
Tak lama kemudian seorang pelayan rumah makan mendatangi Izar dan Usep. Setelah memesan makanan untuk mereka, Izar pun menoleh kearah Qiana yang duduk di sampingnya.
“ Gimana keadaan Kamu setelah tertimpa papan itu Qi...?” tanya Izar.
“ Alhamdulillah udah gapapa Pak. Lukanya juga udah sembuh, kan cuma lecet sama memar aja sedikit...,” sahut Qiana sambil tersenyum.
Dalam hati Qiana heran karena sikap Izar kali ini sedikit melunak padanya. Namun Qiana teringat sikap Izar
yang memang ‘ga stabil’ jika berhadapan dengannya. Jadi Qiana tak terlalu berharap banyak karena mengira sikap baik Izar disebabkan mereka tak hanya berdua saat itu. Ada Nita, Desi dan Usep di sana.
“ Syukur lah...,” kata Izar sambil tersenyum.
Senyum yang membuat Qiana, Nita dan Desi terpana sesaat. Namun Qiana sedikit kesal saat melihat kedua temannya terpaku menatap Izar. Dengan ujung sepatunya Qiana menyadarkan Nita dan Desi yang duduk di hadapannya hingga membuat keduanya menoleh kearah Qiana.
“ Apaan Qi...?” tanya Desi.
“ Makanannya udah dikerubungi lalat tuh...,” sahut Qiana asal.
“ What, masa sih ?. Iihhh..., jorok banget. Kalo gitu Aku pesen menu lainnya aja deh...,” kata Desi sambil
bergidik.
“ Qiana cuma asal ngomong aja kok Des. Mana ada lalat di sini. Jangan ngaco deh...,” sahut Nita sambil mencibir.
“ Oh iya, mustahil banget ya. Qiana, jangan bikin ilfeel ya...,” kata Desi sambil memukul lengan Qiana dengan
sendok yang dipegangnya hingga membuat bumbu masakan yang ada di ujung sendok menempel di lengan baju Qiana.
“ Desi jorok banget sih. Kotor nih...!” kata Qiana lantang sambil meraih tissu dari tengah meja.
“ Rasain, makanya jangan iseng...,” sahut Desi cuek.
“ Udah Qi makan dulu. Bersihinnya ntar aja di kantor...,” saran Nita.
“ Iya deh...,” sahut Qiana sambil menatap kesal kearah Desi.
Melihat tingkah ketiga gadis di hadapannya membuat Izar dan Usep tertawa. Qiana dan kedua temannya pun ikut
tertawa sambil melanjutkan makan siang mereka.
“ Kok Kita bisa ketemu di sini ya. Emangnya Pak Izar mau kemana...?” tanya Desi basa-basi.
“ Mau ngeliat proyek. Karena lapar, mampir ke sini. Eh ga taunya penuh banget. Untung Kalian ijinin buat
gabung jadi Kami bisa makan sekarang. Iya kan Pak Usep...,” sahut Izar sambil menoleh kearah Usep.
__ADS_1
“ Betul Mas...,” sahut Usep.
Tak lama kemudian pesanan Izar dan Usep pun tiba. Lalu keduanya menyantap makanan itu dengan lahap. Qiana yang merasa tak nyaman dengan lengan bajunya yang kotor pun pamit untuk pergi ke toilet.
“ Aku ke toilet sebentar ya, mau bersihin ini dulu...,” kata Qiana sambil memperlihatkan lengan bajunya yang kotor.
“ Ok, jangan lama-lama ya Qi...,” pesan Nita.
“ Kalo ada apa-apa cepet telephon Qi...,” kata Desi di suapan terakhirnya.
“ Iya...,” sahut Qiana sambil berlalu.
Mendengar ucapan Nita dan Desi yang ditujukan kepada Qiana justru memancing keingin tahuan Izar. Ia menoleh
dan menatap kedua gadis di hadapannya itu dengan tatapan curiga.
“ Kenapa Kalian ngomong kaya gitu sama Qiana. Apa ada sesuatu yang membahayakan dia...?” tanya Izar.
Nita dan Desi saling menatap bingung. Namun karena merasa Izar bukan lah orang asing, keduanya pun menceritakan apa yang dialami Qiana belakangan ini.
“ Qiana itu punya secret admirer Pak Izar...,” kata Desi.
“ Oh ya. Terus kenapa emangnya, bukannya hampir semua cewek punya secret admirer ya...?” tanya Izar.
“ Bedanya dimana...?” tanya Usep tak sabar.
“ Kalo pengagum Qiana itu justru menakuti Qiana. Karena selain nelephon dan ngechat, dia juga ngirimin
benda-benda aneh ke rumah Qiana. Makanya Abinya Qiana inisiatif buat nganter jemput Qiana tiap hari. Qiana juga ga boleh kemana-mana tanpa pengawalan Abinya. Hari ini Kita baru bisa keluar dan hang out bareng setelah situasi agak aman...,” sahut Desi menjelaskan.
