Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
225. Senjata Makan Tuan ?


__ADS_3

Sore itu Pandu, Wira dan Rian tengah menikmati senja sambi berkeliling kampung dengan motor. Saat itu mereka tak mengenakan seragam karena memang sedang off. Mereka juga menyapa para warga yang sebagian besar telah mereka kenal.


Saat tengah melajukan motor dengan lambat, mereka melihat seorang pemuda berpakaian rapi yang nampaknya kurang waras sedang meracau di pinggir jalan. Awalnya mereka ingin mengabaikan pemuda itu. Namun saat pemuda itu menyebut nama Mirva, ketiganya tersentak dan langsung berhenti.


“ Iya iya Mirva. Maafin Aku ya. Aku memang mengkhianati Kamu, tapi Aku cinta sama Delli. Jangan hukum Aku kaya gini Mirva. Tolong, biarkan Aku bahagia. Delli..., Delli..., Aku sayang Kamu. Jangan nikahi dia Delli. Aku yang layak untukmu bukan dia...,” kata pemuda itu sambil berlutut.


Melihat Pandu dan kedua temannya berhenti sambil menatap pemuda itu, salah seorang warga yang sedang menggendong anaknya pun menyapa ketiganya.


“ Ga usah heran ngeliat dia Pak. Dia jadi stress kaya gitu sejak pacarnya dijodohin sama orang lain...,” kata wanita itu.


“ Pacarnya ada dua ya Bu, kok Saya denger tadi dia nyebut nama Mirva dan Delli...?” tanya Rian.


“ Oh bukan Pak. Kalo Mirva pacar pertamanya. Dia selingkuh sama perempuan yang namanya Delli dan hampir menikah. Tapi seminggu sebelum menikah sama Delli, orangtua Delli memutuskan hubungan mereka dan menikahkan Delli dengan orang lain. Dia shock dan jadi gila. Kata orang-orang sih dia kualat karena udah menduakan Mirva. Mungkin itu hukuman dari Tuhan buat laki-laki ga setia kaya dia...,” kata wanita itu sambil mencibir.


“ Namanya siapa Bu...?” tanya Pandu.


“ Namanya Magung Pak. Dia pacaran sama Mirva udah lumayan lama. Semua orang ngira mereka bakal


menikah karena kemana-mana udah berdua terus. Makanya warga kaget pas denger Magung mau nikah tapi bukan sama Mirva. Ga taunya sama si Delli, anak perempuan kampung sebelah. Mirva sakit hati lah, Saya aja yang bukan Ibunya kesel dengernya...,” sahut wanita itu.


“ Gitu ya Bu. Makasih infonya ya Bu...,” kata Pandu.


“ Sama-sama Pak. Tapi biar pun gila Magung ga pernah bikin onar Pak. Jadi Bapak tenang aja, dia ga bakal ngamuk kok...,” sahut wanita itu sambil tertawa.


Pandu dan kedua temannya ikut tertawa lalu melanjutkan perjalanan mereka.


“ Kayanya Magung jadi korbannya si Mirva ya Ndu...,” kata Wira.


“ Keliatannya sih gitu. Guna-guna model gini dipake untuk menghalangi niat Magung nikah sama orang lain. Jadi Magung bisa sembuh ya kalo nikah sama Mirva, karena dia cuma bisa nikah sama Mirva dan bukan orang lain...,” sahut Pandu.


“ Ngeri banget sih. Itu artinya Magung harus bertahan sama Mirva sepanjang sisa umurnya dong...,” sela Rian sambil bergidik hingga membuat Pandu dan Wira tertawa.


“ Kenapa emangnya kalo bertahan sepanjang sisa umurnya, kok Lo bergidik gitu...?” tanya Pandu.


“ Ga kebayang aja hidup sama perempuan possesif kaya gitu Pak, kalo Saya sih milih kabur aja deh Pak...,” sahut Rian.


“ Tapi resikonya Lo bakal gila sepanjang sisa umur Lo itu Ri...,” kata Pandu sambil tertawa diikuti Wira.


