Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
137. Mau Bantuin


__ADS_3

Setelah kejadian buruk yang antara nyata dan tak nyata itu dialaminya, sikap Tiara pun berubah. Tiara menjadi lebih pendiam dan bertingkah aneh. Tiara selalu ketakutan dan berjalan lebih cepat dari biasanya seolah sedang menghindari sesuatu. Ia pun menjadi tak fokus dan seringkali menjatuhkan barang atau menabrak seseorang yang berada tepat di depannya. Hal ini bukan hanya berlangsung sekali tapi beberapa kali dalam sehari dan itu membuat Sifa prihatin.


Puncaknya Tiara hampir melakukan bunuh diri di balkon kampus. Beruntung Izar dan teman-temannya berhasil mencegah niat buruk Tiara.


Dan setelah niat bunuh dirinya tak terlaksana Tiara pun jatuh sakit. Ia tak masuk kuliah selama beberapa hari. Sifa yang mencoba menghubunginya pun tak mendapat respon karena Tiara menon aktifkan ponselnya.


Yamini dan Santoso pun membawa Tiara berobat ke klinik yang letaknya tak jauh dari rumah. Aneh. Dokter tak menemukan penyakit apa pun yang bersarang di tubuh Tiara. Meski pun begitu dokter tetap memberinya obat agar Tiara bisa segera pulih.


Selama pemerikasaan berlangsung Tiara mengunci mulutnya rapat-rapat hingga sang dokter meyakini jika Tiara baru saja mengalami kejadian yang membuatnya tertekan sekaligus malu.


“ Tiara hanya perlu istirahat. Tolong jangan paksa dia bicara apa pun sampe dia sendiri yang mau cerita...,” kata dokter.


“ Emangnya Tiara kenapa dok...?” tanya Yamini tak mengerti.


“ Mmm..., Saya harap Saya salah. Tapi keliatannya Anak Ibu ini sedikit depresi. Dan Saya khawatir pertanyaan


yang terus menerus malah bikin dia tambah kalut. Kasih dia kesempatan untuk menetralisir perasaannya sejenak. Setelahnya dia pasti mau menceritakan semuanya. Untuk penurun demam Saya resepkan obat ini ya...,” sahut sang dokter sambil menulis resep.


“ Baik, makasih dok...,” kata Yamini.


“ Sama-sama Bu...,” sahut sang dokter sambil tersenyum.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Tiara juga masih membisu. Santoso dan Yamini pun tak bisa berbuat apa-apa karena menuruti anjuran dokter tadi. Setibanya di rumah Tiara langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Setelahnya Tiara minum obat yang disiapkan Yamini.


“ Kamu ga istirahat di kamar aja Nak...?” tanya Yamini lembut.


“ Aku mau tiduran di sini aja boleh kan Bu...?” tanya Tiara penuh harap.


“ Boleh. Tapi Kamu ga bakal bisa tidur kalo tivi nyala kaya gitu. Dimatiin dulu ya biar Kamu bisa tidur...,” sahut Yamini.


“ Iya Bu...,” sahut Tiara lalu memejamkan matanya.


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Tiara pertanda Tiara telah masuk ke alam mimpi. Yamini nampak tersenyum lalu menyelimuti tubuh Tiara dengan selimut yang diambilnya di kamar Tiara tadi.


“ Gimana keadaannya Bu...?” tanya Santoso.


“ Alhamdulillah demamnya turun Yah. Cuma masih lemes kayanya...,” sahut Yamini.


“ Alhamdulillah...,” kata Santoso lega.


Namun saat Santoso hendak beranjak, ia melihat Tiara gelisah dalam tidurnya. Tiara nampak menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meracau.


“ Jangaann..., lepasin Aku...,” kata Tiara lirih hingga membuat Santoso dan Yamini saling menatap.

__ADS_1


“ Keliatannya Tiara mimpi buruk Yah...,” bisik Yamini yang diangguki Santoso.


“ Bangunkan Tiara Bu...,” kata Santoso.


“ Tiara..., Tiara bangun. Kamu kenapa...?” tanya Yamini sambil mengguncang tubuh Tiara dengan lembut.


Tiara membuka matanya lalu menghambur memeluk Yamini. Tiara pun menangis keras dalam pelukan Yamini hingga membuat Yamini dan Santoso bingung. Apalagi Tiara tak mau bicara sepatah kata pun untuk menjelaskan keadaannya saat itu.


Tak habis akal, Santoso mencari ponsel Tiara dan mencoba menghubungi Sifa, teman yang selalu diceritakan Tiara padanya.


“ Hallo, dimana Lo Ti. Kenapa susah banget sih dihubungin. Apa cowok dalam mimpi itu masih ganggu Lo...?” tanya Sifa dari seberang sana hingga membuat Santoso bingung dan penasaran.


“ Cowok dalam mimpi yang mana ya Nak...?” tanya Santoso.


“ Eh, oh maaf. Ini siapa ya...?” tanya Sifa tak enak hati.


“ Saya Ayahnya Tiara. Ini Sifa kan, bisa ga Kita ketemu...?” tanya Santoso cepat.


