
Pieter harus dirawat karena kehilangan banyak darah. Selain itu Pieter divonis menderita tumor hati dan gangguan pada saluran kemih.
Mendengar vonis dokter membuat Thalia tertegun. Ia merasa lalai memperhatikan Pieter. Bagaimana pun status Pieter adalah suaminya, meski pun saat ini Thalia tengah berusaha menggugat cerai sang suami.
Thalia yang datang bersama seorang pria yang diyakini sebagai kekasihnya itu pun nampak sedih. Ia duduk menemani Pieter sambil sesekali menghapus air matanya.
“ Melihat Pieter seperti ini Aku yakin Kau akan merubah keputusanmu untuk menceraikannya Thalia...,” kata pria bernama Mico dengan sinis.
“ Tolong Mico, ini bukan waktunya Kita membahas hal itu...,” sahut Thalia.
“ Lalu kapan waktunya Thalia. Aku bukan cadangan yang Kau temui saat butuh dan Kau campakkan saat Kau
bahagia...,” kata Mico sambil meninggalkan Thalia begitu saja.
Thalia menatap Mico dengan tatapan bingung. Thalia merasa bersalah karena telah memberi harapan palsu pada Mico, mantan kekasihnya yang masih mencintainya itu. Padahal saat ini Thalia masih terikat pernikahan dengan Pieter. Thalia pun mengusap wajahnya dengan kasar untuk meredakan rasa gelisahnya.
Sementara itu pendeta Xavier ditemani Fatur, Faiq dan si kembar nampak duduk di luar kamar rawat inap Pieter. Mereka nampak serius membahas Pieter dan masa lalunya.
“ Jadi arwah gadis itu juga ikut sampe ke sini...?” tanya pendeta Xavier.
“ Iya Opa...,” sahut Iyaz.
“ Apakah Pieter masih punya kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri...?” tanya pendeta Xavier.
“ Kita ga tau apa yang menanti Pieter di depan sana Om. Kita hanya bisa berusaha tapi Allah yang menentukan akhirnya...,” sahut Faiq hingga membuat pendeta Xavier termangu.
Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam kamar rawat inap Pieter. Rupanya Thalia yang menjerit karena ketakutan melihat kondisi Pieter yang memburuk. Faiq dan keluarganya beserta pendeta Xavier pun masuk ke dalam ruangan untuk melihat apa yang terjadi.
Mereka terkejut mendapati Pieter yang sekarat. Tubuhnya mengejang, kedua matanya mendelik ke atas dan mulutnya mengeluarkan busa. Izar segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Tak lama kemudian dokter pun datang bersama dua orang perawat. Dengan sigap dokter memeriksa keadaan Pieter.
“ Sebaiknya Bapak dan Ibu menunggu di luar ya. Biar dokter memeriksa pasien dengan tenang...,” kata salah satu
perawat sambil membuka pintu.
Semua keluar dari ruangan itu dan menunggu di depan kamar rawat inap Pieter. Wajah Thalia terlihat tegang. Sesekali ia mengusap matanya yang basah. Penyesalan nampak terlihat jelas di wajahnya.
Iyaz dan Izar yang diam-diam mengamati wanita itu pun hanya tersenyum kecut. Keduanya tahu jika dalam hatinya Thalia masih sangat mencintai Pieter. Thalia hanya kesal karena Pieter seolah pasrah dan tak mau berusaha untuk sembuh. Hingga akhirnya Thalia sengaja menjalin hubungan dengan pria lain untuk membuat Pieter cemburu.
__ADS_1
Pintu kamar rawat Pieter terbuka dan perawat nampak berdiri di balik pintu.
“ Keluarga Bapak Pieter...,” kata sang perawat.
“ Iya, ada apa Suster...?” tanya Thalia.
“ Dokter ingin bicara serius dengan Ibu...,” sahut sang perawat.
Thalia nampak bimbang. Lalu ia menoleh kearah pendeta Xavier dan meminta sang pendeta mau menemaninya masuk ke dalam kamar untuk menemui dokter. Pendeta Xavier tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian Thalia masuk ke dalam kamar rawat inap ditemani pendeta Xavier.
“ Apa Anda keluarga pasien...?” tanya sang dokter.
“ Iya dok, Saya Istrinya dan ini Guru Suami Saya...,” sahut Thalia sambil memperkenalkan pendeta Xavier kepada sang dokter.
“ Apa yang terjadi dok...?” tanya pendeta Xavier.
“ Dengan berat hati harus Saya katakan bahwa penyakit Pak Pieter sudah sangat parah...,” sahut sang dokter.
“ Sangat parah, maksudnya apa dok...?” tanya Thalia cemas.
“ Mmm..., sekarang Pak Pieter kritis. Dia mungkin sulit bertahan, tapi Kita hanya bisa berdoa semoga keajaiban Tuhan datang untuk menyelamatkannya...,” sahut dokter ragu.
