Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
121. Jampi Jampi ?


__ADS_3

Menghilangnya Suharsa dari kamar pengantin membuat Niken sedih dan menangis. Ia tak mengerti mengapa Suharsa meninggalkannya di kamar saat malam pertama belum lagi terwujud.


“ Sabar ya Nik, sebentar lagi juga Harsa pulang. Mungkin dia cuma cari angin sebentar. Biasanya laki-laki kan juga gugup kalo mau malam pertama...,” kata ibu Suharsa mencoba menghibur Niken.


“ Tapi kenapa ga pamit sama Aku Bu...?” tanya Niken di sela tangisnya.


“ Mungkin buru-buru. Atau Kamu yang ga denger waktu dia pamit, kan Kamu bilang lagi di kamar mandi tadi. Sabar dan berdoa aja supaya Suharsa ga kemana-mana dan pulang dengan selamat...,” sahut ibu Suharsa.


“ Aamiin...,” sahut Niken lirih.


Kemudian Niken terdiam sambil mengusap air matanya. Ia merasa jika sesuatu yang buruk akan terjadi. Apalagi


orang suruhan orangtua Suharsa pun pulang tanpa hasil. Mereka menggelengkan kepala karena tak berhasil menemukan dimana Suharsa.


Sementara itu di rumah Inar. Suharsa sedang merayu Inar agar mau menerima cintanya disaksikan para tetangga Inar yang melihat Suharsa datang bertamu ke rumah Inar malam itu. Inar nampak menolak meski pun Suharsa berlutut di depannya. Keadaan ini membuat Inar tertawa dalam hati. Ia menatap wajah Suharsa yang kacau. Ada rasa iba di hatinya namun Inar merasa belum puas mengerjai Suharsa.


“ Jangan serakah jadi orang Kang. Kamu kan baru aja nikah sama Niken dan abis merasakan malam pertama. Masa tiba-tiba Kamu datang ke sini mengemis cintaku. Apa kata orang kalo ngeliat Kamu di sini malam-malam begini...?” tanya Inar gusar.


“ Aku ga peduli Inar. Aku sadar cuma Kamu yang Aku cintai sejak dulu. Aku juga ga ngerti kenapa tiba-tiba Aku tertarik sama Niken yang anggota baru itu. Padahal kan Aku lebih lama mengenalmu. Dan asal Kamu tau Inar, Aku dan Niken belum melakukan apa-apa. Begitu Aku sadar, Aku langsung mencarimu...,” sahut Suharsa.


Kasak-kusuk tetangga Inar pun terdengar. Dan saat mendengar ucapan mereka membuat Inar bersorak dalam hati.


“ Kok bisa begitu ya. Jangan-jangan selama ini Suharsa dipelet sama si Niken. Buktinya saat sadar Suharsa justru datang ke sini dan minta Inar kembali...,” kata salah seorang tetangga Inar.


“ Iya. Ga nyangka ya si Niken bisa berbuat licik kaya gitu. Sebenernya ga masuk akal juga sih anggota baru kok


bisa langsung menikahi pimpinan grup. Padahal ada Inar yang manis dan udah lama kenal sama Suharsa, juga Dewi dan siapa lagi tuh yang sering jalan sama si Wardi. Itu juga kan lumayan cantik, tapi kenapa Suharsa malah kepincut sama si Niken yang anggota baru itu...,” sahut tetangga lainnya.


“ Betul. Kalo ga karena jampi-jampi mah ga bakalan Suharsa langsung mau dan nikahin si Niken. Apalagi Niken kan Anak orang ga mampu yang pasti juga mau memperbaiki ekonomi keluarganya yang kekurangan itu. Jadi wajar rasanya kalo dia berusaha memikat Suharsa...,” kata tetangga lainnya.

__ADS_1


Ucapan-ucapan para tetangga juga terdengar ke telinga Suharsa dan membuatnya marah karena merasa dibodohi. Suharsa makin berkeras ingin tinggal di rumah Inar malam itu hingga menyulut amarah warga dan kedua orangtua Inar.


“ Sia*an, jadi Aku dijampi-jampi sama si Niken. Kurang ajar. Kalo gitu lebih baik Aku di sini sama Kamu ya Inar. Aku ga mau pulang ke rumah dan ketemu Niken lagi...,” pinta Suharsa sambil meraih tangan Inar.


“ Jangan kaya gini Kang, malu...!” sentak Inar kasar padahal dalam hati merasa senang melihat sikap Suharsa.


“ Ga boleh !. Kamu kan udah nikah, nanti Anak Saya yang dituduh merebut Suami orang. Padahal kan Suharsa sendiri yang datang tanpa diundang. Gimana nih Pak...?” tanya Ibu Inar panik.


“ Lapor sama Ketua dusun aja Pak, biar diselesaikan segera...!” saran warga yang mulai memadati depan rumah kedua orangtua Inar.


