
Kerangka Abin yang telah dievakuasi dibawa ke Rumah Sakit menggunakan Ambulans. Warga yang berkerumun pun mulai membubarkan diri satu per satu. Sementara Fatur, Faiq, Hanako dan si kembar memilih pulang ke rumah Farah untuk membahas temuan mereka tadi.
“ Untuk apa sih dibawa ke Rumah Sakit segala Yah, Kita kan udah tau kerangka siapa itu. Harusnya kan langsung dikubur aja...,” kata Iyaz sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
Rupanya Iyaz dan Izar sedang berkemas karena mereka harus kembali ke pesantren.
“ Itu prosedurnya Nak. Kita ini kan bekerja membantu di balik layar, ada tapi ga keliatan. Biar Polisi dan team forensik menjalankan tugasnya juga untuk menyelidiki kerangka siapa yang ada di sungai itu. Kalo mereka perlu bantuan, Kita akan membantu kok...,” sahut Faiq.
“ Tapi kan kelamaan Yah...,” protes Izar.
“ Emang gitu prosesnya dodol. Emang Kalian mau ya dituduh jadi pembunuhnya si Abin...?” tanya Hanako sambil membulatkan matanya kearah Izar.
“ Kok bisa Kita yang dituduh sih...?” tanya Izar tak mengerti.
“ Iya, karena Kalian tau ada kerangka manusia di sungai plus tau kalo itu kerangkanya si Abin. Kan cuma pembunuhnya yang tau persis siapa dan dimana membuang jasad korbannya...,” sahut Hanako.
“ Kok gitu sih, kan Kita udah bantuin Polisi...,” kata Izar tak suka.
“ Makanya itu maksud Ayah Kita bekerja di balik layar tadi. Orang seperti Kita ga bisa terang-terangan tampil di depan umum dan mengakui eksistensi Kita. Bisa menimbulkan fitnah. Polisi dituduh ga becus kerja karena ga bisa ngungkap kasus pembunuhan itu dan Kita dituduh sok tau. Padahal Kita juga pusing karena terus menerus didatangi arwah yang minta tolong supaya jasadnya ditemukan dan pembunuhnya ditangkap. Makanya perlu kerja sama yang baik dengan pihak kepolisian karena hanya polisi yang punya hak menangkap dan memenjarakan pembunuhnya. Sama-sama menguntungkan juga. Polisi bisa menjalankan tugasnya dengan baik, Kita ga lagi dikejar-kejar arwah yang penasaran dan arwah korban pun bisa tenang kembali ke haribaan Allah...,” kata Faiq panjang lebar.
Iyaz, Izar dan Hanako nampak mendengarkan penjelasan Faiq dengan serius kemudian menganggukkan kepala tanda mengerti. Fatur yang duduk tak jauh dari mereka berempat nampak tersenyum melihat interaksi Faiq dengan tiga anak ajaib di keluarga mereka itu.
Tak lama kemudian Iyaz dan Izar pun telah selesai berkemas. Setelah ijin delapan hari kini waktunya mereka kembali ke pesantren. Hanako dan Fatur ikut serta mengantarkan si kembar kembali ke pesantren.
\=====
Pengumuman team forensik tentang pemilik kerangka manusia di sungai pun disiarkan oleh media massa. Rima yang mendengar berita itu langsung dari Faiq dan Hanako sebelum polisi mengumumkan hasil temuannya itu pun nampak shock. Saat itu mereka sengaja bertemu di sebuah kafe tak jauh dari rumah orangtua Rima.
“ Jadi itu benar-benar rangkanya Abin...?” tanya Rima lirih.
“ Iya Kak...,” sahut Hanako.
__ADS_1
“ Jadi Abin beneran udah meninggal...?” tanya Rima lagi.
“ Iya...,” sahut Hanako.
“ Aku ga nyangka Abin pergi sebelum ngeliat Anaknya lahir. Aku nyesel karena ga ngasih kesempatan Abin buat bertanggung jawab. Andai aja saat itu Aku langsung setuju sama keinginan Abin, mungkin saat ini Abin masih hidup dan Kami bisa hidup bahagia...,” kata Rima sambil menangis dan mengusap perutnya pelan.
“ Itu bukan salahmu Rima. Orang yang telah melenyapkan Abin yang harus bertanggung jawab...,” kata Faiq.
“ Apa Polisi udah nemuin siapa pembunuhnya Om...?” tanya Rima.
“ Insya Allah Polisi segera nemu siapa pelakunya dan menangkapnya nanti...,” sahut Faiq.
“ Apa Aku boleh ngasih tau Polisi siapa yang harus bertanggung jawab atas kematian Abin, Om...?” tanya Rima di sela isak tangisnya.