“ Maaf Om. Tapi Tiaranya mana Om, Saya...,” ucapan Sifa terputus karena Santoso memotong dengan cepat.


“ Tiara sakit dan Saya butuh bantuan Kamu. Bisa Kita ketemu secepatnya...?” desak Santoso.


“ Iya iya bisa Om. Saya masih di kampus, Saya...,” lagi-lagi ucapan Sifa terputus.


“ Saya jemput Kamu sekarang. Tolong aktifin terus ponsel Kamu ya...,” pinta Santoso.


Sifa menatap ponselnya dengan bingung hingga tak menyadari jika di depannya ada Leo dan Izar yang tengah melangkah berlawanan arah dengannya. Ponsel di tanganSifa pun terjatuh dan itu mengejutkan mereka.


“ Ups, sorry...,” kata Leo dengan mimik terkejut.


“ Gimana sih. Hati-hati dong kalo jalan. Emang ga ngeliat ada orang segede gini di depan Lo...?” tanya Sifa sambil meraih ponselnya yang terjatuh.


“ Tapi Lo juga jalannya ga liat-liat...,” sahut Leo.


“ Ga liat-liat apa sih maksud Lo...?” tanya Sifa tak suka.


“ Lo tuh hampir masuk got kalo Gue ga berdiri di sini. Bukannya terima kasih malah marah-marah...,” sahut Leo hingga membuat Sifa terkejut dan memperhatikan langkahnya.


“ Ehm, sorry. Makasih ya. Gue tadi lagi bingung karena Ayahnya Tiara bilang mau jemput Gue karena  Tiara sakit dan butuh bantuan Gue...,” kata Sifa malu-malu.


“ Tiara sakit apa...?” tanya Leo.


“ Ga tau. Mmm, jangan-jangan Tiara sakit gara-gara kepikiran sama niatnya yang gagal itu ya. Apa Gue ceritain aja soal niat bundirnya Tiara tempo hari sama Ayahnya itu. Menurut Kalian gimana...?” tanya Sifa ragu.

__ADS_1


“ Kok tanya sama Kita...?” tanya Leo sambil menatap Izar.


“ Kan Kalian yang nolongin Tiara waktu itu. Gue ga tau apa aja yang udah Kalian omongin sama Tiara sampe dia batal bunuh diri. Sekarang Ayahnya Tiara datang pasti mau nanyain hal itu kan. Kalo menurut Gue sih Ayahnya itu harus tau apa yang terjadi sama Tiara. Gue ga mau nyesel nanti kalo terjadi sesuatu yang buruk sama Tiara tapi Gue ga sempet melakukan sesuatu untuk menolong Tiara...,” sahut Sifa gusar.


Izar dan Leo saling menatap sejenak kemudian mengangguk.


“ Insya Allah Kita mau bantuin Tiara...,” kata Izar tiba-tiba hingga membuat Sifa tersenyum.


“ Nah gitu dong. Yuk, Kita tunggu Ayahnya Tiara di depan kampus...,” ajak Sifa sambil melangkah.


“ Ok...,” sahut Izar.


“ Lo ga salah mau bantuin Tiara, Zar. Kan Lo ga kenal sama Tiara...,” kata Leo sambil melangkah di belakang Sifa.


“ Nolongin orang kan ga harus kenal dulu...,” sahut Izar santai.


“ Iya deh, terserah Lo aja...,” kata Leo sambil tersenyum.


Beberapa saat menunggu di depan kampus terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depan Sifa.


“ Sifa ya...?” tanya Santoso sambil membuka pintu mobil.


“ Iya, ini Ayahnya Tiara...?” tanya Sifa.


“ Betul. Gimana Sifa, bisa kan Om minta tolong sama Kamu...?” tanya Santoso.


“ Bisa Om. Tapi Saya ajak teman Saya juga ya Om...,” sahut Sifa.


“ Ga masalah. Yuk, Kita berangkat sekarang...,” sahut Santoso sambil tersenyum.


Sifa, Izar dan Leo masuk ke dalam mobil. Sifa duduk di samping Santoso sedangkan Izar dan Leo duduk di kursi tengah. Dari tempat duduknya Izar bisa melihat jika Santoso nampak berusaha tenang saat mengemudikan mobil.


“ Tenang aja Om, Tiara gapapa kok...,” kata Izar mencoba menghibur Santoso.


“ Eh iya, makasih ya Nak...,” sahut Santoso sambil menoleh kearah Izar dan tersenyum.


“ Saya Izar dan ini Leo. Kami kemarin yang membujuk Tiara supaya ga lompat dari balkon kampus Om...,” kata Izar hingga mengejutkan Santoso.


Santoso menginjak pedal rem lalu menatap Izar seolah ingin memastikan pendengarannya.


“ Maksud Kamu, Tiara mau bunuh diri...?” tanya Santoso ragu.


“ Iya Om. Bukan cuma Kami saksinya tapi hampir semua mahasiswa di kampus juga ngeliat apa yang Tiara lakukan...,” sahut Izar mantap.

__ADS_1


Santoso menghela nafas panjang kemudian memejamkan matanya karena tak sanggup membayangkan kehilangan anaknya tanpa tahu apa sebabnya.


\=====


__ADS_2