
Hanako mencoba membantu Warti duduk di kursi lalu menyerahkan sebotol air mineral yang ia bawa kepada Warti. Semula Warti menolak meminum air itu karena khawatir jika ia akan melihat kenyataan yang lebih menyakitkan lagi nanti. Rupanya Warti tahu jika Faiq dan Hanako memiliki ‘kelebihan’ untuk melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang awam seperti dirinya.
“ Minum dulu Bu...,” kata Hanako lembut.
“ Ini air apa Hana...?” tanya Warti.
“ Ini air mineral biasa yang udah diruqyah Bu...,” sahut Hanako dengan sabar.
“ Air yang diruqyah, bukannya itu air yang diminum sama orang yang kesurupan ya...?” tanya Warti lagi.
Hanako tertawa mendengar pertanyaan Warti sedangkan Faiq nampak tersenyum.
“ Air ruqyah adalah air yang udah dibacain ayat suci Al Qur’an, dzikir dan doa Bu Warti. Tujuannya untuk menenangkan hati sekaligus menetralisir pengaruh buruk dari jin jahat yang mengganggu manusia. Insya Allah setelah minum air ini Bu Warti bisa lebih tenang...,” kata Faiq menjelaskan.
“ Oh gitu. Kalo supaya hati tenang aja sih Saya mau Pak. Sini, Saya minum airnya sekarang...,” pinta Warti sambil menadahkan tangannya.
Hanako menyodorkan botol berisi air mineral yan telah ia buka tutupnya itu. Warti langsung meraih botol dan meneguk isinya hingga tandas seolah sangat haus dan sudah lama tak pernah minum air.
Hanako dan Faiq saling menatap sejenak lalu menganggukkan kepala. Kemudian mereka menatap Warti yang baru saja selesai minum dan sedang bersandar di kursi seolah sangat kelelahan.
“ Cukup untuk hari ini Ci...,” bisik Faiq.
“ Iya Pa...,” sahut Hanako sambil mengangguk.
Tiba-tiba di ambang pintu telah berdiri seorang remaja pria yang tak lain adalah anak Warti yang bernama Wawan. Ia nampak menatap tajam kearah Faiq dan Hanako lalu terkejut saat melihat ibunya yang terlihat dalam kondisi terduduk lemah di kursi.
“ Ada apa ini, kenapa Ibu Saya. Apa yang Kalian lakukan sama Ibu Saya...?” tanya Wawan sambil menghambur kearah Warti.
“ Ibu gapapa Wan...,” sahut Warti menenangkan Wawan.
“ Ibu ga usah bohong. Aku ga pernah liat Ibu kaya gini. Jangan takut Bu, bilang aja apa yang mereka lakukan biar Aku kasih pelajaran mereka...!” kata Wawan marah.
“ Ibu gapapa Wawan, mereka ini lagi bantuin Ibu...,” sahut Warti mulai kesal.
“ Bantuin apa Bu...?” tanya Wawan sambil menatap Faiq dan Hanako bergantian.
“ Biar Saya jelaskan. Perkenalkan Saya Faiq dan ini Anak Saya Hanako. Kami datang ke sini karena ingin membantu Bu Warti lepas dari pengaruh ilmu hitam yang selama ini mengikutinya...,” kata Faiq.
“ Ilmu hitam apa, kok Saya baru tau...?” tanya Wawan bingung.
“ Makanya jangan emosi dulu Wan. Dengarkan Pak Faiq ngomong sampe selesai jangan dipotong di tengah jalan kaya gitu. Sini duduk dan dengerin...,” kata Warti sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.
“ Iya Bu...,” sahut Wawan lalu duduk di samping ibunya.
Kemudian Faiq mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Wawan nampak menyimak ucapan Faiq lalu menghela nafas panjang.
“ Sebenernya Saya udah tau kalo ada yang ga beres sama Saya dan Ibu Saya Om...,” kata Wawan.
“ Kamu udah tau tapi kok ga bilang sama Ibu...?” tanya Warti.
“ Aku udah pernah bilang, tapi Ibu malah marah-marah. Makanya daripada ribut lebih baik Aku diem aja sambil nyari orang yang bisa bantuin Kita keluar dari masalah ini. Bersyukur Om Faiq dan anaknya mau bantu Kita jadi Aku ga perlu bingung lagi kan...,” sahut Wawan sambil menatap ibunya.
“ Sejak kapan Kamu tau...?” tanya Warti.
__ADS_1
“ Sejak minggu lalu. Ibu ingat kan waktu ada tukang pigura lewat di jalan depan sana...?” tanya Wawan.
“ Iya, kenapa emangnya...?” tanya Warti tak mengerti.
“ Tukang pigura itu jual bermacam-macam pigura berbagai ukuran. Ada juga cermin yang dipigurain yang udah jadi dan siap pakai. Nah waktu itu cermin-cermin itu pas menghadap ke rumah Kita Bu. Ga sengaja Aku liat pantulan rumah Kita di cermin itu. Aku kaget dan hampir ga percaya, terus Aku coba deketin cermin-cermin itu untuk mastiin kalo yang Aku liat itu salah. Aku cek dari satu cermin ke cermin lainnya. Ternyata rumah Kita tuh jelek Bu, bukan
rumah mewah yang selalu Ibu banggain. Dan di cermin itu Aku juga terlihat kurus, pucat dan pakaianku lusuh Bu...,” kata Wawan sambil menundukkan kepalanya.
