Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
186. Berakhir Damai


__ADS_3

Setelah semua penjahat yang terlibat dalam peristiwa pembakaran SPBU itu tertangkap, proses sidang pun disiapkan. Kek Pujo yang mati-matian membantah pun akhirnya tak bisa berkutik karena kesaksian Bachir dan keempat temannya memberatkan posisi kek Pujo.


Dalam sidang, mantan preman yang bernama Bonto yang sedang sakit pun dihadirkan untuk dimintai keterangan. Dibantu keluarganya Bonto menjawab semua pertanyaan Hakim dan Jaksa. Setelah sidang selesai Bonto dibawa pulang oleh keluarganya.


Bachir, Melon. Popeye dan Barong sempat menyapa dan menyalami Bonto yang terduduk lemah di atas kursi roda. Tangis pun kembali pecah saat kelimanya bertemu setelah bertahun-tahun terpisah tanpa kabar.


“ Maaf...,” kata Bonto lirih.


“ Gapapa Bon. Biar Kita yang ngewakilin Lo di penjara. Yang penting Lo sehat ya, jangan lupa makan dan minum obat. Ntar kalo Kita udah bebas dari penjara, Kita ketemuan lagi ya...,” sahut Popeye yang diangguki Bonto dan tiga teman lainnya.


Sesaat kemudian mereka harus berpisah karena Bachir dan ketiga temannya harus masuk ke mobil tahanan polisi.


\=====


Bintang sedang mengurung diri di kamar. Nampaknya ia sulit menerima kenyataan bahwa kakek yang amat ia cintai adalah seorang penjahat. Berkali-kali Bintang mengusap matanya yang basah karena tak percaya dengan apa yang tersaji di hadapannya.


Kedua orangtua Bintang pun sangat terpukul dengan pemberitaan yang beredar di luar sana. Apalagi gosip mengatakan jika ayah Bintang berhasil kuliah tinggi dan memperoleh gelar Sarjana dengan uang hasil merampok.


“ Tapi Aku kuliah karena dapat bea siswa Bu. Kok tega banget mereka meragukan gelarku...,” kata ayah Bintang gusar.


“ Udah lah Yah, ga penting komentar mereka semua. Aku percaya kok sama Ayah. Yang penting kan pihak kampus dimana Ayah kuliah dulu bisa buktiin kalo Ayah itu memang mahasiswa yang pandai...,” sahut ibu Bintang.


“ Tapi Aku malu Bu...,” keluh ayah Bintang.


“ Nasi udah jadi bubur Yah. Bapak juga pasti sama terpukulnya kaya Kamu. Juga Bintang. Sekarang Kita cuma bisa menghadapi semuanya dengan lapang dada. Anggap aja ini musibah buat keuarga Kita. Musibah kan ga pernah diundang, jadi jangan nyerah ya Yah...,” hibur ibu Bintang sambil memeluk sang suami dengan erat.


“ Makasih ya Bu. Kamu tetap bertahan di sisiku meski pun badai begitu besar. Makasih...,” kata ayah bintang sambil mencium kening sang istri dengan sayang.


“ Sama-sama Ayah...,” sahut ibu Bintang sambil tersenyum.


Dari balik pintu Bintang pun ikut tersenyum menyaksikan begitu kuatnya cinta diantara kedua orangtuanya itu. alih-alih menyalahkan kek Pujo, kedua orangtua Bintang justru sibuk saling menguatkan tanpa sekali pun menyinggung kesalahan kek Pujo.


“ Mereka aja bisa maafin Kakek, harusnya Aku juga bisa kan. Kakek punya alasan tersendiri dan biarkan itu jadi urusannya. Yang penting Aku tetap hadir untuk memberi suport. Ok, besok aku bakal hadir di sidang kedua Kakek...,” gumam Bintang sambil tersenyum.


\=====

__ADS_1


Sidang kedua kali ini berjalan lancar. Kek Pujo nampak terharu melihat kehadiran Bintang dan kedua orangtuanya. Bintang pun menghampiri kek Pujo sebelum sidang dimulai.


“ Maafin Kakek ya Nak...,” kata kek Pujo dengan suara parau.


“ Iya Kek. Aku datang untuk memberi suport. Tiap orang punya masa lalu dan masa lalu Kakek adalah urusan Kakek. Urusanku adalah masa depan Kita. Kakek tau kan kemana harus pulang setelah semua ini selesai...?” tanya Bintang.


“ Apa Kamu masih ngarepin Kakek pulang setelah semua kejahatan yang Kakek lakukan...?” tanya kek Pujo dengan mata berkaca-kaca.


“ Iya...,” sahut Bintang sambil tersenyum.


“ Makasih Bintang. Maaf darimu ibarat air untuk dahaga Kakek. Makasih ya Nak...,” kata kek Pujo sambil menangis.


“ Sama-sama Kek. Tetap semangat dan jaga kesehatan ya Kek...,” kata Bintang sebelum berlalu.


Kek Pujo mengangguk sambil tersenyum. Sirna sudah kegelisahannya selama beberapa minggu ini. Ia khawatir Bintang akan membencinya. Namun saat tahu Bintang memaafkannya dan mengharapkan dirinya kembali, kek Pujo pun nampak lebih tegar.


Sidang yang mengagendakan keterangan para tersangka pun dimulai. Semua tersangka dipanggil ke depan. Dari


pengakuan Bachir dan teman-temannya terungkap jika kek Pujo tak tahu menahu soal pembakaran SPBU itu karena semua di luar rencana awal. Kek Pujo memang merencanakan perampokan, hanya itu. Selebihnya Jerangkong lah yang ambil kendali dan memerintahkan pembakaran SPBU setelah berhasil mencuri uang. Termasuk pelecehan pada karyawati mini market bernama Beatrix juga murni buah pikiran Jerangkong.


