
Setelah menyelesaikan misi mereka di kediaman Pita, ketiga bersaudara itu pun pamit undur diri.
“ Jadi Kalian bakal langsung ngelarung dua tuyul itu sekarang...?” tanya Pandu.
“ Iya Mas. lebih cepat kan lebih baik...,” sahut Izar mantap.
“ Kenapa emangnya Mas...?” tanya Iyaz yang melihat kegelisahan di mata Pandu.
“ Sebenernya Aku juga mau ikut mengantar Kalian, tapi sayangnya Aku ga bisa karena harus mengurus Adik dan keponakanku itu...,” sahut Pandu sambil tersenyum kecut.
“ Ehm, maksud Mas Pandu mengantar Cici kali bukan Aku atau Iyaz...,” kata Izar sambil tertawa.
Pandu dan Hanako nampak salah tingkah mendengar ucapan Izar. Pandu hanya tersenyum sedangkan Hanako langsung mencubit lengan Izar hingga membuat Izar menjerit kesakitan.
“ Aduuhh, sakit Ci...!” protes Izar sambil mengusap bekas cubitan Hanako yang terasa perih di lengannya.
“ Rasain...,” sahut Hanako sambil melengos.
“ Mas Pandu selesaikan aja dulu urusan Mas Pandu. Soal Cici tenang aja. Insya Allah Kami akan menjaganya dengan baik dan pulang ke rumah dengan selamat...,” kata Iyaz bijak.
“ Ok, Aku percaya sama Kalian...,” sahut Pandu sambil melirik Hanako yang terlihat cuek.
Kemudian Iyaz, Izar dan Hanako pun meninggalkan Pandu dan Ramdan yang masih berdiri di depan rumah. Izar yang duduk di balik kemudi nampak bersiul-siul.
“ Berisik Zar. Siulanmu bikin kupingku sakit...,” kata Hanako.
“ Masa sih. Itu karena pikiranmu dipenuhi nama Pandu makanya apa pun selain dia itu bikin Kamu merasa terganggu Ci...,” sahut Izar sambil tersenyum usil.
“ Apaan sih Kamu, ga jelas banget kalo ngomong...!” kata Hanako.
“ Kamu ga boleh terlalu cuek sama Mas Pandu, Ci. Keliatannya dia tulus lho sama Kamu...,” kata Iyaz tiba-tiba.
“ Tau nih Cici. Sok jual mahal. Ntar kalo ditinggal nangis deh...,” kata Izar sambil mencibir.
“ Aku bukan sok jual mahal Zar. Aku masih ragu aja sama dia...,” sahut Hanako sambil menatap keluar jendela.
__ADS_1
“ Emang apa yang bikin Kamu ragu Ci...?” tanya Iyaz.
“ Kami baru aja kenal dan dekat. Aku cuma ga mau kecewa karena udah berharap terlalu banyak Yaz...,” sahut
Hanako lirih.
“ Tapi keliatannya Mas Pandu itu tulus sama Kamu Ci. Dia juga kayanya hampir putus asa ngeliat Kamu ga juga merespon baik apa yang dia lakukan...,” kata Iyaz.
“ Maksud Kamu Mas Pandu mulai bosen gitu...?” tanya Hanako gusar.
“ Bisa jadi, abis Kamu terus menerus menghindari dia. Jadi jangan salahin dia kalo akhirnya lelah dan milih cari cewek lain nanti...,” sahut Iyaz sambil menggedikkan bahunya.
Ucapan Iyaz membuat Hanako makin gusar. Hanako pun sadar jika selama ini ia selalu mengabaikan pernyataan cinta Pandu yang hampir selalu diungkapkan setiap kali mereka bertemu. Dan Hanako tak ingin Pandu menyerah karena sejujurnya kini Hanako juga mulai merasa nyaman dengan semua perhatian yang Pandu berikan.
Hanako segera meraih ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Iyaz dan Izar nampak tersenyum karena tahu jika Hanako sedang mengirim pesan untuk Pandu.
Sedangkan Pandu yang baru saja hendak melajukan kendaraannya nampak mengerutkan kening saat melihat pesan WA dari Hanako. Saat ia membaca isi chat Hanako, Pandu nampak tersenyum lebar.
“ Assalamualaikum Mas. Makasih ya udah bantuin Aku dan sepupuku tadi. Hati-hati di jalan dan jangan ngebut...,” kata Hanako.
“ Ok, Aku udah nyampe di pinggir laut nih. Sebentar lagi pulang...,” kata Hanako lagi.
“ Ok. Jangan lupa obati lututmu yang terluka tadi ya...,” pesan Pandu.
“ Iya...,” sahut Hanako cepat hingga membuat Pandu tersenyum bahagia.
