Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
57. Lega


__ADS_3

Sementara itu Shera baru saja tiba di pesantren tempat kedua anaknya belajar. Saat itu Shera langsung menunaikan sholat Maghrib di masjid pesantren. Salah seorang ustadzah yang juga merupakan tenaga pengajar di pesantren itu nampak menemani Shera. Tak lama kemudian istri ustadz Hamzah pun menemui Shera di masjid.


“ Assalamualaikum Mbak Shera...,” sapa istri ustadz Hamzah yang bernama Humaira sambil mengulurkan tangannya.


“ Wa alaikumsalam Bu Ustadzah, apa kabar...?” tanya Shera sambil menyambut uluran tangan Humaira.


Keduanya saling memeluk sesaat. Humaira nampak mengusap punggung Shera dengan lembut untuk menenangkannya.


“ Alhamdulillah baik. Kita ngobrol di rumah Saya aja yuk...,” ajak Humaira.


“ Maaf Bu Ustadzah. Tapi Saya lagi nungguin Anak dan Suami Saya...,” tolak Shera dengan lembut.


“ Saya tau. Saya juga lagi nunggu Suami Saya. Tapi Kita ga bisa di sini karena akan mengganggu santri yang sedang belajar Bu...,” kata Humaira,


Shera mengedarkan pandangan dan melihat para santri sedang duduk menjadi beberapa kelompok sambil bertanya jawab.


“ Gimana...?” tanya ustadzah Humaira dari balik cadarnya.


“ Baik Bu Ustadzah...,” sahut Shera sambil tersenyum.


Lalu keduanya melangkah menuju ke kediaman ustadz Hamzah dan keluarganya yang terletak persis di belakang masjid. Tiba di sana mereka langsung duduk dan membahas banyak hal sambil menikmati suguhan teh manis hangat dan makanan ringan.


Setelah menunaikan sholat Isya berjamaah, Shera memutuskan menunggu suami dan anaknya di gerbang pesantren. Namun lagi-lagi ustadzah Humaira mencegahnya. Tak lama kemudian ponsel Shera berdering. Dengan sigap Shera meraih ponselnya.


“ Assalamualaikum Ayah, Kamu dimana. Gimana Anak-anak...?” tanya Shera.


“ Wa alaikumsalam. Alhamdulillah Anak-anak baik Bun. Sebentar lagi Kita balik ke pesantren...,” sahut Faiq.


“ Alhamdulillah...,” kata Shera sambil memejamkan matanya.


“ Bunda dimana sekarang...?” tanya Faiq.


“ Di rumah Ustadz Hamzah Yah, nih lagi ngobrol sama Ustadzah Humaira...,” sahut Shera.


“ Alhamdulillah. Tunggu di sana aja ya Bun, sebentar lagi Kami pulang...,” kata Faiq.


“ Iya, hati-hati ya Yah...,” sahut Shera.

__ADS_1


“ Ok Bun. Assalamualaikum...,” kata Faiq di akhir kalimatnya.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut Shera sambil bernafas lega.


“ Gimana Mbak, mereka baik-baik aja kan...?” tanya ustadzah Humaira.


“ Alhamdulillah mereka baik-baik aja Ustadzah...,” sahut Shera sambil tersenyum.


“ Syukur lah...,” kata ustadzah Humaira lega.


\=====


Wahyu memutuskan mengantarkan ustadz Hamzah kembali ke pesantren dengan motornya. Sementara Faiq mengendarai motor milik ustadz Hamzah sambil membonceng kedua anak kembarnya.


Saat tiba di pesantren jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Shera segera menghambur keluar saat mendengar suara motor berhenti di depan rumah diikuti ustadzah Humaira yang berjalan di belakangnya.


“ Assalamualaikum...,” sapa Faiq dan ustadz Hamzah bersamaan.


“ Wa alaikumsalam. Anak-anak, gimana keadaan Kalian...?” tanya Shera sambil memeluk Iyaz dan Izar dengan erat.


“ Lho, Bunda di sini juga...?” tanya Iyaz sambil balas memeluk Shera.


“ Apa, Iyaz terluka. Bagian mana yang luka, coba Bunda liat...,” kata Shera panik sambil meneliti sekujur tubuh Iyaz dari atas kepala hingga ujung kaki.


“ Alhamdulillah udah ga sakit Bun. Hanya luka kecil kok. Udah diobatin juga sama Ayah tadi...,” sahut Iyaz menenangkan ibunya.


“ Kalian ini...,” ucapan Shera terputus saat ustadz Hamzah meminta istrinya menyiapkan makan malam untuk mereka.


“ Ummi udah nyiapin makan malam kan, Abi lapar banget nih. Tamu Kita juga pasti lapar, Kita makan yuk...,” kata ustadz Hamzah sambil merangkul pundak istrinya.


“ Makan malamnya udah siap Bi. Yuk Kita makan sekarang. Ayo Mbak Shera...,” ajak ustadzah Humaira sambil menggamit tangan Shera dengan lembut.


“ I, iya Ustadzah...,” sahut Shera gugup lalu mengikuti ustadzah Humaira masuk ke ruang makan.


