
Nadia siuman beberapa jam kemudian. Wajahnya nampak ketakutan dan matanya terus menatap ke penjuru ruangan seolah mencari sesuatu. Perawat yang sedang mengecek selang infus Nadia pun ikut menatap kearah yang sama dengan yang dilihat Nadia.
“ Cari apa Bu...?” tanya sang perawat.
“ Dimana dia...?” tanya Nadia.
“ Dia, dia siapa Bu...?” tanya sang perawat lagi.
“ Siluman itu. Dimana siluman yang mengambil Bayiku itu...?” tanya Nadia panik sambil mendekap perutnya.
Mendengar ucapan Nadia membuat perawat tak bisa menahan tawa. Sadar jika kelepasan tertawa dan membuat
Nadia murka, sang perawat pun segera memperbaiki sikapnya.
“ Maaf Bu, tapi ga ada siluman di sini. Mmm, tentang bayi Ibu, dokter udah bikin surat rujukan supaya kandungan Ibu diperiksa di Rumah Sakit besok...,” kata sang perawat.
“ Tapi tadi Aku liat ada...,” ucapan Nadia dipotong cepat oleh dokter yang datang memasuki ruangan.
“ Sebaiknya Ibu istirahat dulu ya. Apa yang Ibu liat tadi hanya mimpi karena kondisi Ibu saat ini sedang tidak baik. Ga usah terlalu tegang, santai aja. Karena kondisi Ibu juga bisa berpengaruh sama bayinya...,” kata sang dokter.
“ Baik, makasih dokter...,” sahut Nadia.
“ Sama-sama...,” kata sang dokter sambil tersenyum.
Kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan untuk memberi kesempatan pada Nadia beristirahat.
“ Kayanya pasien tadi lagi halu deh dok...,” kata sang perawat.
“ Halu gimana Sus...?” tanya sang dokter.
“ Masa pas bangun tadi dia malah nyariin siluman...,” sahut sang perawat.
“ Siluman apa...?” tanya sang dokter lagi.
“ Ga tau tuh dok. Tapi dia ketakutan banget pas nanyain itu tadi. Jangan-jangan dia emang ngeliat siluman dok, buktinya kan dia pingsan tadi...,” tebak sang perawat.
“ Bukan siluman kali Sus. Yah, mungkin semacam penampakan hantu atau sejenisnya. Kan setiap tempat pasti ada
penunggunya. Apalagi klinik yang berhubungan sama darah kaya gini yang udah pasti disukai sama makhluk halus...,” kata sang dokter sambil tersenyum.
“ Iya juga sih dok. Tapi selama Saya kerja di sini Saya belum pernah liat penampakan apa pun dok...,” sahut sang perawat.
“ Harusnya Kamu bersyukur, atau jangan-jangan Kamu mau dikasih liat penunggu klinik yang sesungguhnya kaya perawat lain...?” tanya sang dokter.
“ Eh jangan dok, Saya takut. Mudah-mudahan Saya ga bakal pernah nemu hantu penunggu klinik ini...,” sahut sang perawat sambil bergidik hingga membuat sang dokter tertawa.
\=====
Keesokan harinya Nadia dibawa ke Rumah Sakit untuk melakukan general check up sekaligus melakukan USG untuk melihat kondisi janin dalam rahimnya. Namun Nadia terkejut saat mendengar ucapan dokter kandungan yang mengatakan tak ada janin dalam rahimnya. Perawat dari klinik Lapas yang ikut mendampingi Nadia pun dibuat bingung.
“ Tapi dokter di klinik bilang kalo Saya lagi hamil dok. Usia kehamilan Saya juga udah masuk delapan minggu. Iya kan Sus...,” kata Nadia sambil menoleh kearah perawat yang mendampinginya.
“ Iya dok, Saya juga dengar waktu dokter di klinik bilang kaya gitu...,” sahut sang perawat.
“ Tapi emang ga ada apa pun di sini. Hanya ada kantung janin yang kosong...,” kata dokter Paula sambil
mengamati layar monitor.
“ Kantung janin yang kosong, apa itu artinya pernah ada janin di sana dok...?” tanya Nadia dengan suara bergetar.
__ADS_1
“ Bisa saja, tapi hal kaya gini bisa dialami siapa pun. Mengira hamil padahal ga ada apa pun di sini. Ini karena kelainan hormon dan masih bisa diobati. Insya Allah Ibu masih bisa hamil kok, ga usah cemas ya...,” sahut dokter Paula menenangkan Nadia.
Mendengar jawaban sang dokter sontak membuat Nadia menangis histeris. Nadia sadar bahwa bayinya hilang karena ulah siluman bayi yang mendatanginya semalam. Perawat dan dokter Paula pun sigap menenangkan Nadia. Karena Nadia terus menerus menangis dan menjerit dokter Paula pun menyuntikkan obat penenang dosis rendah ke tubuh Nadia. Tak lama kemudian tubuh Nadia terkulai lemah lalu tak sadarkan diri.
