Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
196. Pergi Lah Sayang


__ADS_3

Jawaban sang dukun mengejutkan semua orang apalagi Sydra, Iyaz dan pak Maher. Sementara itu dokter Anisa nampak berusaha melepaskan kakinya dari cekalan pria yang telah diisi arwah Harlan itu.


“ Lepaskan Aku...!” bentak dokter Anisa marah.


“ Kenapa Sayang, kenapa Kamu seperti ini. Bukan kah Kamu yang ingin Aku tetap berada di sini. Tapi kenapa setelah semuanya terwujud Kamu malah ingin meninggalkan Aku...?” tanya pria bersuara Harlan dengan mimik sedih.


“ Aku tak menginginkanmu. Kau bukan Harlan, Harlan sudah mati...!” jerit dokter Anisa histeris.


Mendengar ucapan dokter Anisa membuat sang dukun menoleh kearahnya. Ia merasa jika dokter Anisa bermaksud mengalihkan semua padanya. Karena tak mau menanggung kesalahan itu seorang diri, sang dukun pun bergerak mendekat kearah dokter Anisa. Kemudian sang dukun mencekal tangan dokter Anisa dan menghentaknya dengan keras hingga dokter Anisa menjerit. Namun hentakan itu berhasil melepaskan cekalan tangan pria bersuara Harlan pada kaki dokter Anisa.


Setelahnya sang dukun yang merasa terdesak itu menyandera dokter Anisa. Ia menempelkan sebuah pisau ke leher dokter Anisa hingga membuat sang dokter kembali menjerit.


Pak Maher pun mendekat kearah sang dukun sambil menatapnya tajam. Sang dukun nampak gentar saat pak Maher mengulurkan tangannya dan meminta pisau yang ada dalam genggamannya.


“ Kemarikan pisau itu...,” kata pak Maher sambil mengulurkan tangannya.


Seperti terhipnotis dengan suara dan tatapan pak Maher, sang dukun pun menyerahkan begitu saja pisau yang ia gunakan untuk mengancam dokter Anisa.


“ Sekarang lepaskan gadis itu...,” kata pak Maher lagi sambil menyimpan pisau sang dukun di balik pakaiannya.


Sama seperti sebelumnya. Sang dukun pun menuruti permintaan pak Maher dengan sukarela. Setelah berhasil lepas dari sang dukun, dokter Anisa pun menjauh dengan wajah memucat karena shock usai diancam pisau tadi.


Kini sang dukun berdiri tegak di hadapan pak Maher, tanpa senjata dan dalam keadaan setengah linglung. Pak Maher menoleh pada Iyaz dan meminta Iyaz meringkus sang dukun. Dengan mudah Iyaz meringkus sang dukun dan mengikatnya erat. Lalu kelima orang lainnya segera membawa sang dukun menepi dari tengah ruangan.


Sementara itu pria bersuara Harlan nampak berusaha bangkit dan berdiri. Gerakannya kaku mirip seperti mayat


hidup. Kedua matanya menatap tajam ke sekelilingnya seolah sedang mencari celah untuk lari. Dan tatapannya membentur sosok dokter Anisa yang berdiri gemetar di salah satu sudut ruangan. Melihat hal itu pak Maher dan Iyaz mengerti jika dokter Anisa adalah sasaran berikutnya.


Pak Maher dan Iyaz bergerak cepat menghadang langkah pria bersuara Harlan itu hingga membuat pria itu marah.

__ADS_1


Sedangkan dokter Anisa nampak makin ketakutan melihat sorot mata pria bersuara Harlan itu.


“ Gimana dok, apa dia mirip dengan Harlan...?” tanya Iyaz sambil menoleh kearah dokter Anisa.


“ Dia..., dia bukan Harlan. Aku tak kenal dia. Harlanku tak seperti dia, Harlanku adalah pria yang lembut dan sangat menyayangiku...,” sahut dokter Anisa sambil menitikkan air mata.


“ Jadi apa Kau rela jika Kami mengembalikan dia ke tempat seharusnya...?” tanya Iyaz.


“ Iya. Tolong kembalikan dia ke tempat seharusnya...,” sahut dokter Anisa mantap.


Pak Maher dan Iyaz tersenyum mendengar jawaban dokter Anisa. Lalu keduanya mendekati tubuh pria bersuara Harlan yang nampak masih berdiri kaku sambil menatap dokter Anisa itu. Pak Maher mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah pria itu sedangkan Iyaz menyambut tubuh pria itu yang luruh tiba-tiba usai wajahnya disentuh oleh pak Maher.