Faiq dan kedua anaknya nampak tersenyum saat melihat Shera terpaksa mengikuti ajakan tuan rumah. Kemudian ketiganya menatap ustadz Hamzah yang sedang meletakkan sorbannya di atas meja.


“ Kita capek, Istri Kita juga capek, Anak-anak pasti lebih capek karena belum terbiasa. Nah alangkah baiknya kalo semua yang capek ini makan malam dulu supaya bisa punya tenaga untuk marah dan dimarahin...,” gurau ustadz Hamzah hingga membuat Faiq dan kedua anaknya tertawa.

__ADS_1


“ Makasih Ustadz. Tapi Saya maklum sama perasaan Bundanya Anak-anak...,” kata Faiq di sela tawanya.


“ Iya Saya juga paham. Tapi untuk kali ini biar lah omelan itu ditunda sebentar sampe perut Kita diisi dulu sama makanan...,” sahut ustadz Hamzah santai.


Tak lama kemudian ustadzah Humaira memberitahu jika makan malam telah siap. Mereka pun masuk ke ruang makan untuk makan malam. Menu sederhana yang disajikan tak mengurangi semangat mereka untuk bercerita. Wahyu nampak tersenyum melihat  interaksi keluarga Faiq dengan keluarga ustadz Hamzah.


“ Kalo Kalian balik lagi ke kamar, ga usah cerita apa pun sama teman Kalian ya. Biar lah ini jadi rahasia Kita. Karena ga semua orang paham dan mau mengerti jika kehidupan ghaib itu berdampingan dengan kehidupan normal Kita sebagai manusia biasa...,” pesan ustadz Hamzah.


“ Baik Pak Ustadz...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Dan masalah luka Iyaz tadi, ada baiknya diperiksakan ke Rumah Sakit ya Mas Faiq. Kita bukan ahlinya dalam bidang ini. Saya khawatir ada cedera tulang atau sejenisnya yang bakal membahayakan Iyaz ke depannya...,” kata ustadz Hamzah.


“ Saya juga niat begitu Pak Ustadz. Terima kasih atas perhatiannya. Malam ini Saya ijin bawa Iyaz pulang sekalian ngecek lukanya tadi...,” sahut Faiq.


“ Silakan. Tolong pastikan Iyaz mendapat penanganan medis terbaik ya Mas Faiq. Insya Allah biayanya akan dicover oleh pesantren...,” kata ustadz Hamzah lagi.


“ Baik Pak Ustadz, soal biaya serahkan aja sama Kami...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Baik lah, Saya tau Kamu ga akan mau menerima uluran tangan Kami. Ya sudah, sekarang Izar boleh kembali ke kamar. Ajak Kak Wahyu istirahat di kamar Izar menggantikan Iyaz...,” kata ustadz Hamzah lagi.


“ Baik Pak Ustadz...,” sahut Izar patuh lalu mencium tangan ustadz Hamzah dan kedua orangtuanya.


“ Gapapa kan kalo Iyaz pulang sebentar...?” tanya Shera ragu.


“ Gapapa Bun. Aku kan udah besar, lagian di sini Aku juga punya banyak teman. Jadi Bunda ga perlu khawatir...,” sahut Izar santai.


“ Anak pintar. Bunda bangga sama Kamu...,” kata Shera sambil memeluk Izar erat.


Setelah berpamitan Faiq pun membawa Iyaz dan Shera kembali ke Jakarta dengan menggunakan taxi online. Di


perjalanan Iyaz tertidur karena kelelahan di samping Shera. Sedangkan Shera nampak mengusap kepala anaknya sambil sesekali mengecupnya dengan sayang.


“ Tidur lah Nak. Bunda tau Kamu dan Izar baru aja ngalamin peristiwa besar walau Kamu ga mau bilang apa pun tentang itu. Tidur lah Sayang. Bunda harap saat bangun nanti Kamu bisa melupakan semuanya dan hidup normal lagi seperti remaja laki-laki pada umumnya...,” bisik Shera di telinga Iyaz.


Faiq tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Ia mengerti bagaimana perasaan Shera dan si kembar karena ia pun pernah ada di posisi yang sama dengan Iyaz dan Izar. Dalam hati Faiq berjanji akan melindungi keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai ayah yang memiliki dua anak istimewa yang memiliki kemampuan berinteraksi dengan dunia ghaib.


Setibanya di Jakarta Faiq langsung membawa Iyaz ke Rumah Sakit untuk menjalani rangkaian pemeriksaan. Faiq dan Shera merasa lega karena tak ada luka serius yang dialami Iyaz. Iyaz hanya  diinfus dan istirahat di Rumah Sakit karena kondisi tubuhnya yang lemah. Sang nenek nampak mengawasi dengan ketat perkembangan kesehatan Iyaz selama dirawat di sana.

__ADS_1


Setelah dua hari bed rest di Rumah Sakit, Iyaz pun diijinkan pulang ke rumah dan langsung meminta ayahnya mengantarnya ke pesantren karena tak ingin terlalu lama bolos sekolah. Dan Iyaz kembali ke pesantren setelah tiga hari ‘bolos’ sekolah.


Bersambung


__ADS_2