Warti tertegun mendengar penjelasan anaknya. Tanpa ia sadari air mata mengalir di pipinya. Warti menangis terisak karena merasa dibodohi oleh cermin yang ada di rumahnya. Wawan memeluk sang ibu dengan erat untuk menenangkannya.
“ Ehm, maaf sebelumnya. Emangnya Kalian dapat cermin itu darimana...?” tanya Faiq hati-hati.
“ Ibu nemu cermin itu waktu Kami lagi mulung di tempat sampah Om...,” sahut Wawan jujur.
“ Di tempat sampah...?” tanya Faiq tak percaya karena cermin itu terlihat masih dalam kondisi baik.
“ Iya Om. Padahal banyak pemulung lain yang juga udah ngeliat cermin itu, tapi ga ada yang berminat buat ngambil cermin itu Om. Saya juga ga tau kenapa...,” sahut Wawan lagi.
“ Terus Saya tanya sama mereka, apa ga ada yang mau bawa cermin itu dan mereka bilang ga mau. Karena ga ada yang mau akhirnya Saya bawa pulang, lumayan kan buat ngaca di rumah...,” kata Warti menambahkan.
Hanako yang mendengarkan percakapan Faiq dengan Wawan dan Warti pun tak sengaja menoleh kearah cermin yang dimaksud. Kedua mata Hanako membulat saat melihat sosok hitam tengah berdiri dan menatap marah kearah
mereka.
“ Papa...,” panggil Hanako dengan suara bergetar.
“ Iya Nak...,” sahut Faiq lalu mengikuti arah pandang Hanako dan melihat sekelebat bayangan hitam nampak melintas di dalam cermin itu.
Faiq segera berdiri lalu melangkah cepat kearah cermin. Warti dan Wawan membiarkan Faiq mendekati cermin itu. Faiq berhenti tepat di depan cermin besar berbingkai hitam itu lalu menempelkan telapak tangannya di cermin itu.
Namun Faiq tak bisa melanjutkan penelusurannya karena merasa kurang nyaman hingga sulit berkonsentrasi. Faiq menoleh kearah Warti dan minta ijin untuk membawa cermin itu.
“ Apa Saya boleh bawa cermin ini...?” tanya Faiq ragu.
“ Bawa aja Pak, musnahin sekalian kalo perlu. Sejak ada cermin itu Saya sering mendengar suara aneh tiap kali sendirian di rumah. Sekarang setelah tau kalo Saya ditipu sama cermin itu, Saya malah mikir kalo suara aneh yang Saya dengar berasal dari cermin itu Pak...,” sahut Warti.
“ Bu Warti benar. Saya akan meruqyah cermin ini dulu. Insya Allah kalo udah selesai, Saya bakal jemput Bu Warti dan Wawan untuk ikut diruqyah juga. Gimana Bu...?” tanya Faiq.
“ Iya Pak, Saya mau diruqyah...,” sahut Warti antusias dan diangguki Wawan.
“ Kalo gitu Saya bawa cermin ini ya. Ci, tolong ambil selimut yang ada di bagasi ya Nak...,” pinta Faiq.
“ Siap Pa...,” sahut Hanako yang keluar dari rumah didampingi Wawan.
Tak lama kemudian Hanako dan Wawan kembali dengan membawa sehelai selimut besar yang digunakan untuk membungkus cermin. Setelah itu Faiq dan Hanako pamit dengan membawa cermin besar itu.
Setelah cermin dibawa pergi, suasana di dalam rumah warti pun sedikit berbeda. Aura lembab yang biasa menguar dari dalam rumah pun memudar dan hal itu dirasakan oleh Warti dan anaknya.
\=====
Faiq membawa cermin itu ke rumah Darius. Di sana ia langsung menceritakan semuanya kepada Fatur dan Darius. Saat melihat cermin itu pertama kali Darius seperti dejavu karena merasa pernah memiliki cermin serupa di masa lalu.
“ Opa kayanya kenal sama cermin ini...,” kata Darius sambil mengamati cermin yang diletakkan di teras rumahnya itu.
__ADS_1
“ Maksud Opa...?” tanya Faiq tak mengerti.
“ Dulu saat Oma kandungmu masih hidup Kami pernah punya cermin kaya gini, mirip banget...,” kata Darius sambil mengusap cermin itu perlahan.
“ Oh ya, kalo boleh tau Oma beli cermin itu dimana Pa...?” tanya Faiq.
“ Kalo ga salah itu hadiah dari temannya yang sakit. Sebelum meninggal teman Oma Kamu menghadiahi cermin itu untuk Kami sebagai kenang-kenangan karena dia merasa jika umurnya ga lama lagi. Ternyata sehari setelah cermin itu dikasih ke Oma, temannya Oma langsung meninggal...,” sahut Darius.