“ Naudzubillahi min dzalik. Jauh-jauh deh dari cewek model kaya gini...,” sahut Rian sambil mengetuk kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


\=====


Rupanya rasa cinta di hati Mirva untuk Pandu terlalu besar. Mirva bukan pertama kali jatuh cinta. Dia sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan lawan jenis dan selalu berakhir tanpa kepastian. Mungkin karena para pria itu takut tak akan sanggup memenuhi semua keinginan Mirva.


Tanpa sepengetahuan siapa pun Mirva selalu mengawasi dan memantrai Pandu, termasuk saat Pandu sakit ketika sedang patroli beberapa hari yang lalu. Mirva sengaja membuat Pandu lemas hingga sang ayah membawanya ke rumah mereka. Mirva menyiapkan banyak ‘ranjau’ dalam makanan dan minuman yang ia sajikan dengan tujuan utama membuat Pandu jatuh cinta padanya. Namun sayangnya saat itu Pandu menolak makan dan minum di rumahnya.


Kini Mirva kembali mengikuti Pandu yang tengah berjalan dengan temannya usai berkunjung ke salah satu rumah warga yang mengatakan melihat Buana, si pimpinan pemberontak itu di pasar. Mirva menghadang langkah Pandu dan rekannya itu.


“ Bisa Saya bicara dengan Pak Pandu...?” tanya Mirva.


“ Silakan...,” sahut rekan Pandu.


“ Berdua aja, ini penting...,” kata Mirva lagi.


“ Ehm, boleh. Saya duluan Pak...,” sahut rekan Pandu dan diangguki Pandu.


Pandu berdiri beberapa meter di hadapan Mirva. Pandu juga mengamati situasi di sekelilingnya sambil terus berdzikir dalam hati. Pandu merasa tenang karena banyak warga melintas di jalan itu dan pasti bisa membantunya jika terjadi hal yang tak ia inginkan nanti.


“ Mau bicara apa Mirva...?” tanya Pandu.


“ Saya mau tanya kenapa Pak Pandu menolak Saya. Apa Saya ga pantas bersanding sama Bapak. Saya ini perempuan baik-baik Pak. Jadi ga seharusnya Saya diperlakukan seperti ini...,” kata Mirva gusar.


Mirva kembali melanjutkan ucapannya dengan mimik wajah yang dibuat sedih untuk menarik simpati Pandu.


“ Saya bahkan harus menjatuhkan harga diri Saya hanya untuk bertanya hal ini...,” kata Mirva sambil menunduk.


“ Apa Pak Paulus ga bilang apa alasan Saya menolak perjodohan itu Mirva...?” Tanya Pandu.


“ Papa bilang Pak Pandu udah tunangan sama gadis lain, tapi Saya ga percaya. Menikah lah dengan Saya, Kita pasti bahagia...,” kata Mirva setengah memaksa dan berusaha meraih tangan Pandu namun Pandu menepisnya dengan lembut karena tak ingin membuat Mirva malu.


“ Maafkan Saya Mirva. Saya ga bisa nerima Kamu karena Saya sudah menikah dengan gadis yang Saya cintai. Mertua Saya yang menikahkan Kami saat beliau berkunjung ke sini beberapa hari yang lalu. Andai Saya belum menikah pun Saya ga bisa terima Kamu Mirva, maaf...,” sahut Pandu hati-hati.


Mendengar ucapan Pandu Mirva terkejut dan mundur beberapa langkah. Kini ia mengerti mengapa guna-guna yang ia kirimkan untuk Pandu selalu gagal. Rupanya kelemahan dari ilmu guna-guna milik Mirva hanya manjur pada pria lajang atau duda. Mirva menggelengkan kepalanya karena tak sanggup mendengar pengakuan Pandu.


“ Apa kurangnya Saya Pak, apa Saya ga boleh bahagia?. Apa salah Saya, kenapa Saya ga pernah dicintai dengan tulus. Kenapa...?” tanya Mirva sambil menangis hingga membuat Pandu panik.


