Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
79. Pesan Terakhir Laudya


__ADS_3

Setelah istri Sumantri dan supir pribadinya dimasukkan sel tahanan, Polisi pun bergerak untuk menyelidiki penyebab kematian Laudya.


Dimulai dengan membongkar kolam renang di villa Sumantri. Asep sang pengurus villa juga dimintai keterangan oleh kepolisian. Asep berusaha tenang dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan polisi.


“ Saya ga tau apa-apa Pak...,” kata Asep.


“ Lalu yang mengijinkanmu membuka pintu untuk mereka siapa...?” tanya polisi.


“ Itu kan Istri majikan Saya, masa Saya ga mau buka pintu sih Pak. Lagian kan ini bukan kali pertama mereka datang dan nginap di villa..,” sahut Asep.


“ Artinya Kamu tau jika ada hubungan yang tak biasa antara majikanmu dengan supir pribadinya itu...?” tanya polisi.


“ Mmm..., kalo soal itu Saya ga mau ikut campur Pak...,” sahut Asep sambil melengos.


“ Baik. Tapi apa Kamu ga mencoba menyampaikan sama Pak Sumantri tentang keberadaan mereka di villa...?” tanya polisi lagi.


“ Saya ga seember itu Pak. Lagipula Saya kan ga tau persis masalah apa yang terjadi antara majikan Saya dan istrinya sampe Istrinya cari laki-laki lain...,” sahut Asep tak enak hati.


“ Terus soal jasad Laudya, apa yang Kamu tau...?” tanya polisi.


“ Kalo soal itu Saya ga tau sama sekali Pak. Saya memang sempat curiga. Waktu itu Ibu dan supirnya datang sore hampir Maghrib. Terus Ibu nyuruh Saya pulang karena mau bikin surprise buat Bapak katanya...,” sahut Asep.


“ Bikin surprise gimana maksudnya...?” tanya polisi.


“ Ibu mau kasih hadiah kejutan tapi ga mau ada orang lain. Katanya mereka baru aja bertengkar dan Ibu mau baikan sama Bapak. Saya maklum lah kejutan macam apa yang bakal Ibu kasih. Makanya Saya ga banyak tanya waktu disuruh pulang...,” sahut Asep.


“ Terus supirnya dimana...?” tanya polisi.


“ Kalo itu Saya ga tau Pak. Tapi kayanya disuruh pulang juga kan Ibu mau berduaan sama Bapak...,” sahut Asep.


“ Kayanya...?” tanya polisi meyakinkan.

__ADS_1


“ Itu yang Saya dengar Pak. Saya keluar duluan dan Saya liat Ibu masih nyuruh supirnya itu nurunin barang dari dalam mobil...,” sahut Asep.


“ Barang apa yang dikeluarin dari dalam mobil...?” tanya polisi.


“ Saya ga tau Pak. Mungkin sesuatu yang bakal melengkapi surprise Ibu buat Bapak...,” sahut Asep asal.


“ Apa misalnya...?” tanya polisi.


“ Mungkin lampu kelap kelip, bunga, boneka atau makanan. Saya ga tau pasti...,” sahut Asep.


Saat itu Asep diinterogasi di ruang depan villa milik Sumantri. Dan di saat bersamaan sedang ada pembongkaran kolam renang untuk mengangkat jasad Laudya. Terdengar jeritan histeris saat lantai keramik di kolam renang itu dibongkar. Jasad Laudya mulai membusuk, mulutnya nampak menganga, mata terpejam, dengan pakaian yang masih basah.


Sumantri yang ikut menyaksikan pengangkatan jasad Laudya dari dasar kolam renang nampak shock menyaksikan


bukti kejahatan istrinya dengan supir pribadinya itu. Awalnya Sumantri tak ingin percaya jika istrinya mampu berbuat jahat. Sumantri berharap jika polisi tak akan menemukan apa pun di dasar kolam renang itu. Namun semua harapan Sumantri musnah saat polisi berhasil mengangkat jasad wanita di dasar kolam renang dalam keadaan hampir membusuk.


Jika jasad Laudya dibawa ke Rumah Sakit untuk diotopsi, maka Asep pun dibawa ke kantor polisi karena terbukti sengaja memberi peluang kepada istri Sumantri dan supirnya melakukan kejahatan di villa yang menjadi tanggung jawabnya itu. Meski pun Asep menyangkal, namun perbuatan Asep menyembunyikan fakta perselingkuhan istri Sumantri adalah sebuah kekeliruan apalagi dilakukan di villa itu.


