.


“ Ok, Gue setuju...,” sahut ketiga teman Bachir bersamaan.


Bachir pun tersenyum dan nampak lebih siap menghadapi hukuman penjara yang harus dijalani bersama ketiga temannya itu kelak.

__ADS_1


\=====


__ADS_2