“ Emangnya udah ketauan siapa orangnya...?” tanya Izar.
“ Belum Pak. Tapi sejak Qiana diantar jemput sama Abinya, si Mister X itu udah ga pernah ngechat atau
nelephon lagi...,” sahut Desi.
“ Aneh. Keliatannya secret admirernya Qiana juga kenal sama Abinya Qiana. Kok bisa-bisanya dia berhenti gangguin Qiana gitu aja...,” kata Izar.
“ Kami juga sempet mikir kaya gitu Pak. Tapi karena kejadiannya udah lewat dan sekarang Qiana baik-baik aja, makanya Kita lebih santai nanggapinnya...,” sahut Nita.
Di tengah perbincangan keempat orang itu tiba-tiba ponsel Nita berdering. Nita bergegas meraih ponselnya dan menerima panggilan saat melihat nama Qiana di layar ponselnya.
“ Halo Qi, kenapa...?” tanya Nita.
Tak ada jawaban. Hanya suara kresek-kresek ditambah suara air mengalir. Mendengar itu membuat Nita cemas.
__ADS_1
Izar meminta Nita meloud speaker ponselnya agar tahu apa yang terjadi pada Qiana.
“ Qiana...!” panggil Nita.
“ Iya Nit. Aku masih di dalam toilet. Aku ga bisa keluar karena ada cowok yang berdiri di depan pintu. Aku takut Nit, gimana nih...?” tanya Qiana dengan suara berbisik.
Mendengar jawaban Qiana membuat Nita dan Desi panik. Izar yang sudah menyelesaikan makannya pun segera
bertindak .
“ Kamu tenang aja Qi. Kami ke sana sekarang...,” kata Izar sambil mengusap mulutnya dengan tissu.
Kemudian Izar mulai membagi tugas untuk membantu Qiana.
“ Kamu panggil security terus susul Saya ke toilet. Dan Kamu ikut Saya nyusul Qiana. Ayo Pak Usep...,” kata Izar.
“ Iya Mas, baik Pak...,” sahut Usep, Nita dan Desi bersamaan.
Izar,Usep dan Desi bergegas melangkah ke bagian belakang rumah makan. Sedangkan Nita memanggil security.
Sementara itu di dalam toilet terlihat Qiana yang gelisah karena mendengar ketukan pintu diiringi suara seorang pria yang memanggil namanya.
Tok..., tok..., tok....
“ Qiana..., Qiana...,” panggil suara pria asing yang tak dikenal Qiana.
Qiana tak menjawab dan langsung menghubungi Nita tadi. Dan saat ini Qiana tengah menanti Izar yang berjanji
membantunya. Sambil meremas jemari tangannya Qiana terus menatap pintu. Suara ketukan pintu kembali terdengar dan itu membuat Qiana panik. Jika keadaan normal mungkin Qiana akan melawan tapi Qiana merasa saat ini ia berada dalam posisi yang menyulitkannya bergerak dengan seragam kebanggaannya itu.
“ Buka pintunya Qiana!. Kalo ga, Aku dobrak ya...!” ancam pria itu.
Qiana menghela nafas panjang lalu bersiap dengan segala kemungkinan. Ia menatap nanar kearah pintu saat tiba-tiba pintu itu terbuka karena didobrak oleh seseorang. Di sana terlihat seorang pria berbadan besar dengan tubuh dipenuhi tatto tengah menatap kesal kearah Qiana.
“ Siapa Kau, apa maumu...?” tanya Qiana sambil menatap tajam kearah pria di hadapannya.
“ Aku kan udah bilang kalo Kita bakal ketemu suatu saat nanti. Dan sekarang lah saatnya. Gimana Qiana, apa Kamu suka ketemu Aku...?” tanya pria itu sambil bersiap melangkah mendekati Qiana.
“ Tetap di sana atau Aku ga akan segan lagi...,” kata Qiana.
“ Oh ya. Kamu mau apa Qiana, melukai Aku...?” tanya pria itu sambil tersenyum mengejek.
Karena tak mau ambil resiko, Qiana pun maju lebih dulu sambil menyemprotkan cairan cabe yang selalu dibawanya kearah wajah pria itu. Sayangnya pria itu berhasil menghindar bahkan mencekal tangan Qiana. Meski pun begitu Qiana berhasil menendang pria itu hingga pria itu membentur dinding dengan telak. Suara rok yang sobek akibat gerakan Qiana tadi membuat pria itu tersenyum sambil menatap kearah paha Qiana yang tersingkap.
\=====
__ADS_1