
Burhan menatap ketiga orang pria di hadapannya dengan tatapan tak suka. Apalagi saat ia melihat calon mangsany yaitu Hanako ada dalam pelukan Faiq yang disadarinya memiliki kekuatan yang tak biasa.
Namun Burhan tak ingin menyerah. Ia mulai melancarkan ilmu sirep yang dimilikinya untuk menghipnotis semua
orang. Burhan mengira ilmunya akan bermanfaat untuk menaklukkan keempat orang di hadapannya. Ternyata Burhan salah besar. Karena ilmu sirepnya yang melegenda itu tak memberi efek apa pun untuk Faiq, Fatur, Hanako dan Suraj.
“ Serahkan gadis itu padaku...!” kata Burhan lantang.
“ Kenapa harus menyerahkan dia padamu...?” tanya Faiq santai.
“ Kau tau apa maksudku, jangan membuang waktuku...,” sahut Burhan gusar.
Ucapan Burhan membuat Faiq tersenyum. Sedangkan Hanako nampak mulai goyah karena hawa panas yang menguar di sekitarnya membuat tubuhnya basah dengan keringat. Belum lagi hawa panas itu membuat permukaan kulit wajahnya terasa perih. Hanako memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan diri. Hanako membuka matanya saat mendengar Faiq bertanya sesuatu padanya.
“ Kamu baik-baik aja CI...?” tanya Faiq sambil menatap Hanako.
“ Aku gapapa Pa, cuma pusing sedikit...,” sahut Hanako.
“ Ok. Sekarang Kamu sama Opa ya...,” kata Faiq sambil mengarahkan Hanako mendekati Fatur.
Hanako mengangguk lalu berpindah dengan cepat ke pelukan Fatur yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Fatur mengerutkan keningnya saat melihat kulit wajah Hanako yang mengelupas akibat serangan hawa panas tadi. Kemudian Fatur membentangkan sorban yang dibawanya untuk melindungi Hanako.
“ Pake sorban ini Nak. Lindungi dirimu karena Opa liat wajahmu mulai terluka akibat angin panas tadi...,” kata Fatur.
“ Pantesan rasanya panas dan perih banget Opa...,” sahut Hanako sambil menyelimuti kepala, wajah dan kedua tangannya dengan sorban itu dan hanya menyisakan sepasang matanya saja agar bisa melihat dengan jelas.
Melihat kedekatan Hanako dengan kedua pria asing di hadapannya dan mendengar panggilan Hanako pada kedua pria itu membuat Suraj sadar jika mereka bertiga memiliki hubungan keluarga. Dan itu membuat Suraj bernafas lega. Kini Suraj memperhatikan apa yang akan dilakukan sang kakek pada keluarga wanita yang ia cintai itu dengan seksama.
Di depan sana Burhan nampak mendengkus kesal bak banteng terluka saat melihat Faiq mengarahkan Hanako untuk menjauh darinya. Wajahnya yang aneh karena tanduknya itu justru bertambah aneh saat marah. Dan itu membuat Suraj yang selama ini menjadi abdinya sedikit terkejut karena belum pernah melihat sang kakek semarah itu.
__ADS_1
Faiq nampak siaga menghadapi Burhan yang tiba-tiba menyerangnya. Sesuai dengan keadaan tubuhnya yang menyerupai banteng, seperti itu lah cara menyerang Burhan. Ia bergerak liar dengan mengarahkan tanduknya itu kearah musuhnya. Faiq melompat menghindari Burhan. Namun sayang, ujung tanduk Burhan sempat menggores kakinya dan itu membuat Faiq meringis.
“ Papa...,” gumam Hanako gusar.
“ Dia gapapa Nak, tenang dan lanjutkan dzikirmu...,” kata Fatur mengingatkan hingga membuat Hanako mengangguk dan kembali fokus pada dzikirnya.
Melihat musuhnya terluka akibat terkena tanduk kebanggaannya itu membuat Burhan senang dan sedikit lengah. Ia
tersenyum karena mengira perlawanan Faiq akan segera berakhir. Karena selama ini belum ada yang bisa menandingi kehebatan senjata andalannya itu. Apalagi di tanduk itu terdapat racun berbahaya yang mematikan. Biasanya luka gores sekecil itu cukup membuat tubuh lawannya lumpuh dalam sekejap dan memudahkan Burhan untuk mengalahkan dan membantai musuh-musuhnya.
Tapi rupanya kali ini Burhan harus menelan rasa kecewa. Setelah menyadari luka gores itu mengandung racun, Faiq mengeluarkan sebotol air ruqyah yang telah ia persiapkan tadi. Meneguknya dan membasuhkan sisa air itu ke luka goresan di kakinya itu. Ajaib, luka itu nampak mengepulkan asap tipis berwarna kebiruan. Sesaat kemudian luka itu pun merapat dan sembuh dengan cepat.