\=====


“ Saya ngerasa villa jadi serem sejak pengangkatan jasad Bu Laudya di sini...,” keluh Sumantri.


“ Itu wajar karena arwah Bu Laudya masih berkeliaran dan ga tau jalan pulang. Keliatannya masih ada yang ingin dia sampaikan...,” sahut Faiq sambil menatap kearah kolam renang.


“ Gitu ya...,” kata Sumantri.


“ Kita bisa sama-sama ngantar Bu Laudya nanti Pak...,” kata Faiq sambil tersenyum.


“ Iya Mas. Saya harap Bu Laudya bisa kembali dengan tenang dan ga mengganggu Kami yang berkunjung ke villa ini. Karena sejak hari itu Saya belum berani ngajak Anak-anak ke sini. Saya khawatir mereka mengalami gangguan seperti Neta. Kalo sampe kejadian kaya gitu, Saya ga bisa bayangin gimana paniknya Saya. Apalagi Saya harus ngurus mereka sendiri karena Mamanya kan lagi ditahan...,” kata Sumantri sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.


“ Kalo gitu Kita mulai sekarang ya Pak...,” kata Faiq karena tak ingin Sumantri terus mengingat kejahatan istrinya itu.

__ADS_1


“ Siap Mas Faiq...,” sahut Sumantri antusias.


Proses ruqyah pun dimulai. Lantunan ayat suci Al Qur’an terdengar memenuhi ruangan. Hawa sejuk pun menerpa hingga membuat suasana di dalam villa terasa nyaman. Iyaz dan Izar khusu mengaji. Sedangkan ustadz Hamzah, Faiq, Bayan dan Sumantri nampak berdzikir.


Di depan sana arwah Laudya yang tertahan dan terjebak di dasar kolam renang itu pun nampak keluar dari kolam renang. Perlahan arwah Laudya melayang dan berhenti tak jauh dari Iyaz dan Izar. Arwah Laudya nampak menatap Iyaz dan Izar sambil tersenyum.


“ Kalian Anak yang hebat. Senang bisa mengenal Kalian...,” kata arwah Laudya.


“ Terima kasih Bu Laudya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


Sumantri dan Bayan saling menatap saat mendengar ucapan si kembar. Mereka tak melihat apa pun tapi mereka merasakan bulu kuduk yang meremang. Apalagi aroma busuk yang samar menyeruak di dalam ruangan itu cukup mengganggu indra penciuman mereka. Sadar jika Iyaz dan Izar sedang berkomunikasi dengan arwah Laudya, mereka pun kembali berdzikir.


“ Sekarang Ibu bisa pergi dengan tenang karena orang yang mencelakai Ibu udah ditangkap polisi dan bakal menerima hukuman yang berat...,” kata Izar.


“ Iya Nak. Ibu senang mendengarnya. Tapi Ibu mau minta tolong sama Kalian...,” sahut arwah Laudya.


“ Apa Bu ?. Insya Allah kalo sanggup pasti Kami bantu. Iya kan Zar...?” tanya Iyaz.


“ Iya Yaz...,” sahut Izar mantap hingga membuat arwah Laudya tersenyum.


“ Tolong sampaikan pada Pak Sumantri kalo Rafa butuh perhatiannya juga. Selama ini Pak Sumantri telalu sibuk bekerja dan mengabaikan Anak-anaknya. Kasian Rafa karena ga dapat kasih sayang dari Mamanya seperti yang seharusnya. Rafa bisa diarahkan asal Pak Sumantri mau sedikit meluangkan waktu. Dia hanya butuh kasih sayang. Selama ini Mamanya bersikap terlalu keras...,” kata arwah Laudya sedih.


Iyaz dan Izar menatap Faiq yang nampak menganggukkan kepalanya pertanda setuju untuk menyampaikan pesan terakhir Laudya itu.


“ Ibu tenang aja. Insya Allah Ayahku yang bakal ngomong sama Pak Sumantri...,” sahut Iyaz.


“ Baik, terima kasih ya Anak-anak...,” kata arwah Laudya sambil tersenyum.


“ Sama-sama Bu Laudya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


Arwah Laudya melayang sesaat mengelilingi Iyaz dan Izar. Setelah itu arwah Laudya melayang ke atas dan menghilang menembus langit-langit ruangan. Aroma busuk yang semula memenuhi ruangan pun perlahan memudar seiring perginya arwah Laudya.

__ADS_1


\=====


__ADS_2