
Tasyakuran rumah Pandu dan Hanako pun berjalan lancar. Acara yang digelar saat siang hari setelah sholat Dzuhur
itu dihadiri banyak orang. Para tetangga dan kerabat hadir untuk memberikan doa pada pasangan pengantin baru itu.
Diantara tetangga yang hadir terlihat Vena dan anak tirinya Alya. Mereka baru saja tiba bersama tetangga lainnya. Iyaz dan Izar pun mengenali Alya yang nampak berjalan dengan enggan di samping ibu tirinya. Saat tatapan mata Alya berbenturan dengan Izar, gadis itu segera memalingkan wajahnya kearah lain hingga membuat Izar tersenyum.
Hanako dan Pita menyambut kehadiran para tamu dengan ramah dan santun. Mereka mempersilakan para tamu untuk masuk ke dalam. Namun sebagian tamu memilih duduk di teras rumah dengan alasan gerah termasuk Alya. Gadis itu nampak menolak saat Vena mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“ Aku di luar aja Ma...,” kata Alya sambil menepis tangan Vena dengan lembut.
“ Jangan bikin ulah lagi Alya, please...,” kata Vena penuh harap.
“ Mama tenang aja. Aku ga bakal kabur kok...,” sahut Alya sambil duduk di salah satu sudut teras.
Vena nampak menghela nafas pasrah melihat sikap Alya yang sedikit keras kepala itu. Tak ingin menjadi bahan
tontonan, Vena pun memilih masuk ke dalam mengikuti Pita. Sedangkan Hanako diam-diam memperhatikan Alya dengan senyum tertahan.
Sepanjang acara pengajian berlangsung Alya terlihat khusu mengaji bersama tamu lainnya. Izar pun tak lepas menatap gadis itu. Usai mengaji Alya pun keluar dari halaman rumah Pandu tanpa pamit. Melihat hal itu Izar pun panik dan mencoba menghalangi niat Alya.
“ Kamu mau kemana...?” tanya Izar.
“ Mau pulang, kenapa emangnya...?” tanya Alya ketus.
“ Tapi acaranya kan belum selesai. Masih ada tausiyah dari ulama terkenal lho, emang Kamu ga mau dengerin...?” tanya Izar.
“ Ga penting, Aku udah ngaji kan tadi. Sekarang Aku mau pulang, permisi...,” sahut Alya dengan enggan.
“ Tapi dengerin tausiyah agama juga dapat pahala lho. Apalagi kalo melaksanakan apa yang diajarkan sama guru, bisa dijamin pahalanya doble tuh...,” kata Izar.
“ Berisik banget sih. Minggir...!” bentak Alya marah.
“ Duh galak banget, sampe kaget Aku...,” kata Izar pura-pura terkejut.
“ Makanya minggir, jangan halangin jalanku...,” sahut Alya sambil menoleh kearah Vena yang tengah sibuk bicara dengan wanita di sebelahnya.
“ Jangan bilang Kamu lagi mau menyelidiki rahasia Ibu tirimu itu ya...,” kata Izar setengah berbisik namun cukup mengejutkan Alya hingga mata gadis itu membulat tak percaya.
“ Sok tau, Kamu jangan mengada-ada ya...,” sahut Alya panik.
“ Alya..., Alya. Kamu itu masih harus belajar banyak buat ngakalin Aku. Sekali liat aja Aku tau kalo hubunganmu
dengan Tante Vena ga sebaik yang terlihat. Dan Kamu curiga kalo kematian Ayahmu ada sangkut pautnya sama Ibu tirimu itu kan...?” bisik Izar sambil tersenyum penuh makna.
Mendengar ucapan Izar membuat Alya makin panik. Refleks Alya mendorong tubuh Izar agar menjauh dari teras rumah dan menutup mulut Izar dengan telapak tangannya. Izar yang tak siap akan diperlakuakan seperti itu pun nampak terkejut. Izar menepuk telapak tangan Alya agar segera melepaskan bekapannya dari mulutnya.