Setelah sidang yang panjang, akhirnya Hakim menjatuhkan vonis kepada Bachir dan teman-temannya. Mereka dijatuhi hukuman bervariasi sesuai dengan seberapa besar andil mereka dalam peristiwa kelam itu.


Bachir dan Popeye dihukum sembilan belas tahun penjara dari yang seharusnya dua puluh lima tahun penjara yang diajukan Jaksa. Hal itu karena Hakim menghargai usaha keduanya menghentikan tindakan Jerangkong yang berniat membakar SPBU malam itu. Sedangkan Melon dihukum dua belas tahun penjara dan Barong dihukum empat belas tahun penjara. Yang meringankan hukuman mereka adalah karena mereka bersikap kooperatif selama proses penyidikan yang dilakukan polisi dan selama persidangan berlangsung.


Kek Pujo sendiri harus menerima hukuman empat tahun penjara karena telah membantu Jerangkong Cs dengan memberi informasi tentang kondisi SPBU saat itu. Kek Pujo nampak menangis mendengar vonis yang dijatuhkan untuknya. Dalam hati kek Pujo bersyukur karena tak menerima uang hasil curian Jerangkong Cs hingga ia tak harus terseret ke penjara dalam waktu lama.


“ Apa Kakek akan banding Yah...?” tanya Bintang.


“ Ayah harap Kakek ga usah banding...,” sahut ayah Bintang.


“ Lho kenapa memangnya Yah...?” tanya Bintang tak mengerti.


“ Kakekmu perlu ruang untuk instropeksi diri. Mungkin di penjara bisa bikin Kakek lebih sabar. Bukan Ayah ga mau Kakek cepat bebas, tapi Ayah mau Kakek bisa berubah...,” sahut ayah Bintang sambil tersenyum.


Sidang berakhir damai. Keluarga Aldi, Beatrix dan Chandra yang menghadiri sidang sejak awal pun tak banyak menuntut. Mereka hadir hanya untuk mengetahui motif kejahatan Jerangkong Cs. Setelahnya mereka menerima vonis yang dijatuhkan oleh Hakim pada para tersangka dengan lapang dada. Mereka juga menyambut permintaan maaf kek Pujo, Bachir dan ketiga temannya itu dengan hati yang ikhlas.

__ADS_1


“ Kami ga mau menjadi orang jahat juga karena menyimpan dendam atas kematian Aldi, Beatrix dan Chandra. Kami


sudah ikhlas menerima kepergian mereka dan menganggapnya sebagai takdir Allah. Kami hanya minta tolong sisipkan doa untuk mereka saat Kalian berdoa...,” kata ayah Aldi mewakili keluarga Beatrix dan Chandra.


Mendengar permintaan sederhana itu membuat kek Pujo, Bachir dan ketiga temannya makin merasa malu.


“ Insya Allah Kami akan selalu menyertakan mereka di dalam doa-doa Kami...,” kata Popeye dengan mata berkaca-kaca.


“ Terima kasih...,” kata ayah Aldi sambil tersenyum.


Kemudian keluarga Aldi, Beatrix dan Chandra meninggalkan gedung pengadilan. Langkah mereka terlihat ringan. Senyum pun nampak menghiasi wajah mereka. Rasa ikhlas yang mereka tunjukkan membuat arwah Aldi, Beatrix dan Chandra pun tersenyum bahagia.


Faiq dan Fatur yang turut hadir hari itu pun ikut bahagia karena bisa mengantar kepergian tiga arwah korban


pembakaran SPBU itu dengan mudah. Dengan iringan lantunan ayat suci Al Qur’an dan dzikir yang dibaca Fatur dan Faiq, arwah Aldi, Beatrix dan Chandra pun melayang pergi menuju Sang Khaliq. Kulit wajah dan sekujur tubuh mereka yang menghitam pun berganti dengan kulit sebagai mana mestinya. Pakaian yang koyak karena terbakar pun kembali utuh. Senyum nampak terukir di wajah pucat mereka.


“ Terima kasih...,” kata arwah Aldi, Beatrix dan Chandra bersamaan.


“ Sama-sama...,” sahut Fatur dan Faiq sambil tersenyum.


Untuk sejenak ketiga arwah itu berputar mengelilingi Fatur dan Faiq beberapa kali lalu melesat ke angkasa dengan cepat meninggalkan aroma harum yang lembut dan menenangkan.


“ Alhamdulillah...,” gumam Fatur dan Faiq lagi.


Fatur dan Faiq masih berdiri di halaman pengadilan sambil menatap langit. Tak jauh dari sana Bintang dan kedua orangtuanya tengah memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Bintang tahu jika Fatur dan Faiq baru saja mengantar ketiga arwah penasaran itu kembali ke haribaan Allah.


“ Jadi mereka orang baik yang udah bantuin Kamu dulu Nak...?” tanya ibu Bintang.


“ Iya Bu...,” sahut Bintang cepat.


“ Ayah mau kenal sama mereka sekaligus mau ngucapin terima kasih karena udah bikin Kamu sadar dan kembali ke jalan Allah. Kira-kira mereka keberatan ga ya...?” tanya ayah Bintang.


“ Mereka pasti ga keberatan Yah...,” sahut Bintang antusias.


Kedua orangtua Bintang nampak tersenyum mendengar jawaban Bintang. Meski pun tak mengerti namun keduanya menebak jika ada sesuatu yang membuat Bintang terlihat semangat hari itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2