“ Terus Oma sendiri gimana, apa yang terjadi sama Oma...?” tanya Faiq penasaran.
“ Dua minggu setelah temannya meninggal, Oma Kamu juga mulai sakit-sakitan. Dalam sakitnya dia bilang kalo sering dengar suara aneh. Waktu itu Opa hanya mengira dia kelelahan karena harus mengurus Anak kembar Kami
yaitu Mama Kamu dan Om Fajar. Tapi ternyata Opa salah. Waktu Opa menyadari ada yang salah sama cermin itu, Oma Kamu udah sekarat. Opa bawa Oma ke Rumah Sakit dan dirawat beberapa jam lalu meninggal. Oma Kamu hanya pesan supaya cermin itu dihancurkan karena berbahaya untuk Opa dan si kembar. Setelah mengurus pemakaman Oma Kamu, Opa langsung membakarnya sampe hancur berkeping-keping. Opa pikir cermin itu hancur, tapi saat ngeliat cermin ini kok Opa merasa kalo cermin ini sangat mirip sama cermin yang Opa hancurin waktu itu...,” kata Darius panjang lebar.
“ Apa Papa ga konsultasi dulu sama Kyai Syakir sebelum membakar cermin itu Pa...?” tanya Fatur.
“ Waktu itu Papa ga kepikiran buat nanyain hal itu sama Kyai Syakir. Apalagi dulu Kyai Syakir sibuk dan sering pergi ke beberapa provinsi bahkan keluar negeri untuk berdakwah. Papa baru ceritain setelah dua bulan kematian Mama tirimu itu Nak. Kyai Syakir bilang ada sesuatu yang jahat dalam cermin itu. Papa ga tau apa maksudnya karena Papa pikir saat itu yang penting cermin pembawa petaka itu udah Papa hancurin...,” sahut Darius.
“ Apa almarhum Kyai Syakir bilang kalo cermin ini bisa utuh lagi meski pun udah dihancurkan berkali-kali Pa...?” tanya Faiq.
“ Iya...,” sahut Darius.
“ Kalo gitu ini adalah cermin yang sama yang pernah Oma miliki Pa. Dan Kita harus menghancurkan cermin ini segera supaya ga memakan banyak korban lagi...,” kata Faiq hingga membuat Darius terkejut.
Darius kembali teringat pada saat kebersamaannya dengan istri pertamanya dulu. Darius ingat saat menemukan istrinya terbaring lemah dan pucat di lantai ruang tamu. Sedangkan si kembar nampak bermain di karpet tak jauh dari tubuh istrinya itu.
“ Kamu kenapa Sayang, apa yang terjadi...?” tanya Darius.
“ Aku gapapa, hanya kecapean aja...,” sahut istri Darius.
“ Kita harus ke Rumah Sakit ya. Aku khawatir kalo Kamu ngidap penyakit serius. Kalo ga cepat terdeteksi bisa membahayakan Kamu lho Ma...,” kata Darius.
“ Aku tadi jatuh karena dengar suara aneh di ruang tengah, ga tau suara apa. Tapi serem banget. Terus Aku lari ketakutan. Karena ga hati-hati aku kepeleset dan jatuh...,” sahut istri Darius.
“ Suara aneh, ntar Aku cek deh. Sekarang Kita ke Rumah Sakit dulu ya...,” kata Darius sambil menggendong istrinya.
“ Anak-anak gimana Pa...?” tanya istri Darius.
“ Anak-anak biar sama orangtuaku. Udah tenang aja, sekarang yang penting ngobatin penyakit Kamu dulu...,” sahut Darius.
“ Aku mau cium Anak-anak dulu Pa. Siapa tau Aku bakal lama di Rumah Sakit atau malah ga bakal balik lagi nanti...,” kata istri Darius sambil menciumi Farah dan Fajar bergantian.
“ Ck, jangan ngomong kaya gitu Ma. Insya Allah Kamu bakal sehat dan bisa kumpul lagi sama Aku dan Anak-anak...,” sahut Darius kesal.
Namun rupanya firasat sang istri menjadi kenyataan. Beberapa jam kemudian istri Darius meninggal dunia di Rumah Sakit. Diagnosa dokter saat itu adalah kehabisan darah akut.
Darius mengusap wajahnya dengan gelisah saat mengingat kenangan pahit yang merenggut nyawa istrinya itu. Faiq dan Fatur langsung memeluk Darius dengan erat dan berusaha menghiburnya.
“ Insya Allah Kita bakal cari cara menghancurkan iblis dalam cermin itu Pa. Papa tenang aja ya...,” bisik Fatur sambil mengusap punggung Darius.
“ Iya Nak, tolong cari dan hancurkan iblis itu. Papa ga mau ada korban lain setelah ini...,” sahut Darius dengan suara bergetar.
Fatur dan Faiq mengangguk dan berjanji dalam hati untuk menuruti permintaan Darius juga menghentikan terror cermin maut itu agar tak membahayakan orang lain.
__ADS_1
Bersambung