“ Maaf...,” kata Alya salah tingkah dengan wajah merona.
“ Iya gapapa...,” sahut Izar sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
“ Darimana Kamu tau kalo Aku lagi nyelidikin kematian Ayahku, jangan-jangan Kamu indigo ya...,” tebak Alya.
“ Bisa dibilang Aku terbiasa berinteraksi dengan makhluk halus. Kenapa memangnya...?” tanya Izar.
“ Apa Kamu bisa membantuku...?” tanya Alya penuh harap.
“ Insya Allah bisa...,” sahut Izar mantap hingga membuat Alya tersenyum.
“ Kalo gitu Kita ketemu di kafe depan sana nanti sore ya...,” kata Alya sambil berlalu.
“ Insya Allah. Namaku Izar...!” kata Izar lantang untuk mengingatkan Alya.
“ Ok, Aku dengar...!” sahut Alya sambil melambaikan tangannya.
Izar menatap Alya yang makin menjauh itu sambil menggelengkan kepalanya.
\=====
Sore harinya Alya menepati janjinya untuk datang ke kafe yang terletak di depan perumahan itu. Iyaz dan
Izar sudah lebih dulu datang dan tengah duduk menikmati kopi dan makanan ringan.
Melihat kehadiran Alya, Izar pun melambaikan tangannya. Alya balas melambaikan tangannya dan itu membuat Iyaz tersenyum melihat tingkah keduanya.
“ Ehm, so sweet banget sih Kalian berdua ini. Ga nyangka hubungan Kalian maju pesat kaya gini...,” kata Iyaz
setengah berbisik.
“ Oh ya...?” tanya Iyaz dengan mimik mengejek.
“ Iya...,” sahut Izar cepat saat Alya makin mendekat kearah mereka.
“ Maaf ya telat. Aku harus main kucing-kucingan dulu sama Mama tiriku itu supaya bisa bebas...,” kata Alya sambil meletakkan tas selempangnya di atas meja.
“ Gapapa, Kami juga baru sampe. Iya kan Yaz...?” tanya Izar sambil menoleh kearah kembarannya.
“ Iya...,” sahut Iyaz dengan enggan.
“ Oh syukurlah. Mbak...!” panggil Alya sambil melambaikan tangannya kearah pelayan kafe.
Setelah memesan minuman dan makanan ringan, Alya pun beralih menatap Iyaz. Keningnya berkerut saat menyadari jika Iyaz dan Izar memiliki wajah yang serupa hanya berbeda penampilan.
“ Kalian kembar ya...?!” tanya Alya dengan mata berbinar.
“ Iya. Karena usia Kami lebih dewasa darimu, jadi harusnya Kamu panggil Kami Kakak atau Abang...,” sahut Iyaz tegas.
“ Ok ga masalah. Aku Alya, ini Bang Izar dan ini...,” ucapan Alya terputus.
“ Panggil dia Bang Iyaz...,” kata Izar cepat yang diangguki Alya.
__ADS_1
Pelayan kafe datang dan membawakan pesanan Alya berupa es lemon tea dan brownis. Alya pun langsung meneguk es lemon tea dengan cepat karena rasa haus yang mendera. Setelahnya ia duduk manis sambil mengunyah brownisnya perlahan.
“ Jadi gimana ceritanya...?” tanya Iyaz tiba-tiba.
“ Ayahku menikah dengan Mama Vena dua tahun lalu. Mendadak dan tanpa pemberitahuan. Aku ga setuju karena menurutku Mama Vena itu aneh...,” kata Alya.
“ Apanya yang aneh...?” tanya Iyaz.
“ Senyumnya, cara bicaranya, cara menatapnya, cara berjalannya. Pokoknya semua yang ada dalam diri Mama Vena itu aneh...!” sahut Alya.