“ Jangan kaya gini Mirva. Saya ga mau orang salah paham nanti...,” kata Pandu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Tapi Mirva bertambah histeris, ia menjerit dan meracau hingga membuat warga yang melintas pun berhenti karena mengira Pandu menyakiti Mirva. Tapi Pandu tak bergeser seinchi pun dari tempat semula dan itu membuat warga bertanya-tanya.

__ADS_1


Tiba-tiba Paulus datang dan menyeruak diantara kerumunan warga lalu memeluk anaknya.


“ Dia jahat Papa, dia nolak Aku Papa. Dia bilang udah nikah sama gadis itu. Aku sakit hati Papa, Aku ga terima...!” kata Mirva di sela isak tangisnya.


Semua warga yang mendengar ucapan Mirva pun mengerti lalu mundur satu per satu dan membiarkan ketiga orang itu menyelesaikan urusan mereka. Warga hanya mengamati dari kejauhan dan itu membuat Pandu menghela nafas lega.


“ Ayo Kita pulang Mirva...,” kata Paulus sambil membawa Mirva yang terus menjerit histeris itu pulang ke rumah.


Pandu pun meninggalkan jalan itu diiringi tatapan warga yang nampak salut dengan kesetiaan Pandu pada istrinya.


\=====


Malam itu Mirva kembali menjerit histeris hingga membuat Paulus panik. Ia melihat tubuh Mirva mengejang dengan mata membelalak ke atas. Tubuh Mirva pun terasa panas dan mulutnya mengeluarkan busa. Selain itu Mirva juga meracau dengan kalimat aneh yang tak dimengerti Paulus.


Tetangga Paulus pun berdatangan karena mendengar jeritan Mirva. Melihat kondisi Mirva, salah satu warga berinisiatif memanggil orang pintar yang dipercaya bisa mengusir makhluk halus.


Saat sang dukun datang Mirva tengah mengamuk. Enam orang laki-laki dewasa pun kewalahan memegangi tubuh Mirva yang berniat melarikan diri dari rumah. Paulus nampak menangis melihat kondisi Mirva.


“ Yang tak berkepentingan keluar...!” kata sang dukun lantang.


Warga yang memadati rumah Paulus pun menyingkir dan menunggu di luar rumah. Sedangkan enam pria dewasa yang memegangi Mirva masih bertahan di dalam atas permintaan Paulus. Sang dukun maju lalu menyemburkan air ke wajah Mirva dan itu membuat Mirva tersentak lalu jatuh tak sadarkan diri.


“ Tinggalkan Kami. Jangan jauh-jauh ya, kalo Mirva mengamuk lagi Kalian langsung masuk aja...,” kata sang dukun.


“ Baik Kek...,” kata keenam pria itu bersamaan.


Kemudian sang dukun mengecek urat nadi di pergelangan tangan Mirva. Ia mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya hingga membuat Paulus bingung.


“ Anakmu bermain-main dengan ilmu hitam rupanya. Dan jin penghuni ilmu hitam itu marah karena Mirva tak menepati janjinya...,” kata sang dukun sambil menatap Paulus lekat.


“ Ilmu hitam apa Kek...?” tanya Paulus tak mengerti.


“ Mirva telah banyak menyakiti orang dengan ilmu hitamnya itu. Bahkan ada yang meninggal karena ulahnya...,” sahut sang dukun hingga mengejutkan Paulus.


“ Saya ga tau soal ini Kek. Apa Mirva bisa lepas dari ilmu hitam itu Kek...?” tanya Paulus penuh harap.


“ Sulit Paulus, sulit. Ini seperti senjata makan tuan karena makhluk penghuni ilmu hitam yang dianut Mirva itu justru menginginkan Mirva, hidup atau mati...,” sahut sang dukun sambil menatap makhluk halus yang kini tengah merangkum tubuh Mirva sambil menatap marah kearahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2