Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
330. Direnovasi Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya Iyaz dan Nuara pun pamit untuk kembali ke rumah mereka. Keduanya nampak bahagia karena


bisa berkumpul lagi. Erik, Farah, Faiq dan Shera nampak tersenyum melihat tingkah keduanya. Sedangkan Izar hanya melengos melihat tingkah Iyaz yang menurutnya bucin akut itu.


“ Aku pulang dulu ya Zar...,” kata Iyaz sambil menepuk pundak kembarannya itu.


“ Iya...,” sahut Izar cepat.


“ Ga ada pelukan hangat nih buat Aku...,” goda Iyaz sambil memiringkan kepalanya.


“ Apaan sih Kamu. Nuara, bawa Suami sablengmu ini pulang dan kunci dia di lemari supaya ga gangguin Aku terus...,” kata Izar kesal hingga membuat semua tertawa.


“ Siap...,” sahut Nuara sambil tersenyum lalu menggamit lengan Iyaz dan membawanya menjauh.


“ Jangan kangen sama Aku ya Yaz...!” kata Izar lantang sambil melangkah keluar rumah.


Gantian Iyaz yang mendelik kesal mendengar ucapan Izar sedangkan yang lain tertawa melihat tingkah keduanya.


\=====


Rutinitas keluarga Faiq kembali berjalan normal. Erik dan Farah tetap tinggal di rumah bersama Shera. Sedangkan Izar dan Faiq bekerja seperti biasa.


Sementara itu usia Paundra memasuki bulan ke tiga, ia tumbuh sehat dan menggemaskan. Melihat tumbuh kembang Paundra membuat Hanako memberanikan diri meminta ijin pada suaminya untuk kembali bekerja.


“ Umur Paundra udah tiga bulan lho Sayang, apa Aku boleh balik kerja lagi di perusahaan Opa...?” tanya Hanako usai menidurkan Paundra.


“ Kalo Kamu kerja, Paundra sama siapa ?. Kan Kamu selalu bilang mau ngawasin perkembangan Paundra 24 jam...,” sahut Pandu sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


“ Kalo Kamu ijinin, Aku bakal bawa Paundra kerja juga Mas...,” kata Hanako cepat.


“ Terus Paundra mau Kamu taro dimana...?” tanya Pandu tak mengerti.


“ Kan di perusahaan Aku punya ruangan sendiri Mas. Aku masih bisa ngawasin Paundra sekaligus menyusui dia di ruangan Aku. Gimana Mas...?” tanya Hanako.

__ADS_1


“ Apa malah ga ganggu konsentrasi Kamu nanti. Apalagi jabatanmu kan Manager Keuangan yang harus teliti dan butuh suasana tenang. Terus kalo suatu waktu Paundra nangis dan saat itu Kamu juga dikejar dead line, apa bisa Kamu nanganin dua hal berbeda dalam satu waktu Sayang...?” tanya Pandu hingga membuat Hanako terdiam sesaat.


“ Iya juga sih. Tapi Aku ga enak kelamaan libur Mas. Atau jangan-jangan Kamu ngelarang Aku bantuin Opa di perusahaannya ya Mas...?” tanya Hanako sambil menatap curiga kearah Pandu.


Mendengar ucapan istrinya membuat Pandu tersenyum. Ia menarik Hanako ke dalam pelukannya lalu mengecup kepala istrinya itu dengan sayang.


“ Aku ga pernah kepikiran buat ngelarang Kamu kerja lho Sayang. Malah sejak Paundra umur empat puluh hari Aku udah siap kalo Kamu mau balik ke kantor lagi. Cuma sekarang kan statusmu nambah nih, bukan hanya istri tapi juga Ibu. Apa kamu sanggup menjalani semuanya sekaligus ?. Jadi Istri, Ibu plus karyawan di waktu bersamaan. Aku hanya ga mau Kamu tertekan menjalani semuanya terus Kamu sakit deh...,” kata Pandu memberi pengertian.


Hanako tersenyum dalam pelukan suaminya. Kemudian ia mendongak menatap wajah suaminya itu.


“ Tolong kasih Aku kesempatan buat buktiin kalo Aku bisa jalanin semuanya ya Mas. Mungkin agak sulit awalnya dan Aku minta pengertian Kamu nanti. Kalo Aku merasa ga sanggup, Aku pasti bilang sama Kamu. Aku juga bakal bilang sama Opa biar Aku bisa kerjain semuanya dari rumah aja walau sekali waktu harus tetap ke kantor dan menemui klien di luar. Gimana Mas...?” tanya Hanako penuh harap.


“ Ok...,” sahut Pandu sambil tersenyum.