“ Ga usah Pak, kasian dia. Lagian malu masalah kaya gini ngelibatin Ketua Dusun. Kalo bisa tolong anterin Suharsa


pulang aja ya Pak. Saya ga mau dia bikin keributan di sini. Saya juga ga mau Inar dan Niken bertengkar gara-gara Suharsa. Saya yakin Inar juga ga mau jadi perusak rumah tangga temannya sendiri. Iya kan Nar...?” tanya bapak Inar sambil menatap lekat kearahnya.


“ Iya Pak...,” sahut Inar tegas sambil mengulum senyum.


“ Baik lah kalo begitu. Kita bawa sekarang aja yuk Bapak-bapak. Biar lingkungan Kita tenang. Udah malam dengar


“ Ayo Pak...,” sahut beberapa warga bersamaan.


Tak lama kemudian para tetangga Inar merangsek maju dan langsung meringkus Suharsa. Mereka membawa paksa Suharsa dari rumah itu lalu mengembalikannya ke rumah orangtuanya. Sepanjang perjalanan Suharsa terus berontak dan memaki. Bahkan ia memanggil nama Inar berkali-kali hingga membuat warga iba.


“ Inar, tolong Aku Inar. Maafkan Aku. Aku cinta sama kamu Inar, jangan usir Aku kaya gini Inar...!” teriak Suharsa sambil melambaikan tangannya.


“ Dasar sableng...,” gerutu ibu Inar sambil melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Inar seorang diri di


depan pintu.


“ Masuk Inar, ngapain Kamu di sana. Jangan bilang Kamu juga mau ya sama Suharsa itu. Ngeliat sikapnya yang plin plan kaya gitu, jangan harap Bapak merestui hubungan Kalian nanti. Apalagi kalo sampe dia menceraikan si Niken untuk nikah sama Kamu...!” kata bapak Inar penuh amarah.

__ADS_1


Inar diam dan tak menjawab ucapan bapaknya. Ia masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu rapat-rapat. Dalam hati Inar merasa bahagia karena bisa membuat Suharsa dan Niken malu secara bersamaan.


“ Ini baru permulaan Niken. Tunggu apalagi yang bisa Aku lakukan supaya Kamu sadar kalo Kamu ga sepadan sama Kang Harsa. Kalo Aku ga bisa dapetin Kang Harsa, Kamu juga ga boleh apalagi menikmati semua yang dia miliki...,” gumam Inar sambil tertawa.


Tanpa sadar Inar tertawa cukup keras hingga membuat ibunya terkejut lalu mengetuk pintu kamarnya dengan keras.


“ Kamu kenapa Inar, kok ketawa sendiri...?” tanya ibu Inar cemas.


“ Aku ga ketawa kok Bu...,” sahut Inar pura-pura bingung.


“ Tapi Ibu denger Kamu ketawa barusan. Duh apa yang terjadi sih. Mudah-mudahan Kamu gapapa ya Nar...,” kata Ibu Inar sambil memeluk Inar erat.


“ Aku gapapa kok Bu, Ibu tenang aja ya...,” sahut Inar.


“ Gimana bisa tenang sih Nar. Besok pagi kampung ini bakal rame sama omongan orang tentang Kamu. Ibu malu Nar...,” keluh ibu Inar.


“ Kenapa harus malu sih Bu. Kan bukan Anak Kita yang datangin Suharsa tapi dia sendiri yang ke sini setelah pengaruh peletnya si Niken hilang. Jadi kesalahan ada sama Niken dan Suharsa. Banyak saksi yang bisa jelasin semuanya nanti. Untuk sementara waktu Kita ga usah keluar rumah dulu kalo ga penting-penting banget...,” kata bapak Inar tegas.


“ Tapi Aku masih ada pentas di...,” ucapan Inar terputus saat bapaknya menatapnya.


“ Bapak bilang ga boleh ya ga usah berangkat. Kenapa ngeyel terus sih...?!” kata bapak Inar.


“ Iya, iya Pak...,” sahut Inar sambil menunduk,


“ Ssstt, udah Pak. Kenapa jadi marahin Inar sih. Udah Nar, Kamu tidur ya. Turutin kata Bapakmu, jangan kemana-mana dulu sampe situasi tenang. Ngerti ga...?” tanya ibu Inar menengahi.


“ Iya Bu. Sekarang Aku mau tidur dulu ya, capek seharian manggung tadi...,” pamit Inar sambil menutup pintu kamar.


Kedua orangtua Inar mengangguk lalu kembali ke kamar mereka. Malam itu kedua orangtua Inar nampak gelisah dan tak bisa tidur. Berbeda dengan Inar yang tidur dengan lelap sambil tersenyum puas karena bisa mewujudkan keinginannya menghancurkan pernikahan Niken dan Suharsa.

__ADS_1


\=====


__ADS_2