“ Keliatannya dia baru aja ngalamin kejadian yang membuatnya shock banget. Sebenernya apa yang terjadi Sus...?” tanya dokter Paula.
Sang perawat pun menceritakan apa yang dialami Nadia. Dokter Paula nampak mendengarkan dengan serius sambil menatap Nadia yang berbaring di atas tempat tidur.
“ Biarkan pasien istirahat di sini beberapa hari agar Saya mudah memantaunya...,” kata dokter Paula sambil menyerahkan surat keterangan kesehatan Nadia.
“ Baik dok. Kalo gitu Saya pamit dulu ya dok sekalian ngurus berkasnya Bu Nadia...,” sahut sang perawat.
“ Silakan...,” sahut dokter Paula sambil tersenyum.
Setelah perawat dari klinik Lapas itu keluar dari ruangannya, dokter Paula segera menghubungi seseorang untuk
membantunya.
\=====
Sore itu Fatur datang menemui Paula di ruangannya. Rupanya Fatur lah orang yang dihubungi Paula tadi siang.
“ Thanks ya Tur, akhirnya Lo mau datang ke sini...,” sambut dokter Paula ramah.
“ Sama-sama Pol...,” sahut Fatur santai.
“ Ck, ga bisa ya panggil nama Gue tuh dengan sebutan dan ejaan yang bener...,” protes dokter Paula.
“ Lho salahnya dimana. Nama Lo kan emang Paula. Coba aja Lo singkat sendiri nama Lo itu. Jangan salahin Gue kalo manggil Lo kaya gitu...,” sahut Fatur sambil tersenyum.
“ Gue tau, tapi bisa kan panggil Paula. Jangan Pal Pol, Pal Pol kaya gitu. Ga enak kedengerannya...,” kata dokter Paula tak suka.
“ Ya mau lah...,” sahut dokter Paula cepat.
“ Kalo mau ya udah, ga usah ngebahas soal panggilan segala bisa ga...,” kata Fatur pura-pura marah.
“ Iya, iya. Terserah Lo aja. Untung Lo Suaminya Bilqis, kalo bukan mah udah Gue jahit tuh mulut...,” gerutu dokter Paula hingga membuat Fatur tertawa.
Paula memang teman sekampus Bilqis dulu. Mereka kembali bertemu saat Bilqis dan Fatur menjenguk salah seorang kerabat yang dirawat di Rumah Sakit itu. Paula tertarik dan langsung jatuh hati pada sosok Fatur saat pertama kali melihatnya. Dan saat Bilqis memperkenalkan Fatur sebagai suaminya membuat Paula terkejut dan patah hati. Namun dengan sikap dewasa Paula menerima kenyataan itu dan tetap menjalin komunikasi dengan
Bilqis.
Kemudian dokter Paula membawa Fatur ke ruangan dimana Nadia dirawat. Saat melihat pertama kali Fatur tahu
jika ada hal buruk yang dialami Nadia.
“ Ini orangnya Tur. Tolong bantuin dia ya, kasian...,” pinta dokter Paula sambil mengusap kening Nadia.
“ Emangnya dia kenapa...?” tanya Fatur pura-pura tak tahu.
“ Lo liat aja sendiri...,” sahut dokter Paula sambil menepi untuk memberi kesempatan Fatur melihat Nadia lebih dekat.
Fatur mendekat kearah Nadia yang sedang terbaring lemah di dalam ruang rawat inap itu. Fatur melihat jelas jika
tubuh Nadia diselimuti hawa mistis yang sangat kuat. Fatur tahu jika Nadia baru saja kehilangan janin dalam rahimnya dengan cara tak lazim. Dan itu membuat Nadia sangat terpukul.
“ Gimana Tur...?” tanya dokter Paula tak sabar.
“ Dia baru aja kehilangan janinnya...,” sahut Fatur.
__ADS_1
“ Kantong janinnya kosong. Nadia keukeuh bilang kalo dia hamil dan bayinya hilang . Tapi cara hilangnya sedikit ga masuk akal Tur...,” kata dokter Paula.
“ Janin Nadia hilang karena ulah makhluk ghaib Pol...,” kata Fatur.
“ Iya, Gue juga nebak kaya gitu. Lagian sejak siuman dia ketakutan karena katanya ngeliat siluman bayi semalam. Nadia yakin kalo janinnya itu diambil sama siluman itu...,” sahut dokter Paula.
“ Yang Nadia bilang emang nyata kok Pol...,” kata Fatur cepat.
“ Jadi...,” ucapan dokter Paula terputus karena disela cepat oleh Fatur.
