
Setelah berhasil menyelamatkan anaknya, Faiq pun menoleh keluar musholla dimana sedang terjadi pertempuran sengit antara ustadz Hamzah dan kek Bokor.
“ Namanya Kek Bokor. Dia adalah dukun ilmu hitam yang udah menyesatkan warga Om...,” kata Wahyu.
“ Saya tau. Siapa namamu...?” tanya Faiq.
“ Wahyu Om...,” sahut Wahyu sambil mengulurkan tangannya.
“ Saya Faiq, Ayahnya Iyaz dan Izar. Sekarang Saya mau bantu Ustadz Hamzah. Bisa Kamu bawa Anak-anak Saya keluar dari sini tanpa harus melewati mereka...?” tanya Faiq.
“ Bisa Om. Ada jalan lain di samping musholla walau pun ditumbuhi semak-semak...,” sahut Wahyu.
“ Gapapa. Tolong bawa mereka keluar sekarang ya...,” pinta Faiq.
“ Siap Om...,” sahut Wahyu lalu bergegas meraih tangan si kembar dan membawanya melompati jendela musholla.
Faiq menghela nafas lega saat melihat ketiganya berhasil melompati jendela meski pun Iyaz harus digendong karena tubuhnya masih lemah. Ternyata Wahyu membawa Iyaz dan Izar ke rumahnya yang terletak tak jauh dari musholla. Ketiganya tetap di sana hingga situasi membaik. Setelah memastikan ketiganya berada jauh dari area musholla, Faiq pun mendekati ustadz Hamzah.
Saat melihat pertama kali, Faiq yakin jika pertarungan yang tengah terjadi itu bisa dimenangkan oleh ustadz Hamzah. Faiq melihat jika kek Bokor hanya mengulur waktu seolah sedang menunggu sesuatu yang akan datang
sebentar lagi.
Karena tak ingin meladeni kek Bokor lebih lama lagi, ustadz Hamzah pun melompat sambil menyabetkan sorban yang dipakainya hingga mengenai kepala kek Bokor. Jerit kesakitan membahana dan membuat warga yang menyaksikan pertarungan itu dari kejauhan pun nampak bersorak gembira.
Menyadari warga tak lagi memihaknya, kek Bokor pun kesal lalu lari keluar sambil memegangi kepalanya. Warga menyorakinya saat kek Bokor melintas di depan mereka. Beberapa orang terlihat mengejar kek Bokor namun berhasil dicegah oleh ustadz Hamzah.
“ Jangan dikejar Pak, bahaya...!” kata ustadz Hamzah lantang.
“ Tapi lebih bahaya lagi kalo dia sampe sembuh Pak Ustadz...,” sahut salah seorang warga.
“ Betul Pak Ustadz. Dia bakal menyakiti warga dan membuat Kami lebih sengsara lagi nanti...,” tambah warga lainnya.
“ Insya Allah Saya dan Anak Saya yang bakal menanganinya nanti. Sekarang sebaiknya Bapak dan Ibu pulang ke rumah masing-masing karena udah hampir Maghrib. Dan untuk Bapak-bapak, Saya tunggu di musholla ya. Kita
sholat Maghrib berjamaah sebagai bentuk ketaatan Kita kepada Allah...,” kata ustadz Hamzah.
“ Baik Pak Ustadz, Kami permisi dulu. Insya Allah Kami kembali lagi nanti...,” sahut seorang warga diikuti warga lainnya.
Ustadz Hamzah menatap kepergian warga sambil tersenyum lalu menoleh kearah Faiq. Mereka saling berpelukan
sesaat lalu masuk ke dalam musholla.
“ Dimana Anak-anak...?” tanya ustadz Hamzah saat tak mendapati Iyaz, Izar dan Wahyu di dalam musholla.
“ Saya suruh keluar Ustadz, mungkin sekarang ada di rumahnya Wahyu...,” sahut Faiq sambil membersihkan
__ADS_1
muntahan Iyaz di lantai musholla tadi.
“ Darah, apa Iyaz terluka dalam Nak...?” tanya ustadz Hamzah cemas.
“ Alhamdulillah Iyaz gapapa Ustadz, Iyaz hanya perlu istirahat aja sebentar...,” sahut Faiq sambil mengepel
lantai dengan air yang dibubuhi cairan pembersih lantai.
“ Alhamdulillah. Maafkan Saya yang ga bisa menjaga Anakmu dengan baik ya Mas Faiq. Saya malah fokus menyerang orang itu karena kesal...,” kata ustadz Hamzah dengan nada menyesal.
“ Gapapa Ustadz. Saya yakin Ustadz udah mempertimbangkan semuanya dengan baik. Luka Iyaz ga parah, dia hanya shock karena ga nyangka bakal terluka tadi. Tapi Saya salut sama Wahyu. Walau ga mengerti cara mengobati Iyaz, dia tetap stay di dekat Iyaz sambil berdzikir dan ga ninggalin Anak-anak Saya...,” kata Faiq sambil tersenyum.
“ Wahyu memang Anak yang baik. Dia dan almarhum Ayahnya adalah salah satu orang yang menentang peraturan orang itu. Sayangnya Ayah Wahyu meninggal karena menjadi korban orang itu...,” sahut ustadz Hamzah yang enggan menyebutkan nama kek Bokor.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun, kasian Wahyu...,” kata Faiq iba.
“ Begitu lah, makanya dia antusias membantu waktu tau Saya dan si kembar membersihkan musholla ini tadi...,” kata ustadz Hamzah.