Faiq kembali berdiri tegak dan menatap Burhan dengan tajam. Burhan mendengkus lagi karena tak menyangka jika Faiq sembuh dengan cepat hanya karena setetes air. Dalam hati Burhan berniat memiliki air yang dimiliki Faiq tadi karena menganggap air itu memiliki tuah yang besar.
“ Nampaknya Aku terlalu meremehkanmu...,” kata Burhan sambil tersenyum sinis.
“ Jangan sebut nama Tuhanmu di sini...!” hardik Burhan.
“ Kenapa memangnya. Toh hutan ini juga termasuk ciptaanNya...,” sahut Faiq santai.
“ Hah, Kau selalu membuatku marah dengan jawabanmu itu. Sekarang terima lah ini...!” kata Burhan marah sambil menyerang dengan kekuatan penuh.
Faiq yang memang telah siaga menyambutnya dengan tenang. Perkelahian pun tak terelakkan. Sesekali Burhan melirik kearah Hanako yang nampak berselimut sorban itu seolah sedang mencari celah untuk menculiknya.
Sedangkan Suraj yang berdiri tak jauh dari Hanako pun beberapa kali mencuri pandang kearah gadis itu. Hanako yang sadar jika dirinya diamati oleh Suraj pun merasa kesal dan mulai kehilangan konsentrasinya karena rasa kesalnya itu.
Saat seperti itu lah ilmu sirep yang sebelumnya telah dilancarkan oleh Burhan mulai mempengaruhi Hanako. Di saat Fatur dan Suraj fokus memperhatikan perkelahian Faiq dan Burhan di depan sana, secara perlahan Hanako mulai bergeser menjauhi tempat itu tanpa ia sadari.
Burhan nampak tersenyum tipis saat menyadari Hanako telah terpengaruh oleh ilmu kebanggaannya itu. Dengan sekali hentakan Burhan melepaskan angin yang kali ini membawa percikan api hingga membuat Faiq melompat untuk menghindarinya begitu pun Fatur dan Suraj. Ketiganya langsung menghindar dengan cepat karena yakin angin yang mengandung api itu pasti sangat berbahaya untuk mereka.
__ADS_1
Setelah membuat ketiga orang pria itu mundur dengan serangannya, Burhan pun lari mengejar Hanako yang sudah
bergeser dari tempat semula. Dengan cepat Burhan menggendong tubuh Hanako dan membawanya pergi secepat kilat. Tak ada perlawanan dari Hanako atau sekedar jeritan minta tolong karena Hanako benar-benar telah ada dalam pengaruh ilmu sirep Burhan.
Sedangkan Faiq, Fatur dan Suraj baru tersadar Burhan tak ada lagi di hadapan mereka bersamaan dengan meredanya gelombang panas yang menyerang mereka tadi. Saat ketiganya menoleh kearah Hanako mereka tak melihat gadis itu di sana dan itu membuat mereka panik.
“ Cici...!, Hanako...!” panggil Fatur, Faiq dan Suraj bersamaan.
Sepi tak ada sahutan. Suasana hutan terasa makin mencekam saat ketiganya saling menatap dan seolah terkungkung dalam satu kekuatan tak kasat mata.
“ Astaghfirullah aladziim..., Laa haula wala quwwata ilaa bilaahil aliyyil adziim...,” kata Fatur dan Faiq bersamaan
secara berulang-ulang.
Ucapan Fatur dan Faiq membuat Suraj ternganga. Ia merasa pernah mendengar kalimat itu dulu. Dan tiba-tiba Suraj teringat pada Surti, ibu kandungnya yang mati di tangannya. Tanpa sadar air mata mengalir dari kedua mata Suraj.
“ Ibu...,” kata Suraj lirih namun masih bisa didengar oleh Fatur dan Faiq.
Perlahan kabut tak kasat mata yang melingkupi mereka pun pecah hingga membuat Fatur dan Faiq bisa bernafas lega. Mereka tahu jika Suraj sedang teringat dengan masa lalunya. Namun bukan saatnya untuk menanyakan hal itu karena nasib Hanako jauh lebih penting bagi keduanya.
“ Kau tau betul seluk beluk hutan ini. Jika Kau memang mencintai Hanako, tunjukkan Kami jalannya dan Kita bebaskan dia bersama-sama...,” kata Fatur.
Suraj tersentak mendengar ucapan Fatur. Ia tak menyangka jika pria tua di hadapannya yang seusia dengan ayahnya itu mengetahui perasaan terdalamnya kepada Hanako. Tanpa ragu Suraj mengangguk mengiyakan permintaan Fatur.
“ Baik, ikuti Aku sekarang...!” kata Suraj cepat sambil melangkah lebih dulu untuk menunjukkan jalan.
Fatur dan Faiq segera mengikuti Suraj dan berharap Allah melindungi Hanako yang kini ada dalam genggaman Burhan.
\=====
__ADS_1