“ Insya Allah Gue bakal bantuin pasien Lo ini...,” kata Fatur mantap.
“ Ok, makasih ya Tur...,” sahut dokter Paula antusias.
“ Sama-sama...,” kata Fatur sambil tersenyum.
\=====
Fatur bermaksud mengajak Faiq ikut serta dalam misinya kali ini. Faiq mengerutkan keningnya saat Fatur menceritakan kondisi Nadia.
“ Sebentar Om, Aku juga baru aja nanganin kematian bocah cilik di Kepulauan Seribu. Nah, Anak kecil itu punya Ibu tiri yang namanya Nadia. Dia ditahan karena penelantaran Anak hingga menyebabkan kematian. Mungkin ga kalo ini orang yang sama...?” tanya Faiq.
“ Bisa jadi Iq. Siapa tau dua kasus ini saling berkaitan...,” sahut Fatur.
“ Aku jadi penasaran Om...,” kata Faiq.
“ Sebentar lagi Kamu bisa liat orangnya langsung...,” sahut Fatur sambil tersenyum.
Saat tiba di depan kamar rawat Nadia, Faiq menganggukkan kepalanya pertanda jika Nadia yang mereka bicarakan
tadi adalah orang yang sama. Dari tempatnya berdiri Faiq bisa melihat kilasan peristiwa yang dialami Nadia.
Nadia adalah gadis yang tumbuh dalam keluarga yang baik dengan kedua orangtua yang bijak. Dari empat bersaudara Nadia adalah anak perempuan tunggal yang membuatnya dilimpahi kasih sayang secara berlebihan. Karenanya sejak kecil Nadia memiliki sikap egois dan tak mau kalah. Dan sikap buruk Nadia itu terbawa hingga dewasa.
Saat menjalin hubungan dengan Arya, Nadia sesumbar akan dinikahi oleh Arya yang kaya raya itu. Nadia merasa jika Arya sangat mencintainya dan tak bisa hidup tanpanya. Namun pernikahan mereka terhalang restu kedua orangtua Arya yang tak menyukai sifat Nadia.
Nadia marah besar saat melihat Arya menikahi Andini, gadis yang sengaja dipilihkan orangtua Arya. Rasa kesal
Nadia bertambah saat mendengar Andini hamil dan siap melahirkan. Dan itu menyadarkan Nadia jika Arya telah menerima Andini dalam hidupnya dan mungkin sudah belajar mencintai Andini.
Karena diselimuti amarah dan dendam, Nadia pun mengambil jalan pintas untuk merebut Arya dari tangan Andini.
Nadia sengaja menggunakan ilmu hitam untuk melancarkan aksinya itu. Beberapa kali Nadia mencoba menyakiti Andini dan anaknya namun selalu gagal. Arya selalu berhasil melindungi istri dan anaknya dari pengaruh ilmu hitam yang dikirim Nadia. Namun pertahanan Arya dan Andini pun jebol setelah terus menerus digempur dengan ilmu hitam.
Waktu itu Arya dan Andini baru saja selesai merayakan ulang tahun Adi yang pertama di rumah mereka. Adi yang sangat aktif dan punya keingintahuan yang besar itu kadang membuat Andini kewalahan. Seperti saat itu, Andini berlari cepat kearah tangga karena melihat Adi bermain di sana. Andini bermaksud menggendong Adi dan membawanya menjauhi tangga. Namun saat Adi sudah ada di dalam gendongannya, tiba-tiba Andini mendengar Adi menangis memanggil namanya dari depan kamar.
“ Mama..., Mama...!” rengek Adi sambil mengulurkan kedua tangannya kearah Andini.
Andini terkejut lalu menatap Adi dan anak yang ada di dalam gendongannya secara bergantian dengan tatapan
bingung.
“ Ada apa ini, yang mana Anakku. Kok mereka sama banget...,” gumam Andini panik.
Namun sesaat kemudian Andini menjerit karena melihat anak yang ada dalam gendongannya bukan lah Adi tapi sosok anak kecil berwajah seram dengan telinga mencuat dan bola mata yang besar. Saking terkejutnya Andini pun kehilangan keseimbangan. Tubuhnya yang saat itu berada di ujung tangga bagian atas pun terjungkal jatuh menggelinding menuruni anak tangga hingga menyebabkan Andini lumpuh di sisa umurnya. Sebelum pingsan Andini sempat mendengar tangis dan jeritan Adi yang memanggil namanya.
“ Rupanya ini ibarat senjata makan tuan. Nadia harus menerima nasib buruk akibat ilmu hitam yang dikirimnya dulu
kepada Andini...,” gumam Faiq sambil tersenyum sinis setelah selesai menelusuri masa lalu Nadia.
__ADS_1
Bersambung