Sydra pun sigap membantu menopang tubuh pria itu lalu bersama Iyaz dan pak Maher membaringkan pria itu di lantai. Kemudian pak Maher dan Iyaz bersama Sydra dan lima pria yang datang bersamanya mulai membaca beberapa ayat Al Qur’an dan berdzikir.


Keanehan pun terjadi. Tiba-tiba bau busuk menyeruak di dalam ruangan itu hingga membuat Sydra dan empat orang lainnya menutup hidung. Karena bau busuk yang menguar makin pekat membuat mereka lari keluar ruangan dan muntah hebat di sana. sementara itu dokter Anisa, pak Maher, Iyaz dan sang dukun masih bertahan di dalam ruangan itu.


Dokter Anisa memang telah terbiasa dengan bau semacam itu karena profesinya menuntutnya untuk berinteraksi dengan berbagai jenis luka juga mayat.


Namun saat pengaruh mantra itu hilang, yang terjadi adalah justru sebaliknya. Proses pembusukan berlangsung lebih cepat dan dalam sekejap saja bau busuk menguar memenuhi ruangan itu.


Tubuh pria bersuara Harlan itu nampak bergerak-gerak dan itu membuat dokter Anisa takut. Ia tak bisa membayangkan jika tubuh pria yang telah membusuk itu hidup dan berjalan ke sana kemari mengikutinya.


“ Bukankah itu lebih mirip zombie, persis kaya di film-film itu....” batin dokter Anisa sambil bergidik ngeri.


Sedangkan sang dukun yang berdiri di sudut ruangan dalam kondisi terikat nampak tersenyum licik saat menyaksikan ‘hasil karyanya’ itu bergerak. Dia membayangkan tubuh pria bersuara Harlan itu mengamuk dan merepotkan dua orang pria di hadapannya itu.


Di ambang pintu Sydra dan yang lainnya nampak berdiri sambil menatap ngeri kearah pria bersuara Harlan itu.


“ Dia bergerak...,” kata salah seorang pria yang bernama Sydra.

__ADS_1


“ Wah gawat dong kalo dia sampe hidup. Itu Zombie namanya bukan manusia...,” kata yang lainnya.


Semua menahan nafas saat melihat pria itu membuka mata. Kemudian pria itu duduk. Saat ia bangkit terlihat seluruh permukaan kulitnya nampak berlendir dengan gelembung-gelembung aneh yang siap pecah kapan pun.


“ Anisa..., Anisa...,” kata pria itu sambil menunjuk Anisa.


“ Katakan sesuatu dok...!” pinta Iyaz.


“ Aku harus ngomong apa...?” tanya dokter Anisa panik.


“ Katakan bahwa Kau merelakannya pergi. Cepat lah...,” sahut Iyaz tak sabar.


“ Baik. A..., Aku su..., sudah mengikhlaskanmu Sa..., Sayang. Pergi..., pergi lah...,” kata dokter Anisa terbata-bata sambil menatap pria bersuara Harlan.


“ Kau..., tapi kenapa...?” tanya pria itu.


“ Takdir Allah untuk Kita hanya sampe sini Harlan. Maafkan Aku yang selama ini belum bisa melepas kepergianmu. Tapi Aku sadar jika takdir Allah adalah yang terbaik. Maafkan Aku Harlan...,” sahut dokter Anisa dengan air mata berderai membasahi wajahnya.


Mendengar ucapan dokter Anisa membuat pria itu tertegun sejenak lalu memejamkan matanya. Ia mengangguk lalu tersenyum.


“ Baik lah. Aku pergi Sayang, jaga dirimu baik-baik. Aku bahagia pernah mencintaimu...,” kata pria bersuara Harlan itu lalu kembali terlentang di lantai.


Sesaat kemudian asap tipis berwarna putih nampak keluar dari jasad pria itu. Asap itu berputar di dalam ruangan dan berhenti sejenak di hadapan dokter Anisa lalu melesat dengan cepat menuju keluar dan menghilang begitu saja. Melihat hal itu membuat sang dukun menjerit keras sedangkan dokter Anisa jatuh terduduk sambil terisak.


“ Alhamdulillah..., dia sudah pergi...,” kata Iyaz.


“ Betul Nak...,” sahut pak Maher sambil tersenyum.


Suasana di dalam ruangan nampak mencekam saat jasad pria itu mulai meleleh perlahan seperti terkena cairan

__ADS_1


kimia. Letupan-letupan terdengar hingga membuat siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri. Setelah jasad itu meleleh menjadi cairan lalu perlahan meresap ke dalam lantai dan lenyap tanpa sisa.


\=====


__ADS_2