Ini kali pertama Hanako mengabari apa yang tengah ia lakukan dan Pandu merasa jika Hanako mulai membuka hati untuknya. Setelah membaca chat terakhir Hanako, Pandu pun melajukan mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya dimana Pita dan anaknya menanti kepulangannya dan Ramdan.
\=====
Iyaz, Izar dan Hanako segera kembali ke rumah usai melarung kedua tuyul itu ke laut. Perjalanan mereka berjalan lancar. Iyaz dan Izar mengantar Hanako hingga tiba di depan rumah dan bertemu dengan Heru. Setelahnya keduanya memutuskan pulang ke rumah.
Sedangkan sang pemilik tuyul yang merupakan tetangga Pita dan Ramdan nampak cemas. Pria bernama Yori itu nampak mondar mandir di teras rumah seolah sedang menunggu seseorang. Berkali-kali Yori menatap ke gang kecil di samping rumah berharap melihat dua tuyul yang merupakan peliharaannya itu.
“ Kemana sih mereka. Kok udah hampir Maghrib belum keliatan juga...,” gumam Yori cemas.
__ADS_1
Semula Yori mengira jika kedua tuyul itu sedang bermain seperti biasanya. Yori memang memberi kebebasan pada dua tuyul peliharaannya itu untuk bermain sepuas mereka usai keduanya memberikan uang kepada majikannya itu.
Pagi itu kedua tuyul baru saja menyerahkan uang hasil curiannya kepada Yori. Jumlahnya tak sedikit dan itu membuat Yori senang. Saat istri Yori mendekat, Yori pun menyerahkan uang itu pada istrinya.
“ Aku mau beli cincin emas ya Bang. Cincin yang lama kan udah ketinggalan jaman...,” kata istri Yori sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
“ Terserah Kamu May...,” sahut Yori.
“ Makasih ya Bang. Anggap aja ini imbalan atas kerja kerasku menyusui dua tuyul itu...,” kata istri Yori sambil berlalu.
Yori tak menjawab dan hanya menatap punggung sang istri saat meninggalkannya. Yori sedikit iba pada istrinya. Awalnya Yori memang memaksa sang istri untuk menyusui tuyul. Padahal saat itu Yori juga baru saja memiliki bayi.
“ Tapi Aku ga bisa Bang. Mereka itu kan setan, masa Aku menyusui setan. Yang bener aja sih. Mana saat ini Aku juga lagi menyusui Anakku. Apa Kamu ga khawatir kalo nanti berefek buruk buat Anak Kita...?” tanya istri Yori.
“ Ga lah Sayang. Mereka kan berbeda banget...,” sahut Yori.
“ Tapi aku ga mau Bang...,” tolak istri Yori.
“ Kamu harus mau Sayang. Apa Kamu lupa sama uang yang Kamu habiskan kemarin. Uang itu ga gratis gitu lho. Kamu tau siapa orang yang udah memberimu uang sebanyak itu...?” tanya Yori.
“ Siapa memangnya...?” tanya istri Yori penasaran.
Yori mendekatkan wajahnya kepada sang istri sambil membisikkan sebuah kalimat hingga membuat sang istri terkejut.
“ Ssstt..., jangan berisik. Uang itu adalah pemberian dua tuyul yang Kamu liat kemaren. Kalo Kamu mau uang sebanyak itu lagi, ya Kamu harus mau menyusui mereka karena mereka memang cuma mau menyusu langsung sebagai imbalannya. Gimana, ringan kan...?” tanya Yori sambil tersenyum.
Istri Yori nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. Ia memilih menyusui dua tuyul itu sedangkan bayinya terpaksa ia beri susu formula. Semua itu dilakukan karena ia tak ingin bayinya sakit jika harus menyusu di tempat yang sama dengan tuyul itu.
Selama ini kedua tuyul itu menikmati ASI milik istrinya tanpa rasa bersalah. Sedangkan Yori harus rela membuatkan susu formula untuk bayinya jika sang bayi kehausan. Tanpa disadari oleh Yori dan istrinya jika kedua tuyul itu bukan menghisap ASI melainkan darah.
Dan kini kedua tuyul itu raib entah kemana. Padahal Yori berniat mengajak kedua peliharaannya ke pasar seperti biasa. Di sana Yori akan melepas kedua tuyul itu untuk mencuri uang para pedagang dan pengunjung pasar.
Karena kedua tuyul tak kunjung pulang, Yori pun berinisiatif mencarinya dengan menggunakan motor. Yori terus memanggil kedua peliharaannya. Dan mata Yori terhenti pada rumah milik Pita dan Ramdan.
Yori makin panik saat melihat sesuatu di rumah itu. Kedua matanya menatap nanar kearah rumah Pita karena ia mencium sesuatu yang buruk telah terjadi pada kedua peliharaannya di rumah itu tadi.
__ADS_1
Bersambung