“ Kalo aneh, kenapa Kamu setuju untuk tinggal sama dia. Kenapa ga kabur aja...?” tanya Izar.
“ Aku udah berkali-kali kabur Bang. Tapi Anak buah Ayah selalu berhasil nemuin Aku dan bawa Aku pulang ke rumah itu. Aku udah bilang sama Ayah untuk kost aja deket kampus, tapi Ayah ga ngijinin. Sampe akhirnya Aku dapat kabar ayah meninggal saat Aku dalam pelarian. Aku pulang dan ngeliat jenasah Ayah udah dimasukin ke dalam peti, padahal kan Ayah muslim. Harusnya jenasah Ayah diurus secara muslim juga kan. Waktu Aku tanya sama Mama Vena, dia bilang jasad Ayah memang diletakkan di dalam peti sejak di Rumah Sakit karena Ayahku meninggal di Rumah Sakit. Aku ga ngerti, tapi itu yang Mama Vena bilang dan Aku percaya gitu aja...,” kata Alya dengan wajah sedih.
“ Kami turut berduka cita dengan kematian Ayahmu ya Al...,” kata Iyaz.
“ Makasih Bang...,” sahut Alya sambil tersenyum.
“ Terus sejak kapan Kamu mencurigai Tante Vena...?” tanya Izar.
“ Sejak Tante Tina menghilang...,” sahut Alya.
“ Siapa Tante Tina...?” tanya Izar pura-pura tak tahu.
“ Tante Tina itu Istrinya Om Surya yang rumahnya di depan rumahnya Kak Hanako...,” sahut Alya.
“ Oh iya, Kami tau. Apa hubungannya menghilangnya Tante Tina dengan kematian Ayahmu...?” tanya Izar.
“ Justru itu yang mau Aku selidiki Bang. Soalnya Tante Tina menghilang setelah ngobrol sama Mama Vena di depan
rumah. Waktu itu ga sengaja Aku ngeliat mereka lagi ngobrol. Mama Vena keliatannya marah sama Tante Tina. Aku ga tau persis apa masalahnya...,” sahut Alya.
Mendengar ucapan Alya membuat Iyaz dan Izar saling menatap sejenak lalu mengangguk.
\=====
Malam itu Alya terbangun karena mendengar suara aneh dari luar kamar. Semula Alya ingin mengabaikan suara itu, namun akhirnya ia tergerak untuk mendatangi suara itu setelah meminta pendapat Izar melalui pesan WA.
Kemudian Alya keluar dari kamar dan mengendap-endap menuju ruang tengah dimana suara itu berasal. Alya melihat banyak sesajen di atas lantai disertai lilin yang menyala membentuk lingkaran. Aroma kemenyan yang pekat menyeruak di dalam ruangan hingga membuat Alya menutup hidung karena merasa tak nyaman.
Tiba-tiba Alya mendengar suara langkah kaki mendekat kearah ruang tengah. Alya tahu betul jika itu suara langkah mama tirinya. Alya pun sembunyi di balik lemari besar dan melihat jika saat itu Vena sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria. Saat mengenali siapa pria yang bersama Vena, Alya pun menutup mulutnya karena
terkejut. Apalagi saat itu Vena dan pria itu mengenakan pakaian yang aneh.
Alya menahan nafas saat melihat apa yang dilakukan Vena dan pasangannya itu. Namun nafas Alya seolah terhenti
saat ia menyadari jika dirinya tak sendiri di tempat persembunyiannya itu. Ada sosok wanita berwajah pucat dengan rongga mata kosong dan berambut kusut tengah berdiri di hadapan Alya sambil menatapnya lekat.
Alya makin ketakutan saat kulit wajah hantu wanita itu perlahan pecah dan mengeluarkan cairan kecoklatan berbau busuk. Alya pun jatuh pingsan saat hantu wanita itu mendekat kearahnya sambil menyeringai.
__ADS_1
Bersambung