“ Boleh. Informasi darimu bisa bantu meringankan tugas polisi...,” sahut Faiq.
“ Aku akan pergi ke kantor Polisi sekarang...,” kata Rima sambil berusaha bangkit dari duduknya.
Namun Rima kembali duduk sambil meringis kesakitan karena perutnya mengalami kontraksi hebat. Hal itu membuat Faiq dan Hanako panik lalu bergegas membawanya ke Rumah Sakit.
“ Jangan jerit-jerit aja Kak, dzikir yaa...,” kata Hanako sambil mengusap peluh di kening Rima dengan tissu.
“ Ini sakit banget Hanako, Kamu ga tau gimana rasanya. Jadi ga usah nyuruh Aku yang aneh-aneh...!” sahut Rima sambil menjerit.
“ Bukan nyuruh yang aneh-aneh Kak. Dzikir itu bisa bantu menenangkan bayi dalam rahim Kakak supaya ga berontak kaya gini. Kalo Kakak ga percaya coba aja...,” sahut Hanako kesal.
“ Apa yang harus kubaca Hanako...?” tanya Rima sambil memejamkan matanya.
“ Apa aja, karena semua dzikir itu baik kok...,” sahut Hanako.
“ Iya, iya. Tapi apa Hanako, tolong kasih tau Aku...,” rengek Rima hampir menangis.
__ADS_1
“ Subhanallah Alhamdulillah Laa ilaha ilallah Allahu Akbar...,” kata Hanako berulang-ulang.
Rima pun mulai mengikuti ucapan Hanako. Perlahan rasa sakit yang menderanya pun berkurang bahkan hilang sama sekali. Rima pun tersenyum lalu memperbaiki posisi duduknya.
“ Kamu benar Hanako. Rasa sakitnya perlahan hilang dan sekarang ga sakit lagi...!” kata Rima antusias.
“ Alhamdulillah...,” kata Faiq dan Hanako bersamaan.
“ Fadhilah dzikir itu sangat besar Rima. Dzikir itu bisa menenangkan hati Kita termasuk menenangkan bayimu tadi. Selain itu dzikir ringan diucapkan dan besar pahalanya. Kamu juga bisa membaca sholawat berulang kali untuk melengkapi dzikirmu tadi...,” kata Faiq.
“ Iya Om. Maafkan Aku ya Hanako, Aku sempet marahin Kamu tadi...,” kata Rima sambil menggenggam tangan Hanako erat.
“ Gapapa Kak. Aku maklum kok...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
“ Perutku udah ga sakit lagi kok Om, apa Kita bakal terus ke Rumah Sakit...?” tanya Rima.
“ Iya Rim. Sekalian ngecek posisi bayimu. Om ngerasa Kamu ga pernah meriksain kehamilan Kamu ke dokter ya...,” tebak Faiq.
“ He he he..., iya Om. Abisnya Aku malas, lagian buat apa. Kan ga ada Bapaknya...,” sahut Rima cuek.
“ Tapi kasian bayinya kalo Kakak ga pernah meriksain dia. Kan Kakak ga tau apa yang dibutuhin sama bayi ini. Atau harus ngapain supaya Kakak dan bayinya sehat ...,” kata Hanako prihatin.
“ Aku malu Hanako. Aku malu hamil tanpa Suami...,” kata Rima sambil menunduk.
“ Itu kesalahan Kakak dan Ayah si bayi tapi bukan kesalahan bayi ini. Dia ga pernah minta dilahirin dalam keadaan Ayah dan Ibunya belum menikah. Tapi kewajiban Kakak untuk merawat dan membesarkannya dengan baik. Semoga Allah mengampuni dosa Kakak melalui bayi ini. Bukan kah perjuangan seorang Ibu dalam melahirkan dan membesarkan anaknya juga bakal diganjar pahala yang besar sama Allah. Apa Kakak ga mau nebus kesalahan Kakak dengan memberikan yang terbaik untuk bayi ini sejak dalam kandungan...?” tanya Hanako.
Rima tersentak mendengar ucapan Hanako. Gadis belia yang usianya berbeda tiga tahun di bawahnya itu bahkan punya pola pikir yang matang dan jauh melampaui usia seharusnya. Rima tersenyum lalu mengangguk tanda setuju menerima saran Hanako.
“ Alhamdulillah..., semangat ya Kak...,” kata Hanako sambil tersenyum.
“ Iya, makasih Hanako...,” sahut Rima dengan tulus yang diangguki Hanako.
__ADS_1
Di balik kemudi Faiq nampak tersenyum bangga karena Hanako berhasil membujuk Rima agar melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri juga bayinya.
\=====