“ Makasih ya Sayang...,” kata Hanako sambil mencium pipi Pandu.


“ Sama-sama Sayang. Sebaiknya Kamu temuin Opa besok, sekalian minta ijin bawa Paundra ke kantor...,” saran Pandu.


“ Iya Mas, insya Allah Aku tanya sama Opa besok. Sekarang Kita tidur yuk...,” ajak Hanako sambil bersandar manja pada suaminya.


\=====


Siang itu Hanako berniat mengunjungi sang opa di rumahnya. Hanako memutuskan memesan Taxi online untuk mengantarnya ke sana. Setelah menyiapkan perlengkapan Paundra, Hanako pun duduk menunggu Taxi online yang dipesannya di teras rumah.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah. Supir mobil turun lalu menyapa Hanako.


“ Assalamualaikum, dengan Bu Hanako ya...?” tanya sang supir.


“ Wa alaikumsalam, betul Pak. Ini Pak Rahmat ya...?” tanya Hanako sambil mencocokkan foto di id card sang supir dengan yang tertera di aplikasi.


“ Betul Bu...,” sahut Rahmat senang.


“ Ok, tolong bantu Saya bawa tas ini ya Pak...,” pinta Hanako.

__ADS_1


“ Baik Bu...,” sahut Rahmat lalu bergegas memasukkan tas berisi perlengkapan bayi ke dalam mobil.


Setelah Hanako duduk manis di dalam mobil, Rahmat melajukan mobil perlahan. Hanako nampak menatap rumah-rumah yang ia lewati di sepanjang jalan menuju keluar dari perumahan yang ia tempati.


Saat melihat sebuah rumah yang tengah dibangun Hanako nampak mengerutkan keningnya karena bingung.


“ Rumah udah bagus gitu dibongkar lagi. Sayang banget ya. Emangnya mau bikin apaan lagi sih di rumah itu...,” gumam Hanako yang masih bisa didengar oleh Rahmat.


“ Oh rumah itu mah udah sering direnovasi Bu...,” kata Rahmat.


“ Masa sih, kok Pak Rahmat tau...?” tanya Hanako.


“ Walau Saya ga tinggal di sini, tapi beberapa kali Saya nganter penumpang ke daerah sini Bu. Jadi Saya tau betul kalo rumah itu ga pernah selesai dibangun. Setiap Saya lewat sini, pasti ada aja yang lagi dikerjain. Entah ganti plafond, bikin gazebo, mengecat dinding dan masih banyak lagi...,” sahut Rahmat hingga membuat Hanako terkejut.


“ Sesering itu Pak...?” tanya Hanako tak percaya.


“ Iya Bu. Emangnya Ibu ga tau, kan letaknya ga terlalu jauh dari rumah Ibu tadi...,” sahut Rahmat heran.


“ Saya emang ga tau apa-apa Pak. Maklum lah punya bayi ga sempet kemana-mana selain sama Suami. Itu juga Kami baru bisa keluar saat sore hari nunggu Suami Saya pulang kerja dulu...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Oh gitu Bu...,” kata Rahmat ikut tersenyum.


“ Apa pemiliknya kebanyakan uang ya jadi ngabisin uangnya dengan cara kaya gitu...?” tanya Hanako hingga membuat Rahma t tertawa.


“ Mungkin juga Bu. Tapi kelakuan orang kaya tuh emang unik ya Bu. Kebanyakan uang justru bingung ngabisinnya gimana. Beda sama orang kecil kaya Saya yang setengah mati nyari uang...,” kata Rahmat di sela tawanya.


“ Betul Pak...,” sahut Hanako ikut tertawa sambil mengamati rumah yang sedang direnovasi itu.


Saat mobil melintas persis di depan pintu gerbang yang terbuka, terlihat kondisi rumah yang tak beraturan seperti susunan lego warna-warni. Lagi-lagi itu membuat Hanako terkejut dan menganga tak percaya.


“ Mereka merenovasi rumah itu juga tanpa konsep Pak. Liat deh, berantakan banget kan. Mirip mainan susun anak-anak yang namanya lego itu lho Pak. Jangan-jangan mereka ga tau fungsi bangunan yang akan mereka buat nanti...,” kata Hanako.


“ Iya Bu...,” sahut Rahmat sambil ikut mengamati rumah itu.

__ADS_1


Saat itu lah Hanako melihat sosok penampakan hantu berdiri dibagian samping rumah yang sedang direnovasi itu. Tak menakutkan namun membuat Hanako enggan untuk menoleh karena khawatir akan mempengaruhi bayinya.


\=====


__ADS_2