Mendengar ucapan dokter membuat Thalia terkejut dan nyaris pingsan. Beruntung dua perawat wanita yang berdiri di belakangnya mampu menyangga tubuhnya hingga Thalia tak harus jatuh tersungkur ke lantai.
“ Gapapa Sus. Saya cuma kaget aja...,” sahut Thalia sambil memijit keningnya.
Setelah memastikan kondisi Thalia baik-baik saja, pendeta Xavier pun kembali bertanya.
“ Jadi apa yang bisa Kami lakukan dok...?” tanya pendeta Xavier.
“ Berdoa Pak pendeta, hanya itu...,” sahut dokter.
“ Baik, terima kasih dok...,” kata pendeta Xavier yang diangguki dokter.
“ Sama-sama Pak...,” sahut sang dokter.
“ Apa Saya boleh menemani Suami Saya di sini dokter...?” tanya Thalia.
“ Silakan Bu karena pasien hanya boleh ditemani oleh satu orang aja ya. Jika ada apa-apa bisa hubungi Kami segera...,” sahut sang dokter.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu dokter dan dua perawat meninggalkan Thalia yang menangis dan pendeta Xavier yang menatap nanar kearah Pieter.
“ Bersabar dan berdoa lah kepada Tuhan. Minta lah yang terbaik untuk Suamimu jika masih ada sedikit cinta di hatimu untuknya...,” kata pendeta Xavier sambil mengusap kepala Thalia.
Ucapan pendeta Xavier justru membuat Thalia makin keras menangis.
“ Aku masih mencintai Pieter Pak pendeta. Sangat mencintainya. Aku hanya kesal karena Pieter ga serius untuk sembuh. Dia ga peduli sama Aku. Aku juga butuh perhatian dan kasih sayangnya, bukan hanya uang dan uang. Aku bisa dapatkan uang dari orangtuaku, ga kurang bahkan banyak. Aku hanya mau Pieter sembuh dan bisa melaksanakan tugasnya...,” kata Thalia.
“ Kalo Kamu mencintainya, kenapa Kamu malah selingkuh dengan laki-laki lain...?” tanya pendeta Xavier.
“ Aku cuma mau bikin Pieter cemburu, tapi sayangnya Pieter ga cemburu. Makanya Aku kesal dan minta cerai. Anehnya Pieter juga ga mau melepaskan Aku. Aku bingung harus gimana Pak pendeta...,” sahut Thalia sambil mengusap matanya yang basah.
“ Tapi caramu salah Nak. Kau telah melukai hatinya dan itu membuatnya tertekan. Itu juga ga baik karena makin memperparah sakitnya. Kamu dengar kan dokter bilang apa. Ternyata penyakit Pieter bertambah karena dia merasa Kamu tak menyayanginya lagi...,” kata pendeta Xavier.
“ Saya menyesal Pak pendeta, Saya menyesal...,” sahut Thalia kembali menangis.
Pendeta Xavier pun keluar dari ruangan untuk memberi ruang pada Thalia mengekspresikan perasaannya pada suaminya itu. Saat tiba di luar kamar pendeta Xavier disambut oleh Fatur.
“ Dua penyakit yang diderita Pieter berkaitan dengan Malini Vier...,” kata Fatur.
“ Apa maksudmu...?” tanya pendeta Xavier.
“ Penyakit tumor hati yang diderita Pieter karena dia telah menyakiti hati Malini. Kalimat makian dan penolakan yang Pieter ucapkan bikin Malini sakit hati dan kecewa berkepanjangan. Sedangkan gangguan saluran kemih yang diderita Pieter juga sebagai teguran karena dia menyalah gunakan nama Tuhan bahkan mengkhianati sumpahnya itu...,” sahut Fatur.
“ Begitu ya...,” kata pendeta Xavier sambil mengusap wajahnya.
Sedangkan di depan pintu kamar terlihat hantu Malini tengah berdiri mengawasi ke dalam ruangan dimana Thalia sedang menangisi Pieter.
“ Jadi gimana, apa Kau mau memaafkan dia...?” tanya Faiq.
“ Aku memaafkannya...,” sahut hantu Malini.
“ Alhamdulillah, itu bagus. Kau memang orang baik...,” kata Faiq.
“ Tapi Aku akan mengajaknya pergi bersamaku karena dia hanya akan menderita selama hidupnya jika dia tetap tinggal di sini...,” sahut hantu Malini mengejutkan Faiq.
“ Bukannya Kamu bilang memaafkan dia tadi, kenapa masih ingin mengajaknya pergi...?” tanya Faiq tak mengerti.
“ Ada tali merah yang mengikat Kami dan akan terus begitu sampai dia meninggal nanti. Tali itu yang menghalangi Thalia atau wanita lainnya untuk masuk...,” sahut hantu Malini.
__ADS_1
Faiq pun mengangguk dan mengerti. Ia menoleh kearah Pieter dan merasa apa yang diucapkan hantu Malini benar adanya.
\=====