Tak lama kemudian warga pun mulai berdatangan ke musholla untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah. Mereka membawa obor untuk menerangi musholla yang gelap gulita itu. Beberapa diantaranya juga membawa minuman dan makanan ringan lalu diletakkan di atas karpet. Ustadz Hamzah dan Faiq saling menatap lalu tersenyum melihat sikap warga yang antusias ingin kembali ke jalan Allah.
Saat waktu Maghrib tiba, ustadz Hamzah meminta salah seorang warga untuk mengumandangkan adzan. Namun warga menolak karena masih merasa takut. Lalu Faiq maju dan mengumandangkan adzan. Walau tanpa pengeras suara, lagi-lagi suara adzan itu mampu menggetarkan tanah di kampung itu. Angin kencang kembali bertiup, namun kali ini terasa sejuk dan tak merusak seperti sebelumnya. Suara adzan itu juga terdengar hingga ke rumah Wahyu dan membuat si kembar melonjak senang.
“ Itu suara Ayah...!” kata Izar antusias.
“ Ayo...,” sahut Izar dan Wahyu bersamaan.
Kemudian Wahyu membungkukkan tubuhnya untuk menawarkan bantuan pada Iyaz yang terlihat sungkan. Izar
menganggukkan kepalanya seolah mengatakan jika Iyaz harus mau naik ke punggung Wahyu jika tak mau terlambat sholat berjamaah di musholla.
“ Makasih ya Kak...,” bisik Iyaz saat telah berada di punggung Wahyu.
“ Sama-sama. Yuk, nanti Kita malah masbuk kalo kelamaan di sini...,” gurau Wahyu hingga membuat Iyaz dan Izar
tertawa kecil.
\=====
Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah warga masih bertahan di musholla untuk menunggu waktu Isya. Sambil menunggu waktu Isya tiba, mereka berbincang hangat dan menikmati suguhan yang dibawa warga tadi. Sedangkan Iyaz dan Izar mendekat kearah Faiq dan ustadz Hamzah.
“ Kamu gapapa Nak, mana yang sakit...?” tanya ustadz Hamzah.
“ Alhamdulillah gapapa Pak Ustadz. Cuma badan terasa lemas aja, untung ada Kak Wahyu yang gendong Aku ke sini tadi...,” sahut Iyaz cepat.
Tiba-tiba Faiq melangkah cepat menuju keluar musholla. Semua orang menatapnya tanpa bertanya karena mengira
__ADS_1
Faiq akan buang air kecil. Sesaat kemudian terdengar suara jeritan seorang pria yang berhasil diringkus oleh Faiq.
“ Ampuunn..., ampuunn. Saya bukan orang jahat Pak, tolong lepasin Saya...,” rintih pria itu sambil meringis menahan sakit.
Semua orang yang ada di musholla pun bergegas keluar dan melihat seorang pria tengah menutupi kepala dan wajahnya karena takut Faiq akan memukulnya.
“ Pak Frans, ngapain di sini...?” tanya Surya terkejut.
“ Pak Surya tolong Saya...,” sahut Frans.
“ Maaf Pak, tolong lepasin dia karena dia bukan orang jahat kok. Dia warga kampung sini juga...,” pinta Surya sambil menatap Faiq.
Faiq mengangguk lalu melepaskan cekalannya. Ustadz Hamzah maju dan mulai menginterogasi Frans.
“ Kenapa mengintai Kami kaya gitu...?” tanya ustadz Hamzah yang curiga jika Frans adalah mata-mata kek Bokor.
“ Sa, Saya hanya ingin berlindung Pak Ustadz. Saya takut Kek Bokor akan membunuh Saya. Waktu ngeliat warga sholat berjamaah tadi Saya tau kalo Kek Bokor pasti marah dan bakal menyerang siapa saja. Makanya Saya lari ke sini untuk minta perlindungan dari Kalian...,” sahut Frans dengan tubuh gemetar.
“ Pak Frans ini juga korban dari Kek Bokor, Pak Ustadz. Keluarganya sudah jauh hari diungsikan ke kota lain. Pak
Frans ini non muslim, namun dia bisa membaur dengan baik di sini. Beberapa temannya meninggal saat gereja tempat mereka beribadah dibakar oleh orang yang ga dikenal. Pak Frans masih bertahan di kampung ini karena menjalankan tokonya yang ada di sini...,” kata Surya menjelaskan.
Ustadz Hamzah nampak mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba seorang pria berlari cepat memasuki area musholla
sambil berteriak.
“ Penguasa kampung udah datang...!” kata pria itu berulang-ulang hingga menimbulkan kepanikan.
“ Kek Bokor udah manggil sang penguasa buat ngancurin kampung ini. Gimana ini Pak Ustadz...?” tanya warga
yang juga baru tiba.
“ Kalian tenang dulu. Sekarang dimana dia...?” tanya ustadz Hamzah.
“ Ada di sawah dekat bukit Pak Ustadz. Kek Bokor juga ada di sana lagi ngadu...,” sahut pria tadi dengan tubuh
gemetar sambil menunjuk kearah bukit.
“ Ayo Kita ke sana Mas Faiq...,” ajak ustadz Hamzah sambil melempar kunci motor kearah Faiq yang sigap menangkapnya.
“ Siap Pak Ustadz...,” sahut Faiq cepat lalu segera menstarter motor menuju tempat yang dimaksud.
Beberapa warga nampak mengikuti Faiq dan ustadz Hamzah dari belakang dengan menggunakan motor dan sepeda ontel. Wahyu dan si kembar pun tak ketinggalan. Wahyu berlari ke rumah untuk mengambil motor. Setelahnya ia menjemput Iyaz dan Izar lalu pergi menyusul Faiq dan ustadz Hamzah.